Nabi Yang Aneh!

Harap baca judul di atas dengan gaya Tora Sudiro yang ada di Extravaganza! Sebab nabi yang akan saya kisahkan di dalam tulisan ini memang sangat aneh, dia adalah Musailamah. Orang ini mengaku nabi ketika Rasulullah Muhammad Saw. masih hidup, sehingga Rasulullah saw. memberinya gelar al Kadzab (pembohong). Musailamah bergerak di kawasan Yamamah. Dia punya pengikut yang cukup banyak juga, sehingga membuat kaum muslimin cukup kerepotan untuk menumpas pergerakannya pada masa Khalifah Abu Bakar Shiddiq.

Para utusan dari Bani Hanifah ketika menghadap Khalifah Abu Bakar menceritakan tentang bagaimana sepak terjang nabi palsu ini. Ayat-ayat yang dia klaim diturunkan Allah kepadanya amatlah menggelikan, di antaranya membahas tentang kodok dan petani gandum. Khalifah Abu Bakar berkomentar bahwa mustahil ayat-ayat seperti  itu diturunkan oleh Tuhan. Imam Ibnu Katsir menyampai komentar yang senada, anak-anak kecil saja enggan mengucapkan ayat-ayat itu dalam permainan mereka.

Musailamah al Kadzab sang nabi palsu ini ternyata sering kepergok meniru-niru Rasulullah Muhammad saw. Suatu kali dia mendengar bahwa Rasulullah meludah kepada sebuah sumur, maka sumur itu jadi melimpah airnya. Dia melakukan juga apa yang Rasulullah saw. lakukan, ternyata sumur yang hampir kering airnya itu malah  jadi kering total. Pernah juga dia meludah ke sumur yang lain, airnya malah berubah rasa menjadi asin (koplak banget dah!). Dia juga pernah berwudhu dan menyiramkan air bekas wudhunya itu ke sebatang pohon kurma (mengikuti apa yang pernah dilakukan Rasulullah saw.), eh pohon kurma itu malah jadi kering, kemudian layu dan mati. Dua orang bayi pernah datang menghadap Musailamah al Kadzab minta diberkahi dengan mengusap kedua ubun-ubun mereka. Tak lama setelah dia melakukan pemberkatan itu, rambut salah satu bayi malah jadi rontok seluruhnya, dan bayi yang satunya lagi malah jadi gagap (wadduh!). seseorang yang sedang menderita sakit mata pernah juga datang menghadap Musalimah al Kadzab, minta disembuhkan. Dia menyeka kedua belah mata orang itu, ternyata mata orang itu malah jadi buta total (malang nian!). Itulah dia sepak terjang nabi yang aneh.!!!

Advertisements

Menginjakkan Kaki di Tanah Aceh

Berbagi inspirasi.

Tanggal 15 November 2012 adalah hari yang tidak akan pernah saya lupakan dalam hidup saya. Sebab pada hari itulah saya –untuk yang pertama kali- berhasil menginjakkan kaki di tanah jihad yang bersejarah, Aceh. Hadirnya saya di Aceh pun bukan untuk sekadar main-main atau tamasya, melainkan untuk berbagi semangat dan kisah tentang Islam, Aceh, dan perjuangan para pejuang Islam Aceh pada masa lalu.

Saya berkesempatan untuk berbagi inspirasi bersama kawan-kawan mahasiswa dari Universitas Samudera Langsa (Unsam). Kegiatan yang bertajuk Training Motivasi Mahasiswa SUPER (Sukses dan Prestatif) ini terselenggara atas kerjasama Kajian Islam Az Zahra Unsam dengan Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Kota Langsa.

Ratusan mahasiswa dan mahasiswi Unsam memadati aula Fakultas Teknik Unsam, membuat saya jadi semakin berdebar-debar. Saya berangkat dari Medan sehari sebelumnya (tanggal 14) jam 8 malam naik bus. Kawan-kawan becerita pada saya bahwa Langsa tidak terlalu jauh dari Medan. Perjalanannya hanya makan waktu 4 jam saja. Saya ditemani oleh istri saya tercinta yang punya nickname Alga Biru. Bus yang nyaman itu menemani kami menembus malam, melintasi Medan yang ramai dan penat, memasuki Binjai, kemudian Stabat, terus ke Tamiang, hingga kemudian ke Langsa. Lalulintas cukup ramai di luar. Kilatan-kilatan cahaya lampu kendaraan menemani perjalanan. Berhamburanlah doa-doa menguap ditelan malam.

Baru beberapa saat saja menikmati perjalanan, istri saya langsung tertidur dengan bersandar ke bahu saya. Sementara saya masih asyik menikmati pemandangan malam. Setelah kira-kira melewati Stabat, barulah mata saya terasa berat, hingga tanpa sadar saya terbenam di kursi bis yang empuk. Saya terlelap. Entah berapa lama saya memejamkan mata, ketika terbangun, bis yang kami tumpangi sudah berjalan sampai Aceh Tamiang. Saya menatap keluar jendela kaca bis, yang ada hanya kegelapan. Terkadang saya menyadari bahwa kami baru saja melewati sebuah bukit batu yang cukup tinggi, rindang dan misterius, kemudian melintasi kebun-kebun sawit yang berderet-deret. Zikir kepada Allah saja yang menenangkan hati.

Menjelang tengah malam, saya mendapat sms dari bang Iqbal, salah seorang pengurus HTI Langsa. Ada instruksi di dalam sms itu bahwa saya harus bilang kepada kernet bis nanti minta turun di Simpang Tugu kota Langsa, jangan terus sampai ke terminal Langsa. Saya pun manut kepada instruksi itu. Kira-kira tepat tengah malam saya dan istri saya diturunkan di Simpang Tugu kota Langsa.

