Menyambut Seseorang Yang Baru Tiba di Dunia

Sejak sebelum menikah, saya sudah mengazzamkan diri, bahwa kelak jika Allah berkenan menitipkan anak kepada saya, saya akan menyaksikan proses kelahirannya. Saya sendiri tidak tahu apakah saya sanggup menyaksikan proses yang amat menakjubkan sekaligus “mengerikan” itu. Sebab ada banyak suami di luar sana yang tidak berani menyaksikan proses melahirkan, dan lebih memilih untuk menyingkir dari istrinya ketika sedang melahirkan anaknya. Setelah urusan selesai, barulah dia datang. Saya memandang bahwa sikap seperti itu adalah wujud lain dari kepengecutan. Seorang suami seharusnya hadir pada suatu waktu yang paling penting dan paling kritis dalam hidup istrinya, yakni ketika melahirkan. Dia harus diam di sana, memberikan dukungan, ikut membantu, dan menyaksikan.

Ketika saya mengetahui bahwa istri saya telah mengandung anak kami yang pertama, saya masih tetap bertanya-tanya apakah saya sanggup menyaksikan kelahiran! Saya kembali menguatkan diri saya, dan berkata dalam hati bahwa saya harus sanggup. Hari-hari berlalu, janinnya tumbuh dengan baik, kuat, dan sehat. Semakin hari semakin besar, dan setelah datang waktunya, dia siap untuk dilahirkan.

Hari itu Jum’at, tanggal 30 Maret 2012, istri saya sudah mulas-mulas, dan kami segera melarikannya ke rumah sakit bersalin. Kata orang-orang, kelahiran anak pertama memang makan waktu agak lama. Prosesnya cukup panjang, dan dalam proses yang panjang itu saya harus menyaksikan istri saya menahan sakit di perutnya. Saya tidak tahu sakitnya seperti apa, karena saya tidak merasakannya, tapi pastinya sakit sekali. Sebab hal itu terlihat di raut wajah istri saya yang tegang, sampai-sampai saya mengira dia tidak akan pernah bisa tersenyum lagi. Baru segitu saja saya hampir-hampir tidak sanggup menyaksikannya, bagaimana lagi proses melahirkannya nanti? Sebenarnya saya ingin segera kabur dari ranjang persalinan itu, tapi saya menahan diri. Bagaimana mungkin saya bisa tidak hadir di sana, di waktu-waktu ketika istri saya amat membutuhkan saya! Saya harus berada di sana, ketika napas pertama anak saya berembus di alam dunia.

Maryam

Maryam

Saya tetap menunggu di ruang persalinan, hingga jarum jam hampir menunjukkan waktu zuhur. Saya jadi bingung, sudah dari pagi istri saya menahan sakit perut seperti itu, tapi sampai menjelang zuhur bayinya belum lahir-lahir juga. Sementara waktu solat Jum’at semakin menjelang. Akhirnya saya tak punya pilihan lain, saya pergi solat Jum’at, tugas saya menunggui digantikan oleh mertua saya. Usai solat Jum’at, ketika saya kembali dengan segera ke ruang persalinan, ternyata anak saya sudah lahir. Istri saya cerita, rupanya tak lama setelah saya pergi, air ketubannya pecah, dari “bukaan 5” hingga bukaan selanjutnya berjalan hanya dalam hitungan detik. Dan ketika khatib sedang naik mimbar, di waktu-waktu di mana doa dikabulkan Allah, anak saya lahir. Saya cuma bisa mengucap syukur memuji Allah. Anak saya yang pertama, seorang perempuan, saya namai dia Yukizahra Maryam Sayfal.

Sejak sebelum anak saya lahir, saya terbiasa membacakan hafalan Alquran saya ke perut istri saya, hampir setiap hari. Selesai mengaji, saya panjatkan doa-doa kepada Allah subhanahu wata’ala di dekat janin yang sedang tumbuh itu. Ini menjadi tradisi di dalam keluarga. Apa yang saya saksikan kemudian pada diri si Maryam amat mencengangkan saya. Ketika si Maryam berusia kira-kira satu setengah tahun, jika saya bertanya kepadanya “siapa Tuhan kita?”, dia akan langsung menjawab “Allah”, sambil mengacungkan telunjuknya. Padahal tidak ada kosakata lain yang bisa dengan baik dia ucapkan sebaik mengucap lafaz “Allah.” Saya benar-benar tidak menyangka.

Hari demi hari berlalu, ternyata Allah berkehendak menitipkan lagi anak kepada saya dan istri saya. Saya kembali bertanya-tanya, apakah untuk anak yang kedua ini, Allah mengizinkan saya menyaksikan kelahirannya? Saya tetap tidak berubah, saya tetap berniat untuk menyaksikan kelahiran sambil memohon kekuatan kepada Allah. Kalau nanti Allah berkehendak lain, kalau Dia tidak mengizinkan saya lagi untuk menyaksikan kelahiran, saya pasrahkan semuanya kepada Allah.

