Caligula Gila

Patung Kaisar Caligula

Di Kekaisaran Romawi, nggak ada nama yang mewakili kejahatan, kebejatan, kesadisan, dan kekejian, melebihi nama Caligula. Dia adalah lambang dari segala hal buruk yang pernah dikenal umat manusia. Yuk kita ambil hikmah dari kisah orang ini, bahwa kemaksiatan pasti akan selalu berakhir dengan kemalangan dan ujung yang menyakitkan. Mungkin saja kemaksiatan terlihat menggiurkan, sayangnya, kemaksiatan itu kayak bom waktu yang siap meledak dan menghancurkan diri kita sendiri. Semoga Allah melindungi kita dari segala kemaksiatan.

Banyak yang bilang bahwa Kekaisaran Romawi terkenal dengan dekadensinya. Segala hal yang buruk-buruk ada di sana. Mulai dari pemimpin yang buruk, suasana pemerintahan yang stabil, moral yang rusak, maraknya pembunuhan, olahraga berdarah yang jadi hiburan dan sebagainya. Sejarah kemudian mencatat bahwa peradaban Romawi yang kufur itu kemudian digulung oleh peradaban Islam yang mulia dan bersinar terang.

Salah satu pemimpin terburuk dalam Kekaisaran Romawi adalah seorang kaisar bernama Caligula. Nama yang terdengar amat menyeramkan ini ternyata adalah nama panggilan yang imut dan lucu dari masa kecil Caligula. Nama aslinya adalah Gaius Julius Caesar, dan Caligula adalah nama panggilan yang berasal dari kata Romawi Caligae, yang artinya ‘sepatu prajurit’. Ketika masih kecil, Caligula adalah seorang anak yang ganteng, imut, dan lucu. Ayahnya, seorang jenderal dan pahlawan besar Romawi bernama Germanicus, sering mengajaknya ke medan perang dan memakaikannya baju zirah prajurit ukuran kecil yang muat dengan badannya. Dia memakai helm Romawi ukuran kecil (halm khas dengan sapu ijuk di atasnya), zirah kecil, dan sepatu tentara ukuran kecil yang namanya Caligae. Seolah anak kecil yang imut ini menjadi maskot pasukan Germanicus, dan dari sanalah dia mendapat nama Caligula.

Continue reading Caligula Gila

Advertisements

Logika LGBT

Bendera Pelangi, simbol LGBT dunia.

Memang sangat aneh kaum LGBT itu. Kecenderungan mereka untuk menyukai sesama jenis (secara seksual) memang tidaklah masuk akal. Bagaimana mungkin ada orang yang ‘mencintai’ sesama jenisnya dan meninggalkan lawan jenisnya? Ini benar-benar di luar logika. Tetapi seperti itulah yang terjadi saat ini, kaum Nabi Luth yang sekarang bertransformasi menjadi kaum LGBT wara-wiri meminta pengakuan dan legitimasi. Dengan menggunakan Hak Asasi Manusia dan wacana kebebasan sebagai senjata ampuh, mereka menuntut agar tingkah laku mereka yang abnormal itu dimaklumi.

Orang-orang yang sekian lama terkenal sebagai pembela HAM dan liberalisme pun bersuara mendukung LGBT. Padahal tindakan ini malah makin menunjukkan kedangkalan intelektualitas mereka. Ulil Abshar Abdala, seorang tokoh JIL yang amat terkenal, berkicau tentang LGBT di akun twitternya @ulil, semuanya bernada dukungan.

Continue reading Logika LGBT

Akal Bulus Elagabalus

Patung Elagabalus, Kaisar Romawi.

Periode kemunduran Kekaisaran Romawi, dalam sejarah Islam, termasuk kepada masa fatrah. Masa fatrah ini adalah masa ketika tidak ada syariat langit yang turun ke bumi. Periode ini terjadi sejak naiknya Nabi Isa ‘alaihissalam ke langit hingga diutusnya Rasulullah Muhammad Shalallahu’alaihi wasallam. Pada periode inilah umat manusia hidup dalam kesesatan yang berlipat ganda. Kalaupun ada manusia yang saleh, mereka hanya mengikuti syariat Rasul terdahulu, yakni Nabi Isa dan Nabi Musa. Yuk kita selami gimana sesatnya seorang kaisar Romawi yang hidup masa ini, namanya Elagabalus.

