Sherlock Holmes vs Imam Syafi’i

Siapa yang tidak kenal Sherlock Holmes! Karakter detektif cerdas hasil karya Sir Arthur Conan Doyle ini amatlah memukau. Para pecinta Sherlock Holmes pun pasti tidak akan melewatkan film layar lebarnya yang dibintangi oleh Robert Downey Jr. Sudah dirilis dua film Holmes yang dibintangi oleh Downer Jr. (filmnya lumayan keren).

Sherlock Holmes begitu dikenal dengan kecerdasan dan ketelitiannya dalam mengamati lingkungan di sekitarnya, juga tempat kejadian perkara (TKP) dari kasus-kasusnya. Dengan kemampuan seperti ini dia jadi sanggup untuk menganalisis apa yang sebelumnya pernah terjadi di tempat-tempat itu dan memprediksi langkah apalagi yang akan diambil oleh sang kriminal yang sedang dikejarnya. Kemampuan seperti ini memang membutuhkan kecerdasan yang tinggi dan ketelitian pengamatan. Selain itu, pengalaman dan jam terbang pun amat dibutuhkan untuk bisa mencapai taraf kemampuan seperti itu.

Kalau melihat Sherlock Holmes yang keren banget itu saya jadi kepengen juga punya kemampuan seperti itu. Tapi ternyata bukan cuma Sherlock Holmes aja yang bisa, apalagi Holmes cuma tokoh fiksi. Ada juga seorang ulama panutan kita yang punya kemampuan lebih dari Sherlock Holmes. Malahan ulama kita ini bukan tokoh fiksi, tetapi tokoh nyata. Pernah hidup dan bernafas seperti kita. Beliau adalah permata kaum muslim, Imam Syafi’i.

Ada sebuah kisah yang keren sekali yang memperlihatkan kepada kita bahwa Imam Syafi’i memiliki kecerdasan yang luar biasa. Beliau bukan hanya ulama, tapi berbakat juga jadi detektif lho. Subhanallah!!!

Al Baihaqi meriwayatkan dari Al Muzani yang mengisahkan, suatu ketika ia duduk di masjid Jami’ bersama Imam Syafi’i. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang berjalan mengitari orang-orang yang sedang tidur di sana. Imam Syafi’i berkata kepada Rabi’, “Berdirilah dan beritahu kepada orang itu, bahwa budak hitamnya yang salah satu matanya terluka telah hilang.”

Rabi’ lalu bangkit dan menghampiri orang itu. “Budak hitammu yang salah satu matanya terluka hilang?” Tanya Rabi’.

“Benar,” jawab orang itu.

“Kemarilah,” ajak Rabi’.

Lelaki itu diajak Rabi’ untuk menemui Imam Syafi’i yang sedang berada di salah satu bagian masjid.

“Di manakah budakku?” Tanya orang itu kepada Imam Syafi’i.

“Pergilah, ia berada di penjara,” jawab Imam Syafi’i.

Orang itu kemudian pergi ke penjara dan mendapati budaknya memang ada di sana.

Al-Muzani merasa heran. Murid Imam Syafi’i itu lalu bertanya kepada gurunya. “Beritahu kami. Engkau telah membuat kami bingung.”

Imam Syafi’i menjawab. “Baik. Aku melihat seorang lelaki masuk dari pintu masjid dan berjalan mengitari orang-orang yang sedang tidur. Aku katakan dalam hati, dia pasti sedang mencari seseorang yang kabur darinya. Kemudian aku melihat ia mendekati orang-orang berkulit hitam, bukan orang berkulit putih. Aku katakan dalam hati, ia kehilangan budak hitam. Lalu aku melihat ia mendekati orang dari arah mata sebelah kiri, aku katakan salah satu mata budaknya itu terluka.”

Murid-murid Imam Syafi’i bertanya, “Lalu apa yang membuat engkau tahu bahwa budaknya ada di penjara?”

Imam Syafi’i menjawab. “Yang biasa dilakukan seorang budak adalah, bila lapar mereka mencuri, dan bila kenyang, mereka berzina. Karena itu aku memprediksi ia telah melakukan salah satunya. Dan ternyata memang benar.” (al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwadzi, jilid 8, hlm. 556-557, dalam Prof. Ibrahim al-Quraibi, Tarikh Khulafa, hlm. 365-366).

Nah, mantap kan ulama kaum muslim. Sherlock Holmes nggak ada apa-apanya. Semoga Allah selalu memberikan kita kekuatan untuk bisa meneladani para ulama. Amin… (follow @sayfmuhammadisa)

Advertisements

Sistem dan Sempurnanya Akhlak

arroyahKita pasti sudah sama-sama mengetahui bahwa Rasulullah Muhammad SAAW diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Beliau bersabda dalam salah satu hadisnya, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh,” (HR. Bukhari). Dari hadis ini jelas sekali apa tujuan sebenarnya Rasulullah diutus ke muka bumi. Sayangnya, yang kemudian timbul di tengah-tengah umat adalah tindakan yang bias dalam menerapkan hadis tersebut. Sehingga yang kemudian muncul adalah suara-suara sumbang terhadap dakwah kepada penegakan syariat Islam. Ngapain mendakwahkan syariah dan Khilafah? Nabi itu diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, bukannya untuk menegakkan Khilafah. Dakwah kok politiiiiiikkk melulu, emangnya Nabi mendakwahkan politik? Nabi itu diutus untuk menyempurnakan akhlak, bukannya demo-demo melulu untuk mengkritik pemerintah! Seperti itulah kira-kira lontaran yang banyak beredar di luar sana, selain itu masih banyak lagi.

Lalu bagaimana? Dari lontaran-lontaran tadi kok sepertinya dakwah untuk menegakkan syariah dan Khilafah itu tidak nyambung dengan tujuan bahwa Nabi kita diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia? Mari sama-sama kita bicarakan tema ini.

Tidak ada yang salah sama sekali dengan hadis di atas. Benar, bahwa Nabi kita diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Begitu juga tidak ada yang salah dengan aktifitas dakwah untuk menegakkan syariah dan Khilafah. Yang keliru adalah cara kebanyakan orang di luar sana dalam memahami keduanya.

