The Chronicles of Ghazi

cover ghaziInsya Allah pada bulan ini akan segera terbit novel yang saya garap berdua dengan Ust. Felix Siauw, yang berjudul The Chronicles of Ghazi. Novel ini adalah remake dari novel kedua saya yang berjudul The Chronicles of Draculesti. Bagi kawan-kawan pembaca Draculesti silakan temukan kelanjutan kisahnya di novel Ghazi ini, tapi nanti penerbitannya akan dari awal lagi ya.

Setelah mendapatkan sentuhan penggarapan dari kami berdua novel ini akan lebih powerful dan mantap. Selain sebagai seorang ustadz yang selalu menyuarakan penerapan syariat Islam, Ust Felix Siauw pun memiliki imajinasi yang tajam untuk dituangkan ke dalam sebuah novel. Dan kelihatannya setelah novel Ghazi ini beliau akan menerbitkan judul-judul novel selanjutnya. Semoga sukses selalu untuk mas Felix.

Saksikan launching novel The Chronicles of Ghazi di arena IBF 2014 Jakarta, tanggal 1 Maret 2014. Semoga barokah.

Cara Berpikir yang Aneh!

20130421-133800_33mahmud mdEntah apa yang dipikirkan oleh Mahfud MD, mantan ketua MK, ketika dia mengatakan bahwa dana bantuan untuk nyapres yang didapat dari para cukong legal dan halal. Seperti yang diberitakan tribunnews.com, Selasa (25/2) Mahfud menyatakan bantuan kepada Jokowi (untuk nyapres 2014) dari para konglomerat itu adalah dana legal, dana swasta, bukan dari APBN dan bukan dana kolusi dan korupsi. “Saya pun mau dicukongi, kalau ada cukong yang menyediakan dananya sendiri yang halal untuk membekingi saya,” kata Mahfud.

Saya heran sekali dengan cara berpikir model begini. Sebenarnya ini adalah hal yang sederhana yang seharusnya dipahami dengan baik oleh seseorang yang mengerti politik seperti Mahfud MD. Mana ada dana dari cukong yang gratis? Kalau seorang cukong sudah membekingi seorang capres pastinya kelak dia akan meminta berbagai balas jasa kepada capres itu setelah terpilih. Dan hal ini akan membuat si capres tersandera oleh si cukong karena harus balas budi. Dana-dana dari cukong ini jelas bahayanya bagi bangsa dan negara. Mahfud MD mengatakan bahwa itu dana halal. Padahal dana-dana seperti itu sudah jelas keharamannya, sebab dana-dana seperti itu bisa membuka peluang dikuasainya umat oleh tangan-tangan jahat. Wallahu a’lam.

Cinta Sang Penakluk, Cinta Sejati!

Promo Cinta Sang Penakluk.

Promo Cinta Sang Penakluk.

Suatu kali istri saya pernah bilang kepada saya bahwa isi kepala saya “perang melulu”. Dia berkomentar begitu karena memang hampir semua karya saya adalah fiksi-sejarah tentang perang. Tapi di karya saya yang kali ini, saya ingin bicara tentang cinta. Mungkin agak keluar dari pakem saya yang selalu bercerita tentang perang, sebagaimana judulnya, Cinta Sang Penakluk berkisah tentang cinta. Tapi kisah cintanya tetap dibingkai dalam perang, hehe… Dan kisah cinta di sini bukan cinta biasa, melainkan cinta yang suci, yang dibalut dengan ketaatan kepada Ilahi Robbi.

Karya saya kali ini saya buat dengan berkolaborasi bersama istri saya sendiri, nama pena-nya Alga Biru. Disusun dalam bentuk kumpulan cerpen dan dikemas dalam bentuk booklet (buku mini). Harganya juga murah meriah, hanya Rp. 15000 perak. Membaca buku ini dikala santai akan membuat duduk kita menjadi lebih bermakna. Selamat menikmati.

Matinya Letnan de Bruijn (Sebuah Kisah dari Perang Sabil)

Henri Pieter de Bruijn

Henri Pieter de Bruijn

Setelah tempo hari saya bercerita tentang Kapitein Webb, sekarang saya ingin berbagi cerita lagi tentang seorang perwira Belanda, dia adalah Letnan de Bruijn. Kisah peperangan de Bruijn melawan pejuang Aceh bisa dibilang cukup unik. Dia pun mendapatkan anugerah untuk dimakamkan di taman pekuburan Belanda Peucut Kerkhoff di Banda Aceh. Nisannya masih bisa kita saksikan sampai sekarang.