Jalan raya sudah sepi. Di sisi jalan tempat kami berada hanya ada gedung Jasa Raharja. Saya sendiri tidak mengerti, kalau kawasan itu dinamakan Simpang Tugu mestinya ada tugu terletak di situ, tapi saya tidak melihatnya, mungkin karena sudah gelap. Akhirnya saya memutuskan untuk mengontak bang Iqbal via sms. Beberapa menit menunggu, datanglah sebuah mobil jip hitam menghampiri kami. Keluarlah seorang lelaki gagah dengan perawakan tinggi menghampiri kami. Itulah bang Iqbal.

Bukan bang Iqbal yang mengemudikan mobil, namun seorang temannya yang baik sekali. Kami dibawa sampai sebuah penginapan yang amat nyaman yang bernama Wisma Mutiara. Belakangan kami tahu bahwa Wisma Mutiara adalah milik seorang syabab dari Langsa, Pak Gunawan al Ghifari.

Sesampainya di Wisma Mutiara istri saya langsung istirahat di kamar, sementara saya asyik mengobrol berdua dengan bang Iqbal. Yang terjadi selalu saja fenomena yang saya, ketika orang-orang yang aktif di dalam dakwah bertemu pastilah mereka akan langsung tenggelam dalam obrolan-obrolan tentang dakwah. Begitu jugalah yang terjadi antara saya dengan bang Iqbal malam itu. Bang Iqbal bercerita panjang lebar tentang latarbelakang aksi menolak lontaran para aktivis HAM dan feminis bahwa syariat Islam mengekang kebebasan perempuan. Tak terasa kami mengobrol sampai jam satu pagi. Saya pun pamit untuk istirahat sebab keesokan paginya harus fit untuk sharing dengan kawan-kawan dari Unsam.

Nyaman sekali menginap di Wisma Mutiara, apa yang terpikir di kepala saya ketika naik ke atas ranjang adalah berapa banyak saya harus membayar sewanya (hehe). Alhamdulillah Allah memberikan kebaikan yang banyak.

Hari baru telah menyingsing. Saya cek lagi slide yang akan saya presentasikan nanti. Dan saya bersyukur saya cek ulang slide saya sebab ternyata ada gangguan di sana. Beberapa klip yang akan saya putar ternyata tidak bisa jalan entah apa sebabnya. Saya coba berbagai cara tetap tidak bisa. Namun saya tetap tidak menyerah, hingga saya menemukan suatu cara yang cukup rumit barulah klip-klip itu mau menurut kepada saya.

Kami dijemput di Wisma Mutiara oleh seorang syabab yang saya lupa menanyakan namanya. Yang pasti ikhwan kita ini ganteng (saya jujur). Dengan mobil sedannya kami diantarkan ke Unsam yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Wisma Mutiara.

Acara pun dimulai. Saya ingatkan kita semua apa yang pernah dilakukan oleh para pahlawan kita dahulu, mereka semua teguh dengan Islam, mereka semua berkorban. Saya uraikan juga bagaimana perkasa dan gagahnya kaum muslim Aceh ketika melawan sebuan Belanda. Saya nyanyikan syair-syair Aceh yang begitu masyhur di masa-masa yang lampau. Saya sampaikan Hikayat Perang Sabil, dododaidi, dan senandung-senandung Aceh yang menggentarkan singgasana penjajahan. Dan semua itu karena mereka semua teguh terhadap Islam. Sayangnya apa yang dilakukan oleh generasi kita? Kebanyakannya adalah perbuatan-perbuatan yang memalukan dan rendahan. Kemudian saya pandu seluruh peserta untuk menemukan tujuan hidup dan akidah kita semua, akidah Islam.

Saya bersyukur kepada Allah bahwa para peserta cukup antusias dengan semua uraian saya, terbukti dengan cukup banyaknya peserta yang mengacungkan tangannya dalam sesi tanya jawab yang tidak semua bisa saya layani. Sesi tanya jawab itu bahkan masih berlangsung secara informal setelah acara usai.

Saya ngobrol-ngobrol dengan para peserta dan panitia dengan hangat dan akrab. Saya tanyakan banyak hal tentang Aceh juga kepada mereka (saya tertarik sekali untuk berkunjung ke rumah Cut Meutia dan Cut Nyak Dien). Setelah acara selesai saya dan istri saya kembali lagi ke Wisma Mutiara. Di sana saya mengobrol lagi panjang lebar. Kali ini dengan Pak Gunawan sang pemilik wisma.

Ketika saya ngobrol dengan beliau barulah terungkap bahwa wisma yang nyaman itu bukan milik beliau, melainkan milik salah seorang kerabat beliau. Saya ngobrol banyak hal tentang Aceh, tentang kehidupan Aceh, tentang bahasanya, budayanya, konfliknya, dan tentang dakwah di sana. Ternyata Pak Gunawan masih keturunan sultan Aceh dari pihak ibu. Beliau juga memberi saya harta berharga berupa referensi tentang tokoh-tokoh ulama Aceh. Salah seorang ulama Aceh yang cukup menarik perhatian saya adalah Teungku Ahmad Dewi. Beliau adalah salah seorang ulama Aceh yang gigih menentang tirani Soeharto hingga akhirnya beliau menghilang tanpa jejak, dan tidak diketahui keberadaannya sampai sekarang. Subhanallah, Aceh memang tanah jihad dan tanah para pahlawan. Ada banyak hal yang bisa kita gali dari sana.

Ketika saya dan istri saya naik mobil kijang carteran (biasanya disebut taksi) untuk kembali ke Medan pada sore harinya, barulah terjawab apakah gerangan Simpang Tugu itu. Ternyata ada sebuah tugu yang unik sekali bentuknya yang tegak di tengah-tengah sebuah persimpangan jalan. Ketika kami melewati tugu itu ada satu hal yang menarik perhatian saya. Pada bagian sisi puncak tugu itu ada sebuah tulisan yang sangat menakjubkan saya, tulisan itu adalah “Udep Saree, Mate Syahid.” Subhanallah…

Siapa Menabur Angin, Pasti Menuai Badai

Update terbaru yang saya baca dari situs Hizbut Tahrir Indonesia mencantumkan angka lebih dari 100 orang telah syahid di Gaza dalam penyerangan Israel ke wilayah itu (19/11). Mereka yang terbunuh adalah anak-anak, wanita, dan orangtua. Ratusan roket baik dari daratan maupun udara sekaligus lautan diluncurkan ke Gaza. Ledakan-ledakan besar tercipta, bunga-bunga api membubung tinggi. Nyawa-nyawa suci melayang ke haribaan Tuhan.