Jika kita meneliti siroh Rasulullah SAAW dan perjalanan dakwah beliau, kita akan melihat bahwa beliau memang diutus untuk menyempurnakan akhlak umat manusia. Hanya saja kita harus lebih jeli lagi melihat bagaimana ‘cara’ beliau menyukseskan misi beliau itu. Untuk menyempurnakan akhlak manusia, Rasulullah mendakwahkan seruan-seruan akhlakiyah. Beliau berkata agar kita jangan suka sombong, jangan bohong, jangan berzina, jangan mencuri, harus murah senyum, harus patuh kepada kedua orang tua, dll. Kepada para pedagang beliau berkata agar jangan suka mencurangi timbangan, jangan suka menimbun barang, harus jujur tentang barang dagangannya, dan lain sebagainya.

Namun Rasulullah SAAW tidak berhenti sampai disitu saja. Beliau tidak berhenti hanya pada seruan-seruan akhlak saja. Tetapi beliau juga menegakkan sebuah sistem yang kokoh untuk menjaga agar akhlak umat manusia tetap lurus dan mulia, sistem tersebut adalah syariat Islam.

Secara legal-formal, beliau menerapkan sistem Islam tersebut di tengah-tengah kepemimpinan beliau di Negara Islam yang pertama di kota Madinah kala itu. Beliau tidak hanya melarang kita dari mencuri, kepada para pencuri beliau juga menerapkan hukum potong tangan seperti yang diajarkan oleh Allah di dalam al-Quran. Beliau bukan hanya mendakwahkan kepada kita agar jangan berzina, tetapi beliau juga menerapkan sanksi cambuk dan rajam kepada para pezina. Yang demikian itu agar perbuatan maksiat (seperti zina dan mencuri tadi) tidak menyebar di tengah-tengah masyarakat Islam. Umat Islam yang lain akan menjadi takut untuk melakukan perzinaan dan pencurian, sehingga akhlak mereka terjaga. Kepada para pedagang beliau juga tidak hanya mendakwahkan agar selalu berlaku jujur dan adil terhadap barang dagangannya. Namun beliau juga menerapkan sanksi yang berat jika ada pedagang yang berani menipu konsumennya dan mencurangi barang dagangannya.

Jelaslah bahwa dakwah untuk penerapan syariah Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah justru adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia itu sendiri. Sebab kemuliaan akhlak manusia sebenarnya adalah efek dari penerapan sebuah sistem di tengah-tengah umat manusia tersebut. Dengan diterapkannya sistem Islam secara menyeluruh di dalam naungan Khilafah, insya Allah akan tercipta manusia-manusia yang mulia akhlaknya sebagaimana akhlak para sahabat dan salafush shalih.

Di dalam sistem demokrasi kita bisa lihat sendiri, orang sebaik dan semulia apapun pasti akan terjatuh di dalam kubangan dosa dan nestapa, karena demokrasi pasti akan menyeret orang untuk menjadi busuk dan jahat. Bukti sudah bertebaran di mana-mana. Contoh pun sudah banyak. Tinggallah kita, apakah kita mau membuka mata dan hati kita untuk beralih kepada perjuangan yang mulia untuk menerapkan syariah Islam dan Khilafah Islamiyah? Life is Choice. (follow @sayfmuhammadisa)

Para Pemuja Demokrasi Mari Bertaubat!

sistem-dan-pejuang-demokrasi-memang-sampahSeruan bertaubat adalah seruan yang mulia, Insya Allah. Dan seruan ini khusus ditujukan kepada kaum muslim yang ikhlas dan tulus menginginkan perubahan negeri ini tetapi masih bergelut di atas jalan demokrasi. Jika kita sudi membuka mata dan hati kita lebar-lebar dan mau dengan tulus mengkaji demokrasi dari sudut pandang Qur’an dan Sunnah dan kaidah berpikir islami, pasti akan kita temukan bahwa demokrasi amat bertentangan dengan Islam. Sehingga hukumnya haram. Kaum muslim sudah sepatutnya keluar dari hiruk-pikuk demokrasi. Jangan lagi melibatkan diri di dalam aktifitas demokrasi.

Proses-proses demokrasi hanya akan menghasilkan pemerintahan kufur karena tidak akan sudi menerapkan syariat Islam. Sekaligus hanya akan menghasilkan pemerintahan yang menyengsarakan rakyat dan lebih mengabdi kepada negara kapitalis penjajah. Berkaitan dengan hal ini Rasulullah Saaw. pernah bersabda kepada Ka’ab bin ‘Ujrah di dalam hadis sahih yang dikeluarkan oleh al Hakim di Mustadrak ‘ala ash-Shahihayn: “Semoga Allah menjagamu ya Ka’ab bin ‘Ujrah dari Imarah as-Sufaha. Ka’ab berkata ‘apakah imarah as-Sufaha itu?’ Rasul bersabda, ‘para pemimpin yang ada sesudahku. Mereka tidak mengambil petunjukku dan tidak berjalan dengan sunnahku. Siapa saja yang membenarkan kebohongannya dan membenarkan kezalimannya, maka mereka itu bukan golonganku dan aku bukan dari golongan mereka, dan mereka tidak akan mengikutiku menikmati telaga (surga). Dan siapa yang tidak membenarkan kebohongannya, dan tidak membenarkan kezalimannya, maka mereka itu bagian dari golonganku dan aku bagian dari mereka, dan mereka akan mengikutiku menikmati telaga.’”

Pemerintahan kita sekarang dan banyak lagi pemerintahan di negeri-negeri muslim yang lain jelas adalah Imarah as-Sufaha seperti yang disebut Rasul Saaw. Mereka tidak mau berhukum kepada aturan Allah dan tidak mau berjalan di atas sunnah RasulNya. Mereka malah lebih memilih demokrasi. Jika merapat kepada mereka, Rasul tidak akan mau dekat-dekat dengan kita, na’uzubillah. Tinggalkan saja demokrasi, beralihlah kepada perjuangan dakwah untuk menerapkan syariat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah. (follow @sayfmuhammadisa)

Mengkritik Pemerintah Melulu

aksi-israel-bandung21Kenapa sih kok kerjaannya ngritik pemerintah melulu? Emangnya nggak ada kerjaan lain ya? Kok yang dilihat yang buruk-buruknya aja sih? Lihat dong sisi baiknya, kita harus positif, jangan cuma lihat sisi buruknya aja. Pemerintah sekarang pun pasti sudah banyak jasanya kepada kita. Mereka udah capek-capek ngurusin negara kita, sementara kita tinggal ongkang-ongkang kaki doang. Jangan bisanya cuman menjelek-jelekkan aja, cuma omong doang. Sejelek apapun pemerintah kita udah banyak bekerja nyata, jangan cuma jadi orang yang bisanya komentar aja.

