Tips dan Trik Memunculkan Ide

Do you love writing?

Terkadang apa yang sering kali dikeluhkan oleh kawan-kawan yang ingin tekun menulis adalah keterbatasan dan kebuntuan ide. Kesulitan menulis disebabkan oleh ketiadaan ide. Jika ide sudah tersedia, kemudian sudah digarap, problem selanjutnya adalah bagaimana caranya agar ide tidak buntu.

Saya ingat dengan apa yang pernah disebutkan oleh Pak Tun Kelana Jaya (DPP Hizbut Tahrir Indonesia) ketika saya mengikuti salah satu presentasi beliau, bahwa jika kita ingin memperbaiki kosakata kita, maka kita mesti banyak-banyak membaca novel. Sebab beliau mengatakan bahwa novelis adalah kalangan yang mampu menggambarkan sesuatu dengan amat nyata.

“Ruangan ini saja bisa jadi satu cerita dan bahkan satu buku di tangan seorang novelis,” kata beliau (saya yang novelis jadi merasa gimanaaaa gitu!).

Pengalaman ini kemudian mengatakan pada saya bahwa ide menulis bisa didapat dari manapun. Saya pernah ditanya tentang bagaimana caranya kita bisa mendapatkan ide tulisan. Saya menjawab, selama masih ada kehidupan pasti akan selalu ada kisah yang bisa kita tuliskan. Kalau dunia sudah kiamat dan semua orang sudah pada mati, barulah semua kisah sudah habis. Berikut beberapa cara saya untuk mempertahankan agar ide-ide tulisan tetap mengalir (mungkin poin-poin yang saya ketengahkan ini sangatlah standar).

Pertama, membaca. Membaca memang adalah cara yang sangat efektif untuk mendapatkan ide tulisan. Jika kita menghadapi kebuntuan dalam menggarap sebuah tulisan, maka bacalah berbagai tulisan lain yang berhubungan tulisan yang sedang kita garap tersebut.

Kedua, jalan-jalan. Pergi tamasya, atau bersilaturahim ke rumah kerabat adalah juga cara yang cukup efektif untuk memunculkan ide. Kita bisa bercanda dan mengobrol dengan orang-orang di sekitar kita, dan hal itu bisa kita jadikan sebagai bahan inspirasi tulisan.

Ketiga, nonton film. Cara ini juga cukup efektif untuk memunculkan ide-ide tulisan. Film adalah sebuah media audio-visual yang memiliki jalan cerita, dan dengan menonton film tentunya akan merangsang timbulnya ide di dalam benak kita.

Ketiga, berhenti sejenak. Berhentilah sejenak jika terjadi kebuntuan ide, kemudian lakukan hal yang berbeda. Berhenti sejenak ini akan mengistirahatkan pikiran kita. Setelah berhenti sejenak ini pikiran kita akan lebih segar dan berbagai ide-ide yang beterbangan di luar sana akan jadi lebih mudah kita tangkap.

Suatu kali saya membaca review sebuah film yang cukup menarik. Film ini film lama, judulnya Finding Forrester. Saya sendiri belum nonton filmnya. Namun satu hal yang membuat saya tertarik adalah ternyata film ini berkisah tentang kehidupan seorang penulis yang bernama William Forrester. Dikisahkan bahwa Forrester punya seorang murid. Saat pertama kali mengajari muridnya itu menulis sambil menghadapi sebuah mesin tik tua, ia berkata, “tuliskan apa saja, jangan berpikir.” [sayf]

Kisah Ainon Mardhiyah Dalam Hikayat Perang Sabil

Perang Sabil muslim Aceh melawan kafir Belanda yang dimulai ketika Belanda menyerbu Aceh pada tahun 1873 adalah perang terdahsyat dan terlama yang harus dihadapi Belanda sepanjang sejarah kolonialisme mereka di timur. Aceh adalah sekolah perang bagi militer Belanda, sebab di Aceh, Belanda harus menghadapi sekelompok manusia yang begitu teguh mengangkat senjata, berani, memiliki daya tahan tinggi, dan memiliki permusuhan yang begitu mendalam terhadap penjajahan mereka. Sehingga sepanjang penjajahan mereka di aceh, mereka tidak sanggup berdiri dengan tenang.

