The Assassination of Caliph Umar By The Coward Al-Fairuz

Kaligrafi yang melukiskan nama "Umaf al Faruq."

Kaligrafi yang melukiskan nama “Umaf al Faruq.”

Pernah ada sebuah judul film yang panjang seperti judul artikel ini, dan saya mengadaptasi judul artikel ini dari judul film tadi, The Assassination of Jesse James By The Coward Robert Ford. Sebuah film yang mengisahkan pembunuhan perampok ulung, Jesse James, oleh teman kepercayaannya sendiri, si pengecut Robert Ford.

Pembunuhan Khalifah Umar bin Khaththab oleh si pengecut Abu Lu’lu’ah al Fairuz adalah sebuah fitnah dan musibah yang sangat besar bagi umat Islam dan bagi Khilafah Islamiyah yang sedang tumbuh. Sosok dan kepemimpinan Khalifah Umar amatlah disegani baik oleh kawan maupun lawan. Dia telah melanjutkan kebaikan yang telah diukirkan oleh Rasulullah Muhammad saw., yang kemudian dilanjutkan oleh Abu Bakar Shiddiq ra. Berbagai kemenangan Islam berhasil diraih umat Islam di bawah kepemimpinan Khalifah Umar, salah satunya yang terbesar adalah ditaklukkannya Jerusalem oleh pasukan kaum Muslim pada tahun 637 M. Saat itu Uskup Agung Sofronius menyerahkan sendiri kunci kota itu kepada Khalifah Umar (yang menunggang seekor keledai dan bajunya bertambal). Bahkan Sofronius sendiri tidak menyangka bahwa lelaki berpakaian amat sederhana ini adalah seorang pemimpin besar yang angkatan perangnya meruntuhkan kekuasaan Byzantium di kawasan Levant (Syam) dan Kekaisaran Sassan Persia.

Patriarch Sophronius, pemimpin Kristen Ortodoks di Jerusalem dan menyerahkan langsung kunci kota kepada Khalifah Umar.

Patriarch Sophronius, pemimpin Kristen Ortodoks di Jerusalem dan menyerahkan langsung kunci kota kepada Khalifah Umar.

Khalifah Umar adalah seorang pemimpin besar yang amat tawadhu. Dia telah menjadikan nikmat dunia tidak ada harganya, padahal harta dan kekuasaan dua kekaisaran besar (Romawi dan Persia) berkumpul di dalam genggaman tangannya. Imam Ibnu Katsir mengutip dari ath-Thobaqot karya Ibnu Sa’d, Khalifah Umar pernah berkata, “Tidak halal bagiku dari harta yang diberikan Allah kecuali dua pakaian. Satu untuk dikenakan di musim dingin, dan satu lagi digunakan untuk musim panas. Adapun makanan untuk keluargaku sama saja dengan makanan orang-orang Quraisy pada umumnya, bukan standar yang paling kaya diantara mereka. Aku sendiri hanyalah salah seorang dari kaum Muslimin.” Sikap tawadhu ini ditularkannya kepada para pejabat pemerintahannya. Seperti yang dikisahkan Imam Ibnu Katsir dalam Bidayah wan Nihayah, “Jika dia hendak mengangkat gubernur, Umar akan menulis perjanjian yang disaksikan oleh sejumlah orang dari kaum Muhajirin. Umar mensyaratkan kepada mereka agar tidak menaiki kereta kuda, tidak memakan makanan yang enak-enak, tidak berpakaian halus, dan tidak menutup pintu rumahnya kepada rakyat yang membutuhkan bantuan. Jika mereka melanggar pesan ini, maka akan mendapatkan hukuman.” Sangat jauh sekali bedanya dengan para pejabat kita sekarang.

Pernah ada seseorang –mungkin orangnya ceplas-ceplos- berkata begini kepada Khalifah Umar, “Alangkah baiknya jika engkau memakan makanan yang bergizi, tentu akan membantu dirimu supaya lebih kuat membela kebenaran.” Sang Khalifah menjawab, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan kedua sahabatku (yakni Rasulullah dan Abu Bakar Shiddiq) dalam keadaan tegar. Maka jika aku tidak mengikuti ketegaran mereka, aku takut tidak akan dapat mengejar kedudukan mereka.” Luar biasa banget kan!?”

Saat usianya bertambah lanjut, ada satu harapan yang dimohonkannya kepada Allah. Pada suatu hari di tahun 23 H, Khalifah Umar telah merampungkan ibadah haji, dan berjalan pulang kembali ke Madinah melewati suatu tempat namanya al-Abthah. Seperti diriwayatkan oleh Imam Bukhari, saat itulah Khalifah Umar mengadu kepada Allah swt., “Ya Allah, aku memohon kepadaMu mendapatkan syahadah (mati syahid) di atas jalanMu dan wafat di negeri RasulMu.” Permohonan Khalifah Umar ini sebenarnya agak unik, dan secara logika, agak sulit terwujud. Dia ingin mati syahid di negeri Rasulullah swt., yakni Madinah, padahal kondisi Madinah saat itu sedang damai, sementara syahadah biasanya hanya bisa diraih di medan perang dalam jihad fi sabilillah. Tetapi Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Dia kabulkan permohonan hambanya yang saleh ini. Namun bagi umat Islam, tragedi pembunuhan Khalifah Umar ini menjadi musibah yang mengguncangkan dan menyedihkan.

Sebelum tragedi terbunuhnya Khalifah Umar saya sampaikan, ada baiknya kita kenal dahulu sosok Abu Lu’lu’ah al Fairuz. Orang Arab menyebutnya Abu Lu’lu’ah, yang dinisbatkan pada anak perempuannya. Namanya adalah Fairuz, atau Piruz Nahavandi. Awalnya dia adalah seorang prajurit di bawah komando Rustum Farokhzad, Jenderal Persia, yang berhasil dikalahkan oleh pasukan Muslim pada Perang Qadisiyah. Mungkin saja dia sudah menaruh dendam kepada Khalifah Umar karena tentara Persia berhasil dikalahkan. Perjalanan hidupnya kemudian mengantarkannya menjadi budak Mughirah bin Syu’bah. Fairuz punya banyak keahlian. Dia pandai bertukang, tukang kayu, tukang batu, tukang besi, sekaligus tukang nembok. Suatu kali Khalifah Umar pernah bertanya padanya, apakah dia bisa membuat penumbuk gandum yang berputar di udara (kincir). Fairuz menjawab bahwa dia sanggup membuat alat itu dan orang-orang akan tercengang dengannya.

Pada hari Selasa tanggal 24 Dzulhijjah tahun 23 Hijriyah, Mughirah bin Syu’bah menghadap Khalifah Umar bersama Fairuz. Mughirah meminta agar gaji budaknya itu ditambahkan karena dia suka pada hasil pekerjaan budaknya, selain itu, budaknya ini multi talent. Biasanya Fairuz hanya digaji 2 dirham sehari, maka Khalifah Umar menaikkan gajinya menjadi 100 dirham sebulan. Itu kan jumlah yang lumayan ya, tetapi sepertinya Fairuz tidak menyukai keputusan ini, sebab keesokan harinya, pada Rabu tanggal 25 Dzulhijjah tahun 23 Hijriyah, Fairuz membunuh Khalifah Umar.

Imam Bukhari mengisahkan The Assassination of Caliph Umar by The Coward Abu Lu’lu’ah al Fairuz dengan baik sekali. Diriwayatkan dari Musa bin Ismail, dari Abu Awanah, dari Husain, dari Amr bin Maimun, dia mengisahkan bahwa dia pernah melihat Khalifah Umar bicara dengan Hudzaifah bin Yaman dan Utsman bin Hunaif tentang kasus sebuah lahan. Empat hari kemudian, Khalifah Umar dibunuh. Lebih lanjut, Amr bin Maimun mengisahkan apa yang terjadi pada subuh yang pilu itu. Amr berada di shaf yang sangat dekat dengan Khalifah Umar, pembatasnya hanya Abdullah bin Abbas. Khalifah Umar terbiasa berjalan di sela-sela shaf sambil berkata ‘luruskan’. Setelah melihat barisan telah rapat dan lurus, dia maju dan bertakbir. Pada kesempatan solat subuh seperti itu, Khalifah Umar biasa membaca surat Yusuf atau surat An-Nahl (amazing!) Tiba-tiba terdengar suara Khalifah Umar menjerit, ‘Aku dimakan anjing’, atau ‘Aku ditikam anjing’.