Berbagai kalimat di atas adalah lontaran-lontaran dari orang-orang yang pro kepada sistem dan pemerintahan kita sekarang ini, yang ditujukan kepada berbagai kalangan yang kerap kali mengkritik pemerintah. Sekilas pandang sepertinya lontaran-lontaran itu amat positif dan konstruktif. Padahal sebenarnya argumentasi di balik kalimat-kalimat itu amatlah lemah. Saya ingin sekali membicarakan tema ini. Mari!

Sebelumnya mari kita samakan persepsi tentang seperti apa pemerintahan kita sekarang dan segala hal yang melingkupinya. Diakui atau tidak, seluruh struktur pemerintahan kita sekarang ini berdiri di atas dasar ideologi Kapitalisme-sekular. Ciri utama dari ideologi ini adalah hukum-hukum agama tidak diikutsertakan dalam mengatur jalannya roda pemerintahan. Hanya saja banyak kalangan di negeri ini masih malu-malu mengakui bahwa negara kita adalah negara kapitalisme-sekular. Dalih yang biasa dipakai biasanya, “negara kita bukan negara agama, tapi juga bukan negara sekular.” Seperti itulah yang dikatakan Mahfud MD, mantan ketua MK, ketika menyampaikan kuliah umum mengenai Posisi Hukum Islam Dalam Perspektif Hukum Tata Negara pada program pasca sarjana IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten (18/3).  Jadi kira-kira negara kita ini negara apa? Negara yang bukan-bukan? (just guyon!).

Untuk menguatkan statement-nya, Mahmud MD melihat bagaimana proses sejarah terbentuknya Pancasila yang melibatkan berbagai kalangan agama dan nasionalis. Dan negara kita pun menyatakan bahwa dasarnya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Tapi kalau kita mau jujur, kenyataannya semua itu hanyalah klaim kosong belaka. Walau pun menyatakan bahwa dasar negara ini adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, tapi nyata-nyatanya berbagai proses hukum dan pemerintahan banyak mengabaikan Hukum Tuhan (Islam), dan lebih mengutamakan suara mayoritas dalam mekanisme demokrasi. Karena itulah terlihat sekali bahwa saat ini yang halal bisa menjadi haram dan begitu juga sebaliknya. Semua ini jelas-jelas sebuah gejala dari negara Kapitalisme-sekular.

Dengan demikian jelaslah bahwa pemerintah kita bukanlah pemerintah yang menerapkan Islam, melainkan pemerintahan yang menerpakan sistem kufur yang tidak diridhoi Allah Swt. Pemerintah kita telah melakukan sebuah kezaliman yang nyata, yakni tidak mau menerapkan syariah Islam yang berasal dari Allah Swt. Di dalam Al Quran Allah berfirman: “Barang siapa yang tidak berhukum kepada apa yang diturunkan Allah, maka merekalah orang-orang yang zalim,” (Al Maidah: 46). Dengan adanya pemimpin yang zalim macam begini Rasulu Saw. bersabda: “Penghulu para syuhada adalah Hamzah dan orang yang berdiri di hadapan penguasa zalim lalu ia menyuruh dan melarangnya (maksudnya menasihati penguasa itu), lalu penguasa itu membunuhnya” (Hadits Shahih dalam Mustadrak ‘ala shahihain, imam Al Hakim no. 4884). Dalam hadisnya yang lain Rasul juga bersabda: “Jihad yang paling afdhal adalah berkata benar di hadapan pemimpin yang zalim” (H.R. Abu Dawud no. 4344, Ibnu Majah no. 4011, dishahihkan oleh Syaikh Al Bani).

Jelaslah bahwa aktifitas mengkritik pemerintah itu bukan berdasarkan akal-akalan atau karena memang hobi belaka (hehe…), tapi karena memang ada dalil dari Allah dan RasulNya yang memerintahkan hal itu. Mengkritik pemerintah adalah sebuah aktifitas yang amat baik dan mulia, bahkan Rasul sendiri menyebutnya sebagai jihad yang utama (afdhal). Mengkritik pemerintah bukan sekadar ingin mencari-cari kesalahan atau nggak ada kerjaan. Tapi karena itu adalah perintah Allah dan RasulNya. Lagian pemerintahan kita apa sih prestasinya? Kalau memang pemerintah kita berprestasi kenapa orang miskin masih banyak? Kenapa yang putus sekolah masih banyak? Kenapa anak jalanan masih banyak? Semuanya disebabkan pemerintah masih betah menerapkan ideologi kapitalisme-sekular itu dan solusinya hanyalah mengganti seluruh sistem yang ada dengan syariah Islam. Jadi teruslah mengkritik pemerintah, banyak gizinya.!!! (follow @sayfmuhammadisa)

Penguasa Pengkhianat Umat

220px-Saudi_Crown_Prince_Abdullah_and_George_W._BushAgak lama saya merenung saat mau membuat judul itu. Akhirnya saya rasa yang paling cocok adalah judul di atas itu. Sebenarnya saya ingin menulis judul yang lebih kasar dan emosional lagi, seperti: Penguasa di Negeri Muslim Pengkhianat Semua, Penguasa Brengsek di Negeri Muslim, dan beberapa yang lain. Tapi akhirnya saya putuskan judulnya seperti itu saja. Walau pun saya kurang puas karena judul itu kurang bisa menampung seluruh emosi yang saya rasakan di hati saya tentang para penguasa yang mengkhianati umat Islam ini.

