Imam Abu Hanifah dan Tetangganya

Kita semua pasti mengenal Imam Abu Hanifah. Beliau adalah seorang imam mazhab yang luas ilmunya dan tinggi amal ibadahnya. Nama asli beliau adalah Nu’man bin Tsabit dan beliau berasal dari kawasan Iraq. Beliau adalah orang Persia asli yang lahir tahun 80 Hijriyah di Kufah. Saya ingin kisahkan sebuah cerita tentang Imam Abu Hanifah dan tetangganya.

Imam Abu Hanifah memiliki seorang tetangga yang menganut paham Syiah. Si tetangga ini memiliki dua ekor keledai, dan karena dia orang Syiah, dia menamai seekor keledainya dengan nama “Abu Bakar”, dan yang seekor lagi dengan nama “Umar”. Innalillahi wa inna ilayhi roji’un, saya geleng-geleng kepala waktu membaca kisah ini. Orang kok kreatif banget! Maksudnya kreatif kurang ajarnya!!!

Pada suatu hari, orang-orang berdatangan ke rumah Imam Abu Hanifah. Mereka memberi kabar bahwa si Tetangga yang kreatif tadi telah meninggal. Yang bikin meringis adalah, ternyata dia meninggal karena ditendang oleh salah satu keledainya. Mungkin tendangan si keledai ini tepat mengenai titik-titik vital dari si tetangga yang kreatif tadi, sehingga nyawanya tunai dengan cara yang cukup menggelikan. Untung jaman dulu nggak ada koran Lampu Hijau. Kalau ada koran Lampu Hijau, bakal ada headline “Anunya Ditendang Keledai, Mati!”. Hehehe!

Imam Abu Hanifah kemudian mengatakan kepada orang-orang yang membawa kabar kematian tetangga Syiah-nya tadi, bahwa beliau menduga keledai yang menendang tetangganya itu sampai mati adalah keledai yang bernama “Umar”. Imam Abu Hanifah menyuruh mereka mengeceknya. Dan setelah dicek, ternyata benar! Nah loh, rasain!!!

Semoga kita semua bisa mencintai dan meneladani para sahabat Rasulullah saw. dengan sebagaimana mestinya. Semoga kita bisa memberikan penghormatan yang seagung-agungnya kepada mereka karena semua amal, pengorbanan, dan perjuangan mereka menegakkan syariat Islam. Kalau Allah swt. saja meridhoi mereka, lantas kenapa orang macam kita menghina mereka?

Sesuatu Tentang Iman

Ada sebuah pembahasan yang menarik dari Ustadz Felix Siauw tentang keimanan. Ternyata orang-orang kafir jahiliyyah dahulu percaya bahwa Tuhan yang menciptakan langit dan bumi ini adalah Allah subhanahu wata’ala. Mereka percaya hal itu dan mereka mengakuinya. Beberapa bukti tentang hal ini adalah bahwa orang kafir jahiliyyah dulu (sebelum datang masa Islam) sering berjanji dengan menggunakan nama Allah. Selain itu kita juga mengetahui bahwa nama ayahanda Rasulullah Muhammad saw. adalah ‘Abdullah, yang berarti ‘hamba Allah’ (Abdullah hidup sebelum masa Islam diturunkan). Dari sini jelas sekali, bahwa memang benar Allah swt. diakui oleh orang Arab jahiliyyah sebagai Tuhan pencipta alam semesta.

Lah tapi kok kalau ternyata mereka semua mengakui bahwa Tuhan sang pencipta alam itu adalah Allah swt., lantas kenapa mereka masih disebut kafir? Jahiliyyah lagi! Ternyata pengakuan bahwa Allah adalah pencipta alam semesta tidaklah cukup, diperlukan lebih dari itu. Allah tidak menghendaki pengakuan yang hanya di mulut saja, tetapi dia juga menghendaki pengakuan atas kekuasaanNya dan ketaatan kepada semua hukumNya.

Orang-orang kafir jahiliyyah masa itu memang mengakui bahwa Allah adalah sang Pencipta, tetapi mereka tidak mau menyembah Allah dan menaati aturan-aturanNya. Mereka malah menyembah berhala-berhala bernama Latta, Uzza, Hubal, dan Manath. Mereka mengklaim bahwa berhala-berhala itu akan menjadi penghubung mereka kepada Allah. Mereka juga mengatur berbagai hal dalam hidup mereka dengan seenak perut mereka sendiri. Mereka mabuk-mabukan, berzina, makan riba, makan bangkai, sewenang-wenang, dan berbagai kemaksiatan lainnya. Mereka tidak mau berhukum dengan aturan Allah swt.

