Tilawah Abdullah bin Mas’ud

Amal terbaik, yang nantinya akan diterima Allah Subhanahu wata’ala, tentunya harus dilakukan sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. Sebab apapun yang ditunjukkan oleh Rasulullah, pada hakikatnya adalah apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wata’ala. Mana yang baik menurut pandangan Allah, adalah apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Cukup sederhana, sebenarnya.

Banyak orang yang mengira telah melakukan perbuatan baik, padahal Allah belum tentu memandangnya baik pula. Semuanya mesti dikembalikan pada apa yang diajarkan Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam kepada kita. Apa yang terjadi pada Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu akan menjadi contoh menarik tentang hal ini.

Continue reading

Dajjal Zaman Kita

Kemelaratan di Indonesia

Orang waras dan normal, pasti akan mengakui bahwa keadaan negeri ini porak-poranda. Segala sistem nilai sudah dijungkirbalik oleh banyak kekuatan kapital. Yang benar menjadi salah, yang salah ‘terlihat’ benar. Buktinya sudah banyak, yang paling nyata adalah, bagaimana mungkin seorang terdakwa bisa tetap melenggang dan melaksanakan segala sesuatu sekehendak hatinya?! Segala tuntutan dan aksi umat Islam yang jutaan banyaknya, dianggap angin lalu. Seluruh fenomena memperlihatkan, bahwa Ahok adalah manusia sakti mandraguna. Dia sendirian, sanggup mengacaukan satu negara (di balik layar bekingnya banyak).

Di media sosial, saya pernah membaca sebuah tulisan yang cukup menggelitik. Tulisan singkat berupa status itu, membandingkan Ahok dengan Dajjal, sang fitnah besar di akhir zaman. Tipu daya Ahok sebenarnya tidak seberapa, jika dibandingkan dengan fitnah Dajjal, namun ternyata banyak orang yang sudah terjebak di dalamnya. Orang Islam pun tidak ketinggalan, banyak yang telah ditipu. Hanya karena uang, jabatan, fasilitas, dan hal-hal duniawi lainnya, banyak orang Islam yang membela Ahok mati-matian. Padahal alat yang digunakan untuk menipu baru sekadar uang, jabatan, fasilitas, dan yang semacamnya. Bagaimana lagi kalau sudah Dajjal yang muncul?

Continue reading

HEKA

Episode 4 – Ankh Dalam Diri
oleh Sayf Muhammad Isa

https://i2.wp.com/cdn.history.com/sites/2/2014/01/sphinx.jpgSeolah hanya malam yang suram yang mengelilingi hidup seorang Menkheperesseneb. Tak ada siang sama sekali, tak ada cahaya, tak ada canda dan bahagia, hanya misteri dan hawa muram. Dia harus selalu tersembunyi dari mata manusia, tetapi tidak di mata setan. Makhluk-makhluk terkutuk itu amat mengenal dirinya dan dia seringkali meminta bantuan kepada setan. Mereka memang sudah bergandengan tangan.

Seorang Menkheperesseneb memang harus begitu, dialah penguasa Heka tertinggi di seluruh negeri Mesir. Dialah orang kedua setelah Fir’aun sendiri. Menkheperesseneb harus selalu menyertai sang raja, dan menopang tiraninya. Separuh kekuasaan seorang Fir’aun bisa saja runtuh, jika tidak ada seorang Menkheperesseneb di sisinya. Dan menghilangnya Menkheperesseneb adalah sebuah guncangan besar bagi Ramesses dan seluruh Mesir.

Nama aslinya Bakhoum Fanoush. Dialah Hekau terhebat yang menjadi kepercayaan Ramesses, dia seorang Menkheperesseneb. Dialah penyihir paling mahir dalam derajat yang paling dimuliakan. Seharusnya dia selalu menyertai Ramesses, dan berdiamnya dia di tepian Sungai Nil yang sunyi, bukanlah tanpa alasan.

