Not The End of Ghazi

Stories of Ghazi

Stories of Ghazi

Menyelami sepak terjang dan derap langkah para Ghazi memang pengalaman yang luar biasa. Luar biasa yang saya maksud di sini memang benar-benar luar biasa. Ada banyak sekali hal yang dipandang orang sekarang sebagai keajaiban. Saya menyelami obsesi dan kegigihan yang mencengangkan, yang mungkin akan banyak dipandang orang sekarang sebagai ‘kegilaan’. Ada banyak orang yang bertanya-tanya, dari mana datangnya obsesi dan kegigihan yang begitu besar? Hingga semua itu sanggup menjungkirbalikkan dunia, dan mewujudkan sesuatu yang selama ribuan tahun dianggap mustahil. Semua itu terlihat pada diri para Ghazi yang bergerak di bawah kepemimpinan Sultan Muhammad al-Fatih, pemimpin para Ghazi.

Ratusan tahun sebelum masa mereka, hal ini pun pernah terjadi. Ketika di bawah kepemimpinan para Khalifah Rasyidah, tentara Islam merontokkan singgasana dua adidaya yang selama ratusan tahun menguasai dunia, Persia dan Romawi. Saking mengejutkannya peristiwa itu, seorang pendeta Kristen, John Bar Pankaye, bertanya-tanya: “Bagaimana caranya orang-orang Arab yang terbelakang itu bisa menaklukkan peradaban maju seperti Persia dan Romawi. Padahal mereka bertempur tanpa baju zirah, hanya mengandalkan pedang dan kuda-kuda mereka.” (The Great Arab Conquest, by Hugh Kennedy).

Continue reading

Terlahirlah ALFATIH 1453

ALFATIH 1453

ALFATIH 1453

Ketika hari ini saya ke kantor, saya dikejutkan dengan telah datangnya karya yang begitu ditunggu-tunggu, fresh from the oven, masih hangat, komik ALFATIH 1453. Begitu karya itu ada di tangan saya, berbagai gumaman kekaguman langsung berhamburan dari mulut saya. Komik islami karya salah seorang sahabat saya ini, mas Handri Satria Handjaya, memang beda banget dari komik-komik yang lain. Komik ini penuh dengan sejarah, energi, dan ideologi Islam.

Saya sama sekali tidak menyangka jadinya komik ini bisa sebagus ini. Saya menyaksikan sendiri bagaimana sulit dan beratnya mas Handri dalam merampungkan komik ini. Seluruh daya upaya dan segenap energi dikerahkan untuk mempercantik dan memoles komik ini agar benar-benar menjadi komik yang penuh dengan semangat Islam dan bisa bermanfaat bagi generasi Islam. Bayangkan saja, komik ini sudah digarap sejak dua tahun yang lalu, dan baru saat inilah bisa benar-benar mewujud di tangan saya.

ALFATIH 1453 ingin menyampaikan kepada generasi Islam tentang semangat yang saat ini telah memudar di tengah-tengah generasi Islam. Karena sudah sedemikian lama diasuh oleh peradaban Kapitalisme-Liberal, generasi Islam lupa tentang siapa sebenarnya mereka, yakni generasi yang melanjutkan kegigihan orang-orang luar biasa seperti Muhammad al Fatih. Komik ini ingin mengingatkan kembali generasi Islam tentang bagaimana seharusnya kita meneladani semangat para pendahulu kita. Tak ketinggalan, komik ini juga ingin mengingatkan kembali agar generasi Islam rajin belajar. Karena hanya dengan belajar sajalah seluruh cita-cita akan tercapai, dan kita akan menjadi sosok yang kita harapkan. Yang tak kalah penting, komik ini ingin menggambarkan hanya dengan berpegang kepada Islam sajalah kemenangan dan keagungan akan bisa diraih. Jika Islam kita campakkan, maka kehinaan di dunia dan akhirat akan menimpa kita.