Perlakuan yang sama kepada si Maryam saya lakukan juga kepada calon adiknya. Saya selalu membacakan hafalan Alquran ke perut istri saya ketika hamil anak kami yang kedua ini. Doa-doa pun selalu kami panjatkan kepada Allah yang mahamengabulkan doa. Ketika harinya sudah tiba, saya dan istri saya berangkat ke rumah sakit bersalin yang sama ketika melahirkan si Maryam. Istri saya ditempatkan di ranjang yang sama ketika dia melahirkan si Maryam.

Sejak pagi hari sudah “bukaan 4”, ternyata istri saya harus menahan sakit sampai menjelang sore. Ketika waktu ashar sudah menjelang, saya tinggalkan dulu istri saya di ranjang persalinan, untuk melaksanakan solat. Saya pasrahkan semuanya kepada Allah. Tak lama kemudian ketika saya kembali, ketuban istri saya sudah pecah. Tim medis sudah bersiap-siap untuk membantu proses persalinan. Saya hadir di saat yang tepat, ternyata kali ini Allah mengizinkan saya menyaksikan kelahiran. Saya kembali bertanya kepada diri saya sendiri, apakah saya sanggup? Istri saya dan beberapa tim medis pun bertanya tentang kesanggupan saya. Maka saya kuatkan diri saya. Saya harus sanggup.

Rasa sakit di perut istri saya makin menghebat, tim medis sudah bersiap-siap. Saya hadir di sisi istri saya membisiki kalimat-kalimat toyyibah. Saya bantu mendorong, sementara istri saya mengejan sambil menahan sakit. Saya gemetaran. Ruangan persalinan itu dingin, tapi saya keringatan. Setelah berjuang sedemikian kerasnya, anak itu pun lahirlah. Anak yang baru lahir itu diangkat oleh dokter sambil mengucap syukur. Selang alamiah masih terpasang di pusarnya, warna kulitnya putih abu-abu bercampur lendir dan darah, saya menyaksikannya sambil melongo seperti orang o’on, dan saya tidak akan pernah melupakan momen itu.

Hana

Hana

Saya mengucapkan puji dan syukur kepada Allah sebab Dialah yang berkuasa dan berkehendak. Anak kedua kami juga seorang perempuan, saya namai dia Hanasaliha Aysya Sayfal. Semoga Maryam dan Hana bisa tumbuh menjadi perempuan yang salehah, yang menjaga diri serta agamanya, dan mengabdikan diri mereka kepada Allah subhanahu wata’ala sepanjang hidup mereka. Saya terkenang pada sabda Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam, jika seseorang memiliki dua orang anak perempuan, kemudian dia mendidiknya sepenuh hati untuk menjadi perempuan yang salehah, maka surga telah dijaminkan untuknya. Subhanallah. Semoga.

Awas, Ada Pejabat!!!

Jalan berlubang yg amat membahayakn pengendara.

Jalan berlubang yg amat membahayakn pengendara.

Lalulintas kota Medan memang menyebalkan dan memuakkan. Sudah hampir tiga tahun saya tinggal di kota ini dan saya masih tetap tidak bisa berhenti mengurut dada dan menggelengkan kepala dengan semua kondisi ini, padahal semuanya saya hadapi hampir setiap hari. Selama tinggal di Sukabumi, saya tidak pernah sekali pun mengalami kecelakaan lalulintas. Tapi selama tinggal di Medan, kalau dihitung-hitung, saya sudah tiga kali kecelakaan motor.

Kondisi jalan yang banyak lubangnya, kendaraan-kendaraan berat yang banyak berlalulalang di jalan, lampu merah yang cukup sering mati, pasar tumpah, polusi, orang-orang yang menyeberang jalan seenaknya, plus sikap pengendara yang juga seenaknya, membuat kondisi lalulintas di kota Medan sangat memuakkan (terutama di kawasan sekitar Kampung Lalang yang hampir setiap hari harus saya lewati karena memang tidak ada lagi jalan lain, kalau pun ada harus memutar jauh). Kalau di Medan, lampu merah tandanya jalan, lampu hijau tandanya ngebut! Luarbiasa sekali.

Mobil dinas mewah pejabat.

Mobil dinas mewah pejabat.

Hari Sabtu kemarin (tanggal 21), saya harus keluar untuk menyelesaikan sesuatu. Dengan berkendaraan motor saya tempuh perjalanan melewati semua kesemrawutan tadi. Saya naik motor sambil berzikir dan menebalkan kesabaran. Walau pun sudah begitu, kadang masih keluar juga sumpah serapah ketika menemukan orang-orang berkendara dengan sembarangan (terutama angkot di Medan yang doyan ugal-ugalan). Setelah urusan selesai, saya pun menempuh perjalanan kembali untuk pulang.

Saat lagi enak-enaknya mengemudi motor di kawasan Jalan Sei Batang Hari, terdengarlah suara ribut klakson dari belakang. Ternyata ada sebuah motor besar yang dikendarai oleh Polisi Militer yang suara klaksonnya besar sekali dan memekakkan telinga. Hari itu terjadi kemacetan di banyak titik di kota Medan, dan motor Polisi Militer itu membunyikan klakson agar semua kendaraan minggir seolah-olah jalan itu punya bapak moyangnya. Hati saya berbisik, pasti ada pejabat yang bakal lewat.