Penguasa-penguasa negeri muslim yang ada di sekitar Palestina hanya bisa mengutuk dan mengecam. Seolah-olah mereka sajalah yang paling peduli kepada nasib umat. Padahal setelah melakukan pengutukan dan pengecaman itu mereka hanya bisa diam. Hal yang paling masuk akal dan syar’I yang semestinya mereka lakukan adalah mengirimkan angkatan perang untuk berjihad di jalan Allah menyelamatkan Palestina dari kungkungan kezaliman Israel. Sebab bangsa monyet ini dari dulu selalu saja bikin onar. Dari dulu!!! Sayangnya penguasa-penguasa negeri muslim ini semuanya antek penjajah, dan tidak akan pernah berani bergerak kalau belum direstui oleh majikan mereka, negara kafir penjajah. Mereka semuanya impoten. Masih lebih perkasa rakyat mereka yang siap berjihad kapan saja untuk menyambut seruan Allah dalam misi penyelamatan kaum muslim ini. Pemimpin-pemimpin seperti itu memang sudah seharusnya digulingkan, karena sebenarnya keberadaan mereka bukanlah demi kepentingan umat, melainkan demi kepentingan negara-negara kafir penjajah.

Semakin pongah Israel dengan operasi militernya, akan semakin dekat juga kemenangan dan kebangkitan Islam. Sebab sebenarnya serangan Israel atas jalur Gaza itu adalah ekspresi ketakutan mereka atas  perkembangan politik terkini di Suriah (Syam) yang semakin dekat dengan tegaknya Khilafah Islamiyah. Namun tak peduli apapun yang mereka lakukan, Khilafah adalah janji Allah, pasti akan tegak tak lama lagi. Dan ketika Khilafah tegak, saat itulah sebuah badai besar akan datang dan menerjang seluruh entitas Yahudi Israel dari peta dunia. Siapa yang menabur angin, pasti menuai badai.

Pelajar Kita dan Pelajar Barat

Jika kita melihat bagaimana kondisi pelajar kita saat ini, maka tentu kita akan geleng-geleng kepala dan mengurut dada. Benar sekali, kondisi pelajar kita memang sangatlah parah. Entah di mana yang salah, seolah-olah yang bandel dan begajulan lebih banyak daripada yang soleh dan berprestasi. Atau mungkin ada pemberitaan yang berat sebelah, sehingga para pelajar yang soleh dan berprestasi ini tidak banyak diekspos media, dan yang naik ke permukaan hanya yang nakal-nakal saja! Ada banyak kemungkinannya.

Namun pada kasus para remaja ini pun berlaku satu rumus yang sama, “kalau kerusakannya sudah meluas dan massal, maka yang salah adalah sistemnya.” Kalau para pejalar yang nakal dan jahat itu hanya berjumlah satu atau dua orang, maka bisa saja ada yang salah pada diri para remaja itu sendiri. Tapi kalau pelajar yang nakal dan jahat itu sudah tersebar luas dan berjumlah banyak sekali, maka tidak bisa tidak, yang salah adalah sistem yang saat ini sedang diterapkan. Terutama sistem pendidikan.

Fenomena itulah yang terjadi saat ini! Di mana-mana tawuran, bahkan tawuran pelajar ini sudah terlihat seperti ‘perang kolosal’ antara dua pasukan perang yang berhadap-hadapan dengan senjata terhunus. Perang kolosal antarpelajar ini kemudian banyak menjatuhkan korban jiwa. Dari data Komnas Perlindungan Anak bisa kita lihat bahwa pada enam bulan pertama tahun 2012 saja sudah terjadi ratusan kali tawuran pelajar. Hingga bulan Juni, sudah terjadi 139 kali tawuran pelajar di Jakarta saja. Sebanyak 12 kasus tawuran menyebabkan kematian. Pada tahun lalu ada sebanyak 339 kasus tawuran yang menyebabkan 82 siswa tewas (Jurnal Al Wa’ie edisi November 2012). Pada tahun 2007 terdapat sekitar 500 jenis video porno produksi dalam negeri, pada tahun 2011 jumlah itu naik menjadi sekitar 800 jenis. Belum lagi berbagai kasus aborsi, seks bebas, dan pelacuran yang begitu banyak terjadi di dunia pelajar. Semua ini menunjukkan bahwa ada yang salah dengan sistem (terutama pendidikan) yang saat ini sedang kita terapkan.

Para pelajar di barat pun sebenarnya tidak jauh berbeda. Karena sistem yang kita pakai dengan sistem yang mereka pakai relatif sama, yaitu kapitalisme-sekular, maka fenomena yang terjadi di dunia pelajarnya pun hampir sama. Di dalam dunia pelajar di negara-negara barat seperti Amerika, Inggris, Prancis, Jepang, dll, banyak sekali terjadi kasus bullying yang telah sukses membuat banyak remaja di barat tertekan. Bahkan di Jepang, karena banyaknya kasus bullying ini merebaklah fenomena hikikomori, yaitu sejumlah anak remaja Jepang yang mengurung diri di kamarnya, dan menolak keluar lagi. Mereka tidak mau sekolah lagi, tidak mau bermain, tidak mau melakukan apapun, mereka hanya mau mengurung diri di dalam kamar. Apa yang mereka lakukan di dalam kamar adalah berbagai hal yang mereka sukai, seperti main video game, baca manga, internetan, dll. Terkadang mereka keluar secara sembunyi-sembunyi lewat jendela untuk membeli berbagai barang kebutuhan mereka, lalu kembali lagi mengurung diri di kamar.