Salah satu hal yang membuat semangat perang muslim Aceh begitu berkobar adalah sebuah karya sastra, Hikayat Perang Sabil. Karya sastra ini menjadi bukti bahwa sastra adalah salah satu media yang sangat efektif untuk membangkitkan semangat, keyakinan, keimanan, dan spirit rela berkorban di dalam diri manusia. Dengan demikian jangan ada lagi siapapun yang meremehkan sastra.

Hikayat Perang Sabil konon ditulis oleh Teungku Cik Pante Kulu dalam perjalanan pulangnya dari Makkah setelah menunaikan ibadah haji. Seluruh bagian dari karya sastra ini berisi seruan dan dorongan agar muslim Aceh turun ke medan perang sabil untuk melawan kaphe (kafir, bahasa Aceh) Belanda. Di dalamnya berisi kisah-kisah kepahlawanan yang ditulis dalam bentuk hikayat. Menurut Teungku Ali Hasymi, seorang cendekiawan besar Aceh, kisah-kisah di dalam Hikayat Perang Sabil adalah fiksi.

Salah satu bagian dari hikayat ini berkisah tentang Ainon Mardhiyah (penyebutan lainnya adalah Ainul Mardhiyah). Kisah ini bercerita tentang seorang pemuda yang di dalam karya sastra ini disebut mudabelia. Dia adalah seorang pemuda yatim piatu yang ditinggali harta warisan yang lumayan dari orangtuanya. Dia pun adalah seorang murid dari seorang ulama yang bernama Abdul Wahid. Ketika itu mudabelia sedang berada di majelis gurunya yang sedang membahas perang sabil dengan orang tua-tua. Sementara di majelis itu juga ada orang yang menyenandungkan ayat Alquran. Salah satu ayat itu adalah surat Attaubah ayat 111. Inilah yang dikatakan mudabelia kepada gurunya.

Rindu hati tidak tertahan
Bertanya sambil memuji Ilahi
“Adakah benar yang demikian
Wahai Teungku payung kami?”

“Allah membeli nyawa kami
Surga tinggi tukaran pasti
Kalau memang demikian janji
Sekarang ini hamba pergi”

Abdul Wahid menjawab pasti
“Memang demikian anakku jauhari
Tuhan kita Khaliqulbahri
Tidak akan mengubah janji”

Mudabelia berdatang sembah
“Insyaallah wahai ya saidi
Nyawa dan harta, daging berdarah
Rela menyerah kepada Ilahi”

Pulanglah mudabelia ke rumahnya. Seluruh hartanya dia habiskan untuk belanja perang sabil. Dia beli senjata dan kuda. Dan bahkan dia tidak hanya belanja untuk dirinya sendiri saja, tapi juga untuk kawan-kawannya yang tidak mampu tapi ingin ikut dalam perang sabil. Hingga semua harta warisannya habis tak bersisa. Ketika datang hari keberangkatan pasukan ke medan perang sabil, mudabelia ada di barisan paling depan. Saat pasukan kelelahan dalam menempuh perjalanan menuju perang sabil, pasukan itu beristirahat. Mudabelia pun tertidur lelap.

Tiba-tiba mudabelia tersentak dan terbangun, dia menangis tersedu-sedu sambil menyebut-nyebut nama Ainon Mardhiyah. Saat kawan-kawannya bertanya kepadanya apa yang menyebabkan dia menangis dan meracau begitu rupa, dia tak mau menyahut. Hingga datanglah Abdul Wahid dan bertanya hal yang sama kepadanya. Kepada Abdul Wahid-lah Mudabelia menceritakan semuanya.