Terlihatlah seorang pria yang sekonyong-konyong muncul di hadapan Khalifah Umar kemudian menikamnya berkali-kali (sebanyak 6 tikaman, ada yang menyebut 3 tikaman), letaknya di bawah pusar. Lelaki itu kemudian kabur keluar masjid sambil menikam siapa saja yang dia lewati. Tercatat ada 13 orang yang ditikamnya, dan 7 orang diantanya wafat. Saat dia melarikan diri, orang-orang mengejarnya, seorang sahabat bernama Haththan at-Tamimi melemparkan semacam mantel tebal (burnus) hingga si pembunuh tersungkur tertimpa mantel. Ketika dia sadar bahwa dia pasti tertangkap, dia bunuh diri dengan belatinya sendiri.

Keadaan di masjid sudah kacau balau, hari masih gelap dan subuh masih membayang, sementara Khalifah Umar tergeletak lemah berlumuran darah. Dia meminta Abdurrahman bin Auf menggantikannya mengimami solat subuh, dan dia diangkut ke rumahnya. Saat itu dia pingsan berkali-kali. Ketika tersadar, dia masih melaksanakan solat subuh walau dalam keadaan menderita seperti itu.

Seusai solat orang-orang berkerumun di rumah Khalifah Umar. Dia bertanya kepada Abdullah bin Abbas tentang siapa yang menikamnya. Ketika dia mengetahui bahwa yang menikamnya adalah Fairuz, dia berkata, “… Alhamdulillah yang telah menjadikan sebab kematianku di tangan orang yang tidak beragama Islam…” Spekulasi berkembang tentang apakah Khalifah Umar masih bisa selamat atau tidak. Para tabib dikerahkan untuk menangani lukanya, saat nabidz (semacam minuman) diminumkan kepadanya, minuman itu keluar lagi dari lukanya bercampur darah, perut Khalifah Umar sudah bocor. Begitu pulalah yang terjadi ketika diminumkan susu. Ketika mengetahui hal itu, orang-orang sadar bahwa hidup Khalifah Umar mungkin tidak lama lagi. Tiga hari kemudian setelah peristiwa penikaman itu, Khalifah Umar wafat.

Gerbang makam Abu Lu'lu'ah al Fairuz yang mentereng. Orang Syiah menghormati Fairuz dengan sangat berlebihan.

Gerbang makam Abu Lu’lu’ah al Fairuz yang mentereng. Orang Syiah menghormati Fairuz dengan sangat berlebihan.

Selama tiga hari terakhir masa hidupnya, Khalifah Umar banyak melakukan hal-hal penting. Dia memerintahkan Abdullah bin Umar (putranya) untuk melunasi semua utangnya. Selanjutnya dia menunjuk 6 orang yang Rasulullah saw. meridhoi mereka: Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf, untuk memusyawarahkan siapa orang yang paling tepat diantara mereka untuk menjadi Khalifah selanjutnya. Dia juga banyak memberikan wasiat kepada kaum Muslim. Terakhir, dia memerintahkan agar Abdullah bin Umar pergi ke rumah ‘Aisyah ummul mukminin untuk bertanya apakah dia mengizinkan Khalifah Umar agar dimakamkan di sisi Rasulullah saw. dan Abu Bakar Shiddiq. Saat Abdullah bin Umar meminta izin masuk, ternyata Aisyah sedang menangis. Aisyah pun mengizinkan agar Khalifah Umar dimakamkan di sana. Semoga Allah merahmati Khalifah Umar bin Khaththab, dan kembali menampakkan pemimpin seperti dia di tengah-tengah umat ini.

Fairuz sendiri dimakamkan di kawasan Khasan, Iran sekarang. Makamnya dipugar dan dibangun dengan megah, dan ini sebuah keanehan. Makam itu dijadikan tempat suci dan orang-orang banyak bersiarah ke sana, sungguh aneh. Tanggal 25 Dzulhijjah sebagai tanggal kematian Fairuz dirayakan sebagai Idul Ghafir, dan hari itu orang-orang ziarah ke makamnya dan memohon agar Fairuz memberi syafaat bagi mereka. Dan semua ini tidak masuk akal, bagaimana mungkin seorang kafir, pembunuh, matinya bunuh diri, bisa memberi syafaat? Aneh memang!

The First Assassination, Karena Rebutan Cewek

Lukisan karya Jacopo Palma yang menggambarkan Qabil sedang menghabisi Habil. Dalam khazanah Yahudi, Qabil disebut Cain dan Habil disebut Abel.

Lukisan karya Jacopo Palma yang menggambarkan Qabil sedang menghabisi Habil. Dalam khazanah Yahudi, Qabil disebut Cain dan Habil disebut Abel.

Segala sesuatu, jika itu ‘untuk yang pertama kali’, pastilah amat berkesan. Contoh nyata untuk hal ini adalah apa yang disebut sebagai ‘malam pertama’ (hehehe). Di mana-mana, malam pertama pasti berkesan. Mana ada malam pertama yang nggak berkesan! Jika segala sesuatu ‘yang pertama’ itu amat berkesan, bagaimana jadinya dengan ‘pembunuhan pertama’? Jika ‘malam pertama’ amatlah berkesan, Pastinya ‘pembunuhan pertama’ menjadi sebuah peristiwa yang paling menyakitkan. Itulah apa yang terjadi pada Qabil dan Habil, anak-anak dari Nabi Adam ‘alaihissalam. Parahnya, pembunuhan pertama ini terjadi hanya karena rebutan cewek (hadeuh). Waspadalah, karena cewek bisa saja menjadi sebab pembunuhan!!!

Pasca diturunkannya Nabi Adam dan istrinya, Hawa, ke muka bumi, mereka menghasilkan keturunan-keturunan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa mereka dikaruniai anak-anak kembar sepasang, laki-laki dan perempuan. Pasangan anak kembar mereka yang pertama adalah Qabil dan Labuda atau, dalam beberapa sumber, Ludza. Pasangan anak kembar yang kedua adalah Habil dan Iqlima.

Nabi Adam dan Hawa tentunya mendidik anak-anak mereka untuk hanya mengabdikan diri kepada Allah swt., dengan menaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Semua pasangan kembar itu tumbuh menjadi figur-figur yang bertakwa dan taat kepada perintah Allah. Qabil mencari nafkah dengan bertani. Karakternya posesif dan agak keras kepala. Sementara Habil mencari nafkah dengan beternak. Dia seorang yang penyayang dan penyabar, cocok dengan profesi yang dipilihnya, sebagai penggembala.

Ketika Nabi Adam dan istrinya melihat anak-anak mereka sudah sampai usia matang untuk menikah, Allah mewahyukan agar mereka dinikahkan dengan bersilangan. Qabil dinikahkan dengan kembarannya Habil, Iqlima. Begitu juga sebaliknya, Habil dinikahkan dengan kembarannya Qabil, Labuda. Ketika Nabi Adam menyampaikan informasi dari Allah ini kepada putra-putrinya, ternyata terjadi penolakan. Mungkin Nabi Adam awalnya menyangka tidak akan terjadi penolakan, sebab dia telah merasa sukses mendidik putra-putrinya menjadi orang-orang saleh yang menaati semua perintah Allah. Ternyata Qabil tidak menyukai perintah ini dan dia menolaknya.

Qabil menyukai saudara kembarnya sendiri, Labuda, yang menurutnya lebih cantik. Sementara Iqlima, kembarannya Habil, dipandang kurang good looking gitu, dan nggak termasuk seleranya Qabil. Nabi Adam kemudian mengadukan urusan ini kepada Allah swt. Sang Khaliq kemudian memerintahkan agar Qabil dan Habil memberikan kurban dari hasil kerja mereka. Habil memberikan ternaknya yang terbaik, domba paling gemuk dan paling sehat serta dari varietas unggul. Dia mempersembahkan yang terbaik untuk Allah subhanahu wata’ala dalam mencari keridhoanNya. Sementara Qabil merasa tidak sudi memberikan kurban yang terbaik. Dia merasa bahwa macul ladang itu capek, menebar benih juga empot-empotan, sekarang pas hasilnya sudah mekar masa’ sih harus diserahkan kepada ‘pihak lain’? Maka dia memilihkan hasil tani yang biasa-biasa saja, bahkan bercampur dengan yang kurang baik, untuk dipersembahkan kepada Allah swt.

