‘IZZAH KARIM

Mesir

Malam hitam kelam. Pekat menakutkan. Namun apabila malam semakin kelam, apabila gelap semakin hitam, tandanya cahaya akan segera datang. Begitulah takdir Tuhan.
Langit malam itu menggelantung di bumi Mesir, memayungi kediaman Jenderal Besar Angkatan Bersenjata Republik Mesir, Syaddad Moustafa. Segala masalah padat sesak di kepalanya. Sepuluh jarinya berlarian di atas tuts laptop. Kaca matanya membayangkan layar yang bercahaya itu. Seragam dan balok pangkat bintang empat yang berat karena tanggung jawab sedang tidak dikenakannya, diganti sehelai kemeja ringan lengan pendek warna putih. Jenderal Syaddad nasionalis sejati, bertanggung jawab, dan keras pada keadilan. Kata-katanya lugas dan tanpa kompromi. Kalau dia sudah mengambil keputusan akan sulit mengubahnya lagi. Di tangannyalah kekuasaan angkatan bersenjata Mesir terletak, pengaruh dan kharismanya besar. Dagu kerasnya kokoh, dihiasi janggut pendek yang tumbuh sampai pipi dan lehernya. Sebagian telah memutih namun tak mengurangi kewibawaannya.
Tiba-tiba pintu kamar kerjanya diketuk, suara salam terdengar. Ia jawab salam itu dan menyahut.
“Masuk saja, tidak dikunci,” tanpa mengalihkan pandangan sekejap pun dari laptopnya.
Masuklah ke ruangan itu, seorang perempuan muda, cantik dan mulia. Sebab tubuhnya terbalut pakaian takwa. Ia melangkah pelan ke hadapan Jenderal Syaddad di seberang meja. Sang Jenderal menatap perempuan itu, wajahnya tegang saja, padahal perempuan itu adalah puterinya sendiri, namanya Nouha.
“Ayah harap kita bicarakan hal penting kali ini,” kata Jenderal Syaddad. “Tidak perlu lagi memicarakan hal yang sudah selesai.”
Nouha tersenyum manis kepada ayahnya. Bagi Jenderal Syaddad semua urusan militer dan politik akan selesai di tangannya dengan baik. Ia setia, Ia ada di garda terdepan dalam menghancurkan semua musuh negara, memerintahkan pembunuhan lawan politik sudah biasa baginya, Ia patuh kepada rezim dan negaranya, tapi urusannya dengan Nouha tak pernah selesai. Urusan yang dibawa Nouha tiap malam ke meja kerjanya menambah-nambah berat beban pikiran di kepalanya yang sudah padat sesak.
Sejak isterinya meninggal, Jenderal Syaddad sangat mencintai puterinya itu. Ia penuhi semua kemauan Nouha, semuanya, kecuali satu hal.
Nouha masih tersenyum, “Urusan ini tak akan selesai, Ayah, tak akan pernah selesai, sampai Allah azza wa jalla memenangkan agama ini. Tiap malam aku akan memohon pertolongan kepada Ayah. Karena Ayah memiliki semuanya. Ayah memiliki kekuatan itu, ayah memiliki kekuasaan itu, dan aku akan terus meminta. Tolonglah para pengemban dakwah, beri perlindungan kepada mereka, dukung mereka, limpahkan kekuasaan pada mereka. Pada tangan ayah-lah sesungguhnya kekuasaan nyata itu berada, karena itu lindungilah mereka dengan kekuasaan itu agar mereka bisa menegakkan Islam dengan sempurna, dan menolong saudara kita yang sedang dijajah.”
“Tak mungkin, Tak mungkin, Nouha,” Jenderal Syaddad berdiri dan menggebrak meja, Nouha tersentak kaget, laptop terbanting, “Kau mau ayah mengkhianati negara? Mengkhianati kontitusi kita? Kau mau ayah jadi pengkhianat?”
“Tak ada gunanya taat pada negara ini. Ayah hanya akan menambah dosa dan kemaksiatan. Jangan ayah bela penguasa antek penjajah, ayah akan mengkhianati Allah dan RasulNya. Demi Allah, aku takut ayah merugi dunia dan akhirat karena membela thagut.”
“Jauh-jauh ayah menyekolahkanmu ke Inggris malah jadi pembangkang seperti ini. Ayah kecewa padamu, KECEWA.” Nada suara Jenderal Syaddad terus meninggi.
“Inilah yang benar. Quran dan sunnah yang harus kita taati,” suara Nouha tetap lemah lembut. “Tolonglah pengemban dakwah, dengan dukungan ayah syariat pasti tegak, Khilafah pasti berdiri, kekuatan kita akan kembali, dengan itu kita pasti bisa mengusir penjajah, menolong saudara kita yang dibunuhi tiap hari, me…”
“DIAM,” potong Jenderal Syaddad. Ia melangkah mendekati Nouha yang tak mau berhenti bicara.
“Jangan setia kepada pemimpin munafik yang membiarkan saja saudaranya mati dibantai penjajah, malah mereka membantu penjajah membantai saudara kita dengan membangun pagar besi. Mereka menginjak-injak Quran dan Sunnah. Mereka itu biadab. Tolonglah kaum muslim, Ayah, tolong ka…”
Plakk…! Jenderal Syaddad kehilangan kesabarannya dan menampar Nouha sampai jatuh terjengkang di lantai. Tak pernah sekali pun ia melakukan hal itu pada puteri kesayangannya, namun malam itu Nouha sudah kelewat batas.
“JANGAN BICARA LAGI,” hardik Jenderal Syaddad sambil menunjuk Nouha.
Nouha menutup wajahnya yang telah memerah, ia menangis.
Menatap puterinya itu Jenderal Syaddad luluh juga. Ia berlutut di sebelah puterinya dan memeluknya, merasakan bahu Nouha yang berguncang di dadanya.
“Nouha, tolong jangan pancing ayah lagi, tak mungkin ayah memenuhi permintaanmu. Kau tahu posisi ayah? Kau tahu siapa ayah?”
Suara tangisan suci memecah malam. Nouha terisak air mata, dan rasa nyeri tamparan itu menerjang hatinya. Tapi ia berusaha kuat. Ia hapus air matanya, perlahan ia lepaskan pelukan tangan ayahnya. Jenderal Syaddad lamat-lamat menyadari sesuatu yang tak enak. Nouha bangkit pelan-pelan.
“Ayah mencintaimu, tak ingin kehilanganmu, hanya dirimu yang ayah punya, kalau kau bicara begini terus kau bisa celaka,” nada suara Jenderal Syaddad mulai menurun, ada sesal di hatinya sebab telah menampar Nouha. “Ayah pun bisa celaka.”
“Kecelakaan mana yang paling besar kalau bukan murka Allah? Mengapa aku meminta semua ini setiap malam? Karena aku mencintai ayah. Karena aku tak ingin ayah mendapat azab yang pedih di akhirat kelak. Aku ingin keluarga kita berkumpul kembali di sorga,” Nouha menunduk, tak kuasa menatap wajah ayahnya.
Jenderal Syaddad diam saja, air mukanya keruh, rasa hatinya tak karuan. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Nouha berbalik dan melangkah gontai keluar ruangan itu sambil membisikkan ratapan hatinya yang kelak berubah menjadi doa.
Allahumma a’izzal islama wal muslimin, wa ahlikil kafirota wal musyrikin…
Dan Jenderal Syaddad tenggelam ditelan malam sendirian.