Tertidur hamba bagaikan pingsan
Rasanya terpandang sorga tinggi
Dahsyat ajaib tidak terlukiskan
Teladan umapama tiada di sini

Mudabelia menceritakan kepada guru dan teman-temannya apa yang disaksikannya dalam mimpinya, yang akan jadi tamsil ibarat bagi umat manusia.

Muda pahlawan lanjutkan kisah
Rasa hamba berjalan sendiri
Sepanjang sungai beralam indah
Ribuan kandil warna warni

Kandil bergantung tanpa tali
Berbuai indah karunia Allah
Batu pantai intan baiduri
Cahaya cemerlang sinar berseri

Demikian rupa siang dan malam
Kehendak Tuhan Ilahi Robbi
Termenung hamba duduk diam
Hilang akal, hilang budi

Cahaya zamrut penaka bintang
Sinar pualam setahun lari
Rasakan pingsan hamba memandang
Akal melayang, ingatan khali

Telapak kaki terasa tiada
Jatuh terkulai pantun diri
Sungai bening manis rasanya
Kalkausar nama dari Ilahi

Mudabelia dalam mimpinya berjalan sendiri, mengikuti arus sebuah sungai yang bening dan indah. Pasir di sekitarnya dari intan permata. Ada kandil-kandil yang melayang tanpa tali. Semuanya adalah keindahan tak terperi. Mudabelia terus berjalan menyusuri sungai itu, hingga dia melihat ada dara-dara yang sedang mandi.

Dara turun mandi bersama
Di air bening kecimpung riang
Kulit kuning memancar cahaya
Dalam sungai sinar cemerlang

Sambil mandi dara bernyanyi
Berbalas pantun lagu rindu
Suara merdu bagaikan nafiri
Mengalun nyaman menyentuh kalbu.

Kain tipis lilit di badan
Kalung mutiara pakai di dada
Umur sebaya, rupa sepadan
Muda remaja gadis jelita

Memandang betapa cantiknya dara-dara itu, sebagai lelaki normal pastinya Mudabelia merasa terpesona dan terbangkitkan naluri cintanya. Ketika dara-dara bidadari itu menatap padanya, mereka berkata bahwa mereka hanya dayang-dayang, sementara tuan putri telah lama menunggu Mudabelia di depan sana.

Dara gairah mencumbu daku
“Datang sudah jodoh dinanti
Tunangan putri berhati rindu
Selamat tuan sampai di sini

Mudabelia berjalan lagi, menyusuri sungai Kalkausar. Di depan dia menemukan lagi dara-dara jelita. Dara-dara itu menyambutnya dan mengatakan hal yang sama. Bahwa tuan putri telah lama menunggunya, dan mereka hanyalah dayang-dayang dari tuan putri itu.

Dara jenaka mengedip hamba:
Bercumbu kata seperti tadi
“Sampailah janji, jodoh pun tiba
Menyongsong adinda gahara putri

Termenung heran wahai guruku,
Mendengar cumbu kata dara
Lihat rupa bulan syahdu
“Apa gerangan kata adinda”

Tuanku ampun raja kami
Putri dendam dalam istana
Kasih bergelut di dalam hati
Siang malam rindukan kakanda

Kami ini dayang-dayang
Hanya pelayan tuan putri
Kemudian hamba terus berjalan
Jumpa lagi sungai suci

Beberapa kali Mudabelia bertemu dengan taman dan sungai. Beberapa kali pula dia bertemu dengan dara-dara jelita yang sedang mandi atau sedang bermain-main. Berbagai keindahan mengepungnya, namun belum dia temukan juga di mana tuan putri yang katanya telah menunggunya itu.