Benar, hal paling pertama yang saya rasakan ketika menuangkan tulisan ini adalah EMOSI. Saya melihat hampir seluruh (kalau tidak mau dikatakan “semuanya”) penguasa di tengah-tengah umat adalah para pengkhianat. Bahkan para penguasa yang dihasilkan setelah revolusi (Arab Spring) pun nyata-nyatanya pengkhianat umat juga. Miris sekali nasib umat.

Rasulullah s.a.w bersabda dalam salah satu hadisnya: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka (HR. Muslim)”. Berarti penguasa yang buruk itu sebaliknya, mereka membenci dan melaknat rakyatnya, sementara rakyatnya pun membenci dan melaknat para penguasa itu. Sebenarnya sederhana saja.

Cinta di dalam hati rakyat kepada pemimpinnya hanya bisa lahir dari sikap kepemimpinan yang baik dari sang pemimpin itu. Sang pemimpin mau menerapkan syariat Islam, bersikap adil dan lurus dalam menegakkan hukum, santun dan baik kepada rakyat, selalu menyejahterakan dan memerhatikan rakyat, dan berbagai sikap kebaikan lainnya. Pemimpin yang seperti ini pasti akan dicintai dan didoakan rakyat.

1364873748328966869Sebaliknya, kebencian yang besar akan muncul di hati rakyat jika sang pemimpin berdusta kepada rakyat. Sang pemimpin ogah menerapkan syariat Islam, malah memilih menerapkan syariat kufur demokrasi, menggadaikan kekayaan alam kepada penjajah, membiarkan kemiskinan merajalela, kalau sedang rapat urusan rakyat malah main game atau nonton porno, mengorupsi uang rakyat, main perempuan dengan gratifikasi seks, dan berbagai perilaku brengsek lainnya. Pemimpin seperti ini pasti akan dikutuk dan dilaknat rakyatnya.

Sekarang dengan berbekal hadis Rasul s.a.w. di atas mari kita lihat para pemimpin di tengah-tengah umat. Saya melihat hampir semua pemimpin di negeri kaum muslim dikutuk dan dilaknat rakyatnya. Semua itu disebabkan oleh apa yang mereka perbuat.

Lihatlah pemimpin Indonesia! Apa yang dia perbuat? Dia berencana menaikkan harga BBM, yang pasti akan memberikan tambahan penederitaan bagi rakyat. Dia menggadaikan berbagai kekayaan alam negeri ini yang ditukar hanya dengan gelar ‘sir’ bagi dirinya sendiri, dan rakyat disuruhnya berbangga diri akan gelar itu. Gaya hidupnya luar biasa mewah. Anggaran untuk jas-nya saja ratusan juta Rupiah. Maka tidak aneh kalau mayoritas rakyat melaknat pempimpin seperti itu. Pemimpin negeri ini sangat cepat sekali merespon Bom Boston, tapi bagaimana responnya terhadap pembantaian umat Islam di Rohingya?

Di luar negeri pun tidak jauh berbeda. Pangeran Saudi meminta agar menghukum berat siapa pun yang menyeru dan memprovokasi para pemuda untuk pergi berjihad ke Suriah. Sebelumnya anggota Hai’ah Kibar al Ulama di Arab Saudi mengeluarkan fatwa bahwa berjihad di Suriah hukumnya haram bagi rakyat Saudi tanpa seizin pemerintah (http://hizbut-tahrir.or.id/2013/05/21/chatib-jadi-menteri-privatisasi-menggila-subsidi-dipangkas-rakyat-menderita/). Emang udah para setres.

Penguasa Mesir yang baru sebagai hasil dari Revolusi Arab Spring yang lalu pun tidak jauh berbeda. Walau pun banyak pujian mengalir kepadanya karena dia berakhlak mulia, hafal Quran, dan sangat bersahaja, tetapi dia tetap saja bergaul akrab dengan Amerika, dan Israel. Dia juga mengizinkan kapal-kapal Rusia yang akan mengintervensi Suriah masuk lewat Terusan Suez (http://hizbut-tahrir.or.id/2013/05/19/mursi-membantu-rusia-dan-bashar-bantai-kaum-muslim-di-syam/). Bagaimana semua ini?

Penguasa Turki juga begitu. Iran juga. Uzbekitan juga. Aljazair, Tunisia, dan hampir seluruh negeri muslim penguasanya antek penjajah. Malang benar nasib umat Islam. Kewajiban syar’i kita saat ini adalah menumbangkan seluruh sistem kufur yang ada, kemudian menggantinya dengan syariat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah. (follow @sayfmuhammadisa)

Islam, Modernitas, dan Demokrasi

sampahSiang ini sepulang ngojek (kerjaan saya ngojek nganterin istri saya ke kampus), saya nonton berita di TV One. Di sela-sela berita, seperti biasa, akan diselingi dengan berbagai iklan. Bisa iklan komersial, iklan layanan masyarakat, dan iklan kampanye untuk mendongkrak pencitraan seorang tokoh. Nah, siang ini saya melihat iklan Aburizal Bakrie (ARB) di TV One.

Di dalam iklan itu terlihat ARB sedang berpidato di atas mimbar, ada juga istrinya, Tattie Bakrie, yang terlihat sedang beramah-tamah dengan rakyat Indonesia. Di dalam pidatonya yang cukup singkat di iklan itu, ARB menyatakan bahwa Islam itu sejalan dengan modernitas dan demokrasi. Kemudian di akhir iklan itu, dia menyatakan bahwa Islam itu rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam, seperti yang tercantum dalam surat al-Anbiya’ ayat 107), sebagai kesimpulan dari seluruh pidatonya yang singkat tadi.

Karena ada sesuatu yang harus diluruskan dari kata-kata ARB tersebut, saya membuat celoteh singkat ini. Allah dan RasulNya memerintahkan kepada kita, jika kita mengetahui ada sesuatu yang salah, maka kita wajib meluruskannya. Semoga Allah swt. selalu memberikan kekuatan kepada kita untuk melakukan hal itu. Amin.

