Bloody Elizabeth

Lukisan dari abad ke-15 menggambarkan Elizabeth Bathory saat berusia 25 tahun. Lukisan ini hilang tahun 1990.

Lukisan dari abad ke-15 menggambarkan Elizabeth Bathory saat berusia 25 tahun. Lukisan ini hilang tahun 1990.

Di dalam surah Al-Bayyinah ayat 6 Allah swt. Berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.” Tegas banget Allah nyatakan bahwa ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) dan musyrik (orang kafir selain Yahudi dan Nasrani) adanya di neraka Jahannam dan mereka itulah seburuk-buruknya makhluk. Ada satu kisah yang memperlihatkan kenyataan dari ayat di atas.

Pada abad ke-16 Masehi, hiduplah seorang bangsawan bernama Elizabeth Bathory. Dia adalah seorang putri cantik yang kaya raya dari sebuah keluarga yang paling berkuasa di Polandia, keluarga Bathory. Stephan Bathory, paman Elizabeth, adalah salah seorang raja Polandia yang terkuat. Sayangnya, walau Elizabeth seorang wanita, dia adalah pembunuh berdarah dingin paling keji sepanjang sejarah. Bahkan namanya tercatat dalam Guinness Book of World Records sebagai Wanita Pembunuh Paling Produktif. Hadeuhhh…!

Seperti dikisahkan oleh Brenda Ralph Lewis dalam bukunya A Dark History: Kings & Queens of Europe, Elizabeth Bathory telah membunuh puluhan bahkan ratusan gadis perawan untuk mendapatkan kecantikan dan awet muda. Ternyata ada lho yang kayak gini, kirain cuman ada di dongeng Sleeping Beauty.

Elizabeth Bathory dilahirkan pada tahun 1560 dari keluarga Bathory, dan tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik. Saat usianya masih sangat muda, Elizabeth dinikahkan dengan seorang bangsawan yang derajatnya lebih rendah, namanya Ferenc Nadasdy. Karena Ferenc dengan sengaja menginginkan keagungan dari pernikahan itu, dengan sengaja dia membiarkan Elizabeth tetap membawa nama ‘Bathory’ di belakang namanya, dan bukannya nama ‘Nadasdy’. Pasangan ini memiliki sifat yang sama-sama kejam, dan bahkan kelak Elizabeth memiliki kekejaman yang melebihi suaminya.

Seperti kebanyakan tuan putri, kerjaan Elizabeth hanya berleha-leha dan bersantai. Dia sering kali duduk di depan cermin dan mengagumi kecantikannya sendiri. Terlebih lagi karena dia sering ditinggal suaminya untuk pergi berperang melawan Turki Utsmani, kesenangannya berdandan dan berkaca jadi makin menjadi-jadi. Dia begitu mengagumi kecantikannya, dan merasa kaget ketika dia menemukan kerutan di wajahnya. Yaiyalah ada kerutan, kalau usia bertambah pasti bakal muncul kerutan.

Pada suatu hari, ketika Elizabeth sedang duduk di depan kaca, seorang pelayan sedang menyisirkan rambutnya, terjadilah sebuah peristiwa yang tidak disangka-sangka. Pelayan tadi, seorang gadis perawan, tidak sengaja menarik rambut Elizabeth. Elizabeth pun murka dan menampar gadis itu sekuat tenaga. Darah pun muncrat dari hidung dan mulut gadis itu, mengenai tangan Elizabeth. Entah dapat wangsit dari mana, Elizabeth merasakan kulit yang terlumuri darah perawan itu mengalami peremajaan. Kerutan-kerutan pun hilang (ngalahin krim anti aging, hehe). Dia langsung memerintahkan gadis itu ditangkap dan lehernya disayat, darahnya ditampung dalam sebuah bak mandi, Elizabeth pun mandi dengan darah perawan itu. Hiii ngeri.

Di dalam kastilnya, Elizabeth menyiksa dan membunuh gadis-gadis perawan dari perkampungan di sekitar kastil. Dia amat menikmati penyiksaan dan jeritan dari gadis-gadis itu. Darah perawan kembali ditampung untuk tempat Elizabeth berendam. Emang berabe banget kalau punya hobi nggak normal kayak gini. Saking banyaknya gadis yang dibunuhnya, dia berhasil menghabisi satu generasi gadis muda di sekitar kastil.

Kekayaan dan kekuasaan keluarganya membuat banyak orang tidak berani komplain atas semua kejahatan Elizabeth. Berbagai gosip yang beredar di sekitar kastil mengendap dan tetap menjadi gosip. Seorang pendeta bernama Istvan Magyari kemudian memberanikan diri untuk mengadukan semua kejahatan ini. Pengaduan sang pendeta sampai juga di telinga Raja Hungaria, Mathias Corvinus. Sang raja kemudian memerintahkan seorang pembantunya, Gyorgi Thurzo, untuk melakukan investigasi.

Saat Thurzo memasuki kastil Elizabeth, dia geleng-geleng kepala. Kejahatan yang dilakukan Elizabeth memang benar-benar mengerikan. Dia menemukan seorang gadis yang sedang sekarat dengan sekujur tubuh penuh luka menganga. Di kamar-kamar dalam kastil juga ditemukan mayat-mayat gadis yang sudah tidak lengkap. Ada yang hilang tangan atau kakinya, ada juga yang hilang kepalanya. Di ruang bawah tanah kastil ditemukan mayat lebih banyak lagi. Nggak kebayang gimana amis dan busuknya di sana.

Orang-orang dekat Elizabeth yang membantunya menjalankan hobi kejinya itu, Klara, Dorottya Szentes, Erszri Majorova, dll. Ditangkap, diadili, dan dieksekusi. Karena pengaruh dan kekuasaan Keluarga Bathory, Elizabeth hampir tidak tersentuh. Dia tidak diadili dan hanya dikurung di kastilnya sendiri hingga dia mati pada tahun 1614 pada usia 54 tahun dengan wajah tersungkur di lantai. Setelah kematiannya, banyak tersebar mitos dan kisah-kisah seram tentang dirinya. Allah mahabenar, orang-orang kafir adalah seburuk-buruknya makhluk.

Ma’rakat Balatusy Syuhada

Lukisan karya Steuben, menggambarkan Perang Tours.

Lukisan karya Steuben, menggambarkan Perang Tours.

Pertempuran Tours (Oktober 732), atau disebut juga Pertempuran Poitiers dan orang Arab menyebutnya Ma’rakat Balat ash-Shuhada (Istana pertempuran para syuhada) terjadi di sebuah wilayah diantara kota Poitiers dan Tours, pada bagian utara-tengah Prancis, dekat desa Moussais la Bataille, sekitar 20 kilometer (12 mil), sebelah timurlaut Poitiers. Lokasi pertempuran ini dekat dengan perbatasan antara wilayah Bangsa Franks dan wilayah yang kemudian disebut Aquitaine. Pada pertempuran ini beradu kekuatan bangsa Franks dan Burgundia dibawah kepemimpinan Penguasa Istana Austrasia, Charles Martel melawan pasukan dari Khilafah Umayyah yang dipimpin oleh Abdurrahman al Ghafiqi, gubernur jenderal Andalusia.

