Tragedi Penyaliban


https://i.kinja-img.com/gawker-media/image/upload/s--WTNzxcyF--/c_fit,fl_progressive,q_80,w_320/198jp26uw5xwfjpg.jpgTentunya kita sudah mengetahui bahwa menurut keyakinan orang Kristen, Isa Almasih ‘Alaihissalam (Yesus Kristus) diakui sebagai tuhan, dan merupakan salah satu figur dari tiga figur tuhan (Trinitas). Lebih lanjut, mereka pun meyakini, bahwa Isa Almasih diturunkan ke muka bumi ini untuk menebus dosa-dosa manusia dengan wafat di kayu salib.

Konsep keyakinan seperti ini tentunya memuat berbagai tanda tanya. Apakah benar teks-teks religius Kristen mendukung konsep teologis seperti ini? Ataukah teks-teks religius Kristen justru membantahnya? Sudah banyak cendekiawan Barat yang mengkaji tentang hal ini, dan ada pula cendekiawan Muslim dalam bidang Kristologi (misalnya, Dr. Zakir Naik) yang juga membeberkan tentang hal ini. Kawan-kawan bisa merujuk kepada hasil-hasil studi tersebut.

Kita sebagai Muslim tentunya sudah diajarkan oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya Shalallahu’alaihi wasallam, bahwa Isa Almasih ‘Alaihissalam adalah salah satu utusan Allah ta’ala yang luar biasa. Rasulullah Isa bukanlah tuhan, dan tidak pernah mengakui diri sebagai tuhan. Tetapi Paulus-lah yang telah mengutak-atik ajaran Isa Almasih dan kemudian menyesatkan umat manusia dengan berkata bahwa Rasulullah Isa adalah tuhan.

Namun pada artikel ini saya tidak bermaksud untuk membahas lebih lanjut tentang Trinitas. Saya ingin membahas tentang penyaliban sebagai sebuah mekanisme eksekusi mati. Tidak seperti apa yang diyakini oleh orang Kristen, kaum Muslim meyakini bahwa Rasulullah Isa sama sekali tidak pernah disalib. Allah ta’ala menjelaskan di dalam Al-Quran, bahwa Rasulullah Isa diangkat ke langit, dan orang yang disalibkan itu adalah orang yang “diserupakan” dengan beliau. Banyak cendekiawan kemudian menjelaskan bahwa orang yang diserupakan itu adalah murid ketigabelas yang telah mengkhianati gurunya sendiri, namanya Yudas Iskariot. Dialah yang membeberkan kepada para rabbi Yahudi tentang tempat persembunyian Yesus di Taman Getsemane, sehingga kemudian pasukan Romawi menyerbu ke sana. Yudas pula yang menunjukkan yang manakah Yesus, sehingga pasukan Romawi bisa segera meringkusnya. Tetapi nasib apes malah menimpa Yudas sendiri, Tuhan menyerupakan wajahnya dengan wajah Yesus, maka Yudaslah yang diringkus oleh pasukan Romawi, mereka menyangka bahwa Yudas adalah Yesus (mirip banget sih!).

Di hadapan Pilatus Pontius, Gubernur Romawi di Palestina, vonis pun dijatuhkan, bahwa Yesus (yang sebenarnya adalah Yudas) dihukum mati dengan cara disalib. Ini dia yang akan saya bicarakan dalam artikel ini.

Sejarawan Yahudi, Josephus, seperti dikutip dari buku The Jesus Dynasty karya James Tabor, menyatakan bahwa penyaliban adalah “bentuk kematian yang paling menyedihkan”. Setiap orang yang tumbuh besar di Palestina pada abad pertama Masehi pasti pernah melihat penyaliban yang memilukan itu, dan penyaliban adalah salah satu metode eksekusi yang amat disukai oleh penguasa Romawi yang menjajah Palestina ketika itu. Josephus mencatat bahwa pada pada penyerangan Romawi ke Palestina tahun 70 Masehi, jumlah orang yang disalibkan bisa mencapai angka 500 orang perhari. Sampai-sampai batang-batang pohon di sekitar Palestina habis karena dijadikan palang salib.