“Assalamualaikum putri pilihan
Di sinikah gerangan jodoh hamba?
Ainon Mardhiyah di mana tuan?
Katakan wahai dara jelita”

Dara rupawan sampaikan pesan
Suara bagaikan buluh perindu
Lagu merdu, irama menawan
Penaka rebab menyayat kalbu

Heran sesaat termenung hamba
Keringat limpah, kalbu merindu
“Marhaban salam bahagia
Selamat datang tuan kemari”

Sampailah Mudebalia di hadapan sebuah istana dengan taman-taman yang indah tidak terperi. Sampai-sampai kata-kata tak sanggup lagi melukiskan keindahannya. Ketika dia masuk ke taman-taman itu, dia bertemu lagi dengan dara-dara jelita (isinya surga emang bidadari doang ya! Subhanallah.)

“Alhamdulillah kurnia Ilahi
Pahlawan kami telah tiba
Dayang-dayang lunglai berlari
Kepada putri laporkan berita

Lihat wahai putri andalan
Jodoh tuan kemala negeri
Itu di taman muda pahlawan
Rindu dendam di dalam hati

Berjumpalah Mudabelia dengan Ainon Mardhiyah. Kegembiraannya tak terperi, ketika mata mereka saling berpandang. Gelora hati membuncah dalam, menikmati cinta karunia ilahi.

“Ya Allah Tuhan penyayang
Mahasempurna karuniaMu ini
Jodohku kekasih sayang
Kemala negeri telah kembali

Cinta melanda pantai hatiku
Panah rindu mengamuk di dalam
Kini kami sudah bertemu
Kekasihku datang bawakan manikam

… Aduhan kakanda kemala hati
Mujahid sejati kekasih Allah
Hatiku gaira mari kemari
Adik menanti berhati gelisah

Kemari sayang, ke atas peraduan
Bantal tilam emas bersuji
Silakan mari kakandaku tuan
Cinta bergelut di dalam hati

Malu mengapa kemala negeri
Istana ini pusaka Ilahi
Untuk kakanda mujahid berani
Pejuang sabil dalam perang suci

Ketika Mudabelia telah diselimuti gairah cinta, ia hendak memeluk dan mencium Ainon Mardhiyah. Sayangnya, dengan lembut Ainon Mardhiyah menolaknya.

Gemetar tubuhku sekujur badan,
Hilang keseimbangan dalam diri,
Ingin memeluk dara rupawan,
Tetapi puteri mengelak diri

“Aduhai tuan mainan hatiku,
Sabar dulu kemala negeri,
Sebentar lagi datanglah waktu,
Sekembali abang dari Perang Suci.

Aduhai sayang pahlawan setia,
Malam ini sampailah janji,
Sekejap tangguh pinta adinda,
Jiwa kakanda belumlah suci.

Pinta kakanda makbul sudah,
Kembalilah sayang ke medan perang,
Asalkan niat ikhlas lillah,
Meninggikan Kalimah Tuhan Penyayang

Ainon Mardhiyah menyuruh Mudabelia kembali ke medan perang. Sebab masih ada kewajiban yang harus ditunaikan. Nanti kalau gelar syuhada telah disandang, itulah mahar paling indah buat Ainon Mardhiyah. Subhanallah, walhamdulillah, wallahu akbar.

Setelah menceritakan semua itu, turunlah Mudabelia ke medan perang. Sudah banyak kaum kafir yang tewas di tangannya, hingga meraih syahid dalam perang sabil. Cintanya kini menyatu dengan Ainon Mardhiyah. [sayf]

Membangkang Khalifah Karena Rokok

Bahaya Rokok

Saya merasa beruntung sekali bahwa saya tidak memiliki kebiasaan merokok. Malah saya sering kali merasa muak kalau ada orang yang merokok di dekat saya. Asapnya itu lho yang bikin sebal, apalagi perokok pasif katanya punya risiko lebih berbahaya daripada perokok aktif itu sendiri. Karena saya tidak merokok itu pulalah saya bisa dengan bebas menuliskan naskah ini.

