Tilawah Abdullah bin Mas’ud

Amal terbaik, yang nantinya akan diterima Allah Subhanahu wata’ala, tentunya harus dilakukan sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. Sebab apapun yang ditunjukkan oleh Rasulullah, pada hakikatnya adalah apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wata’ala. Mana yang baik menurut pandangan Allah, adalah apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Cukup sederhana, sebenarnya.

Banyak orang yang mengira telah melakukan perbuatan baik, padahal Allah belum tentu memandangnya baik pula. Semuanya mesti dikembalikan pada apa yang diajarkan Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam kepada kita. Apa yang terjadi pada Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu akan menjadi contoh menarik tentang hal ini.

Continue reading

Tidak Pernah Solat, Tapi Masuk Surga (Part 2)

vMDdRLaKisah orang yang tidak pernah solat tetapi masuk surga belum berakhir. Kisah ini kembali menunjukkan kepada kita betapa Allah Maha Penyayang. Dia akan selalu menghargai amal dan keimanan seorang hamba dan akan mengganjarnya dengan pahala yang banyak tiada tara.

Nasib baik ini terjadi pada diri seorang budak berkulit hitam, yang pekerjaannya adalah menggembalakan kambing-kambing majikannya. Budak hitam ini tinggal di Khaibar, dan nasib baik ini menghampirinya ketika Rasulullah Saw. dan pasukan Islam hendak menaklukkan benteng-benteng Yahudi Khaibar.

Saat itu sang budak sedang menggembalakan kambing-kambing majikannya. Kemudian dia melihat para penduduk Yahudi Khaibar terlihat tergesa-gesa dan berlarian mengambil berbagai senjata. Ada yang membawa pedang, menyambar tombak, dan terburu-buru menyiapkan pelana kuda-kuda mereka. Sang budak keheranan menyaksikan apa yang sedang terjadi.

Continue reading

Talk About Jahiliyyah

Ilustrasi klasik tentang Ka'bah.

Ilustrasi klasik tentang Ka’bah.

Zaman yang satu ini tentunya sudah tidak asing lagi bagi kita semua, Zaman Jahiliyyah. Anak kecil juga tahu, bahwa Zaman Jahiliyah adalah zaman ketika Islam belum diturunkan dan Rasulullah Muhammad shalallahu’alaihi wasallam belum diutus. Para sejarawan menjelaskan bahwa pada periode ini terjadi apa yang disebut sebagai periode fatrah, yakni periode kekosongan kenabian. Orang-orang menjalani kehidupannya tanpa arah dan tanpa petunjuk. Kebanyakan mereka tersesat dan hidup dengan seenak udelnya sendiri. Sisanya membuat-buat aturan dan sistem berdasarkan hawa nafsu. Ada juga yang masih berpegang pada syariat nabi-nabi terdahulu yang tentu saja sudah tidak murni lagi.

Periode kelam ini disebut “Zaman Jahiliyyah” bukan dikarang-karang oleh para sejarawan, tetapi memang Alquran sendiri yang menamai periode tadi sebagai Zaman Jahiliyyah. Dengan kata lain, ketika orang-orang pada suatu zaman menjalani hidup dengan tidak dipandu oleh syariat dan wahyu dari Allah, saat itulah mereka memasuki Zaman Jahiliyyah. Mari sedikit kita bahas tentang apa yang disampaikan Alquran tentang Zaman Jahiliyyah.

Continue reading

Cut Meutia dan Tiga Peluru (Bagian 4-Habis)

Terbunuhnya Jenderal Kohler di depan Masjid Raya.

Terbunuhnya Jenderal Kohler di depan Masjid Raya.

Setelah menyatakan diri melapor kepada pemerintah Belanda di Lhokseumawe, pulanglah Teuku Cik Tunong dan Cut Meutia sekeluarga ke Keureutoe. Mereka semua tinggal kembali bersama Cut Nyak Asiah dan Teuku Syamsarif di Jrat Manyang. Karena adanya ketidakcocokan dengan tempat tinggal ini (mungkin karena memunculkan beberapa kenangan buruk yang lalu), maka Cik Tunong sekeluarga memutuskan untuk pindah saja ke Teupin Gajah, sekarang daerah Panton Labu.

Sebelum kepindahannya, Teuku Syamsarif dan Cut Nyak Asiah telah menasihati Cik Tunong sekeluarga agar tetap berada di Jrat Manyang, sehingga Teuku Syamsarif yang menjabat sebagai Uleebalang Keureutoe pada masa itu bisa melindungi Cik Tunong sekeluarga. Bisa dipahami pada masa itu perang masih saja berkecamuk dan beberapa pemimpin gerilya yang kuat masih bergerak di hutan-hutan, sehingga pemerintah Belanda belum tentu percaya dengan penyerahan diri Cik Tunong. Namun keputusan untuk pindah itu sudah bulat.