Seperti apa detil dan mengerikannya penyaliban itu, bisa kita lihat dari apa yang terjadi pada Yehokhanan. Dia adalah seorang lelaki Yahudi yang dieksekusi dengan cara disalib pada kira-kira abad pertama Masehi. Makamnya ditemukan oleh para arkeolog pada tahun 1968 di sebelah utara Jerusalem, dekat jalan ke Nablus. Tulang-belulang Yehokhanan ditemukan di dalam sebuah osuarium (semacam peti mati dari batu), dan nama “Yehokhanan” terpahat di sisi osuarium itu. Dari tulang-belulang Yehokhanan ini, para ilmuwan bisa menggambarkan secara detil bagaimana proses penyaliban itu terjadi.

Eksekusi dengan cara penyaliban ditujukan untuk membuat seseorang merasakan penderitaan yang berat sebelum kematiannya. Penyaliban adalah cara mati perlahan-lahan yang amat menyakitkan. Selama ini kita mungkin mengetahui bahwa yang dipaku ke kayu salib adalah pergelangan tangan, padahal, para ahli fisiologi menjelaskan, jika yang dipaku adalah telapak tangan, maka hal itu tidak akan kuat menahan bobot berat badan si pesakitan di kayu salib. Begitu pula jika yang dipaku ke kayu salib adalah pergelangan tangan, pembuluh darah besar akan rusak, sehingga akan membuat si pesakitan mati lebih cepat.

Dengan demikian, yang dipaku adalah bagian lengan bawah, antara tulang radius dan tulang ulna. Dengan cara seperti ini, si pesakitan akan terpasang dengan kokoh di kayu salib dan pendarahannya pun tidak banyak, dan penderitaannya akan semakin hebat. Hal ini dikonfirmasi dengan ditemukannya retakan bekas ditembus paku pada tulang radius Yehokhanan.

Pada bagian kaki, tulang yang ditembus adalah tulang tumit. Tulang ini adalah tulang terbesar pada bagian kaki dan jika ditembus paku tidak menghasilkan pendarahan besar. Pada Yehokhanan, ditemukan bahwa tulang tumitnya masih tertembus paku salib setelah berlalu ribuan tahun.

James Tabor menjelaskan, bahwa “kematian si pesakitan bisa diperpanjang atau dipercepat tergantung dari pengaturan sudut lengan dan kakinya ketika disalibkan.”

Bokong si pesakitan disangga dengan kayu yang disebut sedecula. Kaki yang dipakukan dan bokong yang disangga oleh sedecula inilah, salah satunya, yang memungkinkan si pesakitan hidup lebih lama dan memperpanjang penderitaannya. Jika si pesakitan harus mati lebih cepat, maka kakinya akan dipatahkan dengan cara lututnya dihantam dengan tombak atau pentungan. Jika kakinya telah patah, maka tidak ada lagi yang menyangga tubuhnya, dan gaya gravitas seolah-oleh membetot tubuhnya ke bawah dengan menyedihkan. Hal inilah yang pada akhirnya membuat si pesakitan tidak mungkin lagi bernapas, dan pada akhirnya tewas dengan cepat.

Betapa mengerikannya mekanisme penyaliban ini, lantas apakah kita tega untuk meyakini bahwa sosok yang dianggap sebagai tuhan itu mendapatkan perlakuan yang amat menyedihkan seperti ini?

Advertisements

4 thoughts on “Tragedi Penyaliban”

  1. Bagaimana pula umatnya tega melihat tuhannya disiksa macam gitu?
    Trus menganggap pensalibannya sebagai penghapus dosa umat-umatnya?? Sungguh umatnya sadis sama tuhannya sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s