Alhamdulillah, dengan pertolongan dan kemudahan dari Allah, serta dengan kegigihan dan semangat mas Handri (yang terinspirasi dari Alfatih juga, hehe), akhirnya komik ini bisa terlahir juga ke dunia. Semoga bisa memberikan gambaran kepada seluruh generasi Islam tentang betapa Islam begitu hebat. [@SayfGhazi]

Ghazi 3; Behind The Scene

Ghazi seri pertama.

Ghazi seri pertama.

Ghazi” adalah gelar bagi mujahidin yang berperang dan mengorbankan dirinya demi meninggikan kalimatullah dan menghancurkan musuh-musuh Islam. Secara lebih royal, gelar Ghazi disematkan kepada para Sultan Turki Utsmani. Jadi sebenarnya setiap orang bisa saja mendapatkan gelar kehormatan ini, asalkan ia bersedia untuk berjuang di jalan Allah dalam jihad fi sabilillah.

Novel serial The Chronicles of Ghazi yang saya garap bersama kangmas Ustadz Felix Siauw ini mengisahkan sepak terjang para Ghazi dalam berjihad di jalan Allah, dan mewujudkan janji Rasulullah saw., penaklukan Konstantinopel. Dan icon dari para Ghazi ini adalah Sultan Muhammad al Fatih.

Hingga saat ini novel Ghazi sudah terbit dua seri. Awalnya novel Ghazi akan terbit tiga seri saja (trilogi), tapi ternyata momen penaklukan Konstantinopel adalah sebuah momen sangat agung yang tidak cukup jika hanya dituangkan dalam tiga buku. Terlebih lagi, momen agung ini sudah dipersiapkan bertahun-tahun sebelumnya sejak Muhammad al Fatih masih sangat muda. Dengan kata lain, bukan hanya momen penaklukan yang agung itu saja yang amat menakjubkan dan berharga untuk diangkat, tetapi juga seluruh persiapan menuju ke sana haruslah diangkat. Terlebih lagi, bagaimana proses pembentukan mental seorang Muhammad al Fatih hingga menjadi pemuda yang sanggup mewujudkan penaklukan itu pun sangat penting untuk diangkat.

Karena itulah, novel Ghazi yang tadinya trilogi kemudian diubah menjadi pentalogi (5 seri). Insya Allah kelima seri ini bisa menampung seluruh momen mendebarkan baik sebelum penaklukan Konstantinopel, maupun setelah penaklukan Konstantinopel.

Novel Ghazi seri 2

Novel Ghazi seri 2

Serial Ghazi yang insya Allah akan terbit dalam waktu dekat adalah Ghazi seri ke-3. Saat ini proses penyelesaian naskahnya masih berjalan sedikit lagi dan insya Allah tak lama lagi akan masuk tahap proses desain dan layout. Petualangan Muhammad al Fatih dan Vlad Dracula dalam mencari kekuatan untuk menuntaskan obsesi mereka masing-masing semakin memuncak. Masing-masing mereka mengumpulkan ilmu, senjata, dan teman-teman. Muhammad al Fatih semakin giat belajar dan berlatih bersama para gurunya yang antara lain adalah Syaikh Ahmad Alqurani dan Syaikh Aaq Syamsuddin. Dia juga mendapatkan teman-teman baru yang kelak akan berjuang bersamanya untuk menaklukkan Konstantinopel. Mereka adalah Radu, Zaghanos, Saruja, Karaja, dan Ishaq. Muhammad al Fatih pun memulai petualangannya untuk mencari pedang terkuat yang dahulu pernah digunakan Sultan Salahuddin al Ayubi tatkala menaklukkan Palestina.

Di sisi lain, dalam pelariannya, Dracula pun mengumpulkan kekuatan. Dia menjerumuskan dirinya semakin dalam kepada kegelapan. Dracula mulai berkenalan dengan setan yang berjanji akan memberinya kekuatan, yang dari sanalah akar kekejamannya menancap makin dalam. Dia menjalankan ritual-ritual yang sesat dan suram untuk mewujudkan keinginannya dan menuntaskan seluruh dendamnya.