Saya pun menjadi korban suara klakson yang ribut itu, maka saya minggir, membiarkan rombongan itu mendahului, begitu pula yang dilakukan kendaraan-kendaraan lain. Dugaan saya benar saja, ternyata itu adalah rombongan pejabat. Di belakang motor Polisi Militer tadi berbaris mobil-mobil mewah, yang salah satunya adalah mobil Velfire warna hitam. Mata saya melirik pada plat mobil itu, ternyata nomor platnya unik, “RI 18”. Hal ini makin menguatkan dugaan saya bahwa iring-iringan itu adalah iring-iringan pejabat. Ketika saya tanya sama Mbah Gugel tentang RI 18 tadi, ternyata jawabannya adalah nomor plat Menteri Pertahanan RI.

Terus terang, hati saya tersinggung ketika iring-iringan itu mengklakson-klakson dan menyuruh saya minggir dari jalan. Sombong benar para pejabat, seolah-olah jalan itu milik bapak moyangnya sendiri. Padahal jalan itu dibuat dari uang rakyat, berarti jalan itu milik saya, tapi ketika pejabat lewat saya disuruh menyingkir. Padahal kondisi sedang macet, tapi semua kendaraan lain disuruh menyingkir. Pejabat harus didahulukan.

Mungkin pejabat itu sedang buru-buru karena ada urusan penting! Memangnya urusan dia doang yang penting? Tapi kan dia lagi ngurusin negara, jadi harus buru-buru. Udah tahu lagi macet, kenapa nggak mau menikmati macetnya? Banyak pejabat yang berlagak sibuk kesana-kemari, tapi kenapa hampir semua aktifitas mereka tidak berakibat positif pada kesejahteraan rakyat? Kenapa jalan-jalan masih banyak yang berlubang? Kenapa lalulintas masih banyak yang semrawut? Kadang-kadang saya merasa negara ini nggak ada pemerintahannya, karena rakyat dibiarkan saja mengurusi urusannya sendiri. Seperti inilah negara sekular-kapitalis-demokrastis.

Perang Salib dan Penyakit Wahn Pada Kaum Muslim

Pengepungan Jerusalem tahun 1099.

Pengepungan Jerusalem tahun 1099.

Pada zaman dahulu kala, sekitar awal abad ke-11 Masehi, pernah terjadi sebuah perang panjang antara umat Kristen bangsa Franks dan umat Islam. Perang itu saat ini dikenal sebagai Perang Salib.

Semangat Perang Salib bangsa Franks disulut oleh Paus Urbanus II dalam khotbahnya yang disampaikan di depan para petani, para kesatria, dan para pendeta, pada tanggal 25 November 1095 di depan Konsili Clermont. Efek lanjutan dari khotbah ini adalah euforia keimanan hampir di seluruh Eropa Barat, Paus Urbanus telah mencanangkan sebuah musuh baru yang harus dimusnahkan oleh umat Kristen, yakni kaum muslim. Sebelum periode ini, umat Kristen Latin di Eropa Barat bermusuhan dengan sesama kalangan Kristen, tepatnya dengan Kristen Ortodoks Yunani di Eropa bagian Timur (Byzantium).

Setahun kemudian, tepatnya tahun 1096, berangkatlah ribuan pasukan yang dipimpin para bangsawan Eropa Barat, bersama dengan ribuan peziarah menuju dunia timur. Misi mereka adalah membebaskan wilayah-wilayah milik kekaisaran Byzantium yang telah diambil alih oleh muslim Turki Saljuk di kawasan Anatolia, kemudian dari sana berbaris terus

Godfrey de Bouillon bersama Bohemond de Taranto, dan komandan Perang Salib yang lain.

Godfrey de Bouillon bersama Bohemond de Taranto, dan komandan Perang Salib yang lain.

menuju tanah suci Jerusalem dan membebaskan Gereja Makam Suci. Adalah amat memalukan, tempat yang paling suci bagi umat Kristen berada di bawah kekuasaan kaum muslim. Beberapa kesatria yang terkenal yang memimpin Tentara Salib pertama ini adalah Godfrey de Bouillon, Bohemond de Taranto, Tancred de Taranto (keponakan Bohemond), Robert de Flanders, dll.

Ketika pada tahun 1099 Tentara Salib berhasil menduduki Jerusalem, terjadilah sebuah pembantaian besar-besaran yang menjadi luka dalam bagi sejarah umat manusia. Ribuan kaum muslim dan orang Yahudi dibantai di Jerusalem, sampai-sampai Bait Sulaiman digenangi darah setinggi kaki kuda. Begitulah kaum kafir jika berperang, mereka pasti membantai. Karena peristiwa itu terjadilah pengungsian besar-besaran kaum muslim keluar dari Jerusalem.