Kamp X-Ray
Teluk Guantanamo

Malam masih kelam menakutkan. Kadang-kadang suara jeritan terngiang nyaring di penjara itu, X-Ray. Tempat Amerika menyempurnakan penjajahannya kepada orang-orang Islam. Terali-teralinya kokoh, lampu tembak menyala terang. Serdadu-serdadu berbaju loreng mondar-mandir melaksanakan tugasnya.
Pada salah satu ruang interogasi di fasilitas penjara itu duduklah seorang pemuda, sendirian. Wajahnya ditumbuhi janggut dan kumis, makin menyempurnakan tampang arabnya. Di ruangan itu hanya ada kursi tempatnya duduk, tak ada benda lain lagi. Dinding-dinding dari besi menyelimuti sekelilingnya, dan membuat tanda tanya demikian menyiksa. Pakaian seragam oranye khas tahanan Kamp X-Ray terpasang longgar di badannya.
Di sebelah ruangan itu terletak sebuah ruangan lagi yang penuh dengan monitor dan panel-panel. Ada tuas dan tombol-tombol. Beberapa tentara duduk di hadapan panel-panel itu mengawasi para pesakitan. Dan seorang pria berbadan besar, bertampang sangar, dengan lagak superior memuakkan berdiri tegak sambil menyilangkan tangan di depan dadanya. Nama pria itu Burke, pangkatnya sersan. Di sisi Burke hadir pula anak buahnya, namanya Evan.
“Bagaimana dengan tahanan yang ini, Sersan?” Evan menunjuk pada sebuah monitor yang menampilkan gambar pemuda bertampang arab itu.
“Dia, akan kita interogasi, kita suruh mengaku,” sahut Burke dengan ketus.
“Memangnya siapa dia?” Evan mengusap dagunya.
“Cuma orang asing yang kita tangkap dari jalanan Peshawar. Akan kita paksa dia mengaku bahwa dia teroris anak buah bin Laden.”
Evan mengangguk setuju seolah perbuatan itu sudah seharusnya terjadi. Tangan raksasa Burke menepuk bahu Evan, mengajaknya keluar ruangan itu. Continue reading