Dari mekanisme ini sebenarnya ingin dibuktikan siapa yang murni dan tulus dalam menaati perintah Allah swt., dan terlihatlah bahwa Habil lebih unggul. Maka Allah memilih kurban dari Habil daripada Qabil. Keputusan semula pun tidak berubah, Qabil akan dinikahkan dengan Iqlima, Habil akan dinikahkan dengan Labuda. Qabil pun geram dengan ini semua, dia mendatangi Habil dan mengancam akan membunuhnya agar dia bisa tetap menikah dengan Labuda. Habil mengingatkan Qabil agar takut dengan siksa Allah dan neraka yang panas membakar. Sayangnya, Qabil bergeming, dan akan tetap membunuh saudaranya. Habil berkata bahwa dia akan tetap bersabar dan tidak melawan walau apapun yang akan ditimpakan Qabil kepadanya. Habil tidak ingin menjadi orang-orang yang zhalim karena dia takut bermaksiat kepada Allah ‘azza wajalla. Maka Qabil pun menghantam Habil dengan sebongkah batu, dalam sumber lain dengan sepotong besi, hingga Habil tewas berlumuran darah. Maka terjadilah tragedi berdarah itu, pembunuhan yang pertama. Dan Qabil menjadi pembunuh pertama, bapak moyangnya para pembunuh.

Di dalam surah Al Maidah ayat 30 Allah mengisahkan, “Maka hawa nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang yang merugi.”

Tentang betapa menderitanya Qabil karena perbuatannya itu bisa kita lihat dari sabda Rasulullah ini, “Tidaklah seorang jiwa membunuh secara zhalim, melainkan anak Adam yang pertama –Qabil-, menanggung dosa darahnya. Karena dialah yang pertama kali mencontohkan pembunuhan” (Hadis sahih riwayat Jama’ah selain Abu Dawud). Abdullah bin ‘Amr pun mengungkapkan, “Sesungguhnya manusia paling sengsara adalah anak Adam yang membunuh saudaranya. Tidaklah ditumpahkannya setetes darah di muka bumi ini sejak dia membunuh saudaranya hingga hari kiamat nanti, melainkan dia berhak mendapatkan kejelekannya. Pasalnya, dialah yang pertama kali mencontohkan tindakan pembunuhan” (Qishotu min Nihayatiz Zholimin, oleh Hani al Hajj). Ngeri banget kan ya? Sudah berapa banyak orang yang dibunuh, semua dosanya tumpah kepada Qabil, na’udzhubillah. Semoga kita tidak termasuk ke dalam orang-orang zhalim. Aamiin. [sayf]

Bloody Elizabeth

Lukisan dari abad ke-15 menggambarkan Elizabeth Bathory saat berusia 25 tahun. Lukisan ini hilang tahun 1990.

Lukisan dari abad ke-15 menggambarkan Elizabeth Bathory saat berusia 25 tahun. Lukisan ini hilang tahun 1990.

Di dalam surah Al-Bayyinah ayat 6 Allah swt. Berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.” Tegas banget Allah nyatakan bahwa ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) dan musyrik (orang kafir selain Yahudi dan Nasrani) adanya di neraka Jahannam dan mereka itulah seburuk-buruknya makhluk. Ada satu kisah yang memperlihatkan kenyataan dari ayat di atas.

Pada abad ke-16 Masehi, hiduplah seorang bangsawan bernama Elizabeth Bathory. Dia adalah seorang putri cantik yang kaya raya dari sebuah keluarga yang paling berkuasa di Polandia, keluarga Bathory. Stephan Bathory, paman Elizabeth, adalah salah seorang raja Polandia yang terkuat. Sayangnya, walau Elizabeth seorang wanita, dia adalah pembunuh berdarah dingin paling keji sepanjang sejarah. Bahkan namanya tercatat dalam Guinness Book of World Records sebagai Wanita Pembunuh Paling Produktif. Hadeuhhh…!

Seperti dikisahkan oleh Brenda Ralph Lewis dalam bukunya A Dark History: Kings & Queens of Europe, Elizabeth Bathory telah membunuh puluhan bahkan ratusan gadis perawan untuk mendapatkan kecantikan dan awet muda. Ternyata ada lho yang kayak gini, kirain cuman ada di dongeng Sleeping Beauty.

Elizabeth Bathory dilahirkan pada tahun 1560 dari keluarga Bathory, dan tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik. Saat usianya masih sangat muda, Elizabeth dinikahkan dengan seorang bangsawan yang derajatnya lebih rendah, namanya Ferenc Nadasdy. Karena Ferenc dengan sengaja menginginkan keagungan dari pernikahan itu, dengan sengaja dia membiarkan Elizabeth tetap membawa nama ‘Bathory’ di belakang namanya, dan bukannya nama ‘Nadasdy’. Pasangan ini memiliki sifat yang sama-sama kejam, dan bahkan kelak Elizabeth memiliki kekejaman yang melebihi suaminya.

Seperti kebanyakan tuan putri, kerjaan Elizabeth hanya berleha-leha dan bersantai. Dia sering kali duduk di depan cermin dan mengagumi kecantikannya sendiri. Terlebih lagi karena dia sering ditinggal suaminya untuk pergi berperang melawan Turki Utsmani, kesenangannya berdandan dan berkaca jadi makin menjadi-jadi. Dia begitu mengagumi kecantikannya, dan merasa kaget ketika dia menemukan kerutan di wajahnya. Yaiyalah ada kerutan, kalau usia bertambah pasti bakal muncul kerutan.

Pada suatu hari, ketika Elizabeth sedang duduk di depan kaca, seorang pelayan sedang menyisirkan rambutnya, terjadilah sebuah peristiwa yang tidak disangka-sangka. Pelayan tadi, seorang gadis perawan, tidak sengaja menarik rambut Elizabeth. Elizabeth pun murka dan menampar gadis itu sekuat tenaga. Darah pun muncrat dari hidung dan mulut gadis itu, mengenai tangan Elizabeth. Entah dapat wangsit dari mana, Elizabeth merasakan kulit yang terlumuri darah perawan itu mengalami peremajaan. Kerutan-kerutan pun hilang (ngalahin krim anti aging, hehe). Dia langsung memerintahkan gadis itu ditangkap dan lehernya disayat, darahnya ditampung dalam sebuah bak mandi, Elizabeth pun mandi dengan darah perawan itu. Hiii ngeri.

Di dalam kastilnya, Elizabeth menyiksa dan membunuh gadis-gadis perawan dari perkampungan di sekitar kastil. Dia amat menikmati penyiksaan dan jeritan dari gadis-gadis itu. Darah perawan kembali ditampung untuk tempat Elizabeth berendam. Emang berabe banget kalau punya hobi nggak normal kayak gini. Saking banyaknya gadis yang dibunuhnya, dia berhasil menghabisi satu generasi gadis muda di sekitar kastil.

Kekayaan dan kekuasaan keluarganya membuat banyak orang tidak berani komplain atas semua kejahatan Elizabeth. Berbagai gosip yang beredar di sekitar kastil mengendap dan tetap menjadi gosip. Seorang pendeta bernama Istvan Magyari kemudian memberanikan diri untuk mengadukan semua kejahatan ini. Pengaduan sang pendeta sampai juga di telinga Raja Hungaria, Mathias Corvinus. Sang raja kemudian memerintahkan seorang pembantunya, Gyorgi Thurzo, untuk melakukan investigasi.

Saat Thurzo memasuki kastil Elizabeth, dia geleng-geleng kepala. Kejahatan yang dilakukan Elizabeth memang benar-benar mengerikan. Dia menemukan seorang gadis yang sedang sekarat dengan sekujur tubuh penuh luka menganga. Di kamar-kamar dalam kastil juga ditemukan mayat-mayat gadis yang sudah tidak lengkap. Ada yang hilang tangan atau kakinya, ada juga yang hilang kepalanya. Di ruang bawah tanah kastil ditemukan mayat lebih banyak lagi. Nggak kebayang gimana amis dan busuknya di sana.

Orang-orang dekat Elizabeth yang membantunya menjalankan hobi kejinya itu, Klara, Dorottya Szentes, Erszri Majorova, dll. Ditangkap, diadili, dan dieksekusi. Karena pengaruh dan kekuasaan Keluarga Bathory, Elizabeth hampir tidak tersentuh. Dia tidak diadili dan hanya dikurung di kastilnya sendiri hingga dia mati pada tahun 1614 pada usia 54 tahun dengan wajah tersungkur di lantai. Setelah kematiannya, banyak tersebar mitos dan kisah-kisah seram tentang dirinya. Allah mahabenar, orang-orang kafir adalah seburuk-buruknya makhluk.

Ma’rakat Balatusy Syuhada

Lukisan karya Steuben, menggambarkan Perang Tours.

Lukisan karya Steuben, menggambarkan Perang Tours.

