Senyum Membawa Luka 3

poster caleg di persimpangan

poster caleg di persimpangan

Kalau umat Islam pada golput, apakah hal ini menyelesaikan masalah? Tidakkah nantinya malah akan menambah masalah lebih besar lagi, yaitu naiknya orang-orang nonmuslim ke pemerintahan? Apakah golput memang menjadi solusi bagi semua persoalan bangsa ini?

Itulah berbagai pertanyaan susulan yang muncul ketika kita membicarakan tentang golput. Pertanyaan itu akan selalu muncul, dari dulu juga pertanyaan itu selalu muncul. Saya ingat, ketika Indonesia baru pertama kali melaksanakan pemilu presiden secara langsung pada tahun 2004, pertanyaan itu sudah muncul. Karena kekhawatiran itulah kemudian umat Islam diserukan agar tidak golput.

Sekarang mari kita coba ikuti logika ini! Jangan sampai yang naik jadi pemimpin itu orang nonmuslim, nanti dia akan menerapkan berbagai kebijakan kufur yang menyusahkan umat Islam. Jadi umat Islam harus nyoblos. Okelah, sekarang sudah terpilih pemimpin muslim, apakah semuanya jadi sesuai dengan Islam? Kenyataannya tidak begitu. Pemimpin muslim itu tetap saja menerapkan berbagai kebijakan yang bertentangan dengan Islam yang dianutnya. Pelacuran dibiarkan saja, malah dilokalisasi, perjudian dibiarkan saja, pabrik miras juga masih dengan bebasnya berproduksi, negara asing dibiarkan saja merampok kekayaan alam kita, dan ini semua fakta yang sudah terjadi sejak jaman fir’aun masih bujangan (eh). Lantas apa bedanya pemimpin muslim dengan pemimpin nonmuslim kalau begini? Pemimpin muslim atau pemimpin nonmuslim tak akan jauh berbeda, jika sistem yang diterapkan masih saja sistem demokrasi-sekular.

Tapi kan kalau pemimpinnya orang Islam setidaknya dia tidak akan dengan vulgar menganiaya umat Islam! Benarkah seperti itu? Kenyataannya tidak seperti itu. Lihat saja, pemimpin negeri ini menyatakan bahwa dia mencintai Amerika dengan semua kesalahannya, padahal dia beragama Islam. Seorang muslim sudah seharusnya membenci kezaliman Amerika, sudah berapa banyak darah umat Islam yang ditumpahkan Amerika. Lihat saja, dia tidak menjaga kemurnian Islam, buktinya Ahmadiyah dia biarkan saja. Lalu apa bedanya pemimpin muslim dengan pemimpin nonmuslim? Hampir tak ada bedanya.

Jelaslah, dengan nyoblosnya umat Islam di dalam pemilu hampir-hampir tidak menyelesaikan masalah, malah banyak menambah masalah baru sebab sistem demokrasi tetap lestari. Sudah saatnya umat Islam memilih yang lain, bukan lagi pilihan-pilihan yang telah disediakan oleh sistem demokrasi. Dan pilihan itu adalah, mengenyahkan sistem demokrasi dari tata kehidupan kita dan menggantikannya dengan sistem Islam yang berasal dari akidah yang kita yakini. Apakah kita orang yang beriman? Jika ya, maka tentunya hanya sistem Islam sajalah yang kita perjuangkan. Namun bagaimana caranya? Untuk mengetahui caranya degnan lebih jelas tentunya kita harus mau meluangkan waktu kita untuk mempelajari Islam dengan intensif. Wallahu a’lam.

follow @sayfmuhammadisa

Senyum Membawa Luka 2

Ngakak banget!

Ngakak banget!