Kekaisaran Romawi nggak pernah sepi dari perebutan kekuasaan, pembunuhan politik, kelicikan, dan perilaku-perilakuk kotor. Kayaknya emang di sanalah sarang dari segala kemaksiatan. Pada sekitar tahun 200 Masehi, Romawi dipimpin oleh seorang kaisar yang bernama Macrinus. Kaisar Macrinus sebenarnya seorang politisi yang kuat. Para sejarawan memasukkan Macrinus ke dalam kategori ‘Kaisar Barak’, karena Macrinus lebih sering berada di medan perang daripada berada di Roma sebagai ibukota negara. Parahnya, orang-orang yang ditugaskan untuk menggantikan Macrinus di ibukota nggak becus saat melaksanakan tugas-tugasnya. Karenanya rakyat dan para bangsawan menjadi resah dan gelisah.

Di medan perang, Macrinus dan pasukannya harus menghadapi keganasan orang-orang Parthia. Parahnya, Romawi kalah, dan ini bikin malu. Di ibukota, keadaan pun memanas. Sebuah badai yang ganas melanda Roma. Hujan dan angin silih berganti dan petir menyambar-nyambar mengerikan. Petir itu menyebabkan kebakaran di beberapa tempat, hingga Roma harus menghadapi bencana dari air dan api secara hampir bersamaan. Setelah semuanya mereda, rakyat menyalahkan Macrinus atas semua bencana itu. Mereka muak!

Continue reading Akal Bulus Elagabalus

Juana Si Gila

Juana si Gila, putri dari Isabella de Castille dan Ferdinand de Aragon

Dahulu Andalusia (sekarang Spanyol dan Portugal) pernah menjadi bagian dari wilayah Islam untuk waktu yang sangat lama. Ketika Andalusia berada di bawah kekuasaan Islam, ilmu pengetahuan berkembang pesat, masyarakatnya juga sejahtera. Bahkan kesejahteraan itu bukan cuman buat orang Islam doang, tetapi juga bagi nonmuslim yang menjadi warga negara dari negara Islam. Bahkan Anne Maria Menocal, seorang cendekiawan barat, mengatakan bahwa “Andalusia adalah kota tiga agama”. Di sanalah umat Islam, Kristen, dan Yahudi hidup secara damai dan sejahtera. Penuh toleransi dan tenggangrasa. Semuanya karena pemerintahan Islam menjalankan hukum Islam dengan baik, sehingga terwujudlah rahmat bagi seluruh alam.

Tetapi teror pun dimulai ketika negara api menyerang, eh maksudnya ketika orang kafir menyerang. Kaum Kristen yang dipimpin oleh Ratu Isabella dan Raja Ferdinand berhasil mengalahkan pemerintahan Islam, kemudian menggelar mahkamah inkuisisi yang dimulai pada 1478. Mahkamah inkuisisi inilah yang kemudian memakan banyak korban. Dengan alasan hendak menjaga kemurnian agama Katolik, mereka memaksa semua orang yang berbeda dengan mereka untuk mengganti keimanan. Korbannya adalah kaum Muslim dan kaum Yahudi. Mereka yang menolak maka diusir dari Andalusia, atau dieksekusi. Maka dimulailah teror, penyiksaan, dan pembantaian besar-besaran. Populasi umat Islam yang awalnya sangat banyak di Andalusia, berkurang drastis. Mereka dibunuh atau hengkang dari Andalusia dengan perahu-perahu kecil yang tidak seberapa, dan banyak dari mereka yang tewas di tengah lautan ketika hendak menyeberang ke wilayah Islam di Afrika Utara.

Tetapi bukan kebengisan Ratu Isabella dan Raja Ferdinand yang bakal dikisahkan kali ini. Kita bakal berbagi cerita tentang keturunan raja dan ratu yang bengis ini, yang sebagian besar dari mereka menjadi gila. Salah satunya adalah putri mereka sendiri, namanya Juana.

Continue reading Juana Si Gila