Apa yang terjadi di Amerika juga sama parahnya dengan di negeri ini. Kita ingat dengan kasus Eric Harris dan Dylan Klebold. Mereka berdua dengan senjata otomatis memberondong teman-teman dan gurunya yang sedang asik makan di kantin. Padahal mereka terkenal sebagai anak yang pendiam dan baik. Ternyata mereka melakukan semua itu karena pernah merasakan bullying dan karena pengaruh video game tembak-tembakan yang bisa mereka mainkan selama berjam-jam. Peristiwa itulah yang kemudian diangkat oleh Michael Moore dalam film dokumenternya yang terkenal, Bowling for Columbine. Jelaslah, bahwa pelajar kita dan pelajar barat hampir tak ada bedanya, karena sistem yang diterapkan antara kita dan mereka sama saja, kapitalisme-sekular. Sudah saatnya sistem rusak itu dibuang ke tong sampah peradaban, dan diganti secara menyeluruh dengan syariah Islam di dalam naungan Khilafah Islamiyah. Bravo…

Derita Anak Alay

Sebuah pertanyaan.

Anak alay seolah-olah sedang merajalela di mana-mana. Mereka terlihat di berbagai sudut kota dan nampak di berbagai komunitas. Ada banyak definisi dan ciri yang beredar berkaitan dengan siapa sebenarnya anak alay ini. sebagian menyatakan bahwa anak alay awalnya adalah singkatan dari anak layangan. Ciri mereka adalah kulit cokelat, rambut cokelat, dan bau mereka khas, bau matahari. Mereka jadi begitu karena sering main layangan di bawah sinar matahari. Kalangan lain mengatakan bahwa anak alay bisa kita kenali dari dandanannya yang norak. Warna yang mencolok, tidak serasi, dan terkesan seenaknya. Pakai kacamata super besar, potongan rambut yang miring (istilahnya ramirez, rada miring nggak berez), dan gemar sekali bergaya sok imut dengan kamera ponsel. Ada juga yang mengidentikkan bahwa anak alay adalah anak-anak miskin yang ingin mengikuti tren tapi tidak punya modal yang cukup. Sehingga mereka bergaya dengan norak dengan ala kadarnya, berharap benar-benar mengikuti tren. Anak-anak alay model begini biasanya terlihat di acara-acara musik yang biasa digelar di televisi. Mereka akan bertingkah heboh dan bersorak sesuka-suka dengan mode dan gaya yang amat kampungan.

Fenomena anak alay yang sedang merebak ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan berbagai fenomena mode yang lain. Remajalah yang akan selalu menjadi pemeran utamanya. Sayangnya, para remaja mengikuti pada berbagai fenomena mode itu hampir tanpa berpikir sama sekali. Apapun yang menurut mereka keren dan funky akan segera mereka tiru, tanpa memperhitungkan lagi kepantasannya, kebaikannya, apalagi halal atau haramnya. Padahal kita akan merasakan betapa hidup ini begitu sempit dan mahal jika mengikuti setiap tren mode yang berkembang. Saat gaya rambut miring seperti Kangen Band sedang ngetren kita mengikutinya. Saat gaya poni khatulistiwa milik Syahrini sedang ngetren, kita mengikutinya. Saat gaya busana milik artis yang lain sedang ngetren kita segera mengikutinya. Tidakkah merasakan bahwa semua itu butuh biaya, padahal belum tentu semua itu penting bagi kita. Tentunya kita tidak akan mati kelaparan kalau gaya rambut kita tidak miring seperti Kangen Band. Dengan mengikuti tren maka hidup kita akan sepenuhnya dikendalikan oleh tren. Kita tidak akan lagi memiliki kebebasan untuk memakai apa yang kita mau. Dan bahkan bisa jadi karena tren itulah kita banyak melanggar aturan Allah dan RasulNya.

Lihat saja, karena mengikuti tren, ada banyak remaja putri yang membuka auratnya. Padahal jelas-jelas menampakkan aurat adalah sebuah dosa besar yang akan menjatuhkan harga diri kita di hadapan Allah azza wa jalla. Namun semua itu dengan entengnya diabaikan.

Berbagai tren yang sedang merebak saat ini tidaklah berdiri sendiri dan ada dengan sendirinya. Gejolak tren itu telah diatur dan dikendalikan oleh para kapitalis yang dari sanalah nantinya mereka akan meraup keuntungan sebesar-besarnya. Karena itulah, ketika membebek pada tren, sebenarnya kita sedang menyerahkan diri kita bulat-bulat untuk dikendalikan oleh para kapitalis dengan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan Rasulnya. Terlebih lagi anak alay yang katanya banyak berasal dari kalangan orang susah. Kalau sudah susah, jangan memaksakan diri untuk mengikuti tren, apalagi mengikuti tren itu tidak ada gunanya sama sekali. Lebih baik menyibukkan diri dengan hal-hal yang berguna dan berpahala.

Nasib “Beruang”

Kerja Paksa

Pada zaman kolonial Belanda, orang-orang yang dihukum kerja paksa biasanya disebut “beruang”. Para beruang ini adalah orang-orang yang melakukan berbagai tindak kriminal seperti perampokan, pencurian, pembunuhan, pemerkosaan, dll. Bentuk hukuman yang mesti mereka tanggung adalah kerja rodi, membuat bangunan, jalan, mengangkut berbagai keperluan logistik militer, dan banyak lagi. Dalam tulisan ini saya akan bercerita tentang nasib beruang yang harus menjalani hidupnya dalam kerja paksa di Aceh, turut serta dalam berbagai ekspredisi korps Marsose ketika memburu para pejuang muslim Aceh.