Bangsa Franks meraih kemenangan. Abdurrahman al Ghafiqi syahid, dan Charles kemudian meluaskan kekuasaannya di selatan. Penulis kronik abad ke-9 M, yang menginterpretasikan hasil akhir perang ini sebagai keputusan ilahi, memberi Charles gelar Martellus (“sang palu” atau “sang martil”), kemungkinan diambil dari Judas Maccabeus (“tha hammerer”) dari Pemberontakan Maccabe. Peristiwa pertempuran secara detil, termasuk lokasi tepatnya dan jumlah pasti dari pasukan yang bertempur, tidak bisa ditentukan secara pasti dari catatan-catatan yang masih ada. Hanya saja, pasukan Franks memenangkan pertempuran tanpa pasukan kavaleri.

Penulis kronik Kristen pada masa selanjutnya dan sejarawan sebelum abad ke-20 M memuji Charles Martel sebagai pembela kekristenan, menyatakan pertempuran itu sebagai titik balik dalam perjuangan melawan Islam, sebuah pertempuran yang membuat Kristen tetap bertahan sebagai agama Eropa; menurut sejarawan militer modern Victor Davis Hanson, “sebagian besar sejarawan abad 18 M dan 19 M, seperti Gibbon, melihat Poitiers (Tours), sebagai pertempuran yang menonjol yang menandai cepatnya gerak laju pasukan Muslim ke Eropa.” Leopold von Ranke merasa bahwa “Poitiers adalah titik balik salah sati dari epik terpenting dalam sejarah dunia.”

Terdapat sedikit perselisihan pendapat, bahwa pertempuran ini membantu meletakkan dasar Kekaisaran Carolingian dan dominasi bangsa Franks atas Eropa pada abad selanjutnya. Kebanyakan sejarawan setuju bahwa “pendirian kekuatan bangsa Franks di Eropa Barat membentuk takdir benua itu dan Pertempuran Tours menegaskan kekuatan itu.”

Latar Belakang

Pertempuran Tours dimulai dari gerak penaklukan Khilafah Umayyah selama 21 tahun atas Eropa yang telah dimulai sejak penakluakn Kerajaan Visigoth Kristen di Semenanjung Iberia pada 711 M. Gerakan ini kemudian diikuti oleh ekspedisi militer hingga wilayah bangsa Franks di Gaul, yang sebelumnya adalah provinsi dari Kekaisaran Romawi. Gerak militer Umayyah telah mencapai sebelah utara hingga ke Aquitaine dan Burgundia, termasuk pertempuran yang cukup besar di Bordeaux dan sebuah serangan di Autun. Kemenangan Charles dipercaya telah menghentikan gerak laju kekuatan Umayyah ini ke utara dari Semenanjung Iberia, dan telah mempertahankan agama Kristen di Eropa di masa ketika kekuasaan Islam sisa-sisa wilayah Romawi Kuno dan Kekaisaran Persia.

Sebagian besar sejarawan memperkirakan bahwa kedua pasukan ini bertemu di suatu tempat di mana Sungai Clain dan Vienne menyatu diantara Tours dan Poitiers. Jumlah prajurit di kedua pasukan itu tidaklah diketahui. Kronik Mozarabic dari tahun 754 M, sebuah sumber kontemporer Latin yang mendeskripsikan pertempuran ini dengan detil yang baik dibandingkan sumber Arab dan Latin lainnya, menyatakan bahwa, “rakyat Austrasia (pasukan Franks), lebih banyak jumlah pasukannya dan persenjataannya lebih baik, membunuh rajanya, Abdurrahman,” yang sepakat dengan sejarawan Arab dan Muslim lainnya. Walaupun begitu, sebenarnya seluruh sumber Barat tidak sepakat, dan memperkirakan kekuatan Franks sekitar 30.000, tidak sampai setengah dari jumlah kekuatan pasukan Muslim.

Beberapa sejarawan modern, menggunakan perkiraan berdasarkan seberapa banyak orang yang bisa ditampung oleh tempat pertempuran, dan kekuatan Martel untuk menghimpun prajurit dari negerinya, meyakini bahwa jumlah pasukan Muslim, dengan menghitung pasukan penyerang terjauh, yang bergabung kembali dengan pasukan utama sebelum Tours, melebihi pasukan Franks. Berdasarkan pada gambar pada sumber Muslim non-kontemporer, Creasy menjelaskan bahwa kekuatan Umayyah adalah 80.000 prajurit atau lebih. Menulis pada tahun 1999, Paul K. Davis memperkirakan bahwa pasukan Muslim berjumlah 80.000 personil dan pasukan Franks sekitar 30.000 personil, sambil menyatakan bahwa sejarawan modern memperkirakan kekuatan pasukan Umayyah di Tours antara 20.000-80.000. Namun, Edward J. Schoenfeld (menolak perkiraan sebelumnya yang sekitar 60.000-400.000 Umayyah dan 75.000 Franks), berpendapat “perkiraan bahwa pasukan Umayyah berjumlah lebih dari 50.000 orang (dan lebih banyak lagi pasukan bangsa Franks) secara logistik sangatlah tidak mungkin.” Demikian pula, sejarawan Victor Davis Hanson meyakini bahwa kedua pasukan dalam perhitungan kasar berjumlah sama, sekitar 30.000 prajurit.

Sejarawan modern mungkin saja lebih akurat daripada sumber-sumber abad pertengahan, sebab perkiraan modern berdasarkan pada kemampuan logistik dari luas lahan dan ketersediaan bahan makanan yang sanggup mendukung jumlah orang sebanyak itu. Davis dan Hanson menekankan bahwa kedua pasukan harus hidup dari hasil lahan tempat itu, tanpa memiliki sistem pemenuhan pangan (commissary system) yang memadai untuk memenuhi kebutuhan sebuah pasukan perang. Sumber lain memperkirakan seperti ini: “Gore menempatkan pasukan Franks pada jumlah 15.000-20.000, walaupun perkiraan lainnya ada diantara 30.000 hingga 80.000. Terlepas dari perkiraan yang sangat bervariasi pada pasukan Saracen, dia menyatakan jumlahnya sekitar 20.000 – 25.000. Yang lainnya pun memperkirakan jumlah yang lebih banyak dari 80.000, dengan jumlah 50.000 sebagai perkiraan yang sangat luar biasa.

Kerugian-kerugian setelah pertempuran tidak bisa diketahui secara pasti, tetapi para penulis kronik kemudian mengklaim bahwa Charles Martel mengalami kerugian 1.500 personil sementara pasukan Umayyah mengalami kerugian lebih dari 375.000 prajurit. Namun, angka-angka kerugian yang sama ini dicatat dalam Liber Pontificalis untuk kemenangan Duke Odo dari Aquitaine pada Pertempuran Toulouse (721 M). Paul Sang Diaken melaporkan secara tepat dalam karyanya Historia Langobardorum (ditulis sekitar tahun 785 M) bahwa Liber Pontificalis menyebutkan angka-angka kerugian ini berhubungan dengan kemenangan Odo di Toulouse (walaupun dia mengklaim bahwa Charles Martel bertempur bersama Odo), tetapi penulis yang kemudian, kemungkinan “terpengaruh dengan Continuations of Fredegar, mengaitkan kerugian di pihak Saracen hanya kepada Charles Martel, dan pertempuran tempat mereka jatuh dengan tegas hanyalah Poitiers.” Vita pardulfi, ditulis pada pertengahan abad ke-8 M, melaporkan bahwa setelah pertempuran, pasukan Abdurrahman dibakar dan dijarah sepanjang perjalanan mereka melintasi Limousin dalam perjalanan kembali ke al Andalus, yang menyiratkan bahwa mereka tidak dihancurkan seperti apa yang diimajinasikan dalam Continuations of Fredegar.

