Anak Jaman Sekarang

Pada suatu hari, di sebuah kampung, akan digelar sebuah posyandu. Sejak pagi, ibu-ibu panitia posyandu telah berbusana rapi dan resmi. Mereka siap menyambut para ibu yang hendak memonitor kesehatan dan pertumbuhan buah hatinya.

Salah seorang ibu yang menjadi panitia posyandu tersebut bernama Ibu Mimin. Ia bertugas memegang kertas absensi, kemudian memanggil nama-nama balita yang akan ditimbang itu satu persatu. Ketika kegiatan posyandu itu dimulai, Ibu Mimin segera menjalankan tugasnya, ia memanggil nama-nama balita itu satu persatu.

“Andre,” katanya, memanggil nama seorang balita. Ia melanjutkan.

“Kesya!”

“Keyla!”

“Rasya!”

“William!”

Tiba-tiba ada seorang panitia yang berbisik kepada Ibu Mimin.

“Nama-nama anak jaman sekarang bagus-bagus ya,” katanya.

“Iya, nggak ada yang namanya Mimin,” sahut Ibu Mimin dengan ekspresi penuh penyesalan, yang seolah-olah berkata, “ayah-bunda, mengapa memberikan nama Mimin kepada diriku?”.

Saya pernah bekerja jadi tukang fotokopi. Saat sedang melaksanakan tugas, kadang saya menemukan nama-nama yang aneh-aneh. Dan biasanya nama-nama aneh itu tercantum di surat veteran, atau kartu pensiun. Misalnya Ook, Oon, Oom, dan sejenisnya. Nama-nama orang dulu memang sangat aneh dan simpel-simpel.

Jaman telah berubah, generasi sekarang sepertinya tidak sudi memberikan nama-nama aneh seperti itu kepada anak-anak mereka. Dan biasanya nama-nama anak jaman sekarang itu panjang-panjang dan unik-unik. Misalnya, Ustadz menamai putranya Ghazi Muhammad Alfatih 1453. Jadi ada nomor di nama itu. Unik banget kan?! Sudah seharusnya kita memberikan nama-nama yang baik kepada anak-anak kita. Sebab nama-nama yang kita berikan itu akan dibawa terus sampai ke akhirat. Dengan nama itulah kelak Allah akan memanggil setiap kita satu persatu untuk mempertanggungjawabkan setiap amalan kita. Mudah-mudahan dengan nama yang baik, akan terlahir pula insan-insan yang baik.

Jodoh Pasti Bertemu

kalem-weh-lah-da-jodoh-mah-pasti-bertemuUntuk kawan-kawan yang sedang galau menantikan jodoh, mungkin apa yang pernah saya alami ini bisa sedikit menjadi gambaran, bahwa jodoh pasti bertemu (putar lagunya Afgan, hehe).

Semua berawal ketika saya menancapkan cita-cita untuk menjadi seorang penulis semasa SMA kelas 2. Saking cintanya saya kepada cita-cita itu, saya menyatakan diri bahwa saya sudah menikahi cita-cita itu, dan ia sudah menjadi istri saya (mungkin ini penyakit gila nomor 12, hehe). Lebih dari itu, saya mencukupkan diri saya hanya dengan cita-cita itu, dan hanya ingin hidup dari situ. Untuk mendeklarasikan cita-cita ini, saya sampai mendaki sebuah bukit di dekat rumah saya hingga ke puncaknya, kemudian saya teriakkan cita-cita itu kepada dunia. Bahwa saya hanya ingin menulis sampai saya tidak bisa menulis lagi, dan saya hanya ingin hidup dengan menulis.

Karena saya sudah menancapkan cita-cita itu, ada konsekuensi yang harus saya jalani. Hidup saya menjadi susah secara ekonomi. Saya jadi miskin dan kere, hingga kemana-mana saya harus jalan kaki, karena nggak punya ongkos buat naik angkot. Saya juga harus puasa daud, sebab saya sulit menemukan makanan. Untuk sekadar survive, saya jualan koran dan jadi tukang fotokopi.

Saat menjalani semua itu, saya terus menulis, setiap hari, menulis apa saja. Hingga kemudian saya membangun sebuah media indie bersama kawan-kawan saya. Media ini kami namai D’Rise (pada masa selanjutnya, D’Rise ini terus berkembang atas bantuan guru-guru kami). Saya menumpahkan hampir seluruh cita-cita dan hidup saya untuk menulis bersama D’Rise. Saya mencukupkan diri hanya untuk mengembangkan media ini. Dan secara materi, saya serta kawan-kawan hampir tidak mendapatkan apa-apa dari sini, namun D’Rise telah kami jadikan seperti anak kami sendiri.