Seperti biasa, ilustrasi yang kuat dan memukau juga akan meramaikan Ghazi seri ketiga. Ilustrasi ini akan digarap oleh Mas Handri Satria Handjaya yang baru saja merampungkan salah satu karya besarnya yang juga bertema Sultan Muhammad al Fatih. Barakallah. Semoga generasi Islam semakin mencintai sejarah Islam.

Jodoh Pasti Bertemu

kalem-weh-lah-da-jodoh-mah-pasti-bertemuUntuk kawan-kawan yang sedang galau menantikan jodoh, mungkin apa yang pernah saya alami ini bisa sedikit menjadi gambaran, bahwa jodoh pasti bertemu (putar lagunya Afgan, hehe).

Semua berawal ketika saya menancapkan cita-cita untuk menjadi seorang penulis semasa SMA kelas 2. Saking cintanya saya kepada cita-cita itu, saya menyatakan diri bahwa saya sudah menikahi cita-cita itu, dan ia sudah menjadi istri saya (mungkin ini penyakit gila nomor 12, hehe). Lebih dari itu, saya mencukupkan diri saya hanya dengan cita-cita itu, dan hanya ingin hidup dari situ. Untuk mendeklarasikan cita-cita ini, saya sampai mendaki sebuah bukit di dekat rumah saya hingga ke puncaknya, kemudian saya teriakkan cita-cita itu kepada dunia. Bahwa saya hanya ingin menulis sampai saya tidak bisa menulis lagi, dan saya hanya ingin hidup dengan menulis.

Karena saya sudah menancapkan cita-cita itu, ada konsekuensi yang harus saya jalani. Hidup saya menjadi susah secara ekonomi. Saya jadi miskin dan kere, hingga kemana-mana saya harus jalan kaki, karena nggak punya ongkos buat naik angkot. Saya juga harus puasa daud, sebab saya sulit menemukan makanan. Untuk sekadar survive, saya jualan koran dan jadi tukang fotokopi.

Saat menjalani semua itu, saya terus menulis, setiap hari, menulis apa saja. Hingga kemudian saya membangun sebuah media indie bersama kawan-kawan saya. Media ini kami namai D’Rise (pada masa selanjutnya, D’Rise ini terus berkembang atas bantuan guru-guru kami). Saya menumpahkan hampir seluruh cita-cita dan hidup saya untuk menulis bersama D’Rise. Saya mencukupkan diri hanya untuk mengembangkan media ini. Dan secara materi, saya serta kawan-kawan hampir tidak mendapatkan apa-apa dari sini, namun D’Rise telah kami jadikan seperti anak kami sendiri.

Saya dan kawan-kawan saya sesama aktifis Islam ideologis sering kali membicarakan soal pernikahan saat itu (ngaku deh, pasti kawan-kawan juga sering ngobrolin dunia per-akhwat-an. Yang akhwat juga pasti sering membahas dunia per-ikhwan-an). Gara-gara obrolan-obrolan itu, saya yang saat itu masih lugu (lucu-lucu guoblog), juga tertular semangat untuk menikah. Maka kemudian saya mencoba untuk melamar seorang akhwat.

Saya pun mengontak seorang akhwat yang di mata saya adalah seorang akhwat yang baik. Ketika saya menyampaikan niat baik saya untuk melamarnya, dia malah menolak saya dengan amat menyakitkan. Saya rasa dia tahu latar belakang ekonomi saya, karena lontaran-lontaran dia yang menyakitkan itu mengarah ke sana.

Karena penolakan yang menyakitkan itu, saya jadi agak terguncang. Saya jadi apatis terhadap pernikahan, dan bahkan bersikap tidak peduli. Saya sempat berpikir, mungkin orang susah macam saya tidak akan pernah menikah. Tapi biarkan sajalah, saya toh sudah menikah dengan cita-cita saya.