Henrie Pieter de Bruijn adalah seorang Letnan pada Koninklijke Nederland Indies Leger (KNIL). Dia dilahirkan di Surabaya pada tanggal 25 November 1874 (Perang Sabil pecah pada tahun 1873) dan merupakan keponakan dari Jenderal Heribert Cornelis Pieter de Bruijn, seorang petinggi militer Belanda. Pada tanggal 3 Agustus 1897 dia dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Dua ketika bertugas di India Timur. Dan pada tanggal 26 Oktober 1899 pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Satu. Pada saat itu dia mendapatkan luka di pertempuran Matang Kuli. Untuk jasa-jasanya yang luarbiasa pada pertempuran di Aceh tahun 1899, dia dianugerahi medali Militaire Willems-Orde kelas IV yang ditetapkan pada tanggal 13 Juli 1900. Sebuah medali yang amat bergengsi.

Pada tahun 1902, de Bruijn mendapat tugas untuk melakukan patroli bersama sebuah pasukan Marsose yang dipimpin oleh Komandan HJ Matthes. Mereka ditugaskan untuk mengejar Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah dan Panglima Polem beserta pengikut-pengikutnya di kawasan Seunagan (Aceh Barat).

Ketika itu de Bruijn sebenarnya sedang menunggu hari pernikahannya dengan seorang putri dari Letnan Kolonel JP Meyer. Rencananya pernikahan itu akan disaksikan oleh Gubernur Sipil dan Militer di Aceh, Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz, dan akan dilaksanakan di istana sang Jendaral (sekarang pendopo Banda Aceh). Namun inilah apa yang saya sebut sebagai “nasib sial” atau “apes”.

Ketika sedang melintasi semak belukar dan hutan-hutan Seunagan, tiba-tiba de Bruijn dan pasukannya dihadang secara mendadak oleh para pejuang Aceh. Mereka harus menghadapi apa yang disebut oleh prajurit Belanda sebagai “Klewang aanval” (serangan klewang). Sebenarnya senjata yang lebih banyak digunakan oleh para pejuang Aceh ketika Perang Sabil bukanlah rencong, melainkan klewang. Para pejuang Aceh sangat piawai memainkan klewang. Prajurit-prajurit Belanda sudah hafal bagaimana sabetan klewang orang Aceh. Biasanya klewang diayunkan ke sisi leher sebelah kiri (klewangnya di tangan kanan) hingga membelah dada dan perut musuh dengan melintang ke kanan.

Di tengah-tengah serangan itu, seorang pejuang Aceh melemparkan sebatang tombak yang langsung mengenai perut de Bruijn. Sampai tembus ke punggungnya. Kondisi itu tidak disia-siakan para pejuang Aceh yang segera menghujani tubuh de Bruijn dengan sabetan klewang. De Bruijn langsung roboh bermandikan darah dan banyak sekali luka menganga di tubuhnya. Namun dia masih hidup.

Jenderal van Heutsz

Jenderal van Heutsz

Saat kecamuk perang sudah mereda, seorang dokter datang untuk mengobati luka-luka de Bruijn. Dia malah bilang begini kepada si dokter, “Dokter, laat mij maar liggen, ik ga toch dood. Help liever de arme marechaussee’s.” Yang artinya, “Dokter, udah saya mah biarin ajah. Lagian saya bakal mati juga. Tulungin aja tuh marsose-marsose yang lain.” Akhirnya si dokter menuruti permintaan de Bruijn. Ketika hal itu terjadi, salah seorang prajurit Marsose menyaksikannya. Prajurit itu kemudian mendekati de Briujn dan membisikkan sesuatu di telingannya. Dia bertanya apakah de Briujn punya pesan terakhir? Dengan susah payah de Bruijn bilang begini, “Zeg aan mijn moeder dat ik mijn plicht heb gedaan.” Yang artinya, “Bilang sama mamahku, bahwa aku telah menunaikan tugasku.” Cukup heroik juga.