Pada masa pemerintahan Sultan Ahmet I (wafat 1617 M), Khilafah Ustmaniyah memberikan hak-hak istimewa kepada Belanda, sehingga membuat Belanda bisa masuk dan berdagang dengan bebas di berbagai wilayah Khilafah Ustmaniyah. Karena hak-hak istimewa inilah kemudian Belanda selain berdagang juga menebarkan rokok kepada rakyat negara Khilafah. Rokok yang sedang merebak ini pun sampai juga ke kalangan militer terutama pasukan Janisari dan birokrat Khilafah Utsmani. Hingga pasukan elit ini dan para birokrat Khilafah menjadi demikian kecanduannya kepada rokok.

Sultan Ahmet I

Kita sama-sama mengetahui betapa bahayanya rokok bagi kesehatan masyarakat. Para ulama kemudian berfatwa bahwa merokok itu haram karena rokok membahayakan kesehatan. Karena fatwa ini kemudian timbul gejolak penentangan di tengah-tengah militer yang didukung oleh birokrat.

Modus yang digunakan Belanda ini juga mereka gunakan lagi di Aceh. Ketika mereka membuka kontak dagang dengan Aceh dan melakukan penyerangan terhadap Aceh, mereka menebarkan candu ke tengah-tengah masyarakat. Begitulah orang-orang kafir, selalu menggunakan berbagai cara untuk melemahkan kaum muslim. Kita harus mewaspadai setiap hal yang disodorkan kaum kafir terhadap kita, karena bisa jadi ada ‘sesuatu’ di belakangnya. [sayf]

Sekilas Tentang Douwess Dekker

Sampul Max Havelaar terbitan baru.

Berbalas SMS dengan orang yang berilmu memang paling seru. Selalu ada saja berbagai informasi yang bisa kita eksplorasi. Salah satunya adalah hasil SMS-an saya dengan guru menulis saya, Pak Salman Iskandar.

Beberapa minggu yang lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke kediaman Pak Salman, dan saya langsung takjub dengan koleksi buku-buku bersejarah milik beliau. Karena takjub, biasalah, saya melihat-lihat rak buku beliau seperti orang udik baru melihat metropolitan. Hanya saja metropolitan yang satu ini lain, yang ini metropolitan ilmu. Di antara jajaran buku-buku tersebut saya menemukan sebuah buku bersampul hijau dengan tulisan MAX HAVELAAR tertera di sana. Wah ini buku Max Havelaar karya Douwess Dekker yang terkenal itu, pikir saya. Sejenak saya bolak-balik halaman buku itu, yang ternyata adalah sebuah novel. Buku tersebut adalah buku terjemahan.

Nah, tadi malam, Pak Salman meng-SMS saya. Beliau mengabarkan bahwa beliau telah mendapatkan buku Max Havelaar yang asli terbitan bahasa Belanda yang diterbitkan tahun 1917. Jadi sekarang beliau punya buku Max Havelaar terjemahan bahasa Indonesia dan buku dengan bahasa aslinya, bahasa Belanda.

Novel Max Havelaar yang dikarang oleh Eduward Douwess Dekker ini jadi best seller pada abad ke-19 dan abad ke-20 M. Novel ini berkisah tentang gugatan terhadap kekejaman kolonialisme Belanda di Hindia-Belanda (Indonesia). Buku ini fenomenal karena ditulis oleh orang Belanda sendiri. Cucu dari Douwess Dekker ini, yang bernama Ernest Douwess Dekker, malah jadi pejuang nasional sekaligus jadi WNI dan bahkan turut mendirikan Indische Partij. Beliau juga masuk Islam dan jadi mualaf dengan mengganti nama menjadi Dr. Danoedirdja Setiaboedhi. Sejak saat itu beliau selalu pakai peci, dan juga turut aktif di Masyumi. Beliau juga pernah jadi menteri pada masa Orde Lama. [sayf]

Fetih vs Dracula

Sedang dalam persiapan terbit.