Hidup terus berlanjut, saya terus menulis, dan setelah terjadinya peristiwa itu, Allah swt menitipkan sebuah inspirasi kisah novel di kepala saya. Bukan cuma itu, seluruh langkah membuat novel tergambar di benak dari awal sampai selesai. Padahal saya belum pernah membuat novel sebelumnya, dan tidak ada seorang pun yang mengajari saya. Maka kemudian saya telusuri terus petunjuk itu (mungkin ini yang disebut ilham), hingga saya berhasil menyelesaikan novel itu dalam waktu tujuh bulan. Dan novel itu saya juduli “Sabil”. Tak lama kemudian, Sabil diterima terbit di Mizan yang dikemas dalam bentuk dwilogi. D’Rise pun semakin berkembang, dan telah terbit secara nasional. Saya terus menulis untuk D’Rise sampai hari ini. Lah terus cerita jodohnya di bagian mana nih? Hehehe, sabar, ini dia bagian cerita tentang jodohnya.

D’Rise punya dua orang anggota redaksi dari kalangan akhwat. Salah satunya pakai nama pena Alga Biru. Nah si Alga Biru ini kabarnya tinggal di Medan, dan dia menangani rubrik khusus cewek di D’Rise. Dia bekerja dari jarak jauh. Caranya, pemred D’Rise, mas Guslaeni Hafiz, mengirimkan TOR tiap rubrik kepada semua kru redaksi, termasuk kepada si Alga Biru ini. Kemudian setelah naskahnya yang ditulis berdasarkan TOR tadi selesai, langsung dikirimkan saja ke email redaksi.

Sebelumnya saya tidak mengenal dan tidak punya hubungan apa-apa dengan si Alga Biru ini. Tapi saya membaca tulisan-tulisannya baik fiksi maupun nonfiksi yang masuk ke redaksi D’Rise, dan saya tahu bahwa dia punya jam terbang lebih tinggi dalam menulis daripada saya. Maka saya berpikir untuk mengirimkan novel Sabil saya kepadanya, untuk meminta pendapat ilmiah tentang novel saya tadi. Saya tidak hanya mengirimkan novel ini kepadanya saja, tetapi saya juga mengirimkan Sabil kepada beberapa kawan yang lain untuk minta pandangan kawan-kawan (termasuk salah satunya adalah Pak Salman Iskandar, guru menulis saya). Maka kemudian saya kontak si Alga Biru via Facebook. Dia merespon, lantas saya kirimkan novel saya kepadanya. Saya tidak punya feeling apa-apa.

Beberapa hari kemudian Alga Biru mengirimkan semacam komentar tentang novel saya. Namun ternyata bukan hanya itu, dia juga mengajukan sebuah ajakan untuk menikah dengan saya. Waduh, saya kaget!!! Gileee bener, saya kaget. Yang muncul kemudian di dalam diri saya adalah rasa apatis dan tidak habis pikir. “Ini akhwat apa udah gila?!” hehehe… sori ya Alga Biru.

Bagaimana mungkin saya tidak berpikir begitu, sebab ajakan ini adalah sebuah ajakan yang besar dan tidak boleh dipermainkan. Tapi ternyata ini kenyataan, ada seorang akhwat yang mengajak menikah kepada saya, padahal akhwat ini gaib, dia tinggal jauh di seberang lautan, kenal aja nggak, ketemu aja belum pernah, ngeliatnya aja belum pernah, lah tau-tau ngajakin nikah. Ini becanda kali!!!

Tapi saya hargai ajakan si Alga Biru dengan menyampaikan tentang keadaan saya, bahwa saya ini orang miskin dan kere yang pengen jadi penulis. Karena saya lebih sering nggak punya uang, jadi kemana-mana saya jalan kaki. Saya juga jarang makan, jadi agar “jarang makan” itu menjadi pahala, saya sering melaksanakan puasa daud. Keluarga saya juga termasuk kalangan elit (ekonomi sulit), adik saya banyaknya bererot. Saya ceritakan kenyataan tentang diri saya. Dengan kata lain, saya menyampaikan semua ini untuk menakut-nakuti si Alga Biru agar menarik kembali ajakannya itu. Hehehe, sori ya Alga Biru. Tapi apa yang terjadi, Alga Biru tidak peduli.

