Asal Njeplak!!!

jaga-mulutmuMemang harus kita sadari bahwa saat ini kita sedang berada di dalam alam demokrasi. Hidup di alam demokrasi memang harus tebel kuping, harus selalu mengurut dada, dan harus selalu menguatkan iman dan takwa, sebab pasti akan selalu ada orang yang ngomong sembarangan dan asal njeplak.

Salah satu unsur penting yang mesti ada di dalam alam demokrasi, adalah Kebebasan Berbicara. Kebebasan orang untuk berbicara dan menyampaikan pendapatnya amat dijunjung tinggi dan harus dilindungi oleh demokrasi. Orang-orang bebas untuk ngomong apa saja, yang penting sesuai dengan hati nurani dan pemikirannya.

Nah unsur penting inilah yang menyebabkan orang-orang pada berani berbicara yang bernada meremehkan dan merendahkan Islam. Padahal Rasulullah sendiri pernah bersabda, “Al Islamu ya’lu wa la yu’la ‘alayh”, Islam itu tinggi dan tidak ada segala sesuatu pun yang lebih tinggi daripada Islam. Di dalam alam demokrasi, orang bebas-bebas saja kalau mau bicara “hukum konstitusi negara itu lebih tinggi daripada hukum agama.” Orang juga bebas-bebas saja kalau mau bicara “Alquran itu produk budaya Arab kuno dan sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan di jaman modern ini.” Banyak beredar pula karikatur yang melecehkan Allah swt dan Rasulullah saw. Semuanya boleh! Semuanya bebas! Karena kita hidup di dalam alam demokrasi yang melindungi hak setiap orang untuk berbicara dan menyatakan pendapatnya.

Sementara kita, umat Islam, hanya bisa mengurut dada dan geleng-geleng kepala saat mendengar itu semua. Kalau umat Islam merasa tersinggung dan merasa marah, langsung dituduh tidak toleran. Malang benar nasibnya umat Muhammad saw ini.

Jelaslah bahwa demokrasi yang menjadi biang kerok dari setiap peristiwa direndahkan dan dihinanya Islam. Apalagi yang kita harapkan dari demokrasi? Sistem bobrok dan usang ini memang sudah seharusnya dibuang jauh-jauh. Jangan dilirik-lirik lagi. Sebagai gantinya, penerapan syariat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah adalah sebuah keniscayaan. Tak ada satu setan pun yang bisa melawan.

Ghazi vs Dracula Untold

Poster Dracula Untold

Poster Dracula Untold

Pada minggu-minggu ini film Dracula Untold yang dibesut oleh sutradara Gary Shore sedang hangat-hangatnya dinikmati. Film ini memang mengangkat sosok Dracula yang lain daripada yang lain, di luar sosok Dracula yang dipopulerkan Bram Stoker. Film ini menjadikan sejarah asli Dracula sebagai latar belakang kisahnya, walau tetap saja masih kental aroma vampire-nya, dan alurnya banyak sekali yang menyimpang dari sejarah Dracula itu sendiri.

Ketika Mas Ustadz Felix Siauw memberikan trailernya kepada saya, saya langsung paham bahwa film ini menggunakan sejarah asli Dracula sebagai setting-nya, walaupun saya belum pernah menonton filmnya sama sekali. Seorang kawan saya bercerita, bahwa ending dari film itu adalah terbunuhnya Sultan Mehmed al Fatih karena digigit Dracula. Saya kaget sekali dengan ending ini (lah kok bisa Sultan Mehmed digigit Dracula?). Dari sini saja sudah sangat terlihat bahwa film ini memang memiliki muatan-muatan penyesatan dan pencitraburukan terhadap Islam.

Dari mana datangnya seorang Sultan Mehmed al Fatih mati digigit Dracula? Beliau adalah seorang komandan yang diijanjikan oleh Rasulullah Muhammad, dan beliau adalah sebaik-baik komandan. Beliau amat dekat dengan Allah swt karena setiap malam bertahajjud dan tidak pernah meninggalkan solat rawatib. Beliau juga tangkas memanah dan bermain pedang. Beliau pun seorang ahli strategi dan ahli dalam konstruksi alat-alat perang. Imajinasi orang-orang Hollywood memang sangat liar, sehingga bisa membuat Sultan Mehmed mati digigit Dracula. Sebuah kematian yang tidak keren!