Kedua tokoh ini memang sama-sama orang besar pada masanya. Mereka hidup sezaman, usia mereka hanya terpaut setahun (Fetih lahir tahun 1432, Dracula lahir tahun 1431), dan ada kemungkinan mereka pernah saling bertatap muka serta saling bicara. Hanya saja sejarah mencatat bahwa kedua tokoh ini adalah musuh bebuyutan yang selalu siap menghunuskan pedang satu sama lain.

Fetih adalah gelar bagi Sultan Mehmed II, Sultan Ustmani ketujuh, penakluk Konstantinopel. Fetih sendiri bermakna penakluk, sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab ‘Fatih’, yang kemudian berubah menjadi Fetih di lidah orang-orang Turki (sebagaimana nama Muhammad dalam bahasa Arab kemudian berubah menjadi Mehmed dalam bahasa Turki). Sejak kecil Sultan Mehmed memang sudah dididik untuk menjadi penakluk dan komandan terbaik seperti yang pernah diberitakan Rasulullah dalam hadisnya yang masyhur. Ulama-ulama besar seperti Syekh Ahmad al Qurani dan syekh Aaq Syamsuddin menjadi guru yang membimbing pertumbuhan dan perkembangan beliau. Sejak kecil beliau telah diajari berbagai disiplin ilmu, bukan hanya kemampuan militer dan kepemiminan, tetapi juga berbagai ilmu syariah, sejarah, dan bahasa. Beliau mampu bicara dalam tujuh bahasa.

Sementara Dracula adalah gelar bagi Vlad III. Dia adalah seorang Voivode (pangeran/penguasa) sebuah negeri di daratan Balkan (Eropa Timur) yang bernama Wallachia. Gelar Dracula ini diturunkan dari ayahnya, Vlad II, yang bergelar Dracul (artinya Sang Naga dalam bahasa Romania). Awalnya, gelar ini adalah Draculea, di mana akhiran ‘ulea’ dalam bahasa Romania bermakna ‘putra dari’. Dengan demikian Draculea berarti ‘putra sang naga’. Pada perkembangan selanjutnya, Draculea berubah menjadi Dracula atau Draculya. Dia dikenal sebagai seorang tiran yang kejamnya tidak terperi.  Dia gemar menyiksa orang dengan cara dipancang, ditusukkan tiang runcing dari tubuh bagian bawah sampai tembus ke bagian atas, kemudian tiang itu ditanam, sehingga membuat mayat itu berkibar-kibar mengerikan. Bahkan sejarah mencatat bahwa dia pernah melakukan pemancangan pada sekitar 20.000 prajurit Utsmani, sehingga membuat Tirgoviste (ibukota Wallachia) menjadi hutan pancang dengan bau busuk yang memuakkan.

Dalam sejarah, Dracula pernah dijadikan sebagai tawanan dan harus tinggal di bawah pengawasan Ustmani. Walaupun berposisi sebagai tawanan, Ustmani memperlakukannya dengan baik dan mengajarinya berbagai macam ilmu. Sayangnya kelicikannya malah menjadi bencana besar bagi Ustmani. Dalam sebuah pertempuran malam di Wallachia, Dracula pernah hampir saja membunuh sultan Mehmed. Peristiwa tersebut dikenal sebagai The Night Attack. Untuk merespons kebengisan Dracula, Sultan Mehmed pernah memimpin langsung pasukannya untuk menyerang Wallachia, namun ketika dia baru saja memasuki gerbang kota itu, bau busuk yang kuat langsung menguar dan menggedor penciuman. Begitu menyaksikan kengerian yang ada di hadapannya, hutan pancang yang penuh dengan mayat-mayat yang tersangkut pada tiang dan membusuk, Sultan Mehmed muntah-muntah dan langsung memerintahkan pasukannya untuk mundur sementara.