Alga Biru tetap pada pendiriannya untuk mengajak saya menikah. Saya jadi berpikir lagi tentang semua ini. Saya jadi banyak merenung, apa yang mesti saya lakukan? Saya minta petunjuk kepada Allah, tentu saja. Kemudian bertanya kepada kawan-kawan yang sudah berpengalaman. Satu hal yang masih mengganjal di hati saya adalah, apakah orang miskin seperti saya bisa menikah? Jaman sekarang gitu lho, nikah itu biayanya mahal. Belum lagi mahar, buat walimahan, biaya tetekbengek lainnya. Apalagi si Alga Biru tinggalnya jauh di seberang lautan, perlu berapa duit bakal ongkos ke sana? Apakah bisa orang macam saya ini menikah? Saya ragu!!!

Tapi saya kembali kepada keyakinan bahwa Allah-lah yang berkuasa atas segala sesuatu. Dia berjanji bahwa Dia pasti akan menolong orang yang ingin menjaga kemuliaan dan kehormatannya. Dan dia tidak akan pernah mengingkari janjinya. Salah satu hal yang juga menguatkan saya adalah kisah menikahnya Ali bin Abi Thalib ra dan Fatimah binti Rasulullah yang diceritakan oleh Abay Abu Hamzah. Ali bin Abi Thalib ra. pun miskin ketika menikah dengan Fatimah. Beliau hanya punya harta baju zirah, dan baju zirah itulah yang dijadikan mahar. Setelah baju zirah itu diserahkan, beliau tidak punya apa-apa lagi. Subhanallah…!!!

Siapa Alga Biru memang belum pernah saya kenal. Tapi saya tahu bahwa dia seorang perempuan yang baik karena dia mengajak kepada kebaikan, yakni mengajak menikah. Saya berpikir bahwa ini adalah amalan mulia yang dahulu pernah dilakukan oleh Khadijah istri Rasulullah S.A.W. Dahulu, Khadijah pun mengajak menikah kepada Rasulullah Muhammad S.A.W. Saya juga mengetahui bahwa Alga Biru adalah seorang aktifis Islam ideologis. Rasulullah menyatakan dalam salah satu hadisnya, jika kita memilih seorang perempuan karena agamanya, maka kita akan bahagia selamanya. Maka saya mencukupkan diri dengan hal itu.

Saya sampaikan kepada Alga Biru, bahwa saya akan berjuang untuk menikah dengannya. Saya akan berjuang untuk datang ke Medan untuk melamarnya kepada orangtuanya. Padahal saat saya berkata seperti itu, saya tidak punya ongkos sama sekali. Dan setelah semuanya itu, saya tetap tidak tahu seperti apa sosok Alga Biru.

Sejak saat itu, kami telah memilih satu sama lain, saya memilih dia, dia pun memilih saya. Kami pasrahkan pilihan itu kepada Allah, dan kami saling berjuang untuk pilihan kami itu.

Suatu kali, sebelum saya berangkat ke Medan, Alga Biru bilang pada saya bahwa dia akan mengirimkan fotonya lewat email. Tapi saya menolak. Saya katakan padanya bahwa saya  memilihnya karena akhlak dan agamanya, kalau dia mengirimkan fotonya kepada saya, saya khawatir niatan saya jadi berubah. Saya khawatir yang tadinya saya memilihnya karena akhlak dan agamanya, jadi berubah karena saya telah mengetahui seperti apa wajahnya. Maka saya menolak fotonya itu. Biarlah saya melihat seperti apa sosok Alga Biru ketika saya sampai di rumahnya di Medan. Saya menyiapkan hati saya untuk menerima seperti apapun keadaan si Alga Biru. Bisa jadi kupingnya ada dua, atau lubang hidungnya ada dua, atau matanya ada dua (ya iyalah), dan saya mesti menerima seperti apapun sosoknya. Namun Alga Biru memberitahu saya bahwa dia tetap mengirimkan fotonya itu. Dan foto itu tersimpan di email saya tanpa saya buka-buka.

Maryam, putri pertama saya.

Maryam, putri pertama saya.