Saya memahami bahwa film Dracula Untold adalah sebuah karya fiksi-sejarah, kisah fiksi yang menjadikan sejarah sebagai inspirasinya. Dan orang-orang yang membuat film ini menjadikan Sekularisme dan Kristen sebagai sudut pandangnya. Karena itulah Sultan Mehmed (diperankan Dominic Cooper), dan prajurit Muslim digambarkan sangat buruk. Dan terlebih lagi, film ini amat melenceng jauh dari sejarah Vlad Dracula (diperankan Luke Evans) itu sendiri. Dalam setiap karya fiksi-sejarah pastilah akan selalu ada twist untuk menambahkan sisi dramatis dan sisi emosionalnya, hanya saja jangan sampai menyimpang jauh dari sejarah aslinya.

Dalam sejarah, Sultan Mehmed al Fatih dan Vlad Dracula memang terlibat dalam sejumlah pertempuran besar dan persaingan yang sengit, dan di akhir cerita, Sultan Mehmed berhasil mengalahkan Vlad Dracula. Dalam sebuah pertempuran di Wallachia, Vlad Dracula dipenggal dan kepalanya dipersembahkan kepada Sultan Mehmed, sebagai simbol bahwa teror Vlad Dracula telah berakhir. Terlepas dari kontroversi yang terjadi setelah kematiannya (beberapa menyebutkan bahwa jasad Vlad Dracula menghilang dan lainnya menyebutkan jasadnya menjadi bangkai anjing atau serigala). Dalam hal ini saya salut dengan film Kingdom of Heaven, yang juga dibesut dari sudut pandang Kristen tetapi cukup cocok dengan sejarah. Di akhir film ini digambarkan bahwa Jerusalem pada akhirnya diserahkan kepada Salahuddin al Ayubi oleh Balian de Ibelin (diperankan Orlando Bloom), dan Pasukan Salib berhasil dikalahkan.

Novel Ghazi 2

Novel Ghazi 2

Serial Ghazi yang saya garap bersama guru sekaligus sahabat saya, Mas Ustadz Felix Siauw, menghadirkan kisah yang berbeda dengan Dracula Untold. Walaupun ada kemiripan dalam mengambil latar belakang sejarahnya, yakni perseteruan antara Sultan Mehmed al Fatih dengan Vlad Dracula, kami menjadikan Islam sebagai sudut pandangnya. Kami menjadikan sejarah asli penaklukan Konstantinopel dan perang antara Sultan Mehmed dan Vlad Dracula sebagai dasar untuk mengembangkan kisahnya.

Perjalanan hidup Sultan Mehmed adalah sebuah perjalanan hidup seorang Muslim yang agung, yang menghentak dunia timur dan barat. Kenyataan ini bahkan diakui oleh cendekiawan barat sendiri. John Freely mengatakan bahwa jika Sultan Mehmed hidup 20 tahun lebih lama, pastilah beliau sudah meratakan seluruh Eropa dengan Islam. Bisa jadi, Roma pun sudah beliau taklukkan bersama tentaranya. Sebab kala itu, Paus sendiri sudah melarikan diri ke Avignon tatkala mendengar kabar bahwa Sultan Mehmed sedang membangun pasukan yang jauh lebih besar daripada saat penaklukan Konstantinopel.

Bersama seluruh fakta sejarah yang agung inilah kami menggarap novel Ghazi. Akan kami persembahkan kisah ini untuk generasi Islam yang kokoh dan tangguh. Kami dedikasikan kisah ini untuk membangun karakter islami yang bersemayam di setiap dada generasi Islam. Sebuah karakter islami yang diwariskan oleh Rasulullah Muhammad shallahu ‘alayhi wasallam dan dipeluk erat oleh Sultan Mehmed al Fatih. Karakter para kesatria, karakter Ghazi!

Khalifah Umar dan Belati Bermata Dua

Omar (2012) Full 31 Episode Screenshot 2Salah satu argumentasi orang-orang yang menentang penerapan syariat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah adalah, banyaknya pembunuhan dan darah tertumpah. Terbukti, empat orang dari Khulafa Rasyidin, tiga diantarnya wafat karena dibunuh. Padahal argumentasi ini tidak layak sama sekali untuk dijadikan alat untuk menolak syariat Islam dan Khilafah.

Apakah di dalam pemerintahan demokrasi tidak ada pembunuhan dan pertumpahan darah? Justru hal-hal mengerikan itu jauh lebih banyak terjadi di dalam alam pemerintahan demokrasi. Coba saja lihat John F. Kennedy yang mati dibunuh, begitu juga Abraham Lincoln.