Nampaknya saya harus membuat pembicaraan saya tentang tema pemilu ini bersambung. Dari artikel saya sebelumnya, berarti bisa diambil simpulan bahwa saya menyuruh orang-orang untuk golput? Benarkah demikian? Golput bukanlah berarti tidak memilih, golput adalah juga sebuah pilihan. Jika di hadapan kita disodorkan daging babi masak tahi kotok, lalu bangkai kambing kuah darah segar, kemudian jeroan campur otak bangkai sapi, kita mau pilih mana? Pastinya kita tidak akan mau memilih, dan “tidak mau memilih” itu adalah sebuah pilihan juga.

Begitu juga halnya dengan pemilu. Jika saya memandang dari sudut pandang Islam, semua orang yang terlibat di dalam pemilu itu pilihan jelek. Kenapa begitu? Sebab tidak ada seorang pun di antara mereka yang bersedia untuk dengan serius dan konsisten memperjuangkan tegaknya kalimatullah (syariat Islam) di muka bumi ini. Saya tahu dari mana? Lihat saja slogan-slogannya, tidak ada yang secara lantang dan tegas menyatakan bahwa mereka ingin menegakkan syariat Islam. Kalau pun di sana ada “partai Islam”, mereka tidak tegas menyerukan penegakan syariat Islam itu, karena menurut mereka syariat Islam adalah dagangan yang tidak laku. Pada akhirnya partai-partai Islam itu menyuarakan slogan yang bersifat universal saja, seperti bersih, peduli, amanah, jujur, berani, harmoni, cinta, kerja, dan hal-hal semacam itu. Dan itu semua hampir tidak ada bedanya dengan partai-partai yang tidak berhaluan Islam.

Banyak parpol Islam yang berargumen bahwa berkecimpungnya mereka di dalam demokrasi bertujuan untuk mencegah agar umat Islam tidak dipimpin oleh pemimpin kafir. Kenyataannya, sekarang partai-partai Islam itu sendiri yang mengangkat orang kafir dan memajukan mereka di dalam pemilu. Hal ini jelas sebuah kemunafikan yang nyata. Saya geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin Allah sudi menolong kalau berjuang dengan kemunafikan macam begini? Berbagai dalih kemudian dikemukakan. Katanya semua itu dilakukan hanya sebagai strategi, dan dilakukan hanya pada daerah-daerah yang umat Islamnya minoritas.

Alasan macam apa itu? Apakah itu alasan yang benar? Tentunya semua itu hanyalah alasan dan dalih, sebab logika sederhana saja sudah bisa menangkis semua alasan itu. Sebuah partai Islam, tentunya tujuannya adalah memperjuangkan Islam. karena tujuannya untuk Islam itulah makanya disebut partai Islam. karena tujuannya adalah untuk Islam, tentunya orang-orang yang berada di dalamnya pun haruslah orang Islam, sekaligus orang yang mengerti Islam. Lantas apa jadinya kalau ada partai Islam, tapi menerima orang kafir bergabung bersamanya? Ini kan kacau sekali.

Dengan demikian, jelaslah dari sudut pandang Islam, tidak ada satu pun peserta pemilu itu yang menjadikan Islam sebagai solusi. Kalau kenyataan seperti ini, bagaimana mungkin saya sebagai orang Islam bisa memilih? Karena saya sedang belajar untuk mengamalkan Islam secara sempurna (kaffah), dan Islam mengajarkan saya untuk tidak memilih siapa pun yang tidak mau menerapkan syariat Islam, maka saya tidak akan mau memilih. Lantas bagaimana kalau banyak orang Islam yang berpikiran seperti saya? Nanti umat Islam dipimpin oleh orang kafir? Bukankah itu adalah bahaya yang jauh lebih besar? Mari kita bicarakan di artikel selanjutnya, insya Allah.

follow @sayfmuhammadisa

Senyum Membawa Luka

poster caleg di persimpangan

poster caleg di persimpangan

Sudah banyak persimpangan jalan dan gang yang telah dihiasi oleh wajah-wajah tersenyum, pose-pose patriotis, dan slogan-slogan menggugah. Tapi semua itu malah mengingatkan saya pada sebuah lagu dangdut milik almarhum Meggy Z, Senyum Membawa Luka. Apa yang sebenarnya sedang saya bicarakan? Atau siapa? Mereka adalah para caleg yang akan bertanding di Pemilu 2014. Mereka semua cocok sekali dengan lirik teganya… teganya… teganya…

konyol banget kampanyenya.

konyol banget kampanyenya.