Salah satu sebab jatuhnya Jerusalem ke tangan kaum kafir bangsa Franks adalah karena hati kaum muslim pada masa itu sudah dihinggapi penyakit wahn. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam menjelaskan dalam salah satu hadisnya, wahn adalah sebuah penyakit hati, yakni terlalu mencintai dunia dan takut mati. Ketika itu hidup kaum muslim sudah terlalu enak, sehingga sebagian besar mereka malas berjihad. Dalam artikel ini akan saya kisahkan tentang hal ini. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua. Aamiin.

Kedatangan Para Pengungsi Perang Salib

Sejarahwan muslim abad pertengahan, Izzuddin ibnu al Atsir, mengisahkan tentang Perang Salib bangsa Franks ini. Rombongan kaum muslim yang berhasil melarikan diri dari pembantaian itu kemudian mengungsi ke negeri-negeri muslim di sekitar Jerusalem. Salah satu kota besar yang menjadi tempat tujuan pengungsian adalah Damaskus.

Dalam kondisi yang amat memprihatinkan, para pengungsi ini memasuki Damaskus dengan harapan mendapatkan pertolongan dari saudara sesama muslim. Para pengungsi ini disambut baik oleh Qadhi Abu Sa’ad al Harawi. Beliau mengatakan bahwa para pengungsi dari  Jerusalem ini tidak perlu malu untuk menjadi orang-orang yang berhijrah, sebab Rasulullah pun adalah generasi muhajirin yang pertama. Hijrah itulah yang kemudian menjadi titik tolak bagi Rasulullah untuk mengambil kembali kampung halamannya, Makkah, dan membersihkan Makkah dari berhala di kemudian hari.

Qadhi al Harawi berupaya keras memerjuangkan nasib para pengungsi Perang Salib ini. Bersama dengan serombongan pengungsi, beliau mengadakan perjalanan ke Baghdad, yang ketika itu menjadi ibukota Kekhilafahan. Beliau berniat untuk mendorong Khalifah agar membantu kaum muslim dan merebut kembali Jerusalem dari tangan bangsa Franks. Ketika itu kekuatan Khilafah Abbasiyah telah menurun dan kekuasaan politik Khalifah menjadi amat kecil. Khalifah membentuk semacam komisi, yang tentu saja tidak menghasilkan apa-apa.

Ketika itu bulan Ramadhan, orang-orang sedang berpuasa. Qadhi al Harawi bersama dengan rombongan pengungsi bergerak ke masjid Khalifah. Di masjid itu, al Harawi sengaja membatalkan puasanya dan bahkan melakukannya dengan sangat demonstratif di depan semua orang. Ketika melihat hal itu, jamaah masjid jadi tersinggung dan marah, kok ada orang Islam tengah hari bolong nggak puasa, jabatannya qadhi lagi, di depan umum pula.

Al Harawi berdiri dengan tenang, beliau mengatakan kepada semua orang, kenapa mereka begitu tersinggung jika ada orang membatalkan puasa di siang bolong, tetapi diam saja ketika tanah suci Jerusalem direbut dari tangan kaum muslim, dan saudara-saudara seiman dibantai dengan keji oleh kaum kafir? Pertanyaan itu begitu menohok, dan rombongan pengungsi itu menceritakan kembali semua tragedi yang terjadi pada Jerusalem dan umat muslim di sana. Para jamaah menangis tersedu-sedu dan berdoa, tetapi tentu saja hanya itu yang mereka lakukan. Padahal yang diinginkan al Harawi adalah mereka semua mengangkat senjata untuk merebut kembali tanah suci Jerusalem dan membela darah kaum muslim yang telah ditumpahkan. Al Harawi merasa muak, kemudian memimpin rombongan sambil berteriak di jalan-jalan, “Aku melihat para pendukung iman yang ternyata lemah.”

Kondisi saat itu mirip dengan kondisi hari ini, di mana kaum muslim bersikap apatis terhadap penderitaan saudara seaqidah yang sedang dianiaya dan terjajah. Kebanyakan kaum muslim pun tidak peduli dengan berbagai serangan kaum kafir terhadap negeri-negeri kaum muslim, yang seharusnya membuat mereka memersiapkan diri dan senjata mereka untuk memerangi kaum kafir.

Namun, satu hal yang membedakan kondisi saat itu dengan kondisi hari ini adalah kehadiran Khilafah Islamiyah di tengah-tengah kaum muslim. Saat itu, walau pun kondisi Khilafah Abbasiyah sudah sangat lemah, tetaplah kaum muslim memiliki seorang pemimpin umum yang memang diwajibkan oleh Allah dan RasulNya untuk ditaati. Keberadaan Khilafah Islamiyah itulah yang kemudian mengondisikan kaum muslim untuk memersiapkan diri dan senjata, guna merebut kembali negeri-negeri kaum muslim. Hal ini terlihat dengan berkecamuknya berbagai aksi jihad tak lama setelah direbutnya Jerusalem oleh kaum kafir bangsa Franks. Beberapa di antaranya dipimpin oleh Imaduddin Zangi dan Nuruddin Zangi, hingga pada akhirnya Jerusalem berhasil diambilalih kembali oleh kaum muslim di bawah pimpinan Shalahuddin al Ayudi.