Bangsa Moor

Pembebasan atas Hispania, dan kemudian Gaul, dipimpin oleh Dinasti Umayyah (Arab: Banu Umayyah, atau al Umawiyyun juga “Umawi”), dinasti Khalifah pertama pada Negara Islam setelah pemerintahan empat Khulafa Rasyidum (Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali) berakhir. Khilafah Umayyah, pada masa Perang Tours, kemungkinan adalah salah satu kekuatan militer unggul di dunia. Penaklukan besar Khilafah terjadi pada masa pemerintahan Bani Umayyah. Pasukan Muslim merangsek ke timur melintasi Persia dan ke barat melintasi bagian Afrika Utara pada akhir abad ke-7 M.

Pada tahun 711-718 M, Thariq bin Ziyad memimpin pasukan Muslim menyeberangi Selat Gibraltar untuk menaklukkan Kerajaan Visigoth Hispania. Negara Islam di masa Bani Umayyah menjadi sebuah negara besar yang menguasai susunan rakyat yang berbeda-beda. Khilafah telah menghancurkan dua kekuatan militer utama dari masa lalu, Kekaisaran Sassan Persia, yang wilayahnya digabungkan secara menyeluruh, dan sebagian besar wilayah Kekaisaran Byzantium, termasuk Syria, Armenia, dan Afrika Utara, meskipun Leo dari Isauria membendung gelombang penaklukan itu ketika dia mengalahkan pasukan Umayyah pada Perang Akroinon (739 M), yang merupakan ekspedisi militer terakhir mereka di Anatolia.

Bangsa Franks

Bangsa Franks pada masa Charles Martel adalah kekuatan militer utama di Eropa Barat. Pada sebagian besar masa jabatannya sebagai komandan bangsa Franks, wilayahnya meliputi bagian utara dan timur Prancis (Austrasia, Neustria, dan Burgundia), sebagian besar wilayah barat Jerman, dan negeri-negeri rendahnya (Luxemburg, Belgia, dan Belanda). Wilayah bangsa Franks semakin berkembang sebagai kekuatan kekaisaran pertama di Eropa Barat sejak keruntuhan Romawi. Namun, terus-menerus terjadi peperangan melawan kekuatan luar seperti dari Saxon, Frisia, dan musuh-musuh lainnya seperti orang Basque-Aquitaine yang dipimpin Odo yang Agung (Prancis kuno: Eudes), Duke dari Aquitaine dan Vasconia.

Penaklukan Muslim Dari Hispania

Pasukan Umayyah di bawah komando al Samh bin Malik al Khawlani, gubernur jenderal al Andalus, menyerbu Septimania pada tahun 719 M, menyapu bersih Semenanjung Iberia. Al Samh membangun ibukota sejak tahun 720 M di Narbonne, bangsa Moor menyebutnya Arbūna. Dengan mengamankan Pelabuhan Narbonne, Umayyah dengan cepat menguasai kota-kota lainnya yang tidak melawan, seperti Alet, Beziers, Agde, Lodeve, Maguelonne, dan Nimes, yang masih dikuasi oleh bangsawan-bangsawan Visigothicnya.

Ekspedisi militer Umayyah memasuki Aquitaine mengalami kemunduran sementara pada Perang Toulouse (721 M). Duke Odo dari Aquitaine memecahkan pengepungan Toulouse, mengejutkan pasukan al Samh bin Malik. Al Samh bin Malik sendiri terluka parah. Kekalahan ini tidak menghentikan serbuan ke wilayah Romawi Gaul Kuno, pasukan bangsa Moor, yang memiliki markas yang baik di Narbonne dan disuplai dengan mudah dari laut, merangsek ke timur pada tahun 720 M, menembus hingga sejauh Autun di Burgundia pada tahun 725 M.

Terancam dari dua arah, oleh Umayyah di selatan dan bangsa Franks di utara, pada tahun 730 M Odo beraliansi dengan seorang komandan Berber, Utsman bin Naissa, yang disebut “Munuza” oleh orang Franks, wakil gubernur dari wilayah yang kemudian menjadi Catalonia. Untuk mengamankan aliansinya, Odo menikahkan Utsman dengan putrinya, Lampagie, dan penyerbuan bangsa Moor menyeberangi Pyrenees, perbatasan Odo di sebelah selatan, terhenti. Namun, pada tahun berikutnya, komandan Berber ini membunuh uskup Urgell, Nambaudus, dan memisahkan diri dari pemimpin Arabnya di Cordova. Abdurrahman kemudian mengirimkan sebuah ekspedisi untuk membersihkan pemberontakan ini dan mengarahkan perhatian selanjutnya melawan sekutu Utsman, Odo.

Duke Aquitaine Odo mengumpulkan pasukannya di Bordeaux, tetapi dikalahkan, dan Bordeaux dijarah. Selanjutnya di Pertempuran Sungai Garonne, Mozarabic Chornicle dari tahun 754 M berkomentar bahwa “Hanya Tuhan yang tahu berapa banyak yang dibantai.” Mozarabic Chronicle tahun 754 M melanjutkan, “Menembus gunung, berderap melintasi tanah yang keras dan tinggi, menjarah jauh hingga ke negeri orang Franks, dan menghabisi semua dengan pedang, demikianlah saat Eudo turun berperang dengan mereka di Sungai Garonne, dia melarikan diri.”

Permohonan Odo Pada Bangsa Franks

Odo, meskipun menderita kekalahan, mengorganisasikan kembali pasukannya, memberikan peringatan pada pemimpin bangsa Franks tentang bahaya yang akan segera datang, menggedor dari jantung negerinya, dan memohon bantuan pada orang Franks, yang mana Charles Martel hanya mengabulkannya setelah Odo menyetujui untuk tunduk di bawah kekuasaan bangsa Franks.

Sepertinya Umayyah belum menyadari kekuatan sesungguhnya dari bangsa Franks. Pasukan Umayyah khususnya tidak terlalu memperhatikan kekuatan bangsa-bangsa Germanic, termasuk bangsa Franks, dan penulis kronik Arab pada zaman itu baru menyadari bangsa Franks sebagai sebuah kekuatan militer yang sedang tumbuh hanya setelah Perang Tours.

Lebih jauh lagi, sepertinya Umayyah tidak menelusuri hingga ke utara untuk melacak musuh-musuh potensial, jika mereka melakukannya, tentunya mereka akan mengetahui Charles Martel adalah kekuatan yang harus diperhitungkan, karena dominasinya yang terus tumbuh di Eropa sejak tahun 717 M: seharusnya ini menjadi peringatan nyata bagi Umayyah bahwa sebuah kekuatan nyata yang dipimpin oleh seorang jenderal yang sangat berbakat sedang bangkit dari debu-debu Kekaisaran Romawi Barat.

Gerak Maju Umayyah Menuju Loire

Pada tahun 732 M, pasukan Umayyah terus mendesak maju ke utara menuju Sungai Loire, melampauai jalur suplai mereka dan bagian lain pasukan mereka yang berjumlah lebih besar. Menghancurkan seluruh perlawanan pada wilayah Gaul itu, pasukan penyerang ini memisahkan diri menjadi beberapa bagian, sementara pasukan utamanya bergerak dengan lebih lambat.

Umayyah menunda serangan mereka pada akhir tahun itu kemungkinan karena banyak prajurit dan kuda amat membutuhkan hasil-hasil lahan saat mereka bergerak maju, sehingga mereka menunggu panen gandum dari area itu, dan kemudian hasil panennya ditumbuk (secara lambat menggunakan tangan) hingga mencapai jumlah yang cukup untuk disimpan. Jika para prajurit bisa memakan hewan ternak, kuda tidak bisa melakuannya dan hanya membutuhkan biji-bijian sebagai makanan.