Mungkin saya memang apatis dan skeptis, sehingga senyuman, slogan, dan janji-janji di poster-poster para caleg itu tidak menarik hati saya sama sekali. Yang ada, malah semua senyum itu membawa luka di hati saya. Sudah banyak fakta berbicara, sejak duluuuuuu sekali, ajang pemilu yang katanya adalah wahana rakyat untuk berpartisipasi dalam politik ternyata adalah parade besar-besaran penipuan terhadap rakyat. Dan fenomena ini selalu terjadi serta terus berulang.

Saya tidak terlalu berlebihan dengan menyebut pemilu adalah penipuan, sebab kenyataannya memang begitu. Katanya melalui pemilu itu rakyat turut andil dalam mengarahkan kemudi bangsa dan negara ini, padahal tidak. yang mengemudikan bangsa dan negara ini tetap saja hanya segelintir kalangan elit yang duduk di pemerintahan. Rakyat cuma dijadikan stempel kebijakan mereka, yang ironisnya, menyengsarakan rakyat sendiri. Proses ini selalu terjadi. Dari dulu selalu begitu. Nenek tua bangkotan di Sipiongot juga tahu kenyataan ini (sarkastik hiperbolis).

Kalau pemerintahan yang terbentuk dari pemilu itu adalah wujud dari kehendak rakyat, seharusnya semua kebijakannya mencerminkan kehendak rakyat. Logika ini sangat sederhana. Tapi kenyataannya tidak begitu. Berkali-kali, kehendak pemerintah berseberangan dengan kehendak rakyat, toh kehendak rakyat itu tetap diabaikan. Mau menaikkan harga BBM, rakyat menolak, BBM tetap naik. Jadi di sebelah mana pemerintahan dari hasil pemilu itu cerminan dari rakyat? Tidak ada sama sekali.

Dengan demikian, jangan mau rakyat ditipu berkali-kali dengan cara yang sama. Keledai yang super bodoh saja tidak sudi masuk ke lubang yang sama dua kali, lalu makhluk apa namanya kita ini kalau terus-terusan ditipu dengan cara yang sama berkali-kali? Mengenaskan sekali. Lantas bagaimana? Apakah kita harus golput, tidak memilih? Apakah golput itu menyelesaikan masalah atau malah menambah masalah? Mari kita bicarakan pada artikel selanjutnya, insya Allah.

follow @sayfmuhammadisa

Ada Kentut di Majelis Taklim Rasul

Menarik sekali pembahasan tentang syahadat sempurna yang disampaikan oleh ust. Felix Siauw di Majelis Taklim al-Ikhlas, Los Angeles, Amerika Serikat, pada bulan Mei 2013 yang lalu. Kita bisa menonton videonya di youtube. Dalam video itu digambarkan tentang bagaimana meraih syahadat yang membekas di dalam hidup dan kehidupan kita. Amat inspiratif dan powerful. Tapi bukan itu yang akan saya ceritakan di dalam artikel ini. Saya hanya ingin berbagi sebuah kisah yang disampaikan oleh ust. Felix di tengah-tengah materi tentang syahadat ini. Dari kisah ini kita bisa melihat betapa mulia dan indahnya akhlak Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam, dan memang pantaslah beliau yang dijadikan Allah sebagai suri tauladan bagi kita semua. Ini dia kisahnya.