Bakhoum adalah seorang lelaki yang gagah. Tubuhnya kekar dalam balutan kulit cokelat khas orang Qibthi. Wajahnya tampan, pada awalnya, tetapi setiap ritual Heka yang dilakukannya sejak sekian lama selalu menuntut pengorbanan. Maka wajahnya yang tampan tinggallah impian, yang tersisa hanyalah mata yang membelalak besar di bawah alis yang tebal. Hidungnya sekadar mencuat dan bengkok dengan bulu hidung yang gondrong, melanggar garis batas di lubang hidungnya. Bibirnya yang besar dan monyong dibingkai garis wajah yang keras berbentuk trapesium. Tak ada sehelai pun kumis atau janggut pada wajah yang amat tidak karuan itu, yang ada hanya bulu hidung, yang kalau tertiup semilir angin dia melambai-lambai.

Continue reading

HEKA

oleh Sayf Muhammad Isa
Episode 3-Ankh Dalam Api

https://aos.iacpublishinglabs.com/question/aq/700px-394px/physical-characteristics-egypt_9713c68fcb06b2c8.jpg?domain=cx.aos.ask.comLelaki berpakaian putih yang basah kuyup itu berdiri di hadapan perapian yang hangat dan terang, tepat di hadapan lelaki bertampang merengut. Sang Hekau tegak membelakangi tamunya. Jelas saja pakaian basah yang membalut tubuhnya mendaratkan dingin pada kulitnya, namun pancaran hangat dari perapian sedikit mengobati rasa dingin itu. Kedua tangannya yang kokoh terangkat pelan-pelan, tatapan matanya terpaku dengan khidmat kepada Patung Amun yang dipandangnya suci itu.

Berbagai tali dan serabut yang bergelantungan di langit-langit membuat suasana semakin seram. Lelaki bertampang merengut sama sekali tak tahu apa yang akan terjadi tak lama lagi. Simbol-simbol Heka dari akar, batang, dan dedaunan menguarkan kemisteriusan.

“Letakkan persembahannya,” kata Sang Hekau tanpa menoleh sedikit pun.

Continue reading

Takut Neraka

Neraka lebih mengerikan dari gambar ini.

Neraka lebih mengerikan dari gambar ini.

Kadar keimanan setiap orang tentunya berbeda-beda. Maksud ‘kadar keimanan berbede-beda’ di sini bukan berarti ada orang yang percaya penuh kepada Allah Swt. dan yang lainnya percaya setengah-setengah saja, bukan begitu maksudnya. Tetapi maksudnya adalah, boleh jadi, semua orang yang mengaku beriman itu meyakini secara penuh bahwa Allah itu Tuhan seru sekalian alam; mereka juga percaya keberadaan para malaikat; kitab-kitabNya; rasul-rasulNya; hari kiamat; dan qadha serta qadar itu datangnya dari Allah Swt., tetapi yang berbeda-beda itu adalah, seberapa besar seseorang sanggup untuk membuat keimanannya tadi berpengaruh dalam setiap aspek kehidupannya! Seberapa besar seseorang sanggup membuat keimanannya kepada hal-hal yang gaib tadi sebagai kendali dalam hidupnya. Pada titik inilah perbedaannya.

Kalau kita berlabuh sejenak pada kisah-kisah para salafus shalih dari generasi terbaik umat ini, kita akan melihat bahwa keimanan mereka kepada hal-hal yang gaib tadi telah sedemikian besarnya, hingga pada titik di mana keimanan itu menciptakan visualisasi di hadapan mereka. Kita mengimani hal-hal gaib yang sama dengan yang diimani oleh para salafus shalih itu, sayangnya, keimanan kita seolah tidak sanggup menggerakkan kita. Keimanan kita seolah tidak menghadirkan visualisasi apa-apa. Mari kita bandingkan!

Continue reading

HEKA

oleh Sayf Muhammad Isa
Episode 2-Ankh Dalam Dada

Setelah sekian lama tidak posting di blog saya ini (sampai blog-nya bulukan, hehe), berikut lanjutan dari serial HEKA. Insya Allah serial ini akan memperlihatkan bagaimana Nabi Musa dan Harun menghadapi para penyihir Fir’aun.