Penjelasan tentang mengapa Odo dikalahkan dengan amat mudah di Bordeaux dan di Garonne setelah selama 11 tahun menang di Perang Toulouse sangatlah mudah. Di Toulouse, Odo mengatuh sebuah serangan mendadak menghadapi musuh yang terlalu percaya diri dan kurang persiapan, yang seluruh pertahanan dipersiapan untuk serangan ke bagian dalam, sementara dia menyerang dari luar. Pasukan Umayyah sebagian besar infanteri, dan kavaleri mereka tidak pernah mendapat kesempatan untuk dimobilisasi dan bertemu dengannya di medan perang. Seperti yang ditulis oleh Herman dari Carinthia, dalam salah satu terjemahannya dari sejarah al Andalus, Odo mengatur sebuah pengepungan melingkar yang sukses yang secara total mengejutkan musuhnya-dan hasilnya adalah pembantaian yang menghancurkan atas pasukan Muslim.

Di Bordeaux, dan juga di Garonne, pasukan Umayyah adalah kavaleri, bukan infanteri, dan tidak termakan serangan kejutan, dan diberi kesempatan untuk terjun ke pertempuran, yang membawa kehancuran pada pasukan Odo, sebagian besar mereka terbunuh dan hanya kerugian kecil saja yang diderita Muslim. Pasukan Odo, seperti kebanyakan pasukan Eropa di masa itu, kekurangan penyangga, sehingga tidak memiliki kavaleri berat. Sebenarnya keseluruhan pasukannya adalah infanteri. Kavaleri berat Umayyah menghancurkan pasukan infanteri Franks pada serangan pertama mereka, kemudian segera membantai mereka setelah mereka hancur dan melarikan diri.

Pasukan penyerang ini meneruskan penghancurannya pada bagian selatan Gaul. Motif yang memungkinkan, menurut lanjutan kedua dari Fredegar, adalah kekayaan Biara Saint Martin di Tours, biara paling prestisius dan paling suci di Eropa Barat pada masa itu. Saat mendengar ini, penguasa istana Austrasia, Charles Martel, mengumpulkan pasukannya dan bergerak ke selatan, menghindari Jalur Romawi Kuno dan berharap mengejutkan pasukan Muslim. Karena dia berniat menggunakan phalanx, amat penting untuk menentukan medan perang. Rencananya –menemukan dataran tinggi berhutan, mengatur formasi pasukannya dan memaksa pasukan Muslim untuk datang padanya- tergantung pada elemen kejutan. [translated from wikipedia.org by sayf muhammad isa]

Trailer Ghazi 3: The Howling of Wolf, The Eyesight of Eagle

Ghazi 3: The Howling of Wolf, The Eyesight of Eagle.

Ghazi 3: The Howling of Wolf, The Eyesight of Eagle.

Novel Ghazi jilid 3 sedang dalam tahap produksi. Mohon doa kawan-kawan agar berjalan lancar dan maksimal. Berikut ini sedikit trailer novel Ghazi 3: The Howling of Wolf, The Eyesight of Eagle.

Episode 23
Valea Draganului

Pasukan Hungaria itu mendekati tepian sungai. Mereka ingin cepat-cepat melintasi sungai itu sambil mencuci muka atau mengisi kantung-kantung air mereka yang telah mengering. Air memang membawakan kehidupan bagi jiwa-jiwa yang kehausan.

Hunyadi menggerakkan kudanya untuk mendekati Sigismund. Ada sesuatu yang hendak dibicarakannya.

“Yang Mulia,” katanya, “lebih baik kita mendirikan kemah dan bermalam di sepanjang lembah ini. Sebab hari telah semakin sore. Akan cukup berbahaya jika kita kemalaman di dalam hutan. Besok pagi-pagi sekali kita lanjutkan perjalanan! Jika tidak ada halangan, kita akan tiba di pusat Transylvania setelah berjalan seharian.”.

Sigismund mengangguk. “Baiklah, lakukanlah apa yang kau anggap perlu!”.

Hunyadi baru saja hendak melecut kudanya untuk memberi perintah kepada seluruh pasukan, ketika Barbara mengarahkan telunjuknya lurus ke depan.

“Tunggu! Lihatlah!” Serunya.

Serta-merta Hunyadi mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi untuk memberi tanda agar seluruh pasukan berhenti melangkah. Semua orang menatap ke depan, ke arah yang ditunjuk Barbara.

Di sana, di seberang sungai yang mengalir dengan tenang itu, ada dua orang prajurit yang menunggang kuda. Semua pandangan mata milik orang-orang yang ada di barisan terdepan pasukan Hungaria itu tertuju ke sana. Semuanya bertanya-tanya tentang siapakah kedua prajurit berkuda itu. Tiba-tiba Hunyadi menyadari sesuatu.

“Turki Utsmani,” gumamnya.

Sigismund menoleh kepada Hunyadi sambil membelalak. Kemudian dia kembali mengarahkan pandangannya kepada kedua prajurit berkuda yang ada di seberang sungai.

Di hadapan Kaisar Romawi Suci dan seluruh pasukannya, ada dua orang prajurit berkuda. Mereka adalah prajurit Janissari Turki Utsmani dengan pakaian seragamnya yang khas. Topi tinggi yang bagian belakangnya menjuntai hingga ke punggung terpasang di kepala mereka. Seragam merah Janissari di tubuh mereka dilapisi baju zirah yang gagah. Masing-masing mereka menggenggam sebatang tombak panjang dengan bendera yang berkibar megah di ujungnya. Salah seorang prajurit memegang bendera merah berlambang bulan sabit dan bintang, bendera Turki Utsmani. Seorang prajurit yang lain memegang bendera hitam bertuliskan Kalimah Syahadat, itulah panji perang Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alayhi wasallam. Mereka menatap tajam kepada seluruh pasukan Hungaria.

“Tak salah lagi,” kata Hunyadi, “mereka adalah prajurit Janissari, pasukan elit Turki Utsmani!”.

“Mengapa ada orang Turki di tempat seperti ini?” Sigismund gusar alang kepalang.

“Kemungkinannya hanya satu, Yang Mulia, berarti Transylvania telah berada di bawah kendali mereka,” sahut Hunyadi.

“Apa yang harus kita lakukan?” Tanya Barbara.

“Hancurkan saja mereka,” kata Sigismund sambil mengacungkan telunjuknya. Matanya membelalak, dia benar-benar gusar. “Tembak mereka dengan panah. Bunuh mereka.”

“Sabar dulu, Yang Mulia, kita tidak boleh bertindak gegabah,” kata Hunyadi. Dia mengangkat tangannya dan berusaha menenangkan rajanya. “Kehadiran mereka pasti telah direncanakan dengan matang, dan mereka pastilah bukan orang-orang sembarangan. Kita tidak boleh salah bertindak, atau kita sendiri yang akan hancur!”.

“Mereka cuma berdua, Jonas, kita bisa memusnahkan mereka dengan mudah,” serapah Sigismund.

“Yang Mulia, itu tidak mungkin. Sama sekali tidak mungkin. Di belakang mereka pasti sudah ada ratusan bahkan mungkin ribuan tentara Turki Utsmani. Di balik semak-semak dan pepohonan itu pasti mereka sedang menunggu. Mungkin mereka terlihat hanya berdua, tapi kenyataannya pasti tidaklah begitu. Kita tidak boleh bertindak gegabah.”

