Kinin: Sebuah Kisah Tentang Orangtua


Ada sebuah kisah yang ingin sekali saya ceritakan. Ketika itu, di Jepang, salju melapisi permukaan tanahnya dan bukit-bukit serta pepohonan menjadi putih gemerlapan. Di tengah-tengah salju yang keperakan itu, ada seorang lelaki berjalan dengan kokoh dan meyakinkan. Mantel tebal menghangatkan tubuh lelaki itu, dan sepasang sepatu tebal melindungi telapak kakinya dari sengatan dinginnya salju. Sebuah kerudung tebal pun menyelubungi kepalanya. Pada kedua bahunya ada tali-tali dari kain yang melintang melewati dadanya hingga punggungnya, seperti orang yang sedang memakai tas punggung sederhana. Kedua tangannya menggenggam tali-tali dari kain itu, untuk sedikit meringankan beban yang memberatkan punggungnya.

Raut wajah lelaki itu kusut masai, seiring dengan langkahnya yang terpahat pada salju yang lembut namun mematikan, sebab apa yang dia junjung di punggungnya bukanlah kayu bakar atau segentong air, tetapi seorang wanita tua yang kurus dan ringkih, ibunya sendiri.

“Tas punggung” lelaki itu ternyata bukanlah tas punggung biasa, tetapi semacam kursi dari kayu yang dipasangi kain-kain sedemikian rupa sehingga membentuk seperti “tas punggung”. Wanita tua itu duduk di atas kursi kayu tadi, dipanggul pada punggung lelaki itu, yang tak lain adalah putranya.

Namun sungguh menyedihkan keadaan wanita tua itu. Tubuh ringkihnya cuma dilapisi sehelai kimono lusuh dan di atasnya dilapisi pula dengan selembar mantel kumal. Kedua tangannya diikat kuat-kuat dengan sehelai kain hingga ia tidak berdaya. Tubuh wanita tua itu pun diikatkan kepada kursi kayu itu. Belum cukup, mulutnya pun disumpal dengan kain yang diikatkan tanpa belas kasihan ke tengkuknya. Airmata wanita tua itu terus saja berlinang, berhamburan di salju yang dingin, sebab ia menyadari bahwa hati putranya jauh lebih dingin. Ia tidak tahu kemana putranya hendak membawanya.

Tibalah lelaki dan ibunya itu di sebuah lereng bukit. Ada sebuah kuil kecil yang sudah porak-poranda terletak di dasarnya, sebuah pilar dari batu tertancap di depannya, kokoh dan kuat. Lelaki itu menghampiri pilar batu dan menurunkan ibunya di sana. Dia dudukkan ibunya di atas salju dan diikatnya seutas tambang tebal dari tubuh ibunya dan melingkari pilar batu itu.

Si wanita tua hanya bisa menatap dengan pedih dan penuh tanda tanya kepada putranya, yang tanpa bicara melangkah pergi begitu saja. Tinggallah wanita itu sendirian, tanpa berteman seorang pun. Yang datang kemudian adalah sekelompok serigala putih dengan sang alfa berbulu hitam. Air liur mereka menetes serentak dengan nafsu membunuh saat menatap mangsa. Mereka mengepung wanita tua itu ketika sinar matanya sudah mulai redup. Dia sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa, dan pahit sakit hatinya akan segera sirna. Darahnya tertumpah, dagingnya tercabik, isi perutnya yang terburai menjadi makanan serigala.

Saya tidak pernah menyangka, bahwa pada zaman dahulu di Jepang, ada semacam praktik yang amat keji bernama Kinin. Praktik ini adalah membawa orangtua yang telah pikun dan lemah ke sebuah tempat yang sangat sunyi dan terasing, seperti gunung atau hutan, kemudian meninggalkannya begitu saja di sana. Orang yang melakukan praktik ini biasanya karena ingin menghemat bahan makanan dan hendak menghilangkan beban.

Jika kita masih punya hati dan sense of humanity, tentunya kita akan marah dengan tindakan seperti ini. Terlepas dari motif apapun seseorang melakukan Kinin, praktik ini tidak bisa dibenarkan. Bagaimana mungkin ada orang yang tega ‘membuang’ orangtuanya sendiri ketika mereka tidak berdaya? Merawat orangtua yang telah sangat renta mungkin memang sulit, tetapi tetap saja itu bukan alasan untuk mengasingkan mereka untuk menunggu mati.

Saya jadi ingat kepada seorang guru agama yang sangat menginspirasi saya. Beliau dan keluarganya dengan sengaja menangani sendiri perawatan bapaknya yang sudah renta dan bahkan terserang stroke. Beliau tidak menitipkan orangtuanya di panti jompo atau yang semacamnya. Beliau yakin bahwa Allah ta’ala hendak memuliakan dirinya dan keluarganya dengan mengurus sendiri orangtua yang telah stroke. Beliau yakin bahwa semua itu adalah ladang amal yang hasilnya akan beliau tuai di akhirat kelak.

Lebih dari itu, Islam telah mengajarkan kepada kita dengan detil dan rinci, tentang bagaimana sikap kita terhadap orangtua kita. Jika mereka sampai berusia lanjut dalam pengawasan kita, berucap ‘ah’ saja terlarang, apalah lagi meninggalkannya di tepi bukit yang sepi sebagai umpan serigala! Semoga Allah ta’ala menguatkan kita semua dalam berperilaku mulia dan memuliakan orangtua kita.[sayf]

Advertisements

One thought on “Kinin: Sebuah Kisah Tentang Orangtua”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s