Pada suatu hari, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam mengisi sebuah majelis taklim yang dihadiri oleh para sahabat dan kaum muslim pada umumnya. Ketika beliau sedang menyampaikan pembahasan materinya, tiba-tiba menguarlah bau-bauan yang aneh di tengah-tengah para peserta majelis taklim. Bau apakah itu? Bau (sori) kentut. Para hadirin mulai merasa risih karena bau itu jelas saja mengganggu aktivitas pernafasan dan metabolisme tubuh. Dan tentu saja tidak akan ada seorang pun yang mau mengacungkan tangan kemudian mengakui perbuatan itu di tengah-tengah ramainya jamaah majelis taklim, di depan Rasul pula. Muka mau ditaruh di mana?

Sebagai seorang Rasul, tentu saja beliau mengetahui siapa orang yang melakukan perbuatan itu. Kalau kita ada di posisi Rasul, mungkin kita akan langsung menunjuk hidung orang itu, kemudian bilang “hey kamu kentut ya? Pergi wudhu gih sono.” Kebayang banget akan betapa hancurnya hati orang itu dan akan betapa malunya dia karena kita mempermalukannya di depan semua orang. Namun Rasul yang mulia tidak berbuat seperti itu.

Ketika orang-orang sudah terlihat mulai terganggu dengan bau-bauan yang aneh itu, Rasul bersabda kepada semua orang, memerintahkan semua peserta majelis taklim yang hadir untuk kembali berwudhu. Subhanallah, shollu ‘ala rasulillah. Dengan tindakan seperti ini, Rasul telah menyelamatkan kemuliaan dan kehormatan orang yang kentut itu (yang entah siapa) di hadapan semua orang. Rasul dengan sikapnya yang welas asih telah menutup aib orang itu. Betapa bahagianya kita, umat Islam, dianugerahi Allah seorang panutan yang mulia, Rasulullah Muhammad shalallhu ‘alayhi wasallam.

@sayfmuhammadisa

Seorang Syekh dan Demokrasi

out_of_series___Zoophilia_2_by_AndeOn_BRMenarik sekali apa yang dipesankan seorang Syekh yang dirahmati Allah, Syekh Abdul Qadim Zalloum, berikut ini, “Di antara bahaya yang paling mengerikan yang menimpa seluruh umat manusia, ialah ide kebebasan individu yang dibawa demokrasi. Ide ini telah mengakibatkan berbagai malapetaka secara universal, serta memerosotkan martabat masyarakat di negeri-negeri demokrasi sampai ke derajat yang lebih hina daripada derajat segerombolan binatang.”

Sebagaimana yang kita ketahui, demokrasi mewajibkan kebebasan berikut dijunjung tinggi-tinggi, yakni kebebasan berkeyakinan, kebebasan kepemilikan, kebebasan berpendapat, dan kebebasan berekspresi. Ide kebebasan individu yang telah berhasil menjatuhkan manusia ke derajat hewan seperti yang dimaksud Syekh Zalloum di sini, adalah ide kebebasan berekspresi.

Di dalam Alquran, Allah yang Mahamulia berfirman, “Dan sungguh akan kami isi neraka jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata, tapi tidak digunakan untuk melihat (tanda kekuasaan Allah), dan mereka memiliki telinga, tetapi tidak digunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. Al A’raf ayat 179).

Ayat ini relevan sekali untuk menggambarkan kondisi masyarakat yang diciptakan oleh ide kebebasan individu di dalam sebuah negara demokrasi ini. Konsep kebebasan individu akan memberikan peluang sebesar-besarnya kepada setiap orang untuk melakukan “apapun” yang mereka sukai, dengan hanya satu batasan, yakni tidak boleh mencederai kebebasan orang lain. Kira-kira seperti itulah asas dasar yang diterapkan oleh negara demokrasi hampir di seluruh dunia. Dan hal ini, seperti yang telah disampaikan oleh Syekh Zalloum dan surat Al A’raf di atas, telah menjatuhkan derajat manusia kepada derajat hewan ternak yang rendah.