“Lantas apa yang harus kita lakukan, Jenderal?” Tanya Cesarini. Dia tak kalah galau dengan Sigismund.

“Kita harus tenang, jangan bertindak terburu-buru,” Hunyadi menatap tajam kepada dua orang pasukan Turki di seberang sungai, kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar lembah itu.

Pasukan Hungaria sudah ribut menyoraki kehadiran prajurit Turki Utsmani itu. Segala sumpah serapah dan caci-maki terlontar deras dari mulut-mulut mereka. Namun segala hal tidak berguna itu tak dihiraukan oleh kedua prajurit Turki Utsmani tadi. Mereka tetap duduk tegap dan tenang di atas pelana kuda mereka sambil menatap tajam kepada seluruh pasukan Hungaria.

“Apa yang mesti kita lakukan, Jonas?” Sigismund sudah tidak sanggup menahan kerisauannya, emosi, dan amarahnya. “Mereka tegak dengan kesombongan di hadapan kita, lantas apakah kita mesti diam saja?”

“Tidak, Yang Mulia,” kata Hunyadi, “kita tidak akan diam saja. Aku akan mencari tahu apa yang mereka inginkan!”

Hunyadi menjalankan kudanya menghampiri tepi sungai. Sekarang, yang memisahkannya dengan kedua prajurit Turki Utsmani itu hanyalah aliran air sungai.

“Apa yang kalian inginkan?” Hunyadi mendongak dan menguatkan suaranya agar terdengar ke seberang.

Prajurit Muslim yang membawa panji Rasulullah menggerakkan kudanya lebih dekat ke tepi sungai. Suaranya menggelegar seisi lembah.

“Wallachia dan Transylvania telah berada di bawah perlindungan Islam. Kami menyeru kepada kalian semua, untuk berpegang teguh pada kalimat yang satu. Sebuah kalimat yang kokoh yang akan menyatukan kita semua,” tangan prajurit Turki itu terangkat, telunjuknya tegak menikam langit. “Sembahlah Allah, Tuhan yang satu, Dialah Tuhan semesta alam, Tuhannya Yesus Kristus dan Muhammad shalallahu‘alayhi wasallam. Jangan menyekutukan Dia dengan sesuatu apapun. Taati semua perintahNya, dan jauhi segala laranganNya. Berpegangteguhlah kepada Islam sebagai risalah terakhir dari Tuhan semesta alam!”

Desir angin membawa seruan suci itu kepada seluruh pasukan kafir. Dan seruan yang amat mulia itu hanya membuat hati mereka semakin bebal. Hunyadi tersenyum mengejek.

“Bagaimana kalau kami tidak mau?” Tanyanya.

“Pulanglah kalian ke rumah-rumah kalian. Sesungguhnya Wallachia dan Transylvania telah berada di bawah perlindungan Islam. Kami akan menerapkan syariat Islam di sana dan akan kami sejahterakan seluruh penduduknya sebab Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Kelak, kami akan datang ke negeri kalian untuk membebaskan kalian dari seluruh sistem dan aturan kufur yang menyengsarakan kalian. Insya Allah.”

“Kalau kami tetap tidak mau?” Hunyadi kembali memampang senyum mengejek.

Prajurit Janissari itu membelalak dan menyeringai kepada Hunyadi. Bendera hitam di ujung tombaknya berkibar diembus angin. Dia bicara dengan penuh ketegasan.

“Kalau kalian tetap tidak mau, kami yang akan memulangkan kalian… … ke Neraka!”.

Hunyadi menelan ludah. Dia tahu persis bahwa ancaman tentara Janissari itu bukan sekadar bualan. Seluruh pasukan Hungaria berada di dalam posisi yang tidak menguntungkan. Mereka sama sekali tidak bisa melihat di mana musuh mereka. Yang ada di hadapan mereka hanya dua orang tentara Janissari. Ancaman dari tentara Janissari itu berlanjut.

“Aliran sungai di lembah ini adalah pembatas antara kalian dengan pintu Neraka. Jika kalian berani menyeberangi sungai ini, berarti kalian telah mempersiapkan diri untuk mati sia-sia dan masuk Neraka.”

Setelah mengabarkan sebuah kabar gembira dan memberi peringatan, kedua tentara Janissari itu berbalik dan pergi. Mereka berjalan menuju lereng gunung dan lebatnya hutan menelan mereka. Mereka sudah menghilang dari pandangan. Yang tertinggal adalah kesunyian Valea Drăganului dan seluruh pasukan Hungaria yang bertanya-tanya.

Hunyadi kembali kepada Sigismund dengan raut wajah yang keruh. Kegalauan berhamburan dari seluruh tubuhnya.

“Mereka menyeru kita masuk Islam,” kata Hunyadi. “Jika kita menolak, mereka meminta kita untuk pulang saja, sebab Wallachia dan Transylvania telah berada di bawah perlindungan mereka.”

“Semua itu tidak akan mungkin terjadi,” Sigismund meninju telapak tangannya sendiri.

“Jika kita menyeberangi sungai ini, perang akan pecah,” kata Hunyadi.

“Bukankah itu yang kita inginkan?” Sigismund ketus.

Hunyadi melempar pandang ke lereng gunung di seberang sungai. Jika hendak maju terus, mereka harus menyeberangi sungai itu dan mendaki lereng gunung agar tiba di Transylvania. Hunyadi yakin benar, walaupun terlihat sunyi, lereng gunung itu telah dipenuhi oleh tentara Turki Utsmani.

“Aku tidak menyangkal semua itu, Yang Mulia,” katanya. “Hanya saja, yang jadi masalah, kita tidak bisa melihat musuh kita. Dan hal itu menjadi kelemahan bagi kita.”

“Kita tidak perlu khawatir, tuhan Yesus Kristus berserta kita.” Kata Sigismund. “Sekarang perintahkan seluruh pasukan untuk menyeberangi sungai. Kita harus merebut kembali tanah Kristendom yang terampas.”

Tak ada lagi pilihan lain. Hunyadi mencabut pedangnya dan berteriak lantang.

“DEUSSS VUUUULLLTTT!!”.

Berpulangnya Sultan Muhammad al Fatih

Potret Muhammad al Fatih oleh Gentile Bellini.

Potret Muhammad al Fatih oleh Gentile Bellini.

Bulan April hingga Mei adalah bulan Penaklukan Konstantinopel. Yuk kita ngobrol tentang Sultan Muhammad al Fatih sang penakluk Konstantinopel.

Pada suatu ketika, tahun 1480 Masehi, sultan Muhammad al Fatih telah berhasil menaklukan sebuah kota di ujung Italia, bernama Otranto. Namun tak lama kemudian, beliau segera mempersiapkan kembali pasukan perang yang amat kuat, yang kualitas dan jumlahnya ditingkatkan lebih tinggi daripada penaklukan-penaklukan beliau sebelumnya. Tidak ada satu orang pun yang tahu ke manakah gerangan pasukan perang yang sedang dibangun ini akan digerakkan. Ini memang kebiasaan beliau, selalu merahasiakan tujuan penaklukan beliau selanjutnya. Yang mengetahuinya hanya diri beliau sendiri dan Allah swt.