Di dalam iklan tersebut ARB menyatakan bahwa Islam kompatibel dengan modernitas dan demokrasi, dengan demikian Islam adalah sebuah agama yang rahmatan lil ‘alamin karena bisa mengakomodasi modernitas dan demokrasi. Apakah benar demikian? Kalau selintas saja, mungkin pendangan seperti itu benar. Namun jika kita gali lebih dalam lagi (dan memang seharusnya itulah yang harus kita lakukan), maka akan kita temukan bahwa Islam tidak akan pernah mau berjalan beriringan dengan modernitas dan demokrasi. saya ingin mencoba membicarakan hal ini lebih lanjut.

Islam adalah sebuah mabda’ (pandangan hidup atau ideologi) yang menyeluruh dan mengatur segala aspek kehidupan. Hal inilah yang kurang dipahami oleh umat Islam jaman sekarang. Islam bukan hanya mengatur masalah ritual seperti solat, puasa, dan haji. Islam pun bukan hanya mengatur masalah moral dan akhlak saja seperti murah senyum, tidak boleh sombong, harus rapi, dan harus rajin. Islam juga bukan hanya mengatur masalah pernikahan dan perceraian. Islam juga bukan hanya mengatur cara memandikan dan menyolatkan mayat. Islam mengatur lebih dari semua itu.

Islam mengatur sistem pemerintahan secara detil dan rinci. Islam juga mengatur sistem perekonomian dengan amat gamblang. Begitu juga sistem sanksi, sistem pergaulan, sistem pendidikan, dan seluruh sistem yang pernah dikenal umat manusia pasti juga diatur oleh Islam.

Sementara itu modernitas dan demokrasi juga memiliki maknanya sendiri. Modernitas jika kita maknai sebagai sebuah kondisi yang mengacu kepada kekinian, maka tentu saja Islam tidak bisa diselaraskan dengan modernitas. Kalau modern itu dimaknai harus berpakaian yang gaul dan sexy, dan pastinya akan mengumbar aurat, maka tentu saja Islam amat tidak bisa diselaraskan dengan modernitas. Jika kondisi modern itu harus dimaknai sebagai tindakan gonta-ganti pasangan dalam pacaran, maka Islam tentu saja tidak sesuai dengan modernitas sebab Islam mengharamkan semua itu.

Begitu juga dengan demokrasi. Banyak orang yang memaknai bahwa demokrasi itu hanya sekadar musyawarah, dan dengan demikian musyawarah itu juga dilaksanakan dalam Islam, maka demokrasi selaras dengan Islam. Padahal persoalannya bukan di situ.

Demokrasi telah menempatkan suara rakyat sebagai suara tuhan (vox populi vox dei). Di dalam demokrasi, al Quran hanya jadi salah satu pilihan saja untuk menentukan keputusan hukum terhadap sesuatu. Padahal di dalam Islam, al Quran adalah segala-galanya dalam menentukan hukum terhadap sesuatu sebab ia adalah firman Allah swt. Karena kondisi demokrasi yang seperti inilah, maka Islam mengharamkan demokrasi, dan Islam tidak mungkin berjalan beriringan dengan demokrasi.

Islam memang rahmatan lil ‘alamin, ia rahmat bagi seluruh alam, bagi seluruh umat manusia. Hanya saja, kenyataan bahwa Islam itu rahmatan lil ‘alamin itu bukan berarti menjadikan Islam selaras dengan modernitas dan demokrasi. kedua hal ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan demikian jangan sampai umat Islam tersesatkan dengan pandangan ARB ini. Islam adalah Islam, sampai kapan pun ia akan tetap menjadi rahmat bagi seluruh alam. Sementara demokrasi dan modernitas adalah budaya kufur yang harus dimusnahkan dari muka bumi ini. Wallahu a’lam. (follow @sayfmuhammadisa

Gegap Gempita Muktamar Khilafah 2013

Muktamar-Khilafah-2013Sepanjang bulan Mei ini hingga awal Juni mendatang Hizbut Tahrir Indonesia menggelar sebuah hajatan akbar bertajuk Muktamar Khilafah 2013. Kegiatan dakwah akbar ini diadakan secara bergiliran di berbagai kota besar di Indonesia dengan puncaknya di Jakarta, dan ditujukan sebagai seruan kepada umat Islam agar kembali bangkit dengan hanya menempuh jalan Islam. Yakni menerapkan syariat Islam secara menyeluruh dan total dalam naungan Khilafah Islamiyah.

Ada beberapa kalangan yang mencibir Muktamar Khilafah 2013 ini. Bahwa Hizbut  Tahrir hanya bisa menggelar konferensi demi konferensi tanpa hasil. Setiap konferensi pasti akan disusul dengan konferensi selanjutnya, dan akan terus begitu, karena Hizbut Tahrir hanya bisa beropini di dalam konferensi. “Tidak ada aksi nyata,” kata mereka.

Padahal sebenarnya ada satu poin penting yang ingin diraih Hizbut Tahrir, yakni kesadaran umat. Dan kesadaran umat ini hanya bisa didapat dari dakwah yang terus-menerus dan berkelanjutan, yang salah satu bentuknya adalah menggelar konferensi tentang penerapan syariah Islam dalam naungan Khilafah di tengah-tengah umat Islam.

Tidak bisa dipungkiri bahwa dakwah yang telah dilakukan Hizbut Tahrir selama bertahun-tahun telah membentuk kesadaran umat Islam di dunia akan betapa pentingnya menegakkan syariah Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah. Seruan ini terus menggema di seantero bumi dan terus diserukan oleh jutaan orang di dunia. Kita juga tidak bisa memungkiri bahwa kesadaran umat Islam akan penerapan syariah dalam naungan Khilafah di negeri ini juga semakin menguat. Semua itu tentunya hanya bisa diraih dengan “aksi nyata”, yakni dakwah. Kelak, kesadaran itulah yang akan menggulirkan sebuah perubahan total. Maju terus para pejuang syariah dan Khilafah…

Derap Rantai [Episode 2]

the_desert-wideSebuah fiksi-sejarah.

Matahari bersinar terik! Sebuah wadi yang sudah tidak berair lagi itu dinaungi oleh empat batang pohon kurma yang tinggi-tinggi. Dua ekor unta diikatkan pada batang pohon kurma itu, sementara dua orang penunggang unta-unta itu duduk bersandar kepada batang kurma, pelepah-pelepah kurma dengan baik hati meneduhi mereka.