Pertempuran Tours (Oktober 732), atau disebut juga Pertempuran Poitiers dan orang Arab menyebutnya Ma’rakat Balat ash-Shuhada (Istana pertempuran para syuhada) terjadi di sebuah wilayah diantara kota Poitiers dan Tours, pada bagian utara-tengah Prancis, dekat desa Moussais la Bataille, sekitar 20 kilometer (12 mil), sebelah timurlaut Poitiers. Lokasi pertempuran ini dekat dengan perbatasan antara wilayah Bangsa Franks dan wilayah yang kemudian disebut Aquitaine. Pada pertempuran ini beradu kekuatan bangsa Franks dan Burgundia dibawah kepemimpinan Penguasa Istana Austrasia, Charles Martel melawan pasukan dari Khilafah Umayyah yang dipimpin oleh Abdurrahman al Ghafiqi, gubernur jenderal Andalusia.

Bangsa Franks meraih kemenangan. Abdurrahman al Ghafiqi syahid, dan Charles kemudian meluaskan kekuasaannya di selatan. Penulis kronik abad ke-9 M, yang menginterpretasikan hasil akhir perang ini sebagai keputusan ilahi, memberi Charles gelar Martellus (“sang palu” atau “sang martil”), kemungkinan diambil dari Judas Maccabeus (“tha hammerer”) dari Pemberontakan Maccabe. Peristiwa pertempuran secara detil, termasuk lokasi tepatnya dan jumlah pasti dari pasukan yang bertempur, tidak bisa ditentukan secara pasti dari catatan-catatan yang masih ada. Hanya saja, pasukan Franks memenangkan pertempuran tanpa pasukan kavaleri.

Penulis kronik Kristen pada masa selanjutnya dan sejarawan sebelum abad ke-20 M memuji Charles Martel sebagai pembela kekristenan, menyatakan pertempuran itu sebagai titik balik dalam perjuangan melawan Islam, sebuah pertempuran yang membuat Kristen tetap bertahan sebagai agama Eropa; menurut sejarawan militer modern Victor Davis Hanson, “sebagian besar sejarawan abad 18 M dan 19 M, seperti Gibbon, melihat Poitiers (Tours), sebagai pertempuran yang menonjol yang menandai cepatnya gerak laju pasukan Muslim ke Eropa.” Leopold von Ranke merasa bahwa “Poitiers adalah titik balik salah sati dari epik terpenting dalam sejarah dunia.”

Terdapat sedikit perselisihan pendapat, bahwa pertempuran ini membantu meletakkan dasar Kekaisaran Carolingian dan dominasi bangsa Franks atas Eropa pada abad selanjutnya. Kebanyakan sejarawan setuju bahwa “pendirian kekuatan bangsa Franks di Eropa Barat membentuk takdir benua itu dan Pertempuran Tours menegaskan kekuatan itu.”

Latar Belakang

Pertempuran Tours dimulai dari gerak penaklukan Khilafah Umayyah selama 21 tahun atas Eropa yang telah dimulai sejak penakluakn Kerajaan Visigoth Kristen di Semenanjung Iberia pada 711 M. Gerakan ini kemudian diikuti oleh ekspedisi militer hingga wilayah bangsa Franks di Gaul, yang sebelumnya adalah provinsi dari Kekaisaran Romawi. Gerak militer Umayyah telah mencapai sebelah utara hingga ke Aquitaine dan Burgundia, termasuk pertempuran yang cukup besar di Bordeaux dan sebuah serangan di Autun. Kemenangan Charles dipercaya telah menghentikan gerak laju kekuatan Umayyah ini ke utara dari Semenanjung Iberia, dan telah mempertahankan agama Kristen di Eropa di masa ketika kekuasaan Islam sisa-sisa wilayah Romawi Kuno dan Kekaisaran Persia.

Sebagian besar sejarawan memperkirakan bahwa kedua pasukan ini bertemu di suatu tempat di mana Sungai Clain dan Vienne menyatu diantara Tours dan Poitiers. Jumlah prajurit di kedua pasukan itu tidaklah diketahui. Kronik Mozarabic dari tahun 754 M, sebuah sumber kontemporer Latin yang mendeskripsikan pertempuran ini dengan detil yang baik dibandingkan sumber Arab dan Latin lainnya, menyatakan bahwa, “rakyat Austrasia (pasukan Franks), lebih banyak jumlah pasukannya dan persenjataannya lebih baik, membunuh rajanya, Abdurrahman,” yang sepakat dengan sejarawan Arab dan Muslim lainnya. Walaupun begitu, sebenarnya seluruh sumber Barat tidak sepakat, dan memperkirakan kekuatan Franks sekitar 30.000, tidak sampai setengah dari jumlah kekuatan pasukan Muslim.

Beberapa sejarawan modern, menggunakan perkiraan berdasarkan seberapa banyak orang yang bisa ditampung oleh tempat pertempuran, dan kekuatan Martel untuk menghimpun prajurit dari negerinya, meyakini bahwa jumlah pasukan Muslim, dengan menghitung pasukan penyerang terjauh, yang bergabung kembali dengan pasukan utama sebelum Tours, melebihi pasukan Franks. Berdasarkan pada gambar pada sumber Muslim non-kontemporer, Creasy menjelaskan bahwa kekuatan Umayyah adalah 80.000 prajurit atau lebih. Menulis pada tahun 1999, Paul K. Davis memperkirakan bahwa pasukan Muslim berjumlah 80.000 personil dan pasukan Franks sekitar 30.000 personil, sambil menyatakan bahwa sejarawan modern memperkirakan kekuatan pasukan Umayyah di Tours antara 20.000-80.000. Namun, Edward J. Schoenfeld (menolak perkiraan sebelumnya yang sekitar 60.000-400.000 Umayyah dan 75.000 Franks), berpendapat “perkiraan bahwa pasukan Umayyah berjumlah lebih dari 50.000 orang (dan lebih banyak lagi pasukan bangsa Franks) secara logistik sangatlah tidak mungkin.” Demikian pula, sejarawan Victor Davis Hanson meyakini bahwa kedua pasukan dalam perhitungan kasar berjumlah sama, sekitar 30.000 prajurit.

Sejarawan modern mungkin saja lebih akurat daripada sumber-sumber abad pertengahan, sebab perkiraan modern berdasarkan pada kemampuan logistik dari luas lahan dan ketersediaan bahan makanan yang sanggup mendukung jumlah orang sebanyak itu. Davis dan Hanson menekankan bahwa kedua pasukan harus hidup dari hasil lahan tempat itu, tanpa memiliki sistem pemenuhan pangan (commissary system) yang memadai untuk memenuhi kebutuhan sebuah pasukan perang. Sumber lain memperkirakan seperti ini: “Gore menempatkan pasukan Franks pada jumlah 15.000-20.000, walaupun perkiraan lainnya ada diantara 30.000 hingga 80.000. Terlepas dari perkiraan yang sangat bervariasi pada pasukan Saracen, dia menyatakan jumlahnya sekitar 20.000 – 25.000. Yang lainnya pun memperkirakan jumlah yang lebih banyak dari 80.000, dengan jumlah 50.000 sebagai perkiraan yang sangat luar biasa.

Kerugian-kerugian setelah pertempuran tidak bisa diketahui secara pasti, tetapi para penulis kronik kemudian mengklaim bahwa Charles Martel mengalami kerugian 1.500 personil sementara pasukan Umayyah mengalami kerugian lebih dari 375.000 prajurit. Namun, angka-angka kerugian yang sama ini dicatat dalam Liber Pontificalis untuk kemenangan Duke Odo dari Aquitaine pada Pertempuran Toulouse (721 M). Paul Sang Diaken melaporkan secara tepat dalam karyanya Historia Langobardorum (ditulis sekitar tahun 785 M) bahwa Liber Pontificalis menyebutkan angka-angka kerugian ini berhubungan dengan kemenangan Odo di Toulouse (walaupun dia mengklaim bahwa Charles Martel bertempur bersama Odo), tetapi penulis yang kemudian, kemungkinan “terpengaruh dengan Continuations of Fredegar, mengaitkan kerugian di pihak Saracen hanya kepada Charles Martel, dan pertempuran tempat mereka jatuh dengan tegas hanyalah Poitiers.” Vita pardulfi, ditulis pada pertengahan abad ke-8 M, melaporkan bahwa setelah pertempuran, pasukan Abdurrahman dibakar dan dijarah sepanjang perjalanan mereka melintasi Limousin dalam perjalanan kembali ke al Andalus, yang menyiratkan bahwa mereka tidak dihancurkan seperti apa yang diimajinasikan dalam Continuations of Fredegar.

Bangsa Moor

Pembebasan atas Hispania, dan kemudian Gaul, dipimpin oleh Dinasti Umayyah (Arab: Banu Umayyah, atau al Umawiyyun juga “Umawi”), dinasti Khalifah pertama pada Negara Islam setelah pemerintahan empat Khulafa Rasyidum (Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali) berakhir. Khilafah Umayyah, pada masa Perang Tours, kemungkinan adalah salah satu kekuatan militer unggul di dunia. Penaklukan besar Khilafah terjadi pada masa pemerintahan Bani Umayyah. Pasukan Muslim merangsek ke timur melintasi Persia dan ke barat melintasi bagian Afrika Utara pada akhir abad ke-7 M.