Namun kaum Kristen Eropa mengetahuinya. Mereka tahu betul bahwa setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel, sutan Muhammad al Fatih pasti akan menaklukkan Roma, sebagaimana janji Rasulullah saw. Dan sultan Muhammad al Fatih telah berhasil menaklukkan Otranto, pasukan besar kali ini pastilah akan beliau arahkan ke untuk menaklukkan Roma. Kalau bukan ke sana, lalu ke mana lagi? Karena didorong oleh kengerian itu, Paus Sixtus IV tega meninggalkan rakyatnya di Roma dan melarikan diri ke Avignon (sebuah kota di selatan Prancis). Setiap hari kaum Kristen berdoa di gereja-gereja dan kapel-kapel.

Ketika pasukan perang untuk menaklukkan Roma itu akan bergerak dari Uskudar, Sultan Muhammad al Fatih jatuh sakit. Penyakit radang sendi yang telah beliau derita sejak tahun 1470 semakin parah. Namun semua itu tidaklah beliau hiraukan. Beliau tetap berangkat berjihad bersama pasukan beliau menuju Roma. Sayangnya, Allah berkehendak lain. Allah memanggil beliau pada tanggal 3 Mei 1481, dalam usia 49 tahun.

Kabar wafatnya Sultan Muhammad al Fatih kemudian tersebar. Duta besar negara eropa pertama yang mengetahui kabar ini berasal dari Venesia, Nicollo Cocco. Kemudian dia mengirim kabar kepada Diego Giovanni Mocenigo, Doge (istilah untuk pemimpin) Venesia, yang tiba tanggal tanggal 29 Mei 1488. Saat akan mengantarkan surat itu, sang kapten bersorak di hadapan Doge, “La grande aquila e’morta!” (elang yang perkasa itu sudah mati). Setelah membaca kabar lengkapnya dari surat yang dikirim Cocco, Doge langsung memerintahkan untuk membunyikan lonceng Marangona, lonceng besar yang ada puncak menara San Marco. Lonceng spesial itu hanya dibunyikan ketika ada momen-momen spesial, seperti matinya seorang doge, menangnya armada Venesia melawan musuh, dll. Dan wafatnya Sultan Muhammad al Fatih dijadikan sebagai salah satu momen khusus yang layak diapresiasi dengan membunyikan Marangona. Tak lama kemudian seluruh lonceng gereja berdentang bersama Marangona untuk memperingati wafatnya sang Grande Turco (orang Turki yang agung).

Berita wafatnya Sultan Muhammad al Fatih pun sampai juga ke telinga Paus Sixtus. Dia segera kembali ke Roma dan menembakkan meriam dari Castel Sant’Angelo, sebuah benteng besar di Tiberius di dekat Basilika Santo Petrus dan Vatikan. Seluruh lonceng dibunyikan dan Paus memimpin prosesi panjang yang melibat seluruh kolose kardinal dan seluruh duta besar dari Basilika Santo Petrus menuju gereja Santa Maria del Popoli. Perayaan meriah digelar selama tiga hari. Ketika berita itu sampai di belahan Eropa yang lain, perayaan-perayaan itu diulangi lagi di sana. Eropa gemetar dan tenggelam dalam euforia, ketika mendengar kabar bahwa Sultan Muhammad al Fatih wafat.

Hal ini menggambarkan kepada kita betapa disegani dan diperhitungkannya beliau sebagai seorang muslim. Setiap gerak beliau begitu menggetarkan kekufuran. Kita akan kembali memiliki pemimpin seperti beliau jika Khilafah Islamiyah kembali ditegakkan. Insyaallah dalam waktu dekat.

Sultan Muhammad al Fatih Tertarik Pada Kristen?

Potret Muhammad al Fatih oleh Gentile Bellini.

Potret Muhammad al Fatih oleh Gentile Bellini.

Bulan April hingga Mei adalah bulan Penaklukan Konstantinopel. Yuk kita ngobrol tentang Sultan Muhammad al Fatih yang telah berhasil mewujudkan janji suci Rasulullah saw. yakni Penaklukan Konstantinopel tahun 1453.

Sejarah memang milik siapa yang menulisnya. Dengan kata lain, seperti apakah gambaran sejarah tentang suatu hal, bergantung dari sudut pandang serta latar belakang penulisnya. Begitu juga halnya dengan sejarah Sultan Muhammad al Fatih. Berbagai catatan sejarah, laporan, dan pandangan melingkupi tubuh penakluk besar Islam ini. Ada catatan-catatan sejarah yang baik dan mulia tentang dirinya, dan ada juga berbagai laporan yang buruk, terutama laporan dari kafir Barat. Dan terus terang, laporan-laporan sejarah tentang Muhammad al Fatih yang berasal dari kafir Barat membuat saya shock. Mereka menggambarkan betapa buruknya sosok beliau. Dalam tulisan ini marilah sedikit kita bicarakan tentang bagaimana pandangan buruk kafir Barat terhadap diri beliau yang telah dinobatkan oleh Nabi Muhammad saw. sebagai komandan terbaik sepanjang masa.

Muhammad al Fatih telah dianggap sebagai teror terbesar di dunia Kristen Eropa. Gerakan futuhat beliau yang amat agresif dan massif membuat orang-orang Kristen ketakutan setengah mati, sebab secara cepat mereka terus kehilangan wilayah-wilayah mereka. Karena hal ini, tiga orang Paus silih berganti mendeklarasikan Perang Salib kepada beliau. Kebencian yang sedemikian besar itulah yang amat memengaruhi berbagai catatan dan laporan dari Barat yang sedemikian buruk terhadap Sultan Muhammad al Fatih.

Paus Pius II menyebut beliau sebagai “naga beracun”, dan pasukannya dia sebut “gerombolan haus darah” yang menyerbu dunia Kristen. Paus Nikolas V menyebutnya sebagai “putra Iblis pembawa kebinasaan dan kematian.” Terlihat sekali betapa bencinya kaum Kristen terhadap Sultan Muhammad al Fatih.

Ketika Konstantinopel baru saja berhasil ditaklukkan, disebutkan bahwa Sultan Muhammad al Fatih memerintahkan pasukannya untuk menjarah kota dan melakukan apapun yang disukai oleh pasukannya itu selama tiga hari. Karena hal ini kehancuran total terjadi di dalam kota. Orang-orang dibunuhi dan para wanita diperkosa. John Freely dalam biografinya tentang beliau mengutip bahwa para pencatat sejarah Yunani dan Italia menuliskan bagaimana tentara Turki membunuh mereka yang tidak diperbudak, dan merampok harta peninggalan di Aya Sofya dan gereja-gereja lainnya, menjarah istana kekaisaran dan rumah-rumah orang kaya. Kritovoulos, seorang pencatat sejarah asal Yunani, menyatakan bahwa hampir 4000 orang dibantai pada penaklukan itu dan setelahnya, lebih dari 50.000 orang warga diperbudak, kota itu hampir tak memiliki apa-apa lagi karena dijarah.

Padahal jika kita merujuk kepada catatan-catatan lainnya, kejadiannya tidak seperti itu. Ustadz Felix Siauw dalam karya brilliannya yang berjudul Muhammad al Fatih 1453 menggambarkan bahwa dengan kemurahan hatinya, Sultan Mehmet menebus para tawanan Bizantium dengan uang dari kantongnya sendiri. Dr. Ali Muhammad ash Sholabi dalam karyanya Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Ustmaniyah pun menggambarkan bahwa Sultan Muhammad al Fatih mengirimkan pasukan khusus Janisari untuk melindungi gereja, para warga, dan rumah-rumah, agar tidak dijarah dan bisa selamat dari huru-hara penaklukan. Sultan Muhammad al Fatih pun tidak pernah melakukan pembantaian massal seperti yang dituduhkan itu. Warga sipil yang tidak terlibat di dalam perang dilindungi.