Mayat de Bruijn dibawa ke Uleelheu dengan sebuah kapal Belanda berwarna putih. Ketika mayat itu tiba di Banda Aceh (orang Belanda menyebutnya “Kutaraja”), terjadilah kegegeran. Padahal persiapan sudah dilakukan, tapi mempelai pulang tinggal nama. Jenderal van Heutsz secara khusus datang kepada mempelai wanita, dia bilang begini, “Mijn kind, de Bruijn is gearriveerd, maar hij moet naar Peutjoet gebracht worden in plaats van naar jou.” Yang artinya, “Anakku, de Bruijn telah tiba, tetapi lebih penting dia ‘di-Peucut-kan’, daripada duduk bersanding denganmu.” Nasibnya de Bruijn memang apes.

Matinya Kapitein Webb (Sebuah Kisah dari Perang Sabil)

Gerbang kehormatan Peucut Kerkhoff masa kini.

Gerbang kehormatan Peucut Kerkhoff masa kini.

Ketika untuk pertama kalinya saya berkunjung ke Banda Aceh, saya menyempatkan diri singgah di Peucut Kerkhoff (selanjutnya saya sebut ‘Peucut’ saja). Tempat ini adalah taman pekuburan militer Belanda yang terbesar di luar negeri Belanda. Letaknya di Banda Aceh, persis di sebelah Museum Tsunami.

gerbang kehormatan peucut kerkhoff masa silam.

gerbang kehormatan peucut kerkhoff masa silam.

Ada banyak prajurit Belanda baik perwira tinggi maupun rendah yang berkeinginan untuk dikuburkan di Peucut. Pada masa itu (paruh kedua abad ke-19), bisa dikuburkan di Peucut adalah sebuah prestise tersendiri. Salah satunya adalah Gubernur Belanda terakhir di Aceh, namanya van Aken. Sebenarnya van Aken mati di Batavia pada tahun 1936, tapi dia berwasiat agar dikuburkan di Peucut bersama dengan teman-teman seperjuangannya. Akhirnya pemerintah Hindia-Belanda mengabulkan keinginan itu dan mengirimkan jenazah van Aken ke Aceh. Sampai hari ini kita masih bisa menemukan nisan van Aken di Peucut.

Kapitein Webb

Kapitein Webb

Namun saya bukan hendak berkisah tentang van Aken. Saya ingin bercerita tentang seorang perwira Belanda yang bernama George Johan Albert Webb, yang tugu kenangan dan nisannya saya saksikan ada di Peucut. Siapakah gerangan Kapitein Webb ini?

Namanya George Johan Albert Webb. Dia dilahirkan pada tanggal 23 Juli 1861 di Batavia, dari pasangan Samuel Arthur Webb dan Johanna Charlotta Geertruida Alexandrina Muller Kruseman (namanya panjang amat!). Pada bulan Desember 1884, dia diangkat menjadi letnan pada pasukan infanteri Koninklijke Nederland Indies Leger (KNIL). Pada tahun berikutnya dia dikirim bertugas ke India.

monumen untuk webb di peucut, masih ada sampai sekarang.

monumen untuk webb di peucut, masih ada sampai sekarang.

Di tahun 1887 dia ditugaskan di Aceh di dalam Batalion Infanteri ke-12. Pada tanggal 12 Oktober 1887 di pertempuran dekat Kuta Rajabedil (Kuta Pohama) dia menunjukkan keberanian yang luarbiasa yang memuaskan pimpinannya. Karena prestasi dan keberaniannya di setiap pertempuran dia dianugerahi medali Gouden Kroon (Mahkota Emas). Pada pertempuran di Samalanga dia pun menunjukkan prestasi yang luarbiasa sehingga pada tanggal 23 Oktober 1901 dianugerahkanlah medali Militaire Willems-Orde kelas IV kepadanya, oleh Jenderal Johannes Benedictus van Heustz. Medali ini adalah medali paling bergengsi di kerajaan Belanda dan tidak diberikan kepada sembarang orang. Webb kemudian ditunjuk sebagai komandan Divisi Ketiga Marsose dan kepala administrasi sipil di Lamnyong. Kapitein Webb memang bukan orang sembarangan. Namun sehebat apapun Kapitein Webb, dia harus bertekuk lutut di hadapan kegigihan dan keberanian pejuang Aceh.