Pada tahun 711-718 M, Thariq bin Ziyad memimpin pasukan Muslim menyeberangi Selat Gibraltar untuk menaklukkan Kerajaan Visigoth Hispania. Negara Islam di masa Bani Umayyah menjadi sebuah negara besar yang menguasai susunan rakyat yang berbeda-beda. Khilafah telah menghancurkan dua kekuatan militer utama dari masa lalu, Kekaisaran Sassan Persia, yang wilayahnya digabungkan secara menyeluruh, dan sebagian besar wilayah Kekaisaran Byzantium, termasuk Syria, Armenia, dan Afrika Utara, meskipun Leo dari Isauria membendung gelombang penaklukan itu ketika dia mengalahkan pasukan Umayyah pada Perang Akroinon (739 M), yang merupakan ekspedisi militer terakhir mereka di Anatolia.

Bangsa Franks

Bangsa Franks pada masa Charles Martel adalah kekuatan militer utama di Eropa Barat. Pada sebagian besar masa jabatannya sebagai komandan bangsa Franks, wilayahnya meliputi bagian utara dan timur Prancis (Austrasia, Neustria, dan Burgundia), sebagian besar wilayah barat Jerman, dan negeri-negeri rendahnya (Luxemburg, Belgia, dan Belanda). Wilayah bangsa Franks semakin berkembang sebagai kekuatan kekaisaran pertama di Eropa Barat sejak keruntuhan Romawi. Namun, terus-menerus terjadi peperangan melawan kekuatan luar seperti dari Saxon, Frisia, dan musuh-musuh lainnya seperti orang Basque-Aquitaine yang dipimpin Odo yang Agung (Prancis kuno: Eudes), Duke dari Aquitaine dan Vasconia.

Penaklukan Muslim Dari Hispania

Pasukan Umayyah di bawah komando al Samh bin Malik al Khawlani, gubernur jenderal al Andalus, menyerbu Septimania pada tahun 719 M, menyapu bersih Semenanjung Iberia. Al Samh membangun ibukota sejak tahun 720 M di Narbonne, bangsa Moor menyebutnya Arbūna. Dengan mengamankan Pelabuhan Narbonne, Umayyah dengan cepat menguasai kota-kota lainnya yang tidak melawan, seperti Alet, Beziers, Agde, Lodeve, Maguelonne, dan Nimes, yang masih dikuasi oleh bangsawan-bangsawan Visigothicnya.

Ekspedisi militer Umayyah memasuki Aquitaine mengalami kemunduran sementara pada Perang Toulouse (721 M). Duke Odo dari Aquitaine memecahkan pengepungan Toulouse, mengejutkan pasukan al Samh bin Malik. Al Samh bin Malik sendiri terluka parah. Kekalahan ini tidak menghentikan serbuan ke wilayah Romawi Gaul Kuno, pasukan bangsa Moor, yang memiliki markas yang baik di Narbonne dan disuplai dengan mudah dari laut, merangsek ke timur pada tahun 720 M, menembus hingga sejauh Autun di Burgundia pada tahun 725 M.

Terancam dari dua arah, oleh Umayyah di selatan dan bangsa Franks di utara, pada tahun 730 M Odo beraliansi dengan seorang komandan Berber, Utsman bin Naissa, yang disebut “Munuza” oleh orang Franks, wakil gubernur dari wilayah yang kemudian menjadi Catalonia. Untuk mengamankan aliansinya, Odo menikahkan Utsman dengan putrinya, Lampagie, dan penyerbuan bangsa Moor menyeberangi Pyrenees, perbatasan Odo di sebelah selatan, terhenti. Namun, pada tahun berikutnya, komandan Berber ini membunuh uskup Urgell, Nambaudus, dan memisahkan diri dari pemimpin Arabnya di Cordova. Abdurrahman kemudian mengirimkan sebuah ekspedisi untuk membersihkan pemberontakan ini dan mengarahkan perhatian selanjutnya melawan sekutu Utsman, Odo.

Duke Aquitaine Odo mengumpulkan pasukannya di Bordeaux, tetapi dikalahkan, dan Bordeaux dijarah. Selanjutnya di Pertempuran Sungai Garonne, Mozarabic Chornicle dari tahun 754 M berkomentar bahwa “Hanya Tuhan yang tahu berapa banyak yang dibantai.” Mozarabic Chronicle tahun 754 M melanjutkan, “Menembus gunung, berderap melintasi tanah yang keras dan tinggi, menjarah jauh hingga ke negeri orang Franks, dan menghabisi semua dengan pedang, demikianlah saat Eudo turun berperang dengan mereka di Sungai Garonne, dia melarikan diri.”

Permohonan Odo Pada Bangsa Franks

Odo, meskipun menderita kekalahan, mengorganisasikan kembali pasukannya, memberikan peringatan pada pemimpin bangsa Franks tentang bahaya yang akan segera datang, menggedor dari jantung negerinya, dan memohon bantuan pada orang Franks, yang mana Charles Martel hanya mengabulkannya setelah Odo menyetujui untuk tunduk di bawah kekuasaan bangsa Franks.

Sepertinya Umayyah belum menyadari kekuatan sesungguhnya dari bangsa Franks. Pasukan Umayyah khususnya tidak terlalu memperhatikan kekuatan bangsa-bangsa Germanic, termasuk bangsa Franks, dan penulis kronik Arab pada zaman itu baru menyadari bangsa Franks sebagai sebuah kekuatan militer yang sedang tumbuh hanya setelah Perang Tours.

Lebih jauh lagi, sepertinya Umayyah tidak menelusuri hingga ke utara untuk melacak musuh-musuh potensial, jika mereka melakukannya, tentunya mereka akan mengetahui Charles Martel adalah kekuatan yang harus diperhitungkan, karena dominasinya yang terus tumbuh di Eropa sejak tahun 717 M: seharusnya ini menjadi peringatan nyata bagi Umayyah bahwa sebuah kekuatan nyata yang dipimpin oleh seorang jenderal yang sangat berbakat sedang bangkit dari debu-debu Kekaisaran Romawi Barat.

Gerak Maju Umayyah Menuju Loire

Pada tahun 732 M, pasukan Umayyah terus mendesak maju ke utara menuju Sungai Loire, melampauai jalur suplai mereka dan bagian lain pasukan mereka yang berjumlah lebih besar. Menghancurkan seluruh perlawanan pada wilayah Gaul itu, pasukan penyerang ini memisahkan diri menjadi beberapa bagian, sementara pasukan utamanya bergerak dengan lebih lambat.

Umayyah menunda serangan mereka pada akhir tahun itu kemungkinan karena banyak prajurit dan kuda amat membutuhkan hasil-hasil lahan saat mereka bergerak maju, sehingga mereka menunggu panen gandum dari area itu, dan kemudian hasil panennya ditumbuk (secara lambat menggunakan tangan) hingga mencapai jumlah yang cukup untuk disimpan. Jika para prajurit bisa memakan hewan ternak, kuda tidak bisa melakuannya dan hanya membutuhkan biji-bijian sebagai makanan.

Penjelasan tentang mengapa Odo dikalahkan dengan amat mudah di Bordeaux dan di Garonne setelah selama 11 tahun menang di Perang Toulouse sangatlah mudah. Di Toulouse, Odo mengatuh sebuah serangan mendadak menghadapi musuh yang terlalu percaya diri dan kurang persiapan, yang seluruh pertahanan dipersiapan untuk serangan ke bagian dalam, sementara dia menyerang dari luar. Pasukan Umayyah sebagian besar infanteri, dan kavaleri mereka tidak pernah mendapat kesempatan untuk dimobilisasi dan bertemu dengannya di medan perang. Seperti yang ditulis oleh Herman dari Carinthia, dalam salah satu terjemahannya dari sejarah al Andalus, Odo mengatur sebuah pengepungan melingkar yang sukses yang secara total mengejutkan musuhnya-dan hasilnya adalah pembantaian yang menghancurkan atas pasukan Muslim.

Di Bordeaux, dan juga di Garonne, pasukan Umayyah adalah kavaleri, bukan infanteri, dan tidak termakan serangan kejutan, dan diberi kesempatan untuk terjun ke pertempuran, yang membawa kehancuran pada pasukan Odo, sebagian besar mereka terbunuh dan hanya kerugian kecil saja yang diderita Muslim. Pasukan Odo, seperti kebanyakan pasukan Eropa di masa itu, kekurangan penyangga, sehingga tidak memiliki kavaleri berat. Sebenarnya keseluruhan pasukannya adalah infanteri. Kavaleri berat Umayyah menghancurkan pasukan infanteri Franks pada serangan pertama mereka, kemudian segera membantai mereka setelah mereka hancur dan melarikan diri.