Saya dan kawan-kawan saya sesama aktifis Islam ideologis sering kali membicarakan soal pernikahan saat itu (ngaku deh, pasti kawan-kawan juga sering ngobrolin dunia per-akhwat-an. Yang akhwat juga pasti sering membahas dunia per-ikhwan-an). Gara-gara obrolan-obrolan itu, saya yang saat itu masih lugu (lucu-lucu guoblog), juga tertular semangat untuk menikah. Maka kemudian saya mencoba untuk melamar seorang akhwat.

Saya pun mengontak seorang akhwat yang di mata saya adalah seorang akhwat yang baik. Ketika saya menyampaikan niat baik saya untuk melamarnya, dia malah menolak saya dengan amat menyakitkan. Saya rasa dia tahu latar belakang ekonomi saya, karena lontaran-lontaran dia yang menyakitkan itu mengarah ke sana.

Karena penolakan yang menyakitkan itu, saya jadi agak terguncang. Saya jadi apatis terhadap pernikahan, dan bahkan bersikap tidak peduli. Saya sempat berpikir, mungkin orang susah macam saya tidak akan pernah menikah. Tapi biarkan sajalah, saya toh sudah menikah dengan cita-cita saya.

Hidup terus berlanjut, saya terus menulis, dan setelah terjadinya peristiwa itu, Allah swt menitipkan sebuah inspirasi kisah novel di kepala saya. Bukan cuma itu, seluruh langkah membuat novel tergambar di benak dari awal sampai selesai. Padahal saya belum pernah membuat novel sebelumnya, dan tidak ada seorang pun yang mengajari saya. Maka kemudian saya telusuri terus petunjuk itu (mungkin ini yang disebut ilham), hingga saya berhasil menyelesaikan novel itu dalam waktu tujuh bulan. Dan novel itu saya juduli “Sabil”. Tak lama kemudian, Sabil diterima terbit di Mizan yang dikemas dalam bentuk dwilogi. D’Rise pun semakin berkembang, dan telah terbit secara nasional. Saya terus menulis untuk D’Rise sampai hari ini. Lah terus cerita jodohnya di bagian mana nih? Hehehe, sabar, ini dia bagian cerita tentang jodohnya.

D’Rise punya dua orang anggota redaksi dari kalangan akhwat. Salah satunya pakai nama pena Alga Biru. Nah si Alga Biru ini kabarnya tinggal di Medan, dan dia menangani rubrik khusus cewek di D’Rise. Dia bekerja dari jarak jauh. Caranya, pemred D’Rise, mas Guslaeni Hafiz, mengirimkan TOR tiap rubrik kepada semua kru redaksi, termasuk kepada si Alga Biru ini. Kemudian setelah naskahnya yang ditulis berdasarkan TOR tadi selesai, langsung dikirimkan saja ke email redaksi.

Sebelumnya saya tidak mengenal dan tidak punya hubungan apa-apa dengan si Alga Biru ini. Tapi saya membaca tulisan-tulisannya baik fiksi maupun nonfiksi yang masuk ke redaksi D’Rise, dan saya tahu bahwa dia punya jam terbang lebih tinggi dalam menulis daripada saya. Maka saya berpikir untuk mengirimkan novel Sabil saya kepadanya, untuk meminta pendapat ilmiah tentang novel saya tadi. Saya tidak hanya mengirimkan novel ini kepadanya saja, tetapi saya juga mengirimkan Sabil kepada beberapa kawan yang lain untuk minta pandangan kawan-kawan (termasuk salah satunya adalah Pak Salman Iskandar, guru menulis saya). Maka kemudian saya kontak si Alga Biru via Facebook. Dia merespon, lantas saya kirimkan novel saya kepadanya. Saya tidak punya feeling apa-apa.

Beberapa hari kemudian Alga Biru mengirimkan semacam komentar tentang novel saya. Namun ternyata bukan hanya itu, dia juga mengajukan sebuah ajakan untuk menikah dengan saya. Waduh, saya kaget!!! Gileee bener, saya kaget. Yang muncul kemudian di dalam diri saya adalah rasa apatis dan tidak habis pikir. “Ini akhwat apa udah gila?!” hehehe… sori ya Alga Biru.