Pada bulan Januari 1902, Kapitein Webb memimpin langsung pasukan Marsose dalam pengejaran terhadap Panglima Polem dan pasukannya di kawasan Leubeue Minyeuk (Lhok Sukon). Ketika melintasi hutan yang amat lebat dan rapat itu, tiba-tiba sebatang kayu besar terayun dengan deras dari atas, dan menghantam kepala Kapitein Webb serta beberapa orang anak buahnya. Kepalanya hancur lebur dan otaknya tercerai-berai. Dia tewas seketika. Jebakan batang kayu itu telah diasiapkan oleh para pejuang Aceh. Karena saking mengerikannya kondisi jenazah Webb, istrinya sendiri tidak diperbolehkan untuk melihatnya. Pada nisan Webb terukirlah sejarah bisu, betapa gigih dan kuatnya perlawanan kaum muslim Aceh terhadap invasi kaum kaphe.

Mengerikannya Demokrasi!

Hiiiiiyyyyyy!!!!

Hiiiiiyyyyyy!!!!

Semakin dekat saja rasanya perhelatan akbar demokrasi di negeri ini, Pemilihan Umum (pemilu). Pasti ada banyak pihak yang berdebar-debar karenanya. Terutama para anggota parpol, para caleg, dan para capres. Rakyat kebanyakan juga tentunya berdebar-debar, karena hasil dari pemilu ini ‘katanya’ akan memengaruhi apa yang akan terjadi pada bangsa ini untuk lima tahun ke depan. Karena hal ini pemilu menjadi begitu penting.

Sayangnya euforia demokrasi ini kemudian banyak menipu kita. sebab sebenarnya betapa mengerikannya demokrasi bagi rakyat dan negeri ini. Hal ini bisa kita lihat dari pemilu yang akan dilangsungkan saat ini, dan hal ini selalu saja berulang.

Dalam salah satu wawancaranya dengan tabloid Media Umat, Ichsanuddin Noorsy mengatakan bahwa setiap capres paling tidak membutuhkan sedikit 5 triliun untuk membiayai seluruh proses pemilihan hingga menjadi presiden.

“Jadi kalau Cuma 3 triliun itu terlalu sedikit. Saya duga dua kali lipat atau paling tidak 5 triliun,” tandasnya (Media Umat edisi 121, 7 – 20 Februari 2014). Dari sini, jika kita jeli, pasti kita akan melihat betapa mengerikannya demokrasi. Sistem ini menciptakan mekanisme suksesi kekuasaan dengan biaya yang amat mahal, dan ini fatal sekali akibatnya. Hal ini menjadi kan seluruh mekanisme pemilu itu hanya sebagai perhelatan penipuan besar terhadap rakyat. secara sederhana, mari kita perhatikan.

Untuk menduduki jabatan sebagai presiden memang membutuhkan biaya yang banyak. Agar bisa terpilih tentunya para capres harus mendongkrak popularitasnya di hadapan rakyat. untuk mendongkrak popularitas itu dibutuhkan biaya yang besar. Ichsanuddin Noorsy menjelaskan lebih lanjut bahwa biaya yang besar itu separuhnya akan dihabiskan untuk biaya iklan di tivi. Media tivi ini memang sangat efektif sekali untuk mendongkrak popularitas. Jaman sekarang yang nggak nonton tivi cuman manusia purba. Siapa orang yang nggak pernah nonton tivi? Untuk sekali pasang iklan di tivi saja dibutuhkan puluhan juta. Semakin sering tampang seorang capres nongol di tivi akan semakin banyak biaya yang dibutuhkan. Selain itu banyak juga biaya habis untuk kunjungan kesana-kemari, kegiatan sosial untuk meraih simpati rakyat, mengumpulkan massa, dan lain-lain. Sehingga tidak heran kalau ongkos menjadi presiden itu mahal sekali.