Dua orang lelaki itu mengenakan pakaian panjang di bagian luar, dengan pakaian bagian dalam yang cukup tebal, terdiri dari baju lengan panjang dengan ikat pinggang kain yang juga tebal. Kain serban menutupi kepala dan selendang serbannya dilingkarkan di leher mereka. Mulut dan sebagian wajah mereka ditutupi oleh selendang serban itu, agar menjadi penahan dari terpaan angin dan debu-debu padang pasir yang keras dan panas.

Seorang dari mereka meraih sebuah kantung air yang terbuat dari kulit kambing. Kantung air itu terletak di dalam sebuah buntalan kain yang ada di sisi kirinya. Dia buka sumbat kantung air itu sekaligus kain yang menutupi wajahnya, digumamkannya dulu nama Tuhannya, kemudian dia minum hingga dahaganya sirna. Lelaki itu adalah Mutsana bin Harits.

Selesai minum, Mutsana menyodorkan kantung air itu kepada lelaki yang duduk di sebelahnya, Jabal bin Abdul’uzza. Jabal adalah seorang lelaki tegap bertubuh kekar, tak aneh lagi jika namanya “Jabal”. Dia masuk Islam karena ajakan Mutsana. Ketika dia mengucapkan dua kalimah syahadat dan menjadi muslim, dia amat berterimakasih kepada Mutsana. Keberanian Mutsana untuk menyampaikan Islam kepadanyalah yang menjadi salah satu jalan turunnya hidayah Allah kepadanya. Jabal adalah seorang pemimpin kabilah yang amat disegani. Dia juga bringas dan kadang tidak tahu diri. Namun Mutsana tetap berani menyampaikan risalah Islam kepada Jabal. Dengan Islam itulah kemudian Jabal menjadi pribadi yang baru. Kini Jabal bertugas sebagai seorang prajurit muslim di bawah komando Mutsana.

Jabal kembali menyerahkan kantung air itu kepada Mutsana setelah dia minum hingga rasa hausnya terobati. Mutsana menyisakan air di dalam kantung itu untuk perjalanan mereka selanjutnya. Unta-unta mereka tidak diberi minum, namun mereka tidak khawatir, masih banyak cadangan air di dalam punuk unta-unta itu.

“Sudah waktunya membuka surat rahasia dari Khalifah,” gumam Mutsana sambil merogoh buntalan kain di dekatnya. Dia mengeluarkan selembar kulit kambing yang dilapisi dengan kain kemudian menggelarnya di depan dirinya sendiri dan rekannya, Jabal. Ada seutas benang yang mengikat surat itu, dan pada bagian lipatan kain pembungkus surat itu ada segel dari lilin dengan cap cincin Rasulullah di sana. Cincin Rasulullah itulah yang menjadi stempel resmi Khilafah Islamiyah, dan kini dipegang oleh Khalifah Abu Bakar.

Mutsana melepas semua itu baik-baik, seolah-olah surat itu terbuat dari kapas yang rapuh. Dia begitu menghormati surat dari Khalifah Abu Bakar itu. Namun ada sesuatu yang tiba-tiba terjatuh dari surat itu, sebuah surat yang lain. Mutsana memungut surat itu dan memerhatikannya. Ukuran surat itu lebih kecil, dan dia termuat di dalam sampul surat yang lebih besar yang dibuka oleh Mutsana. Surat itu pun dibungkus kain dan diikat seutas benang.

“Di dalam surat ada surat,” kata Jabal penasaran.

“Mungkin kita akan tahu surat kecil ini untuk apa jika kita baca surat Khalifah.” Sebelum mulai membaca surat itu, Mutsana menatap Jabal lekat-lekat.

“Ubullah tinggal satu kilometer lagi di depan, tempat ini adalah posisi yang tepat sesuai perintah Khalifah untuk kita membaca surat perintah rahasia ini. Apapun misi yang harus kita laksanakan yang tertera di dalam surat ini, semoga Allah memberikan pertolongan kepada kita semua.” Katanya.

“Amin,” sahut Jabal, dia mengangguk.

Surat yang sudah terhampar di tangan Mutsana itu mereka baca.

Assalamu’alaikum warahmatullah…

 Dari Khalifah Rasulullah kepada Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza. Semoga rahmat Allah menaungi kalian berdua.

 Dengan membaca surat ini berarti Ubullah sudah ada di depan kalian. Menyusuplah kalian ke Ubullah, kota itulah yang akan kita taklukkan pertama kali. Karena Persia dikalahkan kaum muslim dalam beberapa perang yang lalu, pemerintah Persia jadi membenci orang Arab dan melarang semua orang Arab untuk masuk ke wilayah mereka kecuali memiliki surat izin yang mana syarat-syarat kepemilikannya sangat rumit. Penyusupan ini amat penting, sebab kalau sampai kalian tertangkap, maka bencana besarlah yang akan terjadi. Berhati-hatilah saat menyusup ke wilayah Persia.

 Ketika kalian telah masuk ke Ubullah, Mutsana tidak boleh bicara sepatah kata pun. Mutsana harus berpura-pura menjadi seorang yang bisu. Yang boleh bicara hanyalah Jabal, sebab Jabal bisa bahasa Persia. Di sana, carilah seorang pedagang bernama Aswad bin Asadi, dan sampaikan surat kecil yang ada di dalam surat ini kepadanya. Dengan pengantar surat kecil itu nanti dia akan memberikan sesuatu kepada kalian. Sesuatu yang dia berikan itulah yang harus kalian bawa pulang dengan selamat.

 Tentu kalian belum kenal Aswad. Di antara sekian banyak pedagang di Ubullah, Aswad cukup terkenal. Dia adalah pedagang kain yang wajahnya paling jelek. Dia masih menyembunyikan keislamannya di sana, insyaallah dia seorang muslim yang saleh. Kalian temui dia, dan berikan surat kecil ini kepadanya. Kalian hanya punya waktu aman sehari saja yang terhitung sejak kalian masuk ke Ubullah, sebab prajurit Persia sering sekali melakukan patroli akhir-akhir ini. Tidak ada rencana kedua, dengan kata lain kalian harus berhasil menjalankan misi ini.