Dalam artikel ini saya ingin sekali berbagi tentang kisah syahidnya Khalifah kedua kaum Muslimin, Umar bin Khaththab. Beliau adalah seorang pemimpin luar biasa, yang wafat dalam kemuliaan. Prof. Dr. Ibrahim Al-Quraibi menyatakan di dalam kitabnya, “wafatnya Umar adalah peristiwa besar. Belum ada musibah sebesar ini yang menimpa umat Islam setelah kepergian Rasulullah.”

Setelah menunaikan ibadah Haji pada tahun 23 H, dan singgah di sebuah daerah bernama Abthah, Khalifah Umar berdoa kepada Allah swt. Beliau mengadu bahwa usianya telan lanjut, kekuatannya telah berkurang, sedangkan rakyatnya makin banyak dan tersebar ke berbagai penjuru. Beliau khawatir tidak bisa mengemban amanah dengan baik. Di dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Khalifah Umar berdoa, “Ya Allah, berilah aku rezeki syahadah (mati syahid) di jalanMu, dan jadikan kematianku di negeri RasulMu.”

Khalifah Umar merasakan telah dekat masanya untuk kembali kepada Allah lewat sebuah mimpi. Imam Muslim meriwayatkan kisah mimpi ini dari Ma’dan bin Abi Thalhah. Pada sebuah Jumat, Khalifah Umar berkhutbah. Dalam khutbahnya, beliau menyebut Nabi Muhammad dan Khalifah Abu Bakar. Beliau kemudian berkata, “Aku bermimpi seakan-akan ayam jantan mematukku tiga kali. Aku tidak menafsirkan mimpi itu kecuali tentang datangnya ajalku…” (HR. Muslim dan Ahmad). Di dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad disebutkan bahwa Khalifah Umar menceritakan mimpi itu kepada Asma binti Umais. Asma’ mengatakan bahwa Khalifah Umar akan dibunuh oleh seorang lelaki ‘ajam (non-Arab).

Hari yang memilukan itu pun datanglah, tepatnya pada hari Rabu tanggal 25 Dzulhijjah tahun 23 Hijriyah. Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah wa Nihayah mengisahkan peristiwa ini. Waktu subuh telah tiba dan kaum Muslim bersiap-siap untuk melaksanakan solat subuh berjamaah bersama sang Khalifah, Umar bin Khaththab. Setelah Khalifah Umar memastikan barisan lurus dan rapat, beliau maju untuk menjadi imam. Saat hendak melantunkan takbir, seorang pria melompat ke hadapan beliau entah dari mana datangnya. Pria itu membawa belati bermata dua, dan langsung menikamkan belati itu ke perut Khalifah Umar. Pria itu menikam Khalifah Umar di bagian bawah pusarnya, sebanyak tiga tikaman (berkaitan juga dengan mimpi Khalifah Umar). Darah pun tertumpah, Khalifah Umar langsung ambruk, dan pembunuh itu berlari ke belakang sambil mengayunkan belati berdarah di tangannya dengan membabibuta. Dia membunuh orang-orang yang dilewatinya, dan dalam peristiwa itu telah terluka 13 orang dan 6 orang dari mereka wafat. Seorang sahabat bernama Abdullah bin Auf meringkus pria pembunuh itu dengan melemparkan burnus (mantel lebar dengan tudung kepala). Pria itu berhasil ditangkap, namun dia bunuh diri.

Khalifah Umar segera dilarikan ke rumahnya sementara darah mengalir deras dari lukanya. Beliau memerintahkan Abdurrahman bin Auf untuk menggantikan menjadi imam. Dalam keadaan tertikam seperti itu, beliau masih sempat melaksanakan solat subuh di atas pembaringan. Beliau bertanya tentang siapakah pria yang menikamnya. Ternyata, pembunuh itu adalah Abu Lu’luah Fairuz, orang kafir beragama Majusi sekaligus seorang budak serba bisa milik Mughirah bin Syu’bah. Budak ini dendam kepada Khalifah Umar karena persoalan upah. Dia biasa mendapat bayaran 2 dirham sehari, Khalifah Umar menetapkan upah untuknya 100 dirham sebulan. Dan dia tidak menyukai hal itu.

Di atas pembaringan, Khalifah Umar diberikan semacam jus anggur, ketika beliau meminumnya, jus anggur itu keluar lagi dari luka beliau. Kemudian beliau diberikan segelas susu, susu itu pun keluar lagi dari luka beliau. Karena hal ini, orang-orang menjadi sadar bahwa Khalifah Umar sudah tidak mungkin bisa diselamatkan lagi. Tiga hari kemudian setelah peristiwa itu, Khalifah Umar wafat di awal bulan Muharram 24 H. Satu lagi pemimpin adil telah pergi.