Para beruang memang bernasib malang. Mereka harus menguntit rombongan Marsose yang melintasi belantara Aceh dalam misi mengejar para pejuang muslim Aceh. Tak jarang nyawa mereka turut terancam oleh serangan para pejuang Aceh, dan mereka turut berjatuhan menjadi korban. Di tengah-tengah kemiliteran Belanda terdapat 18 batalyon infanteri. Kelompok beruang ini sering kali disebut “batalyon 19” atau “batalyon merah”, karena para beruang diberi seragam berwarna merah. Tidak ada catatan statistik yang pasti tentang berapa banyak jumlah beruang yang telah tewas karena serangan pejuang Aceh.

Para beruang harus mengangkut berbagai barang yang amat berat melintasi bukit dan gunung, juga hutan belantara dan lereng-lereng. Pundak mereka wajib menjunjung beban puluhan kilogram, terbayang sekali betapa berat penderitaan mereka.

Pada ekspedisi Marsose yang pimpin oleh seorang komandan Belanda bernama Jenae yang dilaksanakan pada tahun 1905, bergabunglah sebanyak 400 orang beruang di dalamnya. Ekspedisi itu harus menempuh perjalanan dari Kuala Simpang ke Blang Kejeren, melintasi bukit-bukit dan belantara, serta sungai-sungai. Apa yang harus diangkut oleh para beruang itu adalah bertong-tong minuman jenewer (semacam minuman keras, dan seorang mendapat minuman keras setiap hari), berkaleng-kaleng minyak tanah, dan minyak kelapa untuk menggoreng. Zentgraff mengisahkan, “ketika itu tidak ada dapur tentara yang tidak menggunakan banyak minyak kelapa untuk masak atau menggoreng masakan, sehingga setiap anggota pasukan akhirnya bergelimang dalam minyak kelapa dan hanya diperlukan secarik sumbu lampu saja untuk membuat mereka bisa menyala.”

Biasanya para beruang itu mengerjai beban-beban yang mereka pikul agar menjadi lebih ringan. Mereka pura-pura jatuh kemudian menabrakkan kaleng-kaleng minyak itu ke batu-batu yang tajam hingga berlubang. Sepanjang jalan beban mereka menjadi semakin ringan karena minyak-minyak itu terbuang sebab kalengnya bocor. Itu pulalah yang terjadi dengan tong-tong minuman jenewer. Beruang-beruang yang mesti memanggul tenda (tenda adalah salah satu barang pikulan yang tidak digemari karena amat berat) biasanya akan menghanyutkan tenda-tenda itu ke dalam sungai ketika rombongan melewati sungai.

Malangnya nasib para beruang juga bisa kita lihat dari ekspedisi yang dipimpin oleh Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz ketika menyerbu Tangse. Mayor van Loenen, komandan angkutan, pada hari ketiga, terpaksa meninggalkan para beruang yang sakit di tengah hutan. Tidak ada yang tahu bagaimana nasib para beruang itu.

Masih di dalam pasukan van Heutsz yang akan menaklukkan Tangse, kolone Marsose itu berjalan sampai larut malam di tengah hutan, karena itulah bivak (perkemahan prajurit) tidak bisa dibuat karena hari sudah malam sekali. Karena itulah setiap anggota merebahkan badan tepat di atas tempat mereka berdiri. Para beruang pun begitu, mereka menaruh barang-barang bawaan mereka yang amat berat dan langsung tertidur di situ karena tubuh mereka sudah kelelahan. Ketika pagi telah datang, ditemukanlah 11 mayat yang telah kaku di tanah. Ternyata malamnya malaikat maut berkeliaran merenggut nyawa mereka. Mayat-mayat para prajurit ditutupi dengan dedaunan, sementara mayat para beruang digeletakkan begitu saja di atas tanah. Kemudian mereka hanya akan menjadi umpan babi hutan.

Kondisi para beruang itu memang amat memprihatinkan, terutama kondisi makanan mereka. Para beruang itu kerap kali diberi makanan sisa yang sangat tidak memadai, dan bahkan mereka sering kali melewati satu waktu makan. Jika normalnya makan itu tiga kali sehari, maka para beruang hanya makan dua atau satu kali sehari. Karena kondisi inilah banyak sekali beruang yang benar-benar keletihan memikul beban hingga mereka tewas begitu saja.

Para komandan brigade lebih menyukai beruang yang latarbelakangnya seorang pembunuh atau penikam, daripada yang latarbelakangnya perampok, pencuri, atau penipu. Untuk beruang-beruang yang disebut terakhir ini biasanya mereka akan mencuri senapan, mesiu, atau barang apapun yang amat penting, kemudian menjualnya kepada pihak pejuang Aceh. Padahal apa bedanya pencuri atau pembunuh? Sama-sama kriminal.

Para beruang ini pun sering kali menjadi pion yang sengaja dikorbankan dan mendapatkan tugas-tugas yang membahayakan nyawa mereka. Pada masa lini konsentrasi (de concentrerde linie), ketika hari masih subuh, mereka sering disuruh memeriksa baut-baut rel kereta api, khawatir ada sabotase yang dilakukan oleh para pejuang Aceh terhadap rel-rel tersebut. Pada masa itu pun kerap kali ditemukan granat-granat yang terpasang di rel kereta, dan jika ada kereta yang lewat granat-granat itu akan meledak. Sementara rel kereta tersebut letaknya di luar lini konsentrasi yang dikuasai oleh para pejuang Aceh.

Salah satu tugas berbahaya yang dibebankan kepada para beruang ini adalah menjadi pengantar pesan. Pada tahun 1899, sebuah pos Belanda di Meureudu sudah seluruhnya dikepung para pejuang Aceh. Di dalam pos itu ada 150 prajurit yang sayangnya mengalami demoralisasi. Mereka menjadi apatis dan memble, padahal mereka mesti menghadapi serangan gencar dari para pejuang Aceh. Tersiarlah kabar bahwa ada 8 brigade Marsose yang sedang bergerak dari Pidie ke Pante Raja. Karena itu dikirimlah seorang beruang untuk mengantarkan pesan SOS kepada brigade Marsose itu.