 Bakarlah surat ini setelah kalian memahami instruksi di dalamnya. Semoga Allah selalu bersama kalian.

 Assalamu’alaikum Warahmatullah

Akhukum Abu Bakar, Khalifatu Rasulillah

Mutsana kembali menatap wajah Jabal lekat-lekat. Dia mengembuskan napasnya dan melipat kembali surat Khalifah. “Itulah perintah untuk kita berdua, apakah kau sudah memahaminya?”

“Insyaallah aku memahaminya,” sahut Jabal dengan mantap.

Mutsana kemudian membakar surat itu yang dengan cepat menghitamkan seluruh bagiannya. Surat itu pun hancur menjadi abu, tak berbekas lagi.

“Kalau begitu tidak ada masalah, sekarang juga kita terus maju ke Ubullah.” Tangan Mutsana menjepit surat kecil dan mengangkatnya, “Surat ini akan aku simpan baik-baik untuk kita serahkan kepada Aswad.”

Jabal mengangguk dan memerhatikan Mutsana memasukkan surat kecil itu ke dalam saku celananya, dan mengikat saku celana itu agar isinya tidak terlempar keluar apapun yang terjadi. Dia sengaja menyimpan surat itu di sana, sebab dia tidak boleh berpisah sedetik pun dari surat itu. Mereka bangkit berdiri dan menenteng kembali barang bawaan mereka kemudian menepuk-nepuk pakaian mereka yang kotor karena debu-debu gurun. Dengan menunggangi unta-unta mereka yang kokoh, mereka melanjutkan perjalanan.

Bismillahirrahmanirrahim,” gumam Mutsana.

La hawla wa la quwwata illa biLLah,” bisik Jabal.

Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa

Derap Rantai [Episode 1]

Peta Perang Khandak
Peta Perang Khandak

Sebuah fiksi-sejarah

Matahari terik memanggang Semenanjung Arabia. Pada masa itu, ada sebuah negara yang baru saja  berkembang di sana, Khilafah Islamiyah. Dia yang pertama kali mendirikan negara itu adalah seorang nabi, Muhammad saw. Ketika dia wafat dengan berkalang kemuliaan, para sahabatnya melanjutkan kepemimpinan negara itu dengan penuh kemuliaan. Zaman dan sejarah kelak akan mencatat semua jejak yang telah mereka buat. Milyaran umat manusia di dunia akan mengikuti langkah yang mereka ambil. Penerus kepemimpinan sang Nabi di dalam negara yang diberkahi itu adalah sahabatnya sendiri, Abu Bakar.

Hari itu Abu Bakar sedang memimpin sebuah sidang yang dihadiri oleh para penasihatnya, para sahabat Nabi. Siang itu hadir pula Umar bin Khathab, orang yang selalu berseberangan dengan setan; Abdurrahmah bin Auf, saudagar tawadhu dengan sentuhan tangan emas; Usman bin Affan, lelaki pemilik dua cahaya mata; dan Ali bin Abi Thalib, gerbang ilmu sang Nabi. Mereka semua berkumpul di Saqifah bani Saidah.

Sidang berjalan agak alot hari itu, sebab banyak masalah yang harus mereka bicarakan.

“Orang-orang murtad ini memang merepotkan,” kata Abu Bakar, kegundahan menyelubungi hatinya, “belum lagi semua ini selesai, sudah muncul nabi-nabi palsu.”

“Insyaallah Khalid akan mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik,” Umar menatap wajah Abu Bakar, “Khalifah jangan khawatir, Allah akan menolong, insyaallah.”

“Insyaallah,” sahut Abu Bakar.

“Kecepatan dan kesigapan Khalid dalam memimpin angkatan perang sudah sama-sama kita lihat, dengan modal itu aku rasa Khalid akan mampu menyelesaikan semuanya dengan baik.”

Tak aneh jika munculnya kalangan orang-orang murtad dan makin menggilanya orang-orang yang mengaku nabi sangat menggusarkan hati Khalifah Abu Bakar. Sebab dialah yang paling bertanggungjawab terhadap apapun yang terjadi pada umat ini. Khalifah laksana penggembala bagi rakyatnya, dan dia akan dimintai petanggungjawaban oleh Allah atas gembalaannya itu. Dan Abu Bakar paham betul semua itu.

Di tengah-tengah sidang yang hangat di Saqifah bani Saidah itu datanglah seorang lelaki yang menunggang seekor kuda yang gagah, dia adalah Mutsana bin Harits. Mutsana dikawal oleh prajurit berkuda sebanyak dua puluh orang. Debu padang pasir beterbangan karena derap langkah kedatangan rombongan berkuda itu. Di hadapan gerbang Saqifah bani Saidah Mutsana menarik kuat-kuat tali kekang kudanya untuk menghentikan langkah kuda yang terpacu cepat itu. Dengan pedang masih tersemat di pinggang dia melompat turun dari punggung kudanya dan bergegas masuk.

“Assalamualaikum,” kata Mutsana, tangannya terangkat ketika dia mengucapkan salam.

Seluruh orang penting yang sedang duduk di dalam menyahut salam Mutsana. Dengan hampir bersamaan mereka bangkit dan menghampiri kedatangan lelaki gagah itu.

“Mutsana saudaraku,” Khalifah Abu Bakar merentangkan tangannya dan segera memeluk erat tubuh Mutsana. Seluruh sahabat pun tersenyum dan memeluk Mutsana bergiliran. Sebuah ikatan persaudaraan yang indah yang hanya ada di dalam Islam.

“Duduklah, duduk,” Abu Bakar memersilakan, “perintahkan juga seluruh prajuritmu masuk agar dihidangkan minuman untuk kalian semua.”

Mereka semua duduk dalam perasaan hati yang sedikit terobati karena kehadiran Mutsana bin Harits. Mereka telah mengetahui, kedatangan Mutsana adalah juga kedatangan sebuah kabar gembira.

“Alhamdulillah aku bisa kembali ke Madinah dengan selamat dan tidak kurang suatu apa,” kata Mutsana. “Ini semua berkat pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala dan juga karena kebijaksanaan Khalifah serta para sahabat semua.”