Sementara pada hari ini, kaum muslim tidak memiliki seorang pemimpin. Tidak ada seorang Khalifah yang mengatur kaum muslim. Kondisi kaum muslim terpecah belah dalam banyak sekali negar-bangsa yang sibuk dengan urusannya masing-masing, dan tetap membuat kaum muslim tenggelam dalam penyakit wahn. Akibatnya, kebanyakan kaum muslim membiarkan saja berbagai serangan kaum kafir terhadap negeri-negeri kaum muslim. Darah saudara-saudara kita dibiarkan saja tertumpah. Memprihatinkan sekali.

Kewajiban kitalah untuk mengembalikan kepemimpinan umum kaum muslim, Khilafah Islamiyah, yang dengan itu akan terhimpun kekuatan yang amat besar, yang dengan izin Allah akan berhasil mengusir kaum kafir dari negeri-negeri kaum muslim, dan membuat kaum kafir itu membayar darah serta nyawa kaum muslim yang telah mereka bunuh dengan harga yang pantas, kehinaan mereka di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

Follow @sayfmuhammadisa on twitter

Bedanya Abu Lahab dengan Abu Gosok

Gambar orang pitak ini tidak ada hubungannya dengan artikel.

Gambar orang pitak ini tidak ada hubungannya dengan artikel.

Saya sendiri nggak tahu apa bedanya Abu Lahab dengan Abu Gosok. Setahu saya Abu Lahab adalah seorang paman Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wasallam yang merupakan salah seorang gembong kekufuran sekaligus penentang dakwah Nabi. Sementara Abu Gosok adalah sebuah alat tradisional untuk membersihkan piring-piring dan panci yang kotor (ehm!). Jadi apa hubungannya Abu Lahab dengan Abu Gosok? Kayaknya nggak ada hubungannya sama sekali. Lalu kenapa saya membuat judul seperti itu? Yaaa, terserah saya, ini kan artikel saya (eeaaak!).

Tapi baiklah akan saya hubungkan juga artikel saya ini dengan Abu Lahab. Jadi, pada zaman dahulu kala, sebelum Islam diturunkan, orang-orang Arab jahiliyyah itu sudah mengakui bahwa pencipta semesta alam itu adalah Allah. Di dalam Alquran surah Luqman ayat 25, Allah subhanahu wata’ala berfirman seperti ini, “Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab, ‘Allah,’ tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

Kalau kita bertanya kepada Abu Lahab, “Woy Abu Lahab, siapakah pencipta langit dan bumi?” Pastilah si Abu Lahab akan menjawab, “ya Allah lha.” Dia tahu dan mengakui bahwa Tuhan itu adalah Allah, sang pencipta langit dan bumi. Tetapi, sebagaimana kita ketahui, Abu Lahab ogah menyembah Allah, dia malah menyembah Latta, Uzza, Manat, dan Hubal. Dia juga ogah untuk taat kepada aturan Allah, dia malah taat kepada hawa nafsunya sendiri. Dengan kata lain, Abu Lahab memang mengakui bahwa Tuhan itu adalah Allah, tetapi pengakuan itu hanya di mulut saja. Karena perbuatan seperti itulah Allah menggelari dia sebagai orang kafir dan tempatnya di neraka.

Sekarang mari kita abaikan dulu orang kafir yang bernama Abu Lahab itu. Marilah kita sedikit membahas tentang sistem demokrasi yang sekarang ini tengah diagung-agungkan dan selalu dibela, bahkan oleh orang muslim. Kalau kita bersedia objektif dan jujur kepada diri dan hati kita sendiri, tentunya kita akan mengakui bahwa demokrasi itu tidak akan pernah bersesuaian dengan Islam. Tidak akan pernah sampai hari kiamat sekali pun. Demokrasi adalah sistem kufur yang tidak pernah berasal dari Islam sama sekali, dan terdapat banyak sekali dalil yang kuat yang membuktikan hal itu. Berbagai kajian telah dilakukan dan berbagai rilis telah disebarkan untuk menjelaskan betapa kufurnya demokrasi itu. Sekarang, tinggallah kita, apakah kita bersedia untuk mengakui hal itu, dengan tulus dan ikhlas, kemudian menarik diri dari hiruk-pikuk demokrasi?

Artikel ini ingin sekali saya hubungkan dengan acara Debat TVONE beberapa hari yang lalu, yang mengambil tema “Golput Haram!”. Baru saja beberapa menit saya tonton acara itu, eeehhh mati lampu. Saya jadi sebal sekali dengan pemadaman listrik bergilir yang akhir-akhir ini selalu terjadi di Medan. Namun dari beberapa menit yang berhasil saya tonton itu, terbitlah rasa keprihatinan yang amat besar di dalam hati saya. Ada orang-orang yang beragama Islam, berasal dari partai Islam, tetapi membela demokrasi habis-habisan, dan mengenyampingkan hukum Allah dengan berbagai dalih (bukan dalil), serta mencibir Khilafah Islamiyah yang merupakan satu-satunya sistem pemerintahan yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam.