Jika hewan ternak punya mata sehingga bisa melihat, maka manusia pun seperti itu. Jika hewan ternak memiliki telinga sehingga bisa mendengar, maka manusia pun begitu. Tapi ada sesuatu yang tidak dimiliki oleh hewan ternak sehingga membuat mereka menjadi makhluk yang rendah, mereka tidak memiliki akal dan hati yang bisa digunakan untuk berpikir, merenung, dan memerhatikan ayat-ayat Allah. Sementara manusia, selain memiliki mata dan telinga, Allah juga memberinya akal dan hati, yang karenanya manusia menjadi makhluk mulia dengan derajat yang tinggi.

Karena ketiadaan akal itu, hewan ternak bertindak hanya berdasarkan nalurinya (hawa nafsunya) saja. Hewan ternak bisa mengenal jenis makanan apa yang bisa ia makan, murni hanya karena insting (naluri) yang sudah built-in di dalam dirinya. Ia juga mengenal bagaimana caranya berhubungan intim dengan lawan jenisnya untuk berkembangbiak, murni hanya karena insting. Hewan ternak tidak bisa melawan insting alami ini. Tidak pernah kita temukan, misalnya, sapi berhubungan intim dengan kambing (bagaimana jadinya campuran sapi dan kambing? Jangan-jangan nama spesies baru ini jadi “sambing”).

Namun ide kebebasan individu ini sanggup membuat umat manusia melakukan hal-hal yang bahkan hewan ternak pun tidak pernah melakukannya. Karena ide ini, asal sama-sama senang dan tidak mengganggu orang lain, seorang lelaki dengan sesama lelaki bisa menikah dan berhubungan intim secara sah dan legal. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan hewan ternak sama sekali. Di negara-negara barat, undang-undang yang melegalkan pernikahan sesama jenis sudah sejak lama disahkan.

Seperti yang saya sebut di atas, kita tidak pernah menemukan ada sapi berhubungan seks dengan kambing. Tapi ada banyak manusia di luar sana yang berhubungan seks bukan dengan manusia, melainkan dengan binatang. Tindakan ini istilahnya beastiality atau zoophilia. Saya geleng-geleng kepala saat membaca tentang hal ini. Apa nggak jijik ngeseks sama binatang?

Tapi ternyata, seperti yang dilaporkan oleh vivanews, tindakan ini legal untuk dilakukan di Jerman sejak tahun 1969. Karena aturan ini, ada banyak rumah bordil hewan di Jerman. Namun komite pertanian Parlemen Jerman dan beberapa kelompok pecinta hewan mengajukan pelarangan tindakan ini karena diduga akan menyakiti binatang. Kebijakan ini ditentang keras oleh orang-orang yang suka ngeseks sama binatang, yang tergabung dalam Zeta (Zoophile Engagement for Tolerance and Information). Ketua organisasi ini, Michael Kiok, menyatakan akan mengajukan gugatan hukum jika undang-undang ini disahkan. Dia bilang ukuran tindakan penyiksaan binatang dalam hal ini sangat bias dan tidak jelas.

“Dasar keyakinan para zoophile (orang yang demen ngeseks dengan hewan) adalah tidak melakukan apa yang tidak ingin dilakukan binatang itu,” kata Kiok. “Binatang mampu menunjukkan apa yang mereka mau atau tidak mau. Saat saya melihat anjing saya, saya tahu apa yang dia mau. Binatang lebih mudah dimengerti ketimbang wanita.” Hehehe!!! Kasian banget ya kaum wanita yang sulit dimengerti.

Mestinya para zoophile ini dinobatkan sebagai penyayang binatang paling tulus, karena mereka tahu kapan dan bagaimana ciri-ciri ketika hewan piaraan mereka horni, dan dengan ikhlas mereka memenuhi hasrat terpendam hewan piaraan itu. Setres banget!!!

Tanggal 14 Desember 2012, Bundestag (parlemen tinggi Jerman) melakukan voting terkait dengan isu ini. Mungkin saja tindakan menjijikan ini sudah dilarang. Saya kurang tahu beritanya. Namun di Belgia, Denmark, dan Swedia, praktik ini dilegalkan.