Allah swt memberi saya jalan keluar. Menjelang waktu keberangkatan saya, pintu-pintu rizki terbuka, dan saya dapat ongkos pulang pergi dari jalan yang nggak pernah saya duga. Menjelang saya berangkat, secara tidak sengaja, akhirnya saya melihat juga sosok Alga Biru lewat fotonya. Ketika itu seorang rekan saya ingin tahu akhwat yang akan saya lamar. Maka saya bukakan email saya agar fotonya bisa dia lihat. Sementara saya sendiri menyingkir, sebab saya tetap tidak ingin melihat foto si Alga Biru. Waktu solat pun datang, saya minta rekan saya itu untuk menutup file nya. Dia pun melakukannya. Setelah saya mengecek lagi komputernya, ternyata dia tidak benar-benar menutup file nya, tapi cuman di-minimize doang. Akhirnya ketika saya ambil alih komputernya, terhamparlah fotonya si Alga Biru. Alhamdulillah, Allah menganugerahkan pasangan yang baik dalam banyak hal. Baik sosoknya, baik perangainya, baik tuturkatanya, dan baik agamanya.

Hana, putri kedua saya.

Hana, putri kedua saya.

Di atas jalan cita-cita yang saya tempuh itulah saya menemukan pasangan hidup. Kami pun menikah tanggal 18 Juni 2011 di Medan. Melalui Alga Biru, Allah menganugerahkan saya dua orang anak perempuan yang cantik-cantik dan lucu-lucu.

Allah subhanahu wata’ala memang telah menyiapkan siapa jodoh kita. Tapi Allah tidak akan pernah memberitahukan siapa jodoh kita itu. Karena itulah kita mesti memilih. Dan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam telah memandu kita dalam menentukan pilihan itu. Kita boleh memilih pasangan karena kecantikannya, atau karena kekayaannya, atau karena keturunannya, dan jika kita memilih karena agamanya, kita akan bahagia selama-lamanya. Jika kita telah memilih seseorang, dan orang itu pun bersedia memilih kita, maka berdoalah kepada Allah dan perjuangkan orang yang kita pilih itu sekuat tenaga. Jodoh pasti bertemu, insya Allah.

Pertamakali Jadi Orang Jakarta

Buswae

Buswae

Sudah beberapa bulan belakangan ini saya tinggal di Jakarta. Beberapa kawan bilang pada saya bahwa saya sudah jadi “orang Jakarta”. Padahal baru sekitar dua hari ini saya pertama kali merasakan jadi “orang Jakarta”. Lho kok bisa gitu? Sudah beberapa bulan tinggal di Jakarta, tapi baru kemaren merasa jadi orang Jakarta? Begini ceritanya (serem.com).

Saya tinggal di Jakarta sejak awal Maret 2014. Saya berkantor di kawasan Jakarta Barat pada sebuah label publishing yang sedang berkembang, dan saya menyewa tempat tinggal yang tidak begitu jauh dari kantor. Cukup jalan kaki sekitar 15 menit, saya sudah tiba di kantor. Cepat dan mudah. Selama beberapa bulan itu, saya hanya melihat saja kemacetan kesemrawutan kota Jakarta. Karena ke kantor cukup dengan jalan kaki, saya hampir tidak pernah merasakan kemacetan sama sekali.

Tapi beberapa hari yang lalu, saya pindah ke sebuah tempat tinggal yang agak jauh dari kantor. Tepatnya di kawasan Jakarta Timur. Sejak hari itulah saya baru benar-benar merasa jadi orang Jakarta. Hehehe…

Saya masuk kantor jam sembilan pagi. Karena saya belum punya kendaraan pribadi, maka saya memutuskan untuk naik buswae. Kawan-kawan pasti tahulah apa itu buswae. Itu lho, bis khusus di Jakarta yang kalau kita masuk ke lintasannya bisa kena tilang. Nah saya naik sarana transportasi massal ini. Dengan amat lugunya saya berpikir bahwa buswae tidak akan kena macet, karena dia punya lintasan sendiri, khusus untuk dia doang. Tapi saya tetap antisipasi, saya berangkat dari rumah sekitar jam 6 pagi.