Tentu saja para capres tidak punya biaya sebanyak ini kalau diambil dari harta pribadinya. Lantas dari mana mereka mendapatkan kekurangannya? Ada banyak jalan, dan salah satu sumber dana yang paling potensial datangnya dari para cukong dan konglomerat asing. Para kapitalis dan perusahaan multinasional tidak segan-segan untuk menggelontorkan biaya untuk membiaya salah satu capres. Dan tentu saja tidak ada makan siang yang gratis. Para kapitalis itu bersedia mengeluarkan uang sekian banyak tentunya dengan kompensasi yang juga tidak kecil. Biasanya mereka akan minta tender proyek, atau keringanan pajak, perlindungan dari undang-undang atas usaha ilegal mereka, dan lain sebagainya. Dari sini akan terbentuk persekongkolan antara penguasa dan pengusaha. Ujung-ujungnya, semua yang dijanjikan oleh para capres itu selama masa kampanye tidak akan pernah terwujud. Sebab mereka sudah tersandera lebih dulu oleh para kapitalis. Rakyat lagi yang kemudian akan dikorbankan.

Dari sini terlihat sekali betapa mengeraikannya demokrasi. Sayangnya, kita rela untuk ditipu oleh demokrasi berulang kali. Penipuan ini terus saja berulang dan kita tetap saja berdiam diri. Sudah saatnya kita campakkan demokrasi dan jangan diterapkan lagi. Gantikan dengan penerapan syariat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah. Sistem inilah yang akan membawa ridho Allah kepada kita semua. Wallahu a’lam.

Cantik Itu Kulit Mulus Bebas Bulu? Ngoookkk!!

Tidak bermaksud mengiklankan produk ini ya!

Tidak bermaksud mengiklankan produk ini ya!

Kita semua pasti sudah kenal dengan kalimat di atas? Dan menurut saya, semboyan sebuah produk perontok bulu di atas adalah definisi paling konyol terhadap kecantikan. Kenapa konyol? Ya jelas konyol lah. Nggak usah saya jawab juga udah jelas banget kekonyolannya. Yang pasti definisi cantik seperti ini adalah cantik menurut versi produk perontok bulu.

Kalau menurut produk deodoran, cantik itu lain lagi. Cantik adalah kalau kita punya ketek putih mulus. Malu dong kalau kita punya black cat, ntar keteknya nggak bisa dipertontonkan ke orang-orang karena udah pada geli duluan. Definisi cantik produk deodoran adalah juga definisi cantik yang konyol. Saya juga geli kalau melihat iklan deodoran, ketek-ketek dipertontonkan pada semua orang, emangnya ngapain sih kita harus punya ketek putih? Penting banget gitu ya?

Kalau menurut produk pemutih wajah, cantik itu ketika wajah kita putih mulus tanpa noda hitam. Cantik itu wajah yang kenyal tanpa kerutan. Haduh, ini juga nggak kalah konyolnya. Saya juga geli banget kalau ngeliat iklan-iklan penghilang jerawat. Kayaknya kalau muncul seupil jerawat di muka kita, dunia serasa kiamat. Kayaknya muka ketumpahan air keras sampe jadi buruk rupa. Muka sampe ditutup-tutupin, malu banget kalo jerawatnya keliatan orang. Haduh..!

Definisi-definisi cantik yang konyol seperti itu terus-menerus ditanamkan di otak dan alam bawah sadar kita lewat iklan-iklan di tivi. Sehingga nantinya kita terhanyut dan percaya dengan definisi-definisi itu, kemudian tingkahlaku kita terpengaruh dengannya. Kita akan merasa was-was kalau jerawat nongol di muka kita, dan kita-kita yang berkulit agak gelap jadi benci dengan warna kulitnya. Ujung-ujungnya, produk-produk yang diiklankan itu kita beli. Semuanya kembali kepada uang.

Padahal Allah semenjak ratusan tahun yang lalu telah menetapkan bahwa standar kemuliaan seseorang itu adalah ketakwaannya. Kalau dia bertakwa, maka dia mulia, tidak peduli bagaimana pun tampangnya. Kalau dia tidak bertakwa, mau keteknya putih mulus kek, mau mukanya putih mulus nggak ada kerutan kek, mau kulitnya nggak ada bulunya kek, tetaplah dia derajatnya hina di dalam pandangan Allah subhanahu wata’ala. Sudah saatnya kita melepaskan diri kita dari definisi-definisi kapitalistik itu, dan mengikatkan diri pada definisi yang telah ditetapkan Allah sesuai dengan fitrah kita. Jadi yang punya ketek item nyantai aja gitu lho!

follow @sayfmuhammadisa on twitter