Pasukan penyerang ini meneruskan penghancurannya pada bagian selatan Gaul. Motif yang memungkinkan, menurut lanjutan kedua dari Fredegar, adalah kekayaan Biara Saint Martin di Tours, biara paling prestisius dan paling suci di Eropa Barat pada masa itu. Saat mendengar ini, penguasa istana Austrasia, Charles Martel, mengumpulkan pasukannya dan bergerak ke selatan, menghindari Jalur Romawi Kuno dan berharap mengejutkan pasukan Muslim. Karena dia berniat menggunakan phalanx, amat penting untuk menentukan medan perang. Rencananya –menemukan dataran tinggi berhutan, mengatur formasi pasukannya dan memaksa pasukan Muslim untuk datang padanya- tergantung pada elemen kejutan. [translated from wikipedia.org by sayf muhammad isa]

Trailer Ghazi 3: The Howling of Wolf, The Eyesight of Eagle

Ghazi 3: The Howling of Wolf, The Eyesight of Eagle.

Ghazi 3: The Howling of Wolf, The Eyesight of Eagle.

Novel Ghazi jilid 3 sedang dalam tahap produksi. Mohon doa kawan-kawan agar berjalan lancar dan maksimal. Berikut ini sedikit trailer novel Ghazi 3: The Howling of Wolf, The Eyesight of Eagle.

Episode 23
Valea Draganului

Pasukan Hungaria itu mendekati tepian sungai. Mereka ingin cepat-cepat melintasi sungai itu sambil mencuci muka atau mengisi kantung-kantung air mereka yang telah mengering. Air memang membawakan kehidupan bagi jiwa-jiwa yang kehausan.

Hunyadi menggerakkan kudanya untuk mendekati Sigismund. Ada sesuatu yang hendak dibicarakannya.

“Yang Mulia,” katanya, “lebih baik kita mendirikan kemah dan bermalam di sepanjang lembah ini. Sebab hari telah semakin sore. Akan cukup berbahaya jika kita kemalaman di dalam hutan. Besok pagi-pagi sekali kita lanjutkan perjalanan! Jika tidak ada halangan, kita akan tiba di pusat Transylvania setelah berjalan seharian.”.

Sigismund mengangguk. “Baiklah, lakukanlah apa yang kau anggap perlu!”.

Hunyadi baru saja hendak melecut kudanya untuk memberi perintah kepada seluruh pasukan, ketika Barbara mengarahkan telunjuknya lurus ke depan.

“Tunggu! Lihatlah!” Serunya.

Serta-merta Hunyadi mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi untuk memberi tanda agar seluruh pasukan berhenti melangkah. Semua orang menatap ke depan, ke arah yang ditunjuk Barbara.

Di sana, di seberang sungai yang mengalir dengan tenang itu, ada dua orang prajurit yang menunggang kuda. Semua pandangan mata milik orang-orang yang ada di barisan terdepan pasukan Hungaria itu tertuju ke sana. Semuanya bertanya-tanya tentang siapakah kedua prajurit berkuda itu. Tiba-tiba Hunyadi menyadari sesuatu.

“Turki Utsmani,” gumamnya.

Sigismund menoleh kepada Hunyadi sambil membelalak. Kemudian dia kembali mengarahkan pandangannya kepada kedua prajurit berkuda yang ada di seberang sungai.

Di hadapan Kaisar Romawi Suci dan seluruh pasukannya, ada dua orang prajurit berkuda. Mereka adalah prajurit Janissari Turki Utsmani dengan pakaian seragamnya yang khas. Topi tinggi yang bagian belakangnya menjuntai hingga ke punggung terpasang di kepala mereka. Seragam merah Janissari di tubuh mereka dilapisi baju zirah yang gagah. Masing-masing mereka menggenggam sebatang tombak panjang dengan bendera yang berkibar megah di ujungnya. Salah seorang prajurit memegang bendera merah berlambang bulan sabit dan bintang, bendera Turki Utsmani. Seorang prajurit yang lain memegang bendera hitam bertuliskan Kalimah Syahadat, itulah panji perang Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alayhi wasallam. Mereka menatap tajam kepada seluruh pasukan Hungaria.

“Tak salah lagi,” kata Hunyadi, “mereka adalah prajurit Janissari, pasukan elit Turki Utsmani!”.

“Mengapa ada orang Turki di tempat seperti ini?” Sigismund gusar alang kepalang.

“Kemungkinannya hanya satu, Yang Mulia, berarti Transylvania telah berada di bawah kendali mereka,” sahut Hunyadi.

“Apa yang harus kita lakukan?” Tanya Barbara.

“Hancurkan saja mereka,” kata Sigismund sambil mengacungkan telunjuknya. Matanya membelalak, dia benar-benar gusar. “Tembak mereka dengan panah. Bunuh mereka.”

“Sabar dulu, Yang Mulia, kita tidak boleh bertindak gegabah,” kata Hunyadi. Dia mengangkat tangannya dan berusaha menenangkan rajanya. “Kehadiran mereka pasti telah direncanakan dengan matang, dan mereka pastilah bukan orang-orang sembarangan. Kita tidak boleh salah bertindak, atau kita sendiri yang akan hancur!”.

“Mereka cuma berdua, Jonas, kita bisa memusnahkan mereka dengan mudah,” serapah Sigismund.

“Yang Mulia, itu tidak mungkin. Sama sekali tidak mungkin. Di belakang mereka pasti sudah ada ratusan bahkan mungkin ribuan tentara Turki Utsmani. Di balik semak-semak dan pepohonan itu pasti mereka sedang menunggu. Mungkin mereka terlihat hanya berdua, tapi kenyataannya pasti tidaklah begitu. Kita tidak boleh bertindak gegabah.”

“Lantas apa yang harus kita lakukan, Jenderal?” Tanya Cesarini. Dia tak kalah galau dengan Sigismund.

“Kita harus tenang, jangan bertindak terburu-buru,” Hunyadi menatap tajam kepada dua orang pasukan Turki di seberang sungai, kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar lembah itu.

Pasukan Hungaria sudah ribut menyoraki kehadiran prajurit Turki Utsmani itu. Segala sumpah serapah dan caci-maki terlontar deras dari mulut-mulut mereka. Namun segala hal tidak berguna itu tak dihiraukan oleh kedua prajurit Turki Utsmani tadi. Mereka tetap duduk tegap dan tenang di atas pelana kuda mereka sambil menatap tajam kepada seluruh pasukan Hungaria.

“Apa yang mesti kita lakukan, Jonas?” Sigismund sudah tidak sanggup menahan kerisauannya, emosi, dan amarahnya. “Mereka tegak dengan kesombongan di hadapan kita, lantas apakah kita mesti diam saja?”

“Tidak, Yang Mulia,” kata Hunyadi, “kita tidak akan diam saja. Aku akan mencari tahu apa yang mereka inginkan!”

Hunyadi menjalankan kudanya menghampiri tepi sungai. Sekarang, yang memisahkannya dengan kedua prajurit Turki Utsmani itu hanyalah aliran air sungai.

“Apa yang kalian inginkan?” Hunyadi mendongak dan menguatkan suaranya agar terdengar ke seberang.

Prajurit Muslim yang membawa panji Rasulullah menggerakkan kudanya lebih dekat ke tepi sungai. Suaranya menggelegar seisi lembah.

“Wallachia dan Transylvania telah berada di bawah perlindungan Islam. Kami menyeru kepada kalian semua, untuk berpegang teguh pada kalimat yang satu. Sebuah kalimat yang kokoh yang akan menyatukan kita semua,” tangan prajurit Turki itu terangkat, telunjuknya tegak menikam langit. “Sembahlah Allah, Tuhan yang satu, Dialah Tuhan semesta alam, Tuhannya Yesus Kristus dan Muhammad shalallahu‘alayhi wasallam. Jangan menyekutukan Dia dengan sesuatu apapun. Taati semua perintahNya, dan jauhi segala laranganNya. Berpegangteguhlah kepada Islam sebagai risalah terakhir dari Tuhan semesta alam!”

Desir angin membawa seruan suci itu kepada seluruh pasukan kafir. Dan seruan yang amat mulia itu hanya membuat hati mereka semakin bebal. Hunyadi tersenyum mengejek.

“Bagaimana kalau kami tidak mau?” Tanyanya.