Di Pante Raja, para anggota Marsose membuat bivak dan kerap kali mandi-mandi di sungai dekat kedai. Ketika mereka sedang mandi-mandi itulah menyembul sebuah kepala dari dalam sungai persis seperti kepala buaya yang menyembul dari dalam sungai ketika mengawasi mangsanya. Pesan pun telah disampaikan. Terbayang betapa berbahayanya misi seorang beruang itu, dia mesti merangkak di rawa-rawa, melintasi daerah-daerah yang dikuasai pihak pejuang Aceh, naik-turun gunung dan lembah, dan sewaktu-waktu maut mengintainya. [sayf]

Mayhem, Black Metal Sejati

cover album Mayhem yang berjudul Dawn of the blackhearts. Cover ini diambil dari foto asli salah satu personel Mayhem yang mati bunuh diri dengan menembak sendiri kepalanya.

Judul di atas memang nggak main-main. Dalam dunia musik ada aliran musik cadas yang namanya Black Metal. Aliran ini bukan Cuma dikenal dengan musiknya yang keras, tapi juga identik dengan ritual-ritual penyembahan setan, antiTuhan, kekerasan, kematian, seks, dadanan menjijikan dan menyeramkan, dan hal-hal ‘gelap’ lainnya. Salah satu band black metal yang besar adalah band asal Norwegia yang bernama Mayhem.

Mayhem memang band black metal sejati. Aliran musik mereka yang keras dengan lirik-lirik yang gelap tidak hanya ada di atas panggung, tapi juga merasuk sampai ke keyakinan dan jalan hidup mereka. Karena itulah mereka bisa mengatakan bahwa band-band black metal di amerika Cuma band black metal kacangan yang dandanan dan tingkahnya palsu, hanya untuk mendapatkan uang. Sebab Mayhem memang sebuah band yang gelap, bahkan berdarah-darah.

Mayhem didirikan tahun 1984 di Oslo, Norwegia, dan dinobatkan sebagai band pelopor Norwegia Black Metal Scene. Awalnya personel Mayhem hanya 3 orang: Oystein Aarseth (alias Euronymous); Jorn Stubberurd (alias Necrobutcher), dan Kjetil Manheim. Pada tahun 1986 masuklah Eirik Nordheim (alias Messiah), dan Sven Erik Kristiansen (alias Maniac). Mereka mulai melakukan tur di Eropa dengan mempertunjukkan aksi panggung yang gila dan sadis. Aksi Euronymous dan  Maniac yang paling ditunggu-tunggu. Apalagi Maniac, dia sering mabuk berat, muntah, dan jatuh pingsan di panggung. Bahkan dia pernah mencoba bunuh diri di panggung. Karena ulahnya yang gila ini dia dipecat dan ternyata dia benar-benar gila hingga harus dijebloskan ke rumah sakit jiwa. Karena nggak tahan dengan dunia yang gelap dan brutal seperti itu, Manheim pun hengkang dari Mayhem. Sebagai pengganti mereka berdua, masuklah Per Yngve Ohlin (alias Dead) dan Jan Axel Blomberg (alias Hellhammer). Di antara mereka, Dead adalah orang yang paling aneh sekaligus berdarah.

Bard Eithun, personel band Emperor, berkomentar tentang Dead: “Dia bukanlah orang yang bisa kamu kenal dengan baik. Saya rasa personel Mayhem yang lain pun tidak menyenalnya dengan baik. Dia sangat sulit didekati. Saya bertemu dengan dia 2 minggu sebelum dia mati. Dia punya banyak sekali ide yang aneh. Saya ingiat Aarseth bicara tentang dia, katanya dia tak punya sedikit pun selera humor. Saya rasa dia tidak menikmati hidup di dunia ini.”

Dead adalah seorang yang melankoli, menyukai tema-tema kematian, pembusukan, dan kegelapan. Dan dia memang benar-benar aneh. Suatu kali dia pernah mengubur pakaiannya di dalam tanah. Setelah beberapa minggu dia menggalinya lagi, dan pakaian yang sudah membusuk itu dia pakai ketika konser Mayhem. Dia juga pernah memasukkan bangkai gagak ke dalam sebuah kantong plastik, untuk menghirup aroma kematian. Dia juga sering melukai dirinya sendiri dan seolah-olah senang dengan darah yang tertumpah di tubuhnya. Kepala-kepala babi yang ditusukkan ke tombak pun dijajarkan di sekitar panggung. Gila dan serem banget kan?

Pada tahun 1990 ketika mempersiapkan album De Mysteriis Dom Sathanas, Mayhem menyewa sebuah rumah di hutan pinggiran Oslo. Di sanalah mereka mulai menulis lagu dan aransemen musik. Pada tahun 1991, Dead benar-benar ‘dead’ di rumah itu dengan menembakkan sebuah shotgun ke kepalanya. Mayat Dead pertama kali ditemukan di sebuah kamar yang terkunci oleh Euronymous. Selain luka tembak yang membuat kepalanya pecah, ditemukan juga luka sayatan di pergelangan tangannya. Di dekat mayat Dead juga ditemukan surat terakhir yang isinya: “Excuse all the blood, cheers” (sori banget darahnya ye). “The knife was too dull to finish the job so I had to use the shotgun” (pisaunya tumpul banget buat ngerjain beginian, jadi ane pake shotgun aja ye). Saat perama kali Euronymous menemukan mayat Dead, bukannya manggil ambulance atau polisi, eehh dia malah ngambil kamera, trus asyik motret-motret mayat kawannya sendiri yang mati dengan tragis. Foto orang bunuh diri itu kemudian jadi cover album bootleg Mayhem yang bertajuk Dawn of the Black Hearts. Emang udah pada koplak.