Kembali kita renungkan apa yang disampaikan oleh Allah swt dalam Alquran, jika kita tidak mau menggunakan mata, telinga, serta akal dan hati kita untuk menemukan kebenaran Islam kemudian taat kepada semua aturannya, maka tentu saja derajat kita akan lebih rendah daripada semua hewan ternak, sapi, kambing, dan ba**. Na’uzubillahi min dzalik. Dan sekarang saatnya, umat Islam berhenti menyerukan, memperjuangkan, dan bergerak di dalam sistem sesat demokrasi. Sebab demokrasi jelas-jelas barang HARAM.

follow @sayfmuhammadisa

Der Untergang

Seorang kawan saya yang amat baik memperkenalkan film Jerman ini kepada saya, judulnya Der Untergang. Dalam bahasa Inggris berarti ‘Downfall’, atau ‘Kejatuhan’ dalam bahasa Indonesia. Bagi para peminat film berlatarbelakang sejarah, saya amat merekomendasikan film ini (atau mungkin saya yang ketinggalan jaman ya? Karena film ini memang sudah rilis cukup lama).

Film ini berkisah tentang sepenggal fase hidup Adolf Hitlar sang Fuehrer di masa-masa menjelang keruntuhan Third Reich Jerman yang dengan susah payah dibangunnya. Sepuluh hari terakhir sebelum kekalahan Nazi. Dengan amat dramatis digambarkan bagaimana kehidupan di Fuehrer Bunker yang ada di bawah tanah kota Berlin. Ada adegan Adolf Hitler menikah dengan Eva Braun di saat-saat terakhir. Ada adegan pesta-pesta yang sendu di bunker itu. Ada juga adegan orang-orang Nazi yang bunuh diri di dalam bunker ketika mereka menyadari bahwa keruntuhan Jerman sudah tidak bisa ditahan lagi. Yang paling seru adalah adegan ketika Hitler sedang marah-marah kepada para jenderalnya. Itu orang yang memerankan Hitler betul-betul mirip dengan Hitler, tukang casting-nya pinter banget. Yang cukup nyeremin adalah ketika adegan Hitler marah besar ketika mengetahui seorang jenderal kepercayaannya, Heinrich Himmler, pada akhirnya mengkhianatinya. Setelah itu Hitler frustasi. Yang amat menyedihkan adalah apa yang dilakukan oleh Menteri Propaganda Nazi, Joseph Goebbles, yang turut membunuh kelima anaknya dengan meminumkan racun di bunker itu. Istrinya pun bunuh diri bersamanya.

Third Reich Jerman di bawah pimpinan Adolf Hitler sudah hampir menguasai seluruh Eropa. Dia telah menginisiasi Perang Dunia II dan semua orang takut kepadanya. Namun kekuasaan Jerman tidaklah bertahan lama, Third Reich Jerman runtuh dan hangus terbakar bersama mayat Hitler.

Di dalam Alquran Allah telah berfirman bahwa Dia akan selalu mempergilirkan kemenangan dan kekuasaan pada diri umat manusia (lihat Ali Imran, 140-141). Untuk segala sesuatu ada masa kebangkitan dan masa keruntuhannya. Persia telah bangkit, mencapai puncak kejayaan, kemudian runtuh. Romawi juga begitu. Khilafah Islamiyah pun begitu. Dan saat ini kita sedang menyaksikan keruntuhan dari peradaban kapitalis-demokrasi. Di mana-mana umat manusia sudah tidak percaya lagi pada kapitalisme dan demokrasi. Kebangkitan sedang mengarah kepada umat Islam dengan sebuah keyakinan bahwa hanya dengan kembali kepada Islam yang murni sajalah umat Islam akan meraih kejayaan dan kemuliaannya untuk yang kedua kalinya, dalam naungan Khilafah Islamiyah. Kesadaran ini semakin membesar dari hari ke hari.

follow @sayfmuhammadisa