Kemudian masuklah saya ke halte buswae di kawasan Jakarta Timur. Nunggunya itu, na’uzubillahi mindzalik, lamaaaa banget. Dan ternyata, walaupun udah punya lintasan sendiri, buswae tetep aja bisa kena macet juga. Saya pikir saya bisa tiba di kantor sekitar jam setengah 8 atau paling lambat jam 8 pagi, tapi karena maceeet di mana-mana, saya baru tiba di kantor jam 10 siang. Saya mengira berangkat jam 6 pagi itu sudah kepagian, tapi ternyata saya kesiangan. Untung saja ibu direktur dan bapak direkturnya baik dan tidak sombong, jadi mereka mengampuni saya dan tidak mem-PHK saya.

Hari pun menjelang sore. Jakarta diguyur “gerimis mengundang”. Setelah solat ashar saya pun pulang dengan menempuh cara yang sama seperti ketika berangkat. Saya disambut pemandangan yang ternyata lebih parah. Halte buswae penuh, membludak. Orang-orang pada ngantri panjang bener. Mau nggak mau, saya pun bergabung di sana. Setelah menunggu sangat lama, datanglah bisnya, dia berhenti tepat di depan pintu halte. Saya lihat dari kaca jendela, bis itu sudah terisi penuh, orang-orang pada berdiri rapat, dan masih ditambah lagi dengan penumpang baru dari halte. Semuanya jadi tambah rapat dan sesak. Saya berpikir, mungkin jam segini pasti ramai, karena jam orang pulang kantor. Karena saya tidak ngantri di depan, bis itu pun berlalu, saya harus menunggu lebih lama lagi. Menjelang magrib, baru saya bisa naik bis. Saya benar-benar jadi orang Jakarta kalau begini. Sepanjang jalan dari Jakarta Barat, Jakarta Pusat, sampai Jakarta Timur, macet. Saya baru sampai di rumah sekitar jam 10 malam.

Sepanjang jalan saya berpikir bahwa kemacetan di Jakarta sudah sampai pada taraf yang “mengerikan”. Kalau begitu terus, kita bisa jadi tua di jalan. Sangat tidak efektif dan membuang-buang waktu. Saya juga berpikir tentang apa sih sebab musabab dari kemacetan yang sudah menggejala ini? Kalau sesuatu sudah terjadi secara massal, meluas, massif, dan terus-menerus, maka pasti ada kekeliruan sistemik yang menyebabkannya. Saya terus bermain-main dengan alam pikiran saya, penyebab kemacetan itu mungkin sangat sederhana, “jumlah dan luas jalan sudah tidak kuat menampung jumlah kendaraan yang terus bertambah.” Jalanannya segitu-gitu doang dari dulu, tapi jumlah pengguna kendaraan bermotor terus bertambah, maka tidak heran kalau terjadi kemacetan.

Saya tetap asyik bermain dalam alam pikiran saya. Penggunaan sarana transportasi massal mungkin bisa sedikit mengurai masalah kemacetan ini. Sebab kalau semua orang maunya pakai kendaraan pribadi, kemungkinan besar bakalan macet. Hanya saja, kenapa banyak orang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi daripada sarana transportasi massal? Jawabannya, tentu saja karena pemerintah tidak menyediakan sarana transportasi massal yang aman, dan nyaman, serta terjangkau bagi semua kalangan. Sepertinya, sejak dulu, saat pemerintah berencana hendak membangun sarana transportasi massal, pasti ada saja ganjalannya (kasus monorail contohnya). Sepertinya ada sebuah kesengajaan di sini.

Indonesia adalah sebuah pasar yang besar untuk industri otomotif. Kalau pemerintah memperbaiki sarana transportasi massal, kemudian masyarakat lebih memilih menggunakan sarana transportasi massal itu, tentunya pangsa pasar perusahaan produsen otomotif itu jadi menurung dong!? Kemudian pengusaha otomotif dan pemerintah ini berkongkalingkong, sehingga pemerintah dengan sengaja membiarkan saja sarana transportasi massal di negeri ini berada dalam kondisi yang kacau, jorok, kumuh, berantakan, dan tidak aman. Dengan demikian masyarakat akan tetap lebih memilih pakai kendaraan pribadi yang mereka beli dari para pengusaha otomotif tadi. Kacau kan kalau begini. Tapi itu semua sekadar alam pikiran saya yang sedang asyik terombang-ambing di atas buswae.