000

la-tut-jpg-20150717Kegelapan malam kembali merajai dunia. Memang waktu silih berganti, namun keindahan malam tiada terperi. Hawa dingin menjadi sedemikian pilu ketika setan-setan keluar dari sarangnya dan bergentayangan di muka bumi. Manusia hidup pada dua sisi wajah malam, pada keelokan dan ketenangannya, yang di sana manusia merasakan kebahagiaan, dan pada kesuraman dan kengerian, yang di sana manusia berlindung darinya. Betapa tenang dan nyamannya malam itu menyelubungi bumi Mesir, namun di dalamnya terselip hitam yang mencekam, dan kematian.

Ada seorang lelaki berwajah senang yang amat dihormati di Mesir. Dia seorang pedagang besar yang tinggal di Thebes, namanya Abdamelek Acheri. Perawakannya akan mendeklarasikan kepada siapa saja bahwa dia adalah seorang saudagar besar. Abdamelek berbadan tambun dan gendut. Kepalanya botak, tak ada rambut sehelai pun di sana. Bahkan tak ada alis dan bulu mata sejumput pun pada wajahnya. Kulitnya putih, bagi orang-orang Qibthi dia amat putih. Matanya yang sipit membuat dia terlihat seperti orang Cina dan bukan orang Qibthi. Dia begitu baik kepada keluarganya, hanya saja tak ada yang tahu, malam itu ada dendam yang mengambang di udara hendak merenggut nyawanya.

Sebuah jamuan makan sedang digelar di kediaman Abdemelek yang megah. Ada meja panjang di ruang makan yang sudah penuh dengan hidangan. Berbagai masakan sudah tersedia, dikelilingi oleh seluruh keluarganya. Abdemelek sendiri dengan sumringah duduk di ujung meja, dan setelah beramah-tamah sejenak dengan anak-anaknya yang masih belia, perjamuan makan itu pun dimulailah. Semuanya makan dengan lahap, irisan-irisan dagingnya menggugah selera, dan helaian-helaian sayur-mayurnya membangkitkan rasa lapar.

Continue reading

HEKA

Oleh Sayf Muhammad Isa
Episode 1 – Menkheperreseneb

Peristiwa menghadapnya nabiyullah Musa dan Harun kepada Fir’aun adalah sebuah peristiwa besar dalam sejarah. Peristiwa ini disusul oleh pertemuran sihir yang amat sengit antara para penyihir Fir’aun dengan mukjizat Nabi Musa. Fase sejarah ini menjadi inspirasi bagi saya untuk menggarap serial “Heka” ini, dan serial ini pernah dimuat di Majalah Remaja Islam D’Rise. Inilah dia, fiksi-historis “Heka”. Selamat menikmati gejolak hikmahnya.[]

 

000

 

preview-4511Bulan purnama melayang pada samudera hitam, di atas bumi Mesir yang subur dan makmur. Riak tenang Sungai Nil dibuai gelapnya malam, menebarkan kehidupan dan kesejahteraan kepada semua orang. Pada sisi lain, Sungai Nil itu adalah titik puncak kesombongan manusia, yang menyangka bahwa dia berkuasa atas segala sesuatu selama Nil mengalir di bawah kakinya.

Perahu-perahu orang Qibthi[1] tertambat di tepian-tepian sungai. Berayun pelan dan manja, kemudian menggandeng dayungnya agar tidak lepas dibuai aliran air. Ketika siang hari, Sungai Nil ramai oleh perahu-perahu itu, memperlihatkan semangat hidup dan kerja keras. Sayangnya, semua itu ditujukan untuk kekeliruan. Mereka menyembah tuhan lain, bukan Tuhan yang sejati. Angin pun berembus, bermain dengan hawa dingin, melenakan orang-orang pada ranjangnya.

Rumah-rumah sudah mulai gulita. Pelita-pelita telah dipadamkan untuk kenyamanan dan keamanan. Tinggallah obor-obor yang masih berkobar di tepi-tepi jalan rumah orang-orang Mesir yang berbentuk kubus-kubus dari tanah liat.

Continue reading