Podesta (semacam gubernur) Genoa, Angelo Lomellino, sebulan setelah Konstantinopel ditaklukkan, menulis surat kepada adiknya yang menggambarkan tentang kejatuhan Konstantinopel. “Kesimpulannya dia menjadi begitu kurang ajar setelah penaklukan Konstantinopel sehingga melihat dirinya tak lama lagi akan menjadi penguasa seluruh dunia dan bersumpah di depan umum bahwa dalam waktu kurang dari dua tahun dia berniat akan mencapai Roma dan … kecuali orang-orang Kristen segera mengambil tindakan kemungkinan besar dia akan melakukan berbagai hal yang akan membuat mereka terperangah.”

Mellissourgos mencatat bahwa Sultan Muhammad al Fatih mengangkat Gennadios Scholarios sebagai pemimpin gereja Ortodoks Yunani setelah penaklukan dan memberikan Gereja Rasul Suci sebagai kantor bagi Gennadios. Beberapa kali beliau mengunjungi Gennadios dan berdiskusi tentang Kekristenan dengannya. Karena kunjungan-kunjungan inilah beredar kabar bahwa beliau tertarik dengan agama Kristen (padahal bisa jadi kunjungan-kunjungan Muhammad al Fatih adalah untuk mendakwahi Gennadios agar memeluk Islam). Seorang Italia yang tinggal di Galata bernama Teodoro Spandugnino menyatakan bahwa beliau kerap kali menyembah relic peninggalan Kristen dan selalu menyalakan lilin di hadapan mereka. Laporan tentang ketertarikan Muhammad al Fatih terhadap agama Kristen juga dilaporkan oleh Bapa George dari Muhlenbach yang menjalani hidupnya antara tahun 1438-1458 sebagai tahanan Turki. Bapa George menulis: “Para saudara Fransiskan yang tinggal di Pera (Galata) meyakinkan diriku bahwa dia [Mehmet] datang ke gereja mereka dan duduk di dalamnya untuk menghadiri upacara dan pengorbanan dalam Misa. Untuk memuaskan rasa penasarannya, mereka memesankan biskuit tidak suci untuknya berdasarkan permintaan tuan rumah, karena mutiara tidak boleh disajikan terhadap seekor babi.” Giovani Maria Angiollelo, seorang tahanan Italia di Turki, menuliskan bahwa Beyazit (anak pertama Mehmet) sering didengar mengatakan “ayahnya sangat dominan dan tidak percaya pada Nabi Muhammad.”

Jelas sekali semua pandangan ini mengada-ada. Karena keimanan kita kepada kenabian Rasulullah saw. akan dengan otomatis menolak semua pandangan itu. Dengan jelas Rasulullah bersabda bahwa komandan yang menaklukkan Konstantinopel adalah komandan terbaik dalam sebuah hadisnya yang sudah sama-sama kita ketahui. Maksud terbaik di sini pastinya bukan hanya terbaik dalam hal strategi militer dan pertempuran, tapi dalam ilmu dan keimanan. Berbagai sejarawan muslim menggambarkan betapa hebatnya keimanan dan ibadah yang dilakukan Sultan Muhammad al Fatih. Beliau tidak pernah meninggalkan solat tahajud dan solat rawatib, beliau juga selalu dekat dengan para ulama. Dengan demikian tidaklah mungkin beliau tertarik dengan agama Kristen.

Sejarawan Prancis, Phillipe de Commines, mengatakan bahwa Sultan Muhammad al Fatih terlalu memuaskan hawa nafsunya dalam apa yang dia sebut “les plaisairs du monde”, dan dia mencatat bahwa “tidak ada cara persetubuhan yang tidak diketahui orang yang haus birahi ini.” Angiollelo mengamati bahwa sejak menginjak dewasa, Sultan Muhammad al Fatih telah menderita penyakit encok selain beberapa penyakit lainnya yang disebabkan oleh pemuasan nafsu yang berlebihan itu. Katanya, Mehmet memiliki bengkak besar di salah satu kakinya, dan tidak ada seorang dokter pun yang bisa mengobati penyakit itu. Commines berkomentar lagi, dia bilang penyakit ini adalah salah satu hukuman tuhan atas kerakusannya yang tak ada habisnya (grande gourmandise).

Sangat jelas bahwa catatan dan komentar-komentar seperti ini didasari kebencian yang amat mendalam terhadap sosok Sultan Muhammad al Fatih. Sebab dunia Kristen telah hancur lebur dan kacau berantakan hanya karena kehadiran seorang Sultan Muhammad al Fatih. Beliaulah komandan yang dijanjikan oleh Rasulullah saw dan orang-orang Kristen Eropa merasakan betapa hebat dan tangguhnya orang yang telah dijanjikan Rasulullah saw. ini, sehingga yang ada di dalam hati mereka hanyalah kebencian.

Ketika Sultan Muhammad al Fatih wafat pada tahun 1481, orang Kristen Eropa bersukaria karenanya. Mereka berkata la grande aquila e morta (elang yang perkasa itu sudah mati). Selama berhari-hari lonceng gereja berdentang, orang-orang berpesta pora, hanya untuk merayakan kematian seorang laki-laki yang kehadirannya telah menggentarkan kekufuran. [sayf]

Abu Bakar dan Finhash

Bloody zionist.

Bloody zionist.

Kaum Yahudi memang banyak sekali dicela di dalam Alquran. Perilaku mereka memang benar-benar menyebalkan dan memuakkan. Hobi mereka menyekutukan Allah, melanggar perjanjian, ngomong sembarangan, berkata dusta, menghina dan membunuhi para nabi. Mereka juga hobi menyembunyikan kebenaran dan memanipulasi ayat-ayat Allah yang ada di dalam kitab-kitab mereka. Ayat-ayat yang mereka sukai akan mereka biarkan, sementara ayat-ayat yang terkesan menyusahkan mereka, akan mereka ubah seenak perut mereka.

Sahabat Abu Bakar Shiddiq pernah merasa sebal nggak ketulungan karena kelakuan orang-orang Yahudi. Seperti dikisahkan oleh Prof. Ali Muhammad Asholabi dalam kitab sirah-nya, beliau mengutip dari Ibnu Hisyam, Abu Bakar merasa kesal alang kepalang karena kata-kata seorang pendeta Yahudi bernama Finhash. Begini ceritanya (serem mode on).

Pada suatu hari, Abu Bakar memasuki Baytul Midras (tempat dibacakannya Taurat) kaum Yahudi. Orang-orang Yahudi mengelilingi seorang rabbi mereka yang bernama Finhash. Mereka memegang alat tulis dan kitab yang dinamakan Asy-ya’.

Abu Bakar kemudian menegur Finhash. Beliau mendakwahi rabbi Yahudi itu. “Takutlah engkau kepada Allah dan masuklah Islam. Demi Allah, sebenarnya engkau sudah tahu bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Dia telah datang bersama bukti-bukti kebenarannya yang kalian temukan tercantum dalam kitab-kitab kalian Taurat dan Injil.”

Finhash berkata kepada Abu Bakar, “Demi Tuhan, hai Abu Bakar, bukanlah kita yang membutuhkan Allah, tetapi Dialah yang membutuhkan kita. Sesungguhnya Dia yang meminta-minta kepada kita. Sesungguhnya kitalah yang kaya dan bukan Dia. Kalau benar Dia kaya, tidak mungkin Dia meminjam harta kita, sebagaimana yang dikatakan nabimu itu. Dia melarang riba dari kalian, namun membolehkannya pada kami. Jika benar-benar kaya, Dia tidak akan memberikan kami riba.”