Bagaimana mungkin saya tidak berpikir begitu, sebab ajakan ini adalah sebuah ajakan yang besar dan tidak boleh dipermainkan. Tapi ternyata ini kenyataan, ada seorang akhwat yang mengajak menikah kepada saya, padahal akhwat ini gaib, dia tinggal jauh di seberang lautan, kenal aja nggak, ketemu aja belum pernah, ngeliatnya aja belum pernah, lah tau-tau ngajakin nikah. Ini becanda kali!!!

Tapi saya hargai ajakan si Alga Biru dengan menyampaikan tentang keadaan saya, bahwa saya ini orang miskin dan kere yang pengen jadi penulis. Karena saya lebih sering nggak punya uang, jadi kemana-mana saya jalan kaki. Saya juga jarang makan, jadi agar “jarang makan” itu menjadi pahala, saya sering melaksanakan puasa daud. Keluarga saya juga termasuk kalangan elit (ekonomi sulit), adik saya banyaknya bererot. Saya ceritakan kenyataan tentang diri saya. Dengan kata lain, saya menyampaikan semua ini untuk menakut-nakuti si Alga Biru agar menarik kembali ajakannya itu. Hehehe, sori ya Alga Biru. Tapi apa yang terjadi, Alga Biru tidak peduli.

Alga Biru tetap pada pendiriannya untuk mengajak saya menikah. Saya jadi berpikir lagi tentang semua ini. Saya jadi banyak merenung, apa yang mesti saya lakukan? Saya minta petunjuk kepada Allah, tentu saja. Kemudian bertanya kepada kawan-kawan yang sudah berpengalaman. Satu hal yang masih mengganjal di hati saya adalah, apakah orang miskin seperti saya bisa menikah? Jaman sekarang gitu lho, nikah itu biayanya mahal. Belum lagi mahar, buat walimahan, biaya tetekbengek lainnya. Apalagi si Alga Biru tinggalnya jauh di seberang lautan, perlu berapa duit bakal ongkos ke sana? Apakah bisa orang macam saya ini menikah? Saya ragu!!!

Tapi saya kembali kepada keyakinan bahwa Allah-lah yang berkuasa atas segala sesuatu. Dia berjanji bahwa Dia pasti akan menolong orang yang ingin menjaga kemuliaan dan kehormatannya. Dan dia tidak akan pernah mengingkari janjinya. Salah satu hal yang juga menguatkan saya adalah kisah menikahnya Ali bin Abi Thalib ra dan Fatimah binti Rasulullah yang diceritakan oleh Abay Abu Hamzah. Ali bin Abi Thalib ra. pun miskin ketika menikah dengan Fatimah. Beliau hanya punya harta baju zirah, dan baju zirah itulah yang dijadikan mahar. Setelah baju zirah itu diserahkan, beliau tidak punya apa-apa lagi. Subhanallah…!!!

Siapa Alga Biru memang belum pernah saya kenal. Tapi saya tahu bahwa dia seorang perempuan yang baik karena dia mengajak kepada kebaikan, yakni mengajak menikah. Saya berpikir bahwa ini adalah amalan mulia yang dahulu pernah dilakukan oleh Khadijah istri Rasulullah S.A.W. Dahulu, Khadijah pun mengajak menikah kepada Rasulullah Muhammad S.A.W. Saya juga mengetahui bahwa Alga Biru adalah seorang aktifis Islam ideologis. Rasulullah menyatakan dalam salah satu hadisnya, jika kita memilih seorang perempuan karena agamanya, maka kita akan bahagia selamanya. Maka saya mencukupkan diri dengan hal itu.

Saya sampaikan kepada Alga Biru, bahwa saya akan berjuang untuk menikah dengannya. Saya akan berjuang untuk datang ke Medan untuk melamarnya kepada orangtuanya. Padahal saat saya berkata seperti itu, saya tidak punya ongkos sama sekali. Dan setelah semuanya itu, saya tetap tidak tahu seperti apa sosok Alga Biru.

Sejak saat itu, kami telah memilih satu sama lain, saya memilih dia, dia pun memilih saya. Kami pasrahkan pilihan itu kepada Allah, dan kami saling berjuang untuk pilihan kami itu.