Sikap seperti para politisi dari partai Islam tadi mirip (saya tidak mengatakan ‘sama’) dengan sikapnya Abu Lahab di atas. Abu Lahab mengaku bahwa Tuhan pencipta alam itu adalah Allah, tetapi dia tidak mau menyembah Allah, tidak mau taat kepada hukum Allah. Sementara para politisi muslim tadi, mereka mengakui bahwa Tuhan itu adalah Allah, mereka solat, mereka puasa, mereka zakat, mereka menaati perintah Allah dalam urusan ritual, tetapi mereka tidak mau menaati perintah Allah dalam urusan yang lebih besar lagi, yaitu menerapkan syariat Islam secara menyeluruh dalam naungan Khilafah Islamiyah, bahkan mereka mencibir Khilafah Islamiyah itu. Mereka ragu bahwa syariat Islam akan membawa kesejahteraan bagi umat manusia. Karena itulah saya menyebut sikap Abu Lahab dengan para politisi muslim tadi sekadar mirip.

Tetapi jangankan sama, mirip saja dengan perbuatan orang kafir adalah sebuah perbuatan yang tercela. Jadi jangan sampai perbuatan kita mirip dengan perbuatan orang kafir. Kita mau mengakui bahwa Tuhan itu Allah subhanahu wata’ala, kita mau solat, kita mau puasa, tetapi ketika diperintahkan untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah, kita malah menolak. Kita malah lebih memilih menerapkan demokrasi yang diajarkan orang-orang kafir. Padahal dengan mata yang amat telanjang dan nggak harus dipakein apa-apa lagi, demokrasi sudah jelas kerusakan dan pertentangannya dengan Islam. Na’uzubillahi minzalik.

Follow @sayfmuhammadisa on twitter

D’RISE Move On!

Cover D'RISE edisi terbaru, Januari 2014.

Cover D’RISE edisi terbaru, Januari 2014.

Setelah hibernasi beberapa bulan, akhirnyat majalah remaja Islam D’Rise akan terbit kembali pada bulan Januari 2014, awal tahun mendatang. Tentunya dengan semangat baru dan berbagai hal yang baru. Semoga terbitnya kembali D’Rise bisa membawa pencerahan pada generasi muda Islam yang saat ini sedang terus diterjang oleh virus liberalisme dan pergaulan bebas.

Hadirnya media remaja Islam memang amatlah penting, sebab amat banyak media sekular yang ada tentunya akan menyesatkan generasi muda Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini.

Untuk pemesanan dan pendafataran keagenan bisa menghubungi nomor 0858 10 400 774. Jangan sampe ketinggalan, dicetak terbatas lho.

Islam Disebarkan Dengan Pedang (Bagian 2)

Tentara Islam sedang berjihad fi sabilillah.

Tentara Islam sedang berjihad fi sabilillah.

Islam adalah sebuah mabda’ (dalam bahasa Indonesia artinya disepadankan dengan ‘ideologi’) yang unik. Tidak seperti agama lain yang hanya mengatur masalah moral dan spiritual, Islam juga mengatur tentang politik dan pemerintahan. Kalau agama lain hanya mengatur bagaimana caranya menyembah tuhan, Islam bukan hanya mengatur bagaimana caranya menyembah Allah subhanahu wata’ala, tetapi juga mengatur bagaimana hubungan dengan sesama umat manusia dan hubungan dengan diri manusia itu sendiri.

Ideologi kapitalisme dan sosialisme memang mengatur masalah perekonomian dan tatanegara, tetapi kedua ideologi ini tidak mengatur bagaimana caranya menyembah Tuhan dan tidak mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan aspek spiritual. Sementara Islam sangatlah unik, ia mengatur segala hal. Dari sini terlihatlah bahwa agama-agama dan ideologi-ideologi yang lain hanya mengatur beberapa aspek saja, sementara Islam mengatur seluruh aspek.

Allah subhahu wata’ala berfirman dalam Alquran, “Apakah hukum jahiliyah yang kalian kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin.” (Al-Maidah ayat 50). Jawaban dari pertanyaan ini sudah jelas, pastilah hukum Allah yang paling baik.

Karena Islam adalah sebuah sistem yang mengatur segala aspek kehidupan, tentunya Islam juga mengatur bagaimana tatakrama perang. Tidak seperti sistem-sistem lain yang mengabaikan hal ini, Islam memiliki aturan yang jelas dalam perang. Mari sama-sama kita bicarakan.

Santunnya Penaklukan Islam

Ada banyak sekali dalil yang menjelaskan tentang bagaimana Islam mengatur tatakrama perang. Semua ini menunjukkan bahwa Islam adalah sebuah sistem yang amat mulia dan amat manusiawi. Tidak seperti apa yang dilakukan oleh kaum kafir, setelah menguasai sebuah negeri muslim, pasti mereka melakukan pembantaian, persis seperti yang dilakukan oleh tentara salib bangsa Franks.

Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam mengajarkan hal ini kepada umat Islam dalam  Sebuah hadisnya, “Dari Buraidah ra., ia berkata, Rasulullah bersabda, ‘Berperanglah fi sabilillah dengan menyebut nama Allah, perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah, berperanglah dan jangan mencuri harta rampasan perang, jangan berkhianat, jangan mencincang mayat, dan janganlah membunuh anak-anak.” (HR. Muslim no, 1731). Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam juga melarang umat Islam membunuh wanita seperti terlihat dalam hadis berikut, “Dari Abdullah bin Umar ra. Ia berkata, ‘aku mendapati seorang wanita yang terbunuh dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah saw. Kemudian beliau melarang membunuh kaum wanita dan anak-anak dalam peperangan.” (HR. Bukhari no. 3015 dan Muslim no. 1744).

Dalam hadis yang lain, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Hanzhalah al Khatib berkata, ‘kami berperang bersama Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam, lalu kami melewati seorang wanita yang terbunuh yang tengah dikerumuni oleh manusia. Mengetahui hal itu, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda, ‘wanita ini tidak turut berperang di antara orang-orang yang berperang.’ Kemudian beliau bersabda kepada seseorang, ‘pergilah engkau menemui Khalid bin Walid, katakan kepadanya bahwa Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam memerintahkanmu agar jangan sekali-kali engkau membunuh anak-anak dan pekerja/orang upahan.’” (HR. Ibnu Majah no. 2842, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 701).

Dalam setiap penaklukan pun pasukan Islam dilarang untuk memaksa penduduk yang ditaklukkan itu untuk memeluk Islam. Islam hanya mengambil alih penguasaan politik dan pemerintahan dari sebuah negeri yang ditaklukkan, tetapi memberikan kebebasan kepada setiap penduduk negeri yang ditaklukkan itu untuk memeluk agama yang mereka inginkan. Karena itulah Islam dengan mudah tersebar ke berbagai penjuru dunia, dan bahkan para penduduk itulah yang masuk Islam dengan kerelaannya sendiri.

Fenomena ini diakui oleh Karen Armstrong di dalam karyanya yang berjudul Perang Suci (Holy War, The Crusades and Their Impact on Today’s World). Di dalam bukunya itu dia mengatakan, “… Masyarakat yang telah ditaklukkan tentara muslim memiliki pandangan yang cukup berbeda tentang jihad. Mereka tidak menganggap penaklukan oleh Islam sebagai bencana. Justru sebaliknya, penaklukan Islam adalah awal dari babak sejarah mereka yang baru dan menggairahkan” (Karen Armstrong, hal 86). Pada bagian yang lain dia juga mengatakan, “para Khalifah tidak mengizinkan prajurit muslim dan para jenderal untuk menjajah negeri-negeri yang mereka taklukkan” (ibid, hal 87).

Kembali, harus kita renungkan pertanyaan Allah subhanahu wata’ala di dalam Alquran, sistem apa yang paling baik, kalau bukan sistem dari yang mahabaik, yakni Islam. Penerapan kembali syariat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah akan memancarkan cahaya Islam ke seluruh penjuru dunia. Wallahu a’lam

Follow @sayfmuhammadisa on twitter

Islam Disebarkan Dengan Pedang?

Paus Urbanus II sedang berkhotbah menggelorakan Perang Salib.

Paus Urbanus II sedang berkhotbah menggelorakan Perang Salib.

Banyak kalangan yang telah terjebak dengan islamophobia (kebencian kepada Islam) menganggap bahwa tersebarnya Islam hingga meluas ke berbagai belahan dunia dengan menggunakan pedang. Islam mengobarkan perang kesana-kemari, kemudian memaksa orang-orang yang ditaklukkannya untuk memeluk Islam. Mereka kemudian melekatkan Islam dengan kekerasan, dan melekatkan Islam dengan imej mengerikan dan barbar. Ujung dari propaganda ini adalah penolakan terhadap penerapan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh) dalam naungan Khilafah Islamiyah.

Jika kita teliti sumber-sumber hukum Islam, yakni Alquran dan Assunnah, serta perjalanan sejarah Islam secara objektif dan jujur, tentunya kita akan menemukan bahwa peradaban Islam adalah peradaban yang paling santun dalam menggunakan pedang (kekerasan). Islam adalah satu-satunya agama dan ideologi yang mengatur tatakarama perang, sementara ideologi dan agama lain mengabaikan hal ini. Dan pengabaian ini mengakibatkan kekejian serta pembantaian, sekaligus kejahatan perang. Sebelum kita membahas bagaimana keagungan Islam dalam perang, mari kita bicarakan bagaimana keji dan biadabnya kaum kafir ketika berperang.