Occultus, yang menggantikan Dead di Mayhem, bercerita: “Dia nggak ngerasa dirinya itu manusia. Dia nganggap dirinya itu semacam makhluk dari dunia laen. Katanya dia sering ngerasa darahnya tu beku, dan dia sering ngerasa bahwa dia udah mati. Karena itulah dia pake nama ‘Dead’. Dia tahu dia bakal mati.” (Akhirnya beneran mati kan lu Dead?)

Kata Hellhammer, waktu Euronymous nemuin mayat Dead dia mengambil beberapa potong otaknya dan bikin sop dicampur daging, sayuran, dan merica, trus dicampur otaknya si Dead yang udah ‘dead’. Euronymous juga bikin kalung dari beberapa serpihan tengkoraknya si Dead. Dasar, koplak kok dipelihara. Untuk mengamalkan ajaran-ajaran satanisme, personel-personel Mayhem pun sering terlibat upaya pebakaran gereja. Berkali-kali dikejar polisi dan masuk penjara. Nah, keliatan banget kan, ternyata musik itu bukan Cuma enak didenger, tapi juga sering kali di dalamnya ada ajaran tertentu yang sangat berbahaya buat keimanan dan diri kita. So, waspadalah sama musik. [sayf. dimuat di Drise edisi Oktober 2012]

Kepada Siapa Presiden Kita Berpihak??

Pada tanggal 31 Oktober 2012 yang lalu presiden kita yang terhormat Susilo Bambang Yudhoyono menerima penghargaan Knight Grand Cross in the Order of the Bath dari Ratu Elizabeth II. Setelah makan siang di Blue Drawing Room di Istana Buckingham, Ratu Elizabeth II menyelempangkan selendang tanda penghargaan itu berikut bintang jasanya. Penghargaan ini diberikan kepada orang-orang yang telah melakukan perbuatan-perbuatan luar biasa di dalam bidang militer dan sipil. Dan sang ratu memberikan penghargaan ini kepada SBY karena jasanya yang telah mempererat hubungan kedua negara, Indonesia dan Inggris.

Saya juga ingat bahwa SBY pernah mengeluarkan pernyataan yang amat terkenal, “I love America and all of it’s fault, and I consider it as my second country.” Yang artinya, saya mencintai Amerika dengan semua kesalahannya, dan saya menganggapnya sebagai negara kedua saya.

Dari kedua peristiwa ini sebenarnya kita bisa menilai dengan jelas kepada siapa presiden kita berpihak. Ratu Inggris tidak akan mungkin memberikan penghargaan yang sebegitu bergengsinya kepada orang-orang sembarangan. Dia hanya akan memberikan penghargaan itu kepada orang yang “berjasa” besar bagi negaranya. Di dalam situs http://www.presidenri.go.id termuat alasan mengapa ratu Inggris menganugerahkan penghargaan itu kepada SBY, “Presiden SBY diberikan penghargaan ini oleh Ratu Elizabeth II atas jasanya yang telah mempererat hubungan antar kedua negara.”

Benar sekali, presiden SBY memang telah berjasa besar dalam mempererat hubungan kedua negara, bahkan lebih dari itu, SBY telah memberikan sumbangsih besar dalam mensejahterakan rakyat Inggris, sebab ternyata SBY telah memberikan izin pengelolaan tambang gas blok Tangguh kepada Inggris. Setelah pertemuan antara SBY dengan para petinggi kerajaan Inggris itu, David Cameron, Perdana Menteri Inggris, bahwa British Petroleum telah diizinkan mengelola blok Tangguh. Yang implikasinya adalah sebagian besar hasil dari tambang itu akan lari ke Inggris, padahal PLN sendiri mengalami inefisiensi hingga puluhan triliun karena pasokan gas yang seret. Sekarang gas yang melimpah dari blok Tangguh malah diserahkan kepada Inggris. Ironis sekali.

Jelas sekali, sejelas siang hari, kepada siapa presiden kita berpihak. Ternyata dia lebih berpihak kepada rakyat dan ratu Inggris daripada setia kepada rakyatnya sendiri. Ternyata dia lebih serius mensejahterakan rakyat Inggris daripada rakyat negerinya sendiri. Kalau untuk rakyat Indonesia, kayaknya presiden kita ini gatel banget pingin mencabut subsidi, tapi kalo buat rakyat di negeri asing tambang yang sebegitu besarnya dengan ringan diserahkan begitu saja. Menyebalkan sekali.

Tidak ada jalan lain, pemimpin seperti ini mesti diganti, dan sistem yang dijalankannya mesti disingkirkan dari tengah-tengah rakyat. Demokrasi harus dibuang ke tong sampah peradaban, dan kapitalisme harus dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. GANTI semua itu dengan syariah Islam di dalam naungan Khilafah Islamiyah.[]

Pahlawan di Dalam Diri

Di sepanjang rentang peradaban umat manusia, di setiap zaman, selalu saja muncul orang-orang yang luar biasa dan unik yang disebut pahlawan. Para pahlawan dalam satu dan beberapa hal memiliki kelebihan daripada orang-orang kebanyakan, mereka memiliki sifat-sifat yang menonjol diantaranya dalam tekad, semangat, keberanian, dan keyakinan. Dari bangsa mana pun, dari agama mana pun, dari peradaban mana pun, biasanya para pahlawan memiliki sifat-sifat di atas yang sangat menonjol dalam dirinya. Walaupun mereka tetaplah manusia, sebagaimana kita.