Suatu kali, sebelum saya berangkat ke Medan, Alga Biru bilang pada saya bahwa dia akan mengirimkan fotonya lewat email. Tapi saya menolak. Saya katakan padanya bahwa saya  memilihnya karena akhlak dan agamanya, kalau dia mengirimkan fotonya kepada saya, saya khawatir niatan saya jadi berubah. Saya khawatir yang tadinya saya memilihnya karena akhlak dan agamanya, jadi berubah karena saya telah mengetahui seperti apa wajahnya. Maka saya menolak fotonya itu. Biarlah saya melihat seperti apa sosok Alga Biru ketika saya sampai di rumahnya di Medan. Saya menyiapkan hati saya untuk menerima seperti apapun keadaan si Alga Biru. Bisa jadi kupingnya ada dua, atau lubang hidungnya ada dua, atau matanya ada dua (ya iyalah), dan saya mesti menerima seperti apapun sosoknya. Namun Alga Biru memberitahu saya bahwa dia tetap mengirimkan fotonya itu. Dan foto itu tersimpan di email saya tanpa saya buka-buka.

Maryam, putri pertama saya.

Maryam, putri pertama saya.

Allah swt memberi saya jalan keluar. Menjelang waktu keberangkatan saya, pintu-pintu rizki terbuka, dan saya dapat ongkos pulang pergi dari jalan yang nggak pernah saya duga. Menjelang saya berangkat, secara tidak sengaja, akhirnya saya melihat juga sosok Alga Biru lewat fotonya. Ketika itu seorang rekan saya ingin tahu akhwat yang akan saya lamar. Maka saya bukakan email saya agar fotonya bisa dia lihat. Sementara saya sendiri menyingkir, sebab saya tetap tidak ingin melihat foto si Alga Biru. Waktu solat pun datang, saya minta rekan saya itu untuk menutup file nya. Dia pun melakukannya. Setelah saya mengecek lagi komputernya, ternyata dia tidak benar-benar menutup file nya, tapi cuman di-minimize doang. Akhirnya ketika saya ambil alih komputernya, terhamparlah fotonya si Alga Biru. Alhamdulillah, Allah menganugerahkan pasangan yang baik dalam banyak hal. Baik sosoknya, baik perangainya, baik tuturkatanya, dan baik agamanya.

Hana, putri kedua saya.

Hana, putri kedua saya.

Di atas jalan cita-cita yang saya tempuh itulah saya menemukan pasangan hidup. Kami pun menikah tanggal 18 Juni 2011 di Medan. Melalui Alga Biru, Allah menganugerahkan saya dua orang anak perempuan yang cantik-cantik dan lucu-lucu.

Allah subhanahu wata’ala memang telah menyiapkan siapa jodoh kita. Tapi Allah tidak akan pernah memberitahukan siapa jodoh kita itu. Karena itulah kita mesti memilih. Dan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam telah memandu kita dalam menentukan pilihan itu. Kita boleh memilih pasangan karena kecantikannya, atau karena kekayaannya, atau karena keturunannya, dan jika kita memilih karena agamanya, kita akan bahagia selama-lamanya. Jika kita telah memilih seseorang, dan orang itu pun bersedia memilih kita, maka berdoalah kepada Allah dan perjuangkan orang yang kita pilih itu sekuat tenaga. Jodoh pasti bertemu, insya Allah.

Confession

Rose_Stock_by_BreAnn-2Datanglah ke sini, Sayangku. Duduk bersamaku di dalam alam yang sunyi. Langit betapa sendu, dilapisi awan kelabu, dan hidup begitu biru. Ada senyum halus angin membelai sudut kerudung hitam-mu. Lantas berlalu, dan berbisik kepadaku agar selalu mencintaimu. Lihatlah ke muka, Sayangku! Itulah jalanku. Jalanku satu-satunya. Tanahnya terjal menanjak, ditingkahi ilalang lebat. Cadas pecah serupa kerikil, getir dan tidak peduli. Tempat daun-daun liar tumbuh berduri dan membuatnya menjadi jalan yang begitu ngeri. Kadang kala jangat terkoyak, tinggalkan nyeri tidak terperi. Lelah akan menjalar, sengsara seakan tak habis. Keringat bercucuran ditentang semangat, asap kelabu bernama putus asa demikian dekat. Namun apapun itu, datang seribu setan dari neraka menghalangiku, ke sanalah aku tetap akan menuju. Aku telah menyerahkan hidupku untuk menempuhi jalan itu. Hanyalah ke sana aku akan menuju. Di sana sangat sepi, sayangku. Tak banyak manusia mau melaluinya. Lantas aku dengar, ada sebisik tanya menyeruak dari sela-sela bibirmu: untuk apa??