Kafir jahiliyyah mau menerima Allah swt. sebagai Robb (Tuhan), tetapi mereka tidak mau menerima Allah swt. sebagai Ilah (sesembahan). Karena itulah mereka sangat berat untuk mengucapkan syahadah Islam yang berbunyi “La ilaha illaLLah” (tiada sesembahan selain Allah), “wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah” (Muhammad adalah Rasulullah), sebab konsekuensi dari kalimat ini adalah mereka tidak boleh lagi mengakui Allah hanya sebagai Tuhan pencipta alam, tetapi juga harus menyembah Allah dan menaati aturan Allah semuanya. Membuang semua berhala, dan membuang semua sistem yang berkembang di tengah-tengah.

Jika kita teliti kondisi yang ada saat ini, terlihat sekali bahwa sikap kaum kafir jahiliyyah di Makkah itu muncul kembali. Apa yang dilakukan oleh kaum Muslimin zaman sekarang mirip dengan apa yang dilakukan oleh kaum kafir jahiliyyah zaman dulu. Kaum Muslimin mengakui bahwa Allah adalah sang pencipta. Mereka mengakui bahwa Allah penguasa segala-galanya. Sayangnya, mereka tidak mau menaati aturan Allah. Kalau pun mereka menaati aturan Allah, itu hanya yang enak-enak saja. Aturan Allah yang membutuhkan pengorbanan dan efforts yang lebih besar tidak mau ditaati. Umat Islam telah terjangkit penyakit sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan). Islam hanya disimpan di sudut-sudut masjid. Sudah saatnya umat kembali kepada Islam seutuhnya, dengan menerapkan seluruh aturanNya di berbagai bidang. Islam ada untuk mengatur diri kita sendiri, masyarakat, dan negara.

Secuil Kenikmatan

Pilar-pilar pengokoh nafsiyah islamiyahSaya jadi ingat dengan suatu hal yang pernah disampaikan Ustadz Felix Siauw pada acara kajian kitab Min Muqowwimat Nafsiyah Islamiyah yang diselenggarakan setiap Selasa ba’da subuh di Alfatih Center. Saat itu, Ustadz Felix mengatakan bahwa Allah swt. akan mencabut kelezatan dari sesuatu ketika kita telah mendapatkan sesuatu itu.

Ada sebuah ilustrasi sederhana! Saya ini kan orangnya ndeso banget ya. Jadi karena saya ndeso, saya kepengeeeen banget makan pizza. Hmmm, kalau saya melihat gambar-gambar pizza yang menggugah selera itu, akan terbayang kelezatannya di mulut saya dan air liur serta-merta akan membuncah keluar. Saya pun ngilerI Tapi karena harga seloyang pizza itu biasanya mahal, dan setidaknya butuh selember uang 100 ribu untuk bisa membelinya, maka orang ndeso dan kere kayak saya hanya akan bisa ngiler melihat pizza.

Tetapi Allah swt. memang Mahabaik. Allah swt. mengubah hidup saya. Saya yang awalnya ndeso, kini sudah sembuh dari ke-ndesoan saya, karena sekarang saya sudah tinggal di Jakarta (Jakarta geto lookh). Allah swt. juga memberikan rizki kepada saya, dan satu hal yang ingin sekali saya lakukan adalah, MAKAN PIZZA!

Maka pergilah saya ke sebuah restoran pizza yang sudah cukup terkenal di negeri ini (saya nggak mau sebut nama restorannya, nanti dikirain promosi). Saya membuka menu-menunya dan kelihatannya semua enak-enak (dan mahal-mahal tentunya). Saya pun memilih pizza yang saya mau. Waiter-nya ramah banget, saya disuruh menunggu 15 menit (“lama amat, keburu kenyang makan angin”, batin saya). Setelah menunggu 15 menit, pizza pun datang. Hmmm, aromanya harum! Saya pun menyantapnya setelah menggumamkan basmalah (khawatir nanti ada makhluk astral yang ikutan makan sama saya, tu makhluk astral emang senengnya makan gratis). Hmmm, pizza enak ya (“kirain apaan, ternyata pizza itu cuman roti ditaburin sayur-sayuran doang, tambah jamur sama daging,” kata batin saya). Saya bersyukur dan mengakui bahwa pizza enak rasanya. Dan semuanya berhenti sampai di situ.

Setelah itu, pizza menjadi makanan yang biasa-biasa saja bagi saya. Saat memakannya pun biasa-biasa saja, rasanya pun biasa-biasa saja. Saya tidak lagi merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang sama ketika pertama kali saya makan pizza. Semua tentang pizza begitu biasa! Persis seperti yang dikatakan Ustadz Felix, sejak itu Allah swt. telah mencabut kenikmatan dan kelezatannya.

Sebenarnya hal ini pulalah yang terjadi dengan cinta. Ketika kita pertama kali naksir kepada akhwat yang kita suka, kemudian kita melamarnya, dan lantas menikahinya, maka semua proses itu kita jalani dengan rasa cinta yang mendalam. Kita begitu menggebu untuk menyayangi dan mencintai sang akhwat. Kita bertekad untuk selalu menjaganya, dan menjadikannya permaisuri di dalam hati kita. Kita berjanji untuk selalu memberikan romantisme kepadanya, dan bertekad pula untuk selalu memperlakukannya dengan baik dan penuh kemuliaan. Sang akhwat akan selalu menjadi yang tercantik di hati kita, dan kita berjanji akan selalu menjunjungnya. Kemudian menikahlah kita dengan sang akhwat.