Ketika itu, Inggris menjajah tanah Skotlandia, sekitar abad ke-13. Raja Edward The Longshanks mengirimkan pasukannya untuk menjajah Skotlandia. Ketika itu para bangsawan Skotland malah berselisih terhadap tahta dan remah-remah dari tanah Skotland yang telah dianeksasi Inggris. Para bangsawan itu rela hanya menikmati remah-remah dari penjajahan Inggris. Ketika itulah bangkit seseorang bernama William Wallace, ia adalah orang biasa, tak ada darah bangsawan mengalir di nadinya, namun ia memiliki keberanian, keyakinan, dan tekad yang kuat untuk meraih kemerdekaan Skotlandia dari Inggris. Tanpa menghiraukan para bangsawan yang hobinya berselisih, ia menggalang kekuatan rakyat Skotlandia untuk berjuang memerdekakan negerinya. Ia tidak sudi menikmati ampas tanah Skotland yang diberikan Inggris, ia dan rakyat Skotland adalah pemilik sah tanah Skotland bukan Inggris. Akhirnya ia memimpin rakyat Skotland untuk menyerbu pos-pos Inggris di tanah Skotland. Satu persatu pos Inggris berhasil ia kuasai, ia melayani Inggris berperang di Jembatan Stirling, Falkirk, dan medan perang lainnya. Bersama pasukannya ia mengacaukan patroli-patroli Inggris. Ia terus berjuang, tak kenal kompromi, hingga Inggris berhasil menangkapnya, ia dihukum mati, tubuhnya dimutilasi, dan dikuburkan di tempat-tempat strategis di kota London sebagai peringatan bagi siapa saja. William Wallace kemudian dinobatkan sebagai pahlawan nasional skotlandia.

Negeri ini pun sebenarnya tidak kekurangan orang-orang yang memiliki sifat-sifat kepahlawanan itu. Salah satunya bisa kita lihat di Aceh. Semasa Belanda melancarkan perang kolonialnya di Aceh, bermunculanlah orang-orang yang memiliki sifat-sifat kepahlawanan itu, yang kemudian melancarkan perlawanan yang gigih terhadap penjajah belanda. Mereka tidak sudi negeri mereka diinjak-injak oleh tangan kotor penjajah. Apa yang diceritakan oleh Zentgraff (seorang wartawan Belanda) di dalam bukunya yang berjudul “Aceh” menggambarkan hal itu. “Orang-orang Aceh baik pria maupun wanita pada umumnya telah berjuang dengan gigih sekali untuk sesuatu yang mereka pandang merupakan kepentingan nasional atau agama mereka. Di antara pejuang-pejuang itu, terdapat banyak sekali pria dan wanita yang tidak kurang satrianya daripada bangsa-bangsa lain, mereka itu tidak kalah gagahnya daripada tokoh-tokoh perang terkenal kita,” tulis Zentgraff.

Aceh memiliki seorang ulama kenamaan, Teungku Syekh Saman di Tiro (Teungku Cik di Tiro), yang ketika itu menggalang dukungan untuk perang Sabil, yang menurut Zentgraff bisa mencapai angka sekitar 6000 prajurit. Syekh Saman menjadi musuh bebuyutan belanda. Dan bukan hanya Syekh Saman, tapi hampir semua anggota keluarganya turun berperang melawan Belanda. Mereka semua tak sudi menyerah, mereka lebih memilih mati syahid daripada hidup tapi terjajah. Hampir semua anggota keluarga Syekh Saman syahid ditembak belanda.

Selain tokoh-tokoh pria, Aceh juga memiliki pahlawan-pahlawan wanita yang tak kalah tangguhnya, seperti apa yang diungkapkan Zentgraff, “wanita Aceh, gagah berani, adalah penjelmaan dendam kesumat terhadap kita yang tak ada taranya serta tak mengenal damai. Jika ia turut bertempur, maka tugas itu dilaksanakannya dengan suatu energi yang tak kenal maut, dan biasanya mengalahkan prianya. Ia adalah pengemban dendam yang membara yang sampai-sampai ke liang kubur atau di hadapan maut pun masih berani meludah ke muka si kaphe (kafir).”

Kita mengenal tokoh wanita Aceh, Cut Nyak Din. Wanita pemberani dan bertekad baja ini pun telah mendemonstrasikan bagaimana seharusnya kita hidup dengan penuh kehormatan dan kemuliaan sebagai bangsa yang merdeka. Setelah wafatnya Teuku Umar (suami kedua Cut Nyak Din), dan semasa pecah perang pada sekitar tahun 1896, nama Cut Nyak Din sangat terkenal. Ia lebih suka hidup bergerilya di hutan-hutan daripada menyerah kepada musuh. Ia terus bertahan walaupun jumlah pengikutnya terus berkurang, sementara pasukan marsose tak henti-henti mengejarnya dari satu tempat ke tempat lain. Ia menjadi tua, matanya buta, namun semua itu tidak menjadi penghalang yang mematahkan semangatnya. Ia menderita kelaparan di hutan-hutan, sampai berminggu-minggu lamanya ia tak merasakan sesuap nasi, dan harus makan jantung pisang liar. Ia bertahan dalam keadaan demikian selama kurang lebih 6 tahun lamanya. Hingga karena pengkhianatan bangsanya sendiri ia kemudian ditangkap dan dibuang ke Sumedang.

Rasulullah Muhammad saw. pun telah menorehkan sejarahnya sendiri, dengan tekad baja dan semangat yang menyala-nyala untuk menegakkan cita-citanya, membangun peradaban Islam dan menebarkan rahmatnya ke seluruh dunia. Dengan semua sifat-sifat yang luar biasa itulah ia hidup dengan penuh kehormatan, dan hanya orang-orang yang hidup dengan sifat-sifat itulah yang akan hidup dengan penuh kehormatan.

Sejarah bukanlah sekedar catatan-catatan bisu tanpa makna. Ada emosi dan nilai di dalamnya, yang bisa menjadi contoh dan teladan bagi kita. Jika kita ingin menjadikan semua sifat kepahlawanan yang luar biasa itu menjadi milik kita, maka tak ada cara lain selain membaca sejarah. Hanya dari sejarah sajalah kita bisa mengetahui bagaimana kehidupan dan sepak terjang orang-orang yang memiliki tekad baja dan hidup di atas jalan perjuangan itu.