Berbagai kontak dan pertempuran antara Fetih dan Dracula itulah yang menjadi inspirasi untuk serial novel THE CHRONICLES OF DRACULESTI ini. Inspirasi sejarah yang demikian membuat novel ini memiliki alur yang cepat dan keras. Di dalamnya dikisahkan dengan begitu dramatis bagaimana kemuliaan dan kegungan Islam (yang diwakili oleh Fetih Sultan Mehmed), dan bagaimana kebengisan kaum kafir (yang diwakili oleh Dracula). Aroma jihad fi sabilillah dan perjuangan mempertahankan kemuliaan Islam merebak dengan sangat kuat di dalam novel ini. THE CHRONICLES OF DRACULESTI direncanakan akan terbit 10 seri. Saat ini sedang dipersiapkan untuk penerbitan seri ke-3. Novel ini bergenre fiksi-sejarah-Islam-ideologis.

Nabi Muhammad Dihina

Tidak ada yang bisa memungkiri bahwa Nabi Muhammad adalah satu-satunya manusia paling hebat dan agung dalam sejarah peradaban umat manusia sepanjang masa. Baik orang Islam sendiri maupun orang kafir mengakui kehebatan dan keagungan Nabi Muhammad saw. Sudah banyak pula kalangan yang membahas tentang berbagai perbuatan Nabi Muhammad bagi umat manusia yang kemudian membuat beliau menjadi agung dan hebat. Dengan demikian jika orang-orang mau bersikap objektif dan jujur sedikit saja, pastilah mereka akan turut mengakui betapa hebat dan agungnya Nabi Muhammad saw.
Sayangnya masih tetap ada saja kalangan yang menimpakan hinaan keji kepada Nabi Muhammad saw. Berbagai media, berbagai bentuk, dan berbagai propaganda keji telah digunakan untuk menghina Nabi Muhammad sejak dulu hingga sekarang. Menjelang keruntuhan Khilafah Islamiyah di Turki, sekelompok grup teater di Prancis pernah hendak mementaskan sebuah drama yang di dalamnya ada muatan pelecehan terhadap Nabi Muhammad. Hampir saja drama itu berhasil dipentaskan, Khilafah menyerukan kepada Prancis untuk segera menghentikan pementasan itu. Hingga kemudian Prancis benar-benar menghentikannya. Pada abad kita ini, sebuah media di kawasan Skandinavia yang bernama Jylland Posten pernah memuat karikatur yang menggambarkan Nabi Muhammad sebagai teroris. Anggota parelemen Belanda yang bernama Geert Wilders pun pernah membuat sebuah film yang berjudul Fitna, yang memuat penghinaan terhadap Islam dan Nabi Muhammad. Hingga baru-baru ini film Innocense of Muslims kembali mengguncang rasa keberagamaan kaum muslim. Gejolak terjadi di mana-mana. Demonstrasi ramai dilakukan kaum muslim. Jutaan muslim bereaksi keras terhadap film tersebut. Kedubes dan Konjen AS di berbagai negara dikepung oleh kaum muslim. Sayangnya penghinaan dan pelecehan terhadap Nabi terus berulang.
Tidak bisa tidak, kaum muslim wajib mendirikan kembali Khilafah Islamiyah yang akan melindungi secara nyata kehormatan Nabi Muhammad saw. Sebab Khilafah-lah yang dengan seluruh kewenangannya akan memiliki kekuatan untuk menindak tegas siapapun yang berani-berani menghina Nabi Muhammad saw. Tanpa Khilafah, sekuat apapun demonstrasi dilakukan, penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw. akan terus berulang. walaupun begitu, aksi massa kaum muslim sangatlah penting untuk terus dilakukan untuk mendongkrak kerasadarn kaum muslim akan pentingnya Khilafah guna melindungi kemuliaan Nabi Muhammad saw. Tetap maju!