Mendengar kata-kata Finhash, Abu Bakar marah besar. Beliau menampar Finhash dan berkata, “Demi jiwaku yang berada di tanganNya, kalau bukan karena adanya perjanjian antara kami dengan kalian, sudah kupukul kepalamu, wahai musuh Allah.”

Finhash tidak terima dengan tamparan Abu Bakar. Dia segera mengadukan peristiwa itu kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu’alayhi wasallam. “Hai Muhammad, lihatlah apa yang sudah dilakukan sahabatmu!”

Rasulullah bertanya kepada Abu Bakar, “Apa yang membuatmu bertindak demikian?”

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya musuh Allah ini telah bicara melampaui batas. Dia mengaku bahwa Allah itu fakir dan merekalah yang kaya. Ketika mereka berkata begitu, aku marah karena Allah dihinakan, lalu kutampar wajahnya.”

Finhash tidak mengakui semua itu, “Aku tidak pernah mengatakan demikian,” (tuh kan ngebo’ong).

Saat itu turunlah wahyu Allah swt. untuk membongkar segala kebohongan Finhash Yahudi itu dan membenarkan Abu Bakar.

Sungguh, Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan ‘sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya.’ Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan kepada mereka, ‘rasakanlah oleh kalian azab yang membakar’” (Ali Imran: 181).

Kaum Yahudi emang biang kerok, dan udah dari dulu kaya’ begitu. Tapi Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Islam melindungi seluruh umat beragama dan tidak akan memaksa mereka masuk Islam, selama mereka mau tunduk kepada kekuasaan Islam yang mewujud sebagai Khilafah Islamiyah. Khilafah Islamiyah itulah yang sekian lama melindungi perdamaian antara penganut berbagai agama. Kewajiban kitalah untuk menegakkannya lagi di abad ini.

Muhammad al Fatih Punya Nama Pena?

Potret Muhammad al Fatih oleh Gentile Bellini.

Potret Muhammad al Fatih oleh Gentile Bellini.

Bulan April hingga Mei adalah bulan-bulan penaklukan Konstantinopel. Asyik sekali jika kita bicarakan pernak-pernik tentang sang Penakluk Agung dalam Islam, Muhammad al Fatih. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari jejak kehidupan dan sepak terjang beliau. Yang pertama, tentang Muhammad al Fatih dan nama pena-nya.

Ada sebuah kemiripan yang biasanya terdapat pada diri orang-orang yang sukses dan besar, biasanya mereka gemar membaca dan menulis. Memang benar membaca dan menulis tidak akan serta-merta membuat orang menjadi besar dan sukses. Tapi, orang-orang yang besar dan sukses pastilah gemar membaca dan menulis. Salah satu wujud dari hal ini adalah, biasanya mereka memiliki perpustakaan pribadi dengan berbagai koleksi buku.

Ketika saya berkunjung ke kediaman mas Felix Siauw, hal menarik yang saya temukan pertama kali di sana adalah rak buku yang menjulang sampai ke langit-langit yang dipenuhi dengan buku-buku. Hal yang sama saya temukan di rumah pak Salman Iskandar. Bertumpuk-tumpuk dan berjajar-jajar buku ditata dengan rapi di sana. Pak Salman juga mengisahkan kepada saya bahwa Prof. Ahmad Mansur Suryanegera, salah satu sejarawan yang amat berpengaruh di negeri ini, memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi buku-buku kuno yang langka. Seperti itulah apa yang akan kita temukan di dalam kediaman orang-orang besar dan sukses, buku menjadi sahabat mereka.

Hal ini menandakan bahwa mereka paham benar bahwa membaca adalah sebuah aktifitas yang amat penting dalam kehidupan ini. Dalam salah satu tulisannya, mas Felix mengatakan bahwa ia “lebih baik tidak makan daripada tidak membeli buku.” Buku memang gudang ilmu dan kebijaksanaan, dan membaca adalah satu-satunya kunci untuk mengakses gudang itu. Karena sedemikian pentingnya membaca, Allah Tuhan seru sekalian alam menurunkan ayat pertama dari kitabNya yang besar itu dengan memuat perintah membaca, iqro.

Selain membaca, orang-orang besar dan sukses biasanya memiliki kebiasaan menulis. Walaupun mereka tidak berprofesi sebagai penulis, mereka biasanya selalu menyibukkan diri mereka dengan aktifitas menulis. Sebagai seorang pemimpin dan penakluk besar, Fetih Sultan Mehmet pun amat memahami seberapa pentingnya kedua aktifitas ini. Mari kita mengintip beberapa koleksi buku yang ada di perpustakaan pribadi Fetih Sultan Mehmet.

Di dalam istananya, beliau memiliki seorang astronom kenamaan yang bernama Ali Kusci. Dalam perjalanannya dari Tabriz ke Istanbul, Ali Kusci menulis buku matematika setebal 194 halaman yang kemudian dijuduli Muhammadiye dan dipersembahkan kepada Mehmet. Tahun berikutnya, Ali memberikan bukunya yang membahas tema astronomi yang berjudul Risala al Fathiya (Kitab Penaklukan). Kedua buku ini masih terpelihara dengan baik, dijilid menjadi satu, dan masih tersimpan sampai sekarang di Perpustakaan Aya Sofya. Di dalam istananya, Topkapi Sarayi, Fetih Sultan Mehmet pun memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi-koleksi bukunya tersendiri. Domenico Hierosolimitano, dokter pribadi Mehmet, melaporkan bahwa di perpustakaan pribadinya itu ia mengoleksi karya-karya Yunani dan Bizantium sebanyak 120 manuskrip yang dulunya milik Konstantin Agung. Di dalam koleksinya ditemukan pula buku berjudul Deigesis yang mengisahkan tentang sejarah Aya Sofya. Hal ini menandakan bahwa ia sangat tertarik dengan sejarah kota yang ditaklukkannya. Ada juga buku kuno karya Homer, Iliad, yang disalin oleh seorang cendekiawan Bizantium bernama Dokeianos. Minat Mehmet yang amat besar terhadap geografi dibuktikan dengan tersedianya buku geografi berjudul Liber Insularum Archipelagi, yang diterbitkan tahun 1420 dan ditulis oleh ahli geografi Florentine, Cristoforo Buondelmonti. Karya-karya lainnya yang tersedia di dalam koleksi buku Sang Penakluk antara lain: Theogony karya Hesiod; Helieutika karya Oppian; Miscellany karya Planudes; Olympiaka, karya Pindar; dan Lexicon karya Eudemos Rhetor.

Di sela-sela kesibukannya, Fetih Sultan Mehmet selalu menyediakan waktu untuk menulis. Walaupun menguasai bahasa Persia dan Arab, beliau menulis dalam bahasa Turki sehari-hari. Nama pena beliau adalah Avni. Salah satu karya beliau adalah kumpulan puisi dalam bahasa Turki yang disebut Divan.

Jelaslah, membaca dan menulis adalah aktifitas besar yang juga dilakukan oleh orang-orang besar. Dan selama ribuan tahun kedua aktifitas ini begitu membudaya di tengah-tengah kaum muslim. Adalah sangat aneh jika pada jaman sekarang generasi Islam lebih senang berjingkrak di depan panggung daripada membaca dan menulis. [sayf]