Continue reading

Cut Meutia dan Tiga Peluru (Bagian 3 dari 4)

Pasar Kerbau di depan Masjid Raya Baiturrahman di Kutaraja tahun 1892. Sumber Foto : KITLV Leiden, 4913

Pasar Kerbau di depan Masjid Raya Baiturrahman di Kutaraja tahun 1892. Sumber Foto : KITLV Leiden, 4913

Teungku Ismail Yakub dalam karya klasiknya yang berkisah tentang Cut Meutia mengisahkan bahwa Sultan Aceh Alaiddin Muhammad Daud Syah turut aktif dalam perjuangan di pedalaman Aceh. Sebagai seorang pemimpin perlawanan, suami Cut Meutia, Teuku Cik Tunong, berkoordinasi dengan Sultan Aceh, sementara Cut Meutia sendiri selalu menyertainya.

Semakin hari berlalu, perjuangan jadi semakin sulit. Para ulama dan penglima yang memimpin perlawanan telah banyak yang syahid karena peluru Belanda. Dalam masa-masa seperti itu tersiarlah kabar bahwa Sultan Aceh telah “turun gunung”. Maksud turun gunung di sini adalah menyerah kepada Belanda. Penyerahan ini dikabarkan diikuti oleh para pembesar kesultanan lainnya, seperti Panglima Polem dan Tuanku Raja Keumala. Mulanya Teuku Cik Tunong ragu akan kebenaran kabar itu. Setelah ditelusuri, ternyata kabar itu benar adanya. Sultan menyerah di Ie Leubeue Pidie pada tanggal 9 Januari 1903. Dari Sigli, Sultan berangkat ke Kutaraja (Banda Aceh) pada tanggal 13 Januari 1903. Pada tanggal 20 Januari 1903, Sultan bersama putranya, Tuanku Ibrahim, diterima oleh Gubernur J.B. van Heutsz.

Continue reading

Cut Meutia dan Tiga Peluru (Bagian 1 dari 4)

Buku berjudul "Atjeh", karya Zentgraff.

Buku berjudul “Atjeh”, karya Zentgraff.

Arus globalisasi dan serangan budaya yang dilancarkan oleh Barat telah membuat generasi kita teralihkan perhatiannya dari memelajari riwayat hidup dan sepak terjang para pejuang. Sehingga yang kemudian tertinggal di dalam ingatan dan hati kita hanya nama-nama mereka saja. Ataukah mungkin nama-nama mereka pun tidak berbekas lagi di dalam diri kita sama sekali? Memprihatinkan.

Dalam artikel ini mari kita sama-sama berkisah tentang kisah hidup seorang wanita pejuang yang turut aktif dalam Perang Sabil di Aceh melawan Belanda. Nama beliau mungkin sudah cukup dikenal oleh generasi kita, hanya saja bagaimana sepak terjang beliau sedikit yang membicarakannya.

Continue reading

Perang Uhud dan Lelaki Yang Diseruduk Kambing (Bagian 5-Habis)

Peta konstelasi Perang Uhud.

Peta konstelasi Perang Uhud.

Kemenangan itu sudah di depan mata ketika ia menghilang entah ke mana. Pasukan Muslim sudah menguasai kemah-kemah pasukan Quraisy dan pasukan Quraisy tunggang langgang melarikan diri. Para wanita yang mereka bawa menjerit-jerit ketakutan, sebagiannya mencakar-cakar para lelaki untuk membuat mereka kembali ke medan perang. Namun, pasukan kafir tetap saja kocar-kacir.

Karena pasukan kafir sudah membubarkan diri, segala harta dan hewan tunggangan pun mereka abaikan. Kuda dan unta-unta, serta segala harta benda ditinggalkan begitu saja. Kaum Muslim pun menguasai semua itu.

Pada saat itulah pasukan panah yang ada di atas bukit pun menyaksikan ‘kemenangan’ ini. Dalam sebuah hadis riwayat Ahmad, Ibnu Abbas ra. mengisahkan momen ini. “Ketika Nabi Muhammad saw. telah mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang) dan pasukan kaum Muslimin berhasil menguasai perkemahan kaum musyrikin, pasukan pemanah menjadi tergoda. Mereka turun memasuki perkemahan kaum musyrikin dan ikut mengambil ghanimah. Barisan pasukan kaum Muslimin saling bertemu seperti ini (beliau saling menjalinkan jari-jari kedua tangannya) dan mereka bercampur baur. Ketika pasukan pemanah mengosongkan celah yang mereka tempati, kuda-kuda musuh masuk dari celah tersebut dan menyerang pasukan kaum Muslimin sehingga pasukan kaum Muslimin saling menyerang satu sama lain. Mereka menjadi tersamarkan ketika itu. Banyak dari pasukan kaum Muslimin yang terbunuh.”

Continue reading