Kekejian Kaum Kafir

Salah satu peperangan yang terkenal antara Islam dengan Kristen adalah Perang Salib, orang Barat menyebutnya The Crudade. Perang Salib diawali oleh sebuah khotbah yang disampaikan oleh Paus Urbanus II di depan Konsili Clermont pada tanggal 25 November 1095. Khotbah yang disampaikan di hadapan petani, kesatria, dan para pendeta itu menyerukan agar orang Kristen Eropa melupakan semua permusuhan antara diri mereka sendiri, dan mengerahkan kekuatan mereka untuk memerangi orang Islam. Bangsa Turki Saljuk, kata sang Paus, adalah bangsa yang baru saja memeluk Islam, mereka adalah “ras yang terkutuk, ras yang sungguh-sungguh jauh dari tuhan, orang-orang yang hatinya sungguh tidak mendapat petunjuk dan jiwanya tidak diurus tuhan” (Karen Armstrong, Perang Suci, hal 27). Paus menjelaskan bahwa Turki Saljuk telah mengobrak-abrik Anatolia dan merebut wilayah-wilayah yang seharusnya masuk ke dalam Kekaisaran Byzantium. Setelah kaum Kristen menghabisi orang-orang Turki, mereka harus berbaris menuju tanah suci Palestina, kemudian merebut Jerusalem dari tangan orang Islam, dan membebaskan makam Yesus Kristus. Adalah memalukan bagi orang Kristen jika makam Yesus Kristus dikuasai oleh orang Islam.

Efek dari seruan ini amat luarbiasa. Kaum Kristen Eropa seolah-olah dikuasai oleh gairah keimanan yang amat kuat. Mereka meyakini bahwa membunuh orang Islam adalah sebuah pekerjaan suci. Pada musim semi tahun 1096 (jadi setahun kemudian), berangkatlah lima pasukan yang terdiri dari 60.000 tentara. Para tentara itu diiringi oleh para peziarah, mereka semua bergerak ke timur.

Pada tanggal 7 Juni 1099, tentara salib telah tiba di benteng kota Jerusalem. Histeria massa merebak dengan tiba-tiba, banyak prajurit yang tiba-tiba histeris dan menangis sejadi-jadinya karena melihat kota suci mereka. Pada tanggal 15 Juli 1099, pasukan salib mendesak kota Jerusalem dan kemudian menaklukkannya. Ketika itulah kota suci yang telah ditaklukkan oleh Umar bin Khaththab dengan jalan damai sejak ratusan tahun yang lalu berhasil direbut oleh tentara salib. Dan apa yang terjadi kemudian adalah bencana yang amat mengerikan. Karen Armstrong mengisahkan hal ini di dalam karyanya, Perang Suci.

Selama dua hari, tentara salib membantai kaum saracen (sebutan mereka terhadap muslim). Bahkan bukan cuma muslim, mereka juga membantai orang Yahudi. Penulis Gesta mengungkapkan, “mereka membunuh baik lelaki mau pun perempuan.” Keesokan harinya tentara salib memanjat kubah masjid al Aqsha dan membantai sekelompok muslim yang telah dijanjikan untuk mendapatkan perlindungan. Mereka menganggap orang Islam adalah penyakit berbahaya yang harus segera dimusnahkan dari kota suci. Dan jargon yang berkembang ketika itu untuk menyebut orang Islam adalah “najis”. Seorang saksi mata yang bernama Raymond de Aguiles menceritakan hari yang mengerikan itu.

“Sejumlah pemandangan indah mesti disaksikan. Beberapa tentara kami (dan yang ini sudah termasuk cukup bermurah hati) memenggal kepala para musuh mereka, yang lain memanah mereka sehingga mereka jatuh dari menara-menara. Yang lain menyiksa mereka lebih lama dengan membakar mereka. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki, dapat dilihat di jalan-jalan kota. Sampai-sampai orang yang berjalan di situ harus berhati-hati agar langkah kakinya tidak menginjak bangkai lelaki dan kuda. Tapi semua itu tidak berarti dengan semua yang terjadi di Kuil Sulaiman, tempat biasanya dilaksanakan berbagai upacara keagamaan. Apa yang terjadi di sana? Jika kukatakan yang sebenarnya, pasti itu akan melampaui kemampuan kalian untuk memercayainya. Jadi cukuplah kukatakan bahwa, paling tidak, di Kuil Sulaiman dan berandanya, pasukan kami menunggangi kuda yang bergerak di antara genangan darah setinggi lutut dan tali kekang kuda mereka. Benarlah itu suatu hukuman yang adil dan bagus dari tuhan, sehingga tempat ini dipenuhi oleh darah kaum tak beriman, karena tempat ini telah menderita begitu lama karena pelecehan mereka.”

Genangan darah setinggi kaki dan tali kekang kuda, sebuah pembantaian yang amat mengerikan dan memilukan. Sebanyak 40.000 jiwa kaum muslim tewas hanya dalam dua hari. Kekejian macam apa ini? Kenapa hal ini bisa terjadi? Jelas saja, sebab di dalam agama Kristen tidak ada aturan perang sama sekali. Karena itu yang kemudian berbicara adalah hawa nafsu yang rendah. Pada artikel selanjutnya akan bicarakan bagaimana santunnya Islam dalam berperang. Insya Allah.

follow @sayfmuhammadisa on twitter.