“Pulanglah kalian ke rumah-rumah kalian. Sesungguhnya Wallachia dan Transylvania telah berada di bawah perlindungan Islam. Kami akan menerapkan syariat Islam di sana dan akan kami sejahterakan seluruh penduduknya sebab Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Kelak, kami akan datang ke negeri kalian untuk membebaskan kalian dari seluruh sistem dan aturan kufur yang menyengsarakan kalian. Insya Allah.”

“Kalau kami tetap tidak mau?” Hunyadi kembali memampang senyum mengejek.

Prajurit Janissari itu membelalak dan menyeringai kepada Hunyadi. Bendera hitam di ujung tombaknya berkibar diembus angin. Dia bicara dengan penuh ketegasan.

“Kalau kalian tetap tidak mau, kami yang akan memulangkan kalian… … ke Neraka!”.

Hunyadi menelan ludah. Dia tahu persis bahwa ancaman tentara Janissari itu bukan sekadar bualan. Seluruh pasukan Hungaria berada di dalam posisi yang tidak menguntungkan. Mereka sama sekali tidak bisa melihat di mana musuh mereka. Yang ada di hadapan mereka hanya dua orang tentara Janissari. Ancaman dari tentara Janissari itu berlanjut.

“Aliran sungai di lembah ini adalah pembatas antara kalian dengan pintu Neraka. Jika kalian berani menyeberangi sungai ini, berarti kalian telah mempersiapkan diri untuk mati sia-sia dan masuk Neraka.”

Setelah mengabarkan sebuah kabar gembira dan memberi peringatan, kedua tentara Janissari itu berbalik dan pergi. Mereka berjalan menuju lereng gunung dan lebatnya hutan menelan mereka. Mereka sudah menghilang dari pandangan. Yang tertinggal adalah kesunyian Valea Drăganului dan seluruh pasukan Hungaria yang bertanya-tanya.

Hunyadi kembali kepada Sigismund dengan raut wajah yang keruh. Kegalauan berhamburan dari seluruh tubuhnya.

“Mereka menyeru kita masuk Islam,” kata Hunyadi. “Jika kita menolak, mereka meminta kita untuk pulang saja, sebab Wallachia dan Transylvania telah berada di bawah perlindungan mereka.”

“Semua itu tidak akan mungkin terjadi,” Sigismund meninju telapak tangannya sendiri.

“Jika kita menyeberangi sungai ini, perang akan pecah,” kata Hunyadi.

“Bukankah itu yang kita inginkan?” Sigismund ketus.

Hunyadi melempar pandang ke lereng gunung di seberang sungai. Jika hendak maju terus, mereka harus menyeberangi sungai itu dan mendaki lereng gunung agar tiba di Transylvania. Hunyadi yakin benar, walaupun terlihat sunyi, lereng gunung itu telah dipenuhi oleh tentara Turki Utsmani.

“Aku tidak menyangkal semua itu, Yang Mulia,” katanya. “Hanya saja, yang jadi masalah, kita tidak bisa melihat musuh kita. Dan hal itu menjadi kelemahan bagi kita.”

“Kita tidak perlu khawatir, tuhan Yesus Kristus berserta kita.” Kata Sigismund. “Sekarang perintahkan seluruh pasukan untuk menyeberangi sungai. Kita harus merebut kembali tanah Kristendom yang terampas.”

Tak ada lagi pilihan lain. Hunyadi mencabut pedangnya dan berteriak lantang.

“DEUSSS VUUUULLLTTT!!”.

Berpulangnya Sultan Muhammad al Fatih

Potret Muhammad al Fatih oleh Gentile Bellini.

Potret Muhammad al Fatih oleh Gentile Bellini.

Bulan April hingga Mei adalah bulan Penaklukan Konstantinopel. Yuk kita ngobrol tentang Sultan Muhammad al Fatih sang penakluk Konstantinopel.

Pada suatu ketika, tahun 1480 Masehi, sultan Muhammad al Fatih telah berhasil menaklukan sebuah kota di ujung Italia, bernama Otranto. Namun tak lama kemudian, beliau segera mempersiapkan kembali pasukan perang yang amat kuat, yang kualitas dan jumlahnya ditingkatkan lebih tinggi daripada penaklukan-penaklukan beliau sebelumnya. Tidak ada satu orang pun yang tahu ke manakah gerangan pasukan perang yang sedang dibangun ini akan digerakkan. Ini memang kebiasaan beliau, selalu merahasiakan tujuan penaklukan beliau selanjutnya. Yang mengetahuinya hanya diri beliau sendiri dan Allah swt.

Namun kaum Kristen Eropa mengetahuinya. Mereka tahu betul bahwa setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel, sutan Muhammad al Fatih pasti akan menaklukkan Roma, sebagaimana janji Rasulullah saw. Dan sultan Muhammad al Fatih telah berhasil menaklukkan Otranto, pasukan besar kali ini pastilah akan beliau arahkan ke untuk menaklukkan Roma. Kalau bukan ke sana, lalu ke mana lagi? Karena didorong oleh kengerian itu, Paus Sixtus IV tega meninggalkan rakyatnya di Roma dan melarikan diri ke Avignon (sebuah kota di selatan Prancis). Setiap hari kaum Kristen berdoa di gereja-gereja dan kapel-kapel.

Ketika pasukan perang untuk menaklukkan Roma itu akan bergerak dari Uskudar, Sultan Muhammad al Fatih jatuh sakit. Penyakit radang sendi yang telah beliau derita sejak tahun 1470 semakin parah. Namun semua itu tidaklah beliau hiraukan. Beliau tetap berangkat berjihad bersama pasukan beliau menuju Roma. Sayangnya, Allah berkehendak lain. Allah memanggil beliau pada tanggal 3 Mei 1481, dalam usia 49 tahun.

Kabar wafatnya Sultan Muhammad al Fatih kemudian tersebar. Duta besar negara eropa pertama yang mengetahui kabar ini berasal dari Venesia, Nicollo Cocco. Kemudian dia mengirim kabar kepada Diego Giovanni Mocenigo, Doge (istilah untuk pemimpin) Venesia, yang tiba tanggal tanggal 29 Mei 1488. Saat akan mengantarkan surat itu, sang kapten bersorak di hadapan Doge, “La grande aquila e’morta!” (elang yang perkasa itu sudah mati). Setelah membaca kabar lengkapnya dari surat yang dikirim Cocco, Doge langsung memerintahkan untuk membunyikan lonceng Marangona, lonceng besar yang ada puncak menara San Marco. Lonceng spesial itu hanya dibunyikan ketika ada momen-momen spesial, seperti matinya seorang doge, menangnya armada Venesia melawan musuh, dll. Dan wafatnya Sultan Muhammad al Fatih dijadikan sebagai salah satu momen khusus yang layak diapresiasi dengan membunyikan Marangona. Tak lama kemudian seluruh lonceng gereja berdentang bersama Marangona untuk memperingati wafatnya sang Grande Turco (orang Turki yang agung).

Berita wafatnya Sultan Muhammad al Fatih pun sampai juga ke telinga Paus Sixtus. Dia segera kembali ke Roma dan menembakkan meriam dari Castel Sant’Angelo, sebuah benteng besar di Tiberius di dekat Basilika Santo Petrus dan Vatikan. Seluruh lonceng dibunyikan dan Paus memimpin prosesi panjang yang melibat seluruh kolose kardinal dan seluruh duta besar dari Basilika Santo Petrus menuju gereja Santa Maria del Popoli. Perayaan meriah digelar selama tiga hari. Ketika berita itu sampai di belahan Eropa yang lain, perayaan-perayaan itu diulangi lagi di sana. Eropa gemetar dan tenggelam dalam euforia, ketika mendengar kabar bahwa Sultan Muhammad al Fatih wafat.

Hal ini menggambarkan kepada kita betapa disegani dan diperhitungkannya beliau sebagai seorang muslim. Setiap gerak beliau begitu menggetarkan kekufuran. Kita akan kembali memiliki pemimpin seperti beliau jika Khilafah Islamiyah kembali ditegakkan. Insyaallah dalam waktu dekat.

Sultan Muhammad al Fatih Tertarik Pada Kristen?

Potret Muhammad al Fatih oleh Gentile Bellini.

Potret Muhammad al Fatih oleh Gentile Bellini.

Bulan April hingga Mei adalah bulan Penaklukan Konstantinopel. Yuk kita ngobrol tentang Sultan Muhammad al Fatih yang telah berhasil mewujudkan janji suci Rasulullah saw. yakni Penaklukan Konstantinopel tahun 1453.