“Paling-paling romantis dan senengnya cuman bertahan tiga hari doang,” kata Ustadz Felix, “setelah itu rumput tetangga lebih hijau!”

Haduh, saya ketawa dan geleng-geleng kepala. Tapi memang begitulah kenyataannya, Allah swt. akan mencabut kenikmatan dan kelezatan dari sesuatu ketika sesuatu itu telah kita dapatkan. Setelah kita menikah dengan sang akhwat, kita akan mendapatkan bahwa segala sesuatu tenang dia begitu biasa bagi kita, sehingga semuanya seolah-olah menjadi hambar. Itulah yang terjadi. Itulah kenyataannya!

Kita mungkin sering melihat kasus-kasus peceraian selebritis. Mereka punya pasangan yang cantik-cantik dan tampan-tampan, tetapi toh semua itu tidak menghentikan perceraian mereka, dan kita jadi tidak habis pikir karenanya. “Waduh, istri cantik kayak gitu kok diceraikan?” Paling-paling hanya itu yang bisa kita katakan. Tetapi jika kita kembali kepada penjelasan Ustadz Felix tentang dicabutnya kenikmatan seperti disebut di atas, semuanya menjadi jelas. Kecantikan wajah dan keindahan fisik yang awalnya kita kagumi dan amat diinginkan, setelah menikah ternyata menjadi sesuatu yang amat biasa. Allah swt. telah mencabut kenikmatan di dalamnya. Itulah gambaran betapa sedikit dan rapuhnya kenikmatan dunia.

Karena itulah, jangan sampai kita menyandarkan cinta hanya kepada kecantikan wajah dan keindahan fisik. Harus ada sesuatu yang lain, yang menjadi tempat cinta itu bersandar. Sesuatu yang lebih kuat dan kokoh, yang akan membuat cinta selalu baru, dan akan tetap bertahan selamanya dari terjangan rasa bosan. Itulah dia keimanan kepada Allah swt., dan ketaatan kepadaNya. Subhanallah walhamdulillah!

Ngontrak di Rumah Sendiri

Pajak memiskinkan anda!

Pajak memiskinkan anda!

Fenomena ngontrak di rumah sendiri ini bukanlah isapan jempol belaka, tetapi memang sudah menjadi kenyataan. Sebenarnya ini adalah fenomena yang aneh dan sangat menggelikan. Lho kok gitu? Ya iya lah, kita beli rumah pakai duit jerih payah kita sendiri, tapi setelah kita berhasil membeli rumah itu, seolah-olah kita sedang ngontrak di rumah sendiri karena kita harus terus membayar kepada negara lewat apa yang disebut Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Saya merasa bahwa Pajak Bumi dan Bangunan ini adalah salah satu jenis pajak yang paling menggelikan dari seluruh jenis pajak.

Seperti diberitakan oleh situs Warta Kota, sorot mata Anton (47), Warga Kebayoran Baru Jakarta Selatan, tajam menatap Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) tahun 2014 miliknya. Sebab di surat itu tertera tagihan Pajak Bumi dan Bangunan sebesar 22 juta Rupiah. “Ini sama saja saya ngontrak di rumah sendiri. Berarti tiap bulan saya harus menyisihkan uang 2 juta Rupiah untuk bayar PBB. Sama saja ngontrak kan?” Ujar Anton kepada Warta Kota di rumahnya pekan lalu.

Anton beserta istri dan keempat anaknya tinggal di atas lahan berupa tanah dan bangunan seluas sekira 500 m2. Pria yang bekerja di bidang event organizer ini merasa bingung tarif PBB melonjak drastis. Tahun lalu, ia hanya membayar 11 juta Rupiah untuk lahan dan rumah yang sama. Namun tahun ini dipaksa membayar 22 juta Rupiah. “Kalau begini caranya, terus terang saya merasa sakit hati,” ujarnya.

Ini dia satu lagi bentuk kesewenang-wenangan yang digelar pemerintah di negeri ini. Naikin pajak seenak perutnya sendiri. Pendapatan negera ini hampir seluruhnya dari pajak rakyat. Pemerintah galak banget kalau sudah menagih pajak dari rakyatnya. Tetapi kalau Freeport yang ogah membayarkan kewajibannya karena persoalan sepele, pemerintah kok ikhlas banget menerimanya. Nggak habis pikir!! Rakyat diperas habis-habisan dengan pajak, tetapi sumber daya alam negeri ini yang melimpah ruah malah diserahkan dengan rela kepada konglomerat asing. Nggak masuk akal!!! Ada satu pertanyaan penting yang harus diajukan kepada mereka, “sebenarnya para elit penguasa itu berpihak kepada siapa? Rakyat atau konglomerat?”