“Alhamdulillah wallahu akbar,” Umar memuji sambil mengangkat tangannya lalu mengusapkannya ke wajahnya.

Senyum menghiasi seluruh wajah sahabat nabi yang teduh itu. Hati mereka berzikir kepada Allah dan lidah mereka selalu basah dengan kalimat-kalimat tayyibah. Merekalah generasi yang diridhoi dan meridhoi Allah.

“Bagaimana kabar yang kau bawa, wahai saudaraku Mutsana?” Abu Bakar sudah tidak sabar.

“Alhamdulillah, Khalifah,” jawab Mutsana, “pasukan kaum muslim telah berhasil merebut kota-kota di daratan Iraq, di sekitar perbatasan Khilafah Islam dengan Persia. Kota-kota itu kini telah berada di bawah kekuasaan Islam dan seluruh penduduknya telah berada di bawah perlindungan Islam.”

“Kota-kota apa saja yang telah berhasil kita rebut itu?” Tanya Usman.

“Seluruh kota yang terletak di selatan al Hirah telah berhasil kita taklukkan, Khalifah. Pasukan Persia tidak sanggup menghadapi gempuran kami yang cepat dan mematikan.”

“Alhamdulillah, semoga Allah merahmati dan memberikan kebaikan yang banyak kepadamu dan seluruh pasukan kaum muslim.” Doa Abu Bakar. Raut wajahnya yang semula keruh kemudian berubah menjadi bening dan segar, senyuman menghiasinya.

“Bagaimana pendapat sahabat sekalian dengan kabar yang dibawa Mutsana ini? Semoga Allah memudahkan semua urusan kita.” Abu Bakar melayangkan pandangannya kepada para sahabat yang hadir di Saqifah bani Saidah.

“Allah telah memudahkan kita untuk meluaskan kekuasaan Islam, dan Allah pasti akan memenangkan kita,” kata Ali bin Abi Thalib. “Kurasa saat inilah waktu yang tepat untuk menghantam Persia. Persia adalah salah satu penghalang utama dakwah Islam di dunia ini. Insyaallah kita akan meraih kemenangan karena Rasulullah telah menjanjikan bahwa Persia akan tercabik-cabik karena dahulu Kisra pernah mencabik-cabik surat Rasulullah.”

“Insyaallah,” Usman menimpali, “kabar dari Rasulullah adalah kabar kemenangan bagi kita. Khilafah Islam akan menguasai apa yang dahulu pernah dikuasai oleh Kisra.”

“Walaupun begitu tetaplah kita tidak boleh meremehkan kekuatan musuh,” pendapat Abdurrahman bin Auf, “Persia tetaplah sebuah negara besar, jika kita salah melangkah nanti merekalah yang mengambil keuntungan dari itu semua. Aku ingin menyampaikan agar kita mempersiapkan penaklukan ini dengan matang. Tahap persiapan amatlah penting, wahai Khalifah.”

“Aku sependapat dengan sahabat sekalian,” terkandung semangat yang menggebu di dalam suara Abu Bakar. “Insyaallah kemenangan kita sudah disabdakan oleh Rasulullah dahulu, hanya saja untuk meraih semua itu persiapan kita mestilah matang. Baiklah, kita semua sepakat untuk memfutuhat Iraq dan menghadapi Persia. Semoga Allah memudahkan kemenangan kita, insyaallah. Sebagai langkah pertama, aku tugaskan kepadamu Mutsana, untuk menyusup ke wilayah Persia yang terdekat dengan pebatasan kita, terutama ke al Hirah. Perintah detil untuk misimu ini akan kau dapatkan dalam bentuk surat yang akan kau terima nanti sore.”

“Siap!” Mutsana mengangguk dengan penuh semangat. Adalah sebuah kebanggaan dan kebahagiaan menerima misi dari Khalifah kaum muslim. [sayf]

Bersambung…

Follow @sayfmuhammadisa

Kata Adalah Senjata

flickr-wordsAda sebuah ungkapan menarik yang dilontarkan oleh seorang guru saya ketika saya mendengarkan taushiah dari beliau, “kata adalah senjata”. Guru saya yang brillian itu ingin menekankan betapa kuatnya sebuah omongan atau  perkataan, sehingga orang-orang yang berkata-kata itu tidak boleh diremehkan dan tidak boleh dianggap tidak pernah berbuat apa-apa. Penjelasan dari guru saya ini mengingatkan saya tentang berbagai cibiran untuk para aktifis dakwah syariah dan Khilafah. Para pencibir itu mengatakan bahwa pejuang syariah dan Khilafah  hanya bisa “ngomong doang”, dan “tidak punya aksi nyata”, hanya bisa “menebar wacana”, tidak sanggup memperlihatkan “kerja nyata”. Benarkah demikian? Benarkah orang yang berkata-kata itu tidak memberikan hal yang nyata?

Seorang kawan saya menjelaskan tentang hal ini. “Bicara” atau “berkata” itu sendiri adalah aktifitas kerja. Bagaimana mungkin orang yang berbicara atau berkata itu dianggap tidak pernah  melakukan apa-apa. Bagaimana dengan para guru yang setiap hari kerjaannya bicara? Bagaimana dengan para dosen? Jelas sekali kita lihat bahwa di dalam dua profesi itu berbicara atau berkata amatlah penting.

Dalam konteks perubahan masyarakat, bicara atau berkata pun menempati posisinya yang teramat penting. Orang-orang yang aktif bicara tentang perubahan tidak boleh dianggap tidak pernah melakukan apa-apa atau tidak melakukan aksi nyata. Aung San Suu Kyi begitu ditakuti karena dia bicara tentang perubahan dan melawan rezim yang sedang berkuasa melalui kata-katanya. Mahatma Gandhi begitu disegani karena kata-katanya yang menginspirasi dan berhasil menggerakkan rakyat India untuk berjuang melawan penjajah Inggris. Nabi Muhammad begitu berwibawa karena kata-katanya yang bersumber dari Allah swt. yang selalu beliau sampaikan ke mana-mana. Jelaslah bahwa kata adalah senjata. Bahkan dakwah adalah berkata-kata, menyeru dengan mulut dan suara. (follow @sayfmuhammadisa)