Polusi

93Akhir-akhir ini saya rasakan betapa pentingnya menggunakan masker. Semakin terasa bahwa udara di kota besar telah kotor dan dicemari polusi. Saya baru merasakan bahwa saya cukup sensitif dengan udara yang kotor itu. Saya jadi sering batuk, tenggorokan saya terasa kotor dan gatal sekali, kadang kalau sudah batuk bisa sampai muntah saking gatalnya tenggorokan. Apalagi kalau sedang berkendara, terutama naik motor, dan berada di belakang truk, terasa sekali betapa nikmatnya udara yang segar. Tapi setiap kali keluar rumah, saya pasti melupakan masker itu. Haduh…

Polusi bukan hanya untuk hidung dan paru-paru kita. Banyak juga polusi mata. Perempuan-perempuan yang berpakaian seronok bertebaran di mana-mana, dan itu semua adalah polusi mata. Namun untuk polusi yang satu ini saya rasa solusinya tidak bisa dengan menutupi mata kita pakai masker. Nanti yang ada malah nabrak. Salah satu solusinya adalah dengan menundukkan pandangan, walaupun menundukkan pandangan pun terasa sulitnya sekarang-sekarang ini, sebab polusi mata sudah terjadi di mana-mana. Semoga kita bisa menghindarkan diri dari segala jenis polusi (sekadarsuarahati.com)

Sering Salah, Gampang Lupa!

jalan-dakwahSetidaknya ada dua hal yang amat menakutkan di mata saya, DAKWAH dan MENULIS. Lah kok begitu? Bukankah kedua hal ini adalah kebaikan? Dakwah adalah kewajiban dari Allah kepada setiap muslim untuk menyebarkan kebaikan dan mengajak kepada Islam, sedangkan menulis bisa menjadi salah satu sarana dari dakwah itu sendiri, sekarang kenapa disebut menakutkan? Terlebih lagi, bukankah saya adalah seorang penulis, kenapa saya malah menyebut menulis itu mengerikan? Jangan-jangan saya ini “penulis yang aneh”??!! (meminjam nada Tora di Extravaganza).

Dakwah dan menulis, ketika mereka dirangkaikan menjadi satu, maka mereka akan bersenyawa menjadi kekuatan yang luarbiasa. Keduanya akan saling mendukung, menguatkan, dan melengkapi, bersimbiosismutualisme. Jangkauan dakwah akan menjadi jauh lebih luas jika ia telah dituangkan dalam bentuk tulisan. Kenyataan ini bisa kita lihat dari surat-surat dakwah Rasulullah yang beliau sampaikan kepada para raja dan kaisar, yang jarak mereka terpisah jauh dengan Rasulullah. Surat adalah salah satu bentuk dari tulisan.

Lantas kenapa di awal tadi saya sebut dakwah dan menulis itu dua hal yang menakutkan? Jawabannya, karena saya khawatir, jangan-jangan, baik sadar maupun tidak sadar, saya tidak melaksanakan apa yang telah saya dakwahkan dan tuliskan! Dan konsekuensi dari tindakan ini amatlah mengerikan, murka dan kebencian di sisi Allah subhanahu wata’ala. Terlebih lagi, saya hanyalah seorang manusia yang sering salah dan gampang lupa! Na’uzubillah.

Namun ketakutan dan kekhawatiran saya tadi tidaklah mengubah apa-apa. Ketakutan dan kekhawatiran saya tidaklah menggugurkan kewajiban dakwah di pundak saya. Saya pun tidak bisa melepaskan diri dari dunia tulis-menulis. Terlepas dari semua itu, ada banyak sekali kebaikan yang bisa saya raih dari dua aktifitas yang amat mulia ini, baik untuk dunia mau pun akhirat. Tinggalah saya yang mesti mampu mawas diri, walau pun mungkin itu sulit! Semoga Allah Yang Maha Pemurah mengampuni dosa kita semua. Aamiin.