Sejarah memang milik siapa yang menulisnya. Dengan kata lain, seperti apakah gambaran sejarah tentang suatu hal, bergantung dari sudut pandang serta latar belakang penulisnya. Begitu juga halnya dengan sejarah Sultan Muhammad al Fatih. Berbagai catatan sejarah, laporan, dan pandangan melingkupi tubuh penakluk besar Islam ini. Ada catatan-catatan sejarah yang baik dan mulia tentang dirinya, dan ada juga berbagai laporan yang buruk, terutama laporan dari kafir Barat. Dan terus terang, laporan-laporan sejarah tentang Muhammad al Fatih yang berasal dari kafir Barat membuat saya shock. Mereka menggambarkan betapa buruknya sosok beliau. Dalam tulisan ini marilah sedikit kita bicarakan tentang bagaimana pandangan buruk kafir Barat terhadap diri beliau yang telah dinobatkan oleh Nabi Muhammad saw. sebagai komandan terbaik sepanjang masa.

Muhammad al Fatih telah dianggap sebagai teror terbesar di dunia Kristen Eropa. Gerakan futuhat beliau yang amat agresif dan massif membuat orang-orang Kristen ketakutan setengah mati, sebab secara cepat mereka terus kehilangan wilayah-wilayah mereka. Karena hal ini, tiga orang Paus silih berganti mendeklarasikan Perang Salib kepada beliau. Kebencian yang sedemikian besar itulah yang amat memengaruhi berbagai catatan dan laporan dari Barat yang sedemikian buruk terhadap Sultan Muhammad al Fatih.

Paus Pius II menyebut beliau sebagai “naga beracun”, dan pasukannya dia sebut “gerombolan haus darah” yang menyerbu dunia Kristen. Paus Nikolas V menyebutnya sebagai “putra Iblis pembawa kebinasaan dan kematian.” Terlihat sekali betapa bencinya kaum Kristen terhadap Sultan Muhammad al Fatih.

Ketika Konstantinopel baru saja berhasil ditaklukkan, disebutkan bahwa Sultan Muhammad al Fatih memerintahkan pasukannya untuk menjarah kota dan melakukan apapun yang disukai oleh pasukannya itu selama tiga hari. Karena hal ini kehancuran total terjadi di dalam kota. Orang-orang dibunuhi dan para wanita diperkosa. John Freely dalam biografinya tentang beliau mengutip bahwa para pencatat sejarah Yunani dan Italia menuliskan bagaimana tentara Turki membunuh mereka yang tidak diperbudak, dan merampok harta peninggalan di Aya Sofya dan gereja-gereja lainnya, menjarah istana kekaisaran dan rumah-rumah orang kaya. Kritovoulos, seorang pencatat sejarah asal Yunani, menyatakan bahwa hampir 4000 orang dibantai pada penaklukan itu dan setelahnya, lebih dari 50.000 orang warga diperbudak, kota itu hampir tak memiliki apa-apa lagi karena dijarah.

Padahal jika kita merujuk kepada catatan-catatan lainnya, kejadiannya tidak seperti itu. Ustadz Felix Siauw dalam karya brilliannya yang berjudul Muhammad al Fatih 1453 menggambarkan bahwa dengan kemurahan hatinya, Sultan Mehmet menebus para tawanan Bizantium dengan uang dari kantongnya sendiri. Dr. Ali Muhammad ash Sholabi dalam karyanya Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Ustmaniyah pun menggambarkan bahwa Sultan Muhammad al Fatih mengirimkan pasukan khusus Janisari untuk melindungi gereja, para warga, dan rumah-rumah, agar tidak dijarah dan bisa selamat dari huru-hara penaklukan. Sultan Muhammad al Fatih pun tidak pernah melakukan pembantaian massal seperti yang dituduhkan itu. Warga sipil yang tidak terlibat di dalam perang dilindungi.

Podesta (semacam gubernur) Genoa, Angelo Lomellino, sebulan setelah Konstantinopel ditaklukkan, menulis surat kepada adiknya yang menggambarkan tentang kejatuhan Konstantinopel. “Kesimpulannya dia menjadi begitu kurang ajar setelah penaklukan Konstantinopel sehingga melihat dirinya tak lama lagi akan menjadi penguasa seluruh dunia dan bersumpah di depan umum bahwa dalam waktu kurang dari dua tahun dia berniat akan mencapai Roma dan … kecuali orang-orang Kristen segera mengambil tindakan kemungkinan besar dia akan melakukan berbagai hal yang akan membuat mereka terperangah.”

Mellissourgos mencatat bahwa Sultan Muhammad al Fatih mengangkat Gennadios Scholarios sebagai pemimpin gereja Ortodoks Yunani setelah penaklukan dan memberikan Gereja Rasul Suci sebagai kantor bagi Gennadios. Beberapa kali beliau mengunjungi Gennadios dan berdiskusi tentang Kekristenan dengannya. Karena kunjungan-kunjungan inilah beredar kabar bahwa beliau tertarik dengan agama Kristen (padahal bisa jadi kunjungan-kunjungan Muhammad al Fatih adalah untuk mendakwahi Gennadios agar memeluk Islam). Seorang Italia yang tinggal di Galata bernama Teodoro Spandugnino menyatakan bahwa beliau kerap kali menyembah relic peninggalan Kristen dan selalu menyalakan lilin di hadapan mereka. Laporan tentang ketertarikan Muhammad al Fatih terhadap agama Kristen juga dilaporkan oleh Bapa George dari Muhlenbach yang menjalani hidupnya antara tahun 1438-1458 sebagai tahanan Turki. Bapa George menulis: “Para saudara Fransiskan yang tinggal di Pera (Galata) meyakinkan diriku bahwa dia [Mehmet] datang ke gereja mereka dan duduk di dalamnya untuk menghadiri upacara dan pengorbanan dalam Misa. Untuk memuaskan rasa penasarannya, mereka memesankan biskuit tidak suci untuknya berdasarkan permintaan tuan rumah, karena mutiara tidak boleh disajikan terhadap seekor babi.” Giovani Maria Angiollelo, seorang tahanan Italia di Turki, menuliskan bahwa Beyazit (anak pertama Mehmet) sering didengar mengatakan “ayahnya sangat dominan dan tidak percaya pada Nabi Muhammad.”

Jelas sekali semua pandangan ini mengada-ada. Karena keimanan kita kepada kenabian Rasulullah saw. akan dengan otomatis menolak semua pandangan itu. Dengan jelas Rasulullah bersabda bahwa komandan yang menaklukkan Konstantinopel adalah komandan terbaik dalam sebuah hadisnya yang sudah sama-sama kita ketahui. Maksud terbaik di sini pastinya bukan hanya terbaik dalam hal strategi militer dan pertempuran, tapi dalam ilmu dan keimanan. Berbagai sejarawan muslim menggambarkan betapa hebatnya keimanan dan ibadah yang dilakukan Sultan Muhammad al Fatih. Beliau tidak pernah meninggalkan solat tahajud dan solat rawatib, beliau juga selalu dekat dengan para ulama. Dengan demikian tidaklah mungkin beliau tertarik dengan agama Kristen.

Sejarawan Prancis, Phillipe de Commines, mengatakan bahwa Sultan Muhammad al Fatih terlalu memuaskan hawa nafsunya dalam apa yang dia sebut “les plaisairs du monde”, dan dia mencatat bahwa “tidak ada cara persetubuhan yang tidak diketahui orang yang haus birahi ini.” Angiollelo mengamati bahwa sejak menginjak dewasa, Sultan Muhammad al Fatih telah menderita penyakit encok selain beberapa penyakit lainnya yang disebabkan oleh pemuasan nafsu yang berlebihan itu. Katanya, Mehmet memiliki bengkak besar di salah satu kakinya, dan tidak ada seorang dokter pun yang bisa mengobati penyakit itu. Commines berkomentar lagi, dia bilang penyakit ini adalah salah satu hukuman tuhan atas kerakusannya yang tak ada habisnya (grande gourmandise).

Sangat jelas bahwa catatan dan komentar-komentar seperti ini didasari kebencian yang amat mendalam terhadap sosok Sultan Muhammad al Fatih. Sebab dunia Kristen telah hancur lebur dan kacau berantakan hanya karena kehadiran seorang Sultan Muhammad al Fatih. Beliaulah komandan yang dijanjikan oleh Rasulullah saw dan orang-orang Kristen Eropa merasakan betapa hebat dan tangguhnya orang yang telah dijanjikan Rasulullah saw. ini, sehingga yang ada di dalam hati mereka hanyalah kebencian.

Ketika Sultan Muhammad al Fatih wafat pada tahun 1481, orang Kristen Eropa bersukaria karenanya. Mereka berkata la grande aquila e morta (elang yang perkasa itu sudah mati). Selama berhari-hari lonceng gereja berdentang, orang-orang berpesta pora, hanya untuk merayakan kematian seorang laki-laki yang kehadirannya telah menggentarkan kekufuran. [sayf]