Aku ingin berdiri tegak di puncaknya, sayangku! Berdiri tegak lebih tinggi daripada siapapun. Aku ingin melihat dunia ini sendiri, hanya dengan mataku. Memandang sampai batas langit dan pepohonan hanya dengan retinanya saja. Aku ingin melihat citra yang dahulu pernah dilihat oleh orang-orang yang berani. Aku tak sudi menghamba pada seorang pun. Aku hanya ingin merasakan hidup… Merasakan betapa manis dan mulianya hidup dari kekuatanku sendiri. Hanya itu!! Aku akan maju mendaki, apapun yang terjadi. Untuk itu aku akan jadi orang yang paling tidak peduli.

Dunia sungguh sepi, sayangku, bagi orang-orang seperti aku.! Aku berdiri di sudut bumi, bersandar pada sisinya yang keras. Manusia berkeliaran di hadapanku, bicara, meracau, berbisik, teriak, menjerit, namun aku tidak mengerti. Asing bahasanya di telingaku, dan mereka tidak mau peduli pada air mataku. Satu yang aku tahu, sudut mata mereka serupa belati berkilau meracuni hatiku. Menertawaiku, padahal aku tak kenal mereka semua. Lemah aku berlutut, sayangku, menerima kegetiran yang mereka bawa untukku, atas apa yang sudah aku pilih. Aku menerima semuanya, walau dunia ini tidak mau menerima orang-orang seperti aku.

Lemah aku berlutut, sayangku, hinaan sungguh pilu. Kurenggut dadaku menahan air mata, aku takut ia tumpah kepada dunia. Dan nun jauh di sana aku melihatmu. Sungguh baik dan mulia. Betapa suci tak tercela. Baru pertama aku rasakan senyum terkembang di wajahku, sebab kehadiranmu. Kau sudi percaya padaku saat semua ragu. Kau mau tersenyum padaku ketika manusia meludahiku. Kau mau berikan permatamu yang berharga. Dan tumpah air mataku…Tumpahlah sudah kepada dunia. Engkau sungguh jauh, sayangku…sungguh jauh. Aku tidak mampu meraihmu. Balutan kemuliaanmu penuh cahaya, sementara mataku silau dengan hitam jelaga. Langkahmu kuat menancap tanah, namun tanganku lunglai menahan kepedihan. Kaki-ku lemah, sayangku, hingga aku tak sanggup meraihmu. Kau sungguh jauh.!! Sungguh jauh!

Aku maju menerjang, dalam segala kelemahanku. Aku lawan setan bernama hidup dengan tanganku yang tirus. Aku tantang semua manusia di tegak-ku yang getir. Sebab aku ingin bersama-sama denganmu, sayangku! Sebab aku ingin dekat dan menjalani dunia bersamamu! Namun aku lemah. Aku tetap lemah.!!

Tapi, mundur adalah sebuah kekalahan! Aku akan terus melawan kalau pun hidup sungguh kejam. Aku akan terus maju dengan lemahnya lututku walau hanya melangkahi beberapa jengkal saja. Aku tidak akan berhenti percaya dan berharap, hingga terbanglah dia menembus angkasa membeberkan semuanya di hadirat Tuhan yang Kuasa. Aku lemah, sayangku! Dan akan tetap lemah. Namun aku percaya, akan datang masanya kudapat kekuatan dari Tuhan sendiri. Dengan kekuatan itu aku akan datang padamu, mempersunting jemarimu yang lembut, dan menggambar inai dengan tanganku sendiri. Selama kau teguh tegak di sana, tidak memalingkan tubuhmu meninggalkan aku. Dan waktu itu dekat. Aku percaya!! Percaya selamanya! Hanya kepada Tuhan saja aku akan menyerah. [Sekitar tahun 2008]

Bukan Gatal Biasa!

Beberapa hari yang lalu saya merasakan sesuatu yang lain. Ketika itu saya sedang enak-enaknya menggarap naskah di kantor. Jari jemari saya sedang nikmat menimpuki tuts-tuts keyboard di laptop saya. Tiba-tiba saya merasa gatal di tangan. Ternyata ada bentol di sana. Ketika saya lihat bagian itu, saya berpikir, mungkin ada seekor nyamuk yang iseng kemudian hinggap di tangan saya dan menyedot sedikit darah saya. Lantas saya garuk tangan saya itu, dan melanjutkan penggarapan naskah.

Tetapi tiba-tiba rasa gatal itu muncul lagi di tempat lain. Kali ini di tangan saya yang sebelah lagi. Langsung saja saya garuk lagi dan kemudian melanjutkan tulisan. Selang beberapa menit kemudian, rasa gatal itu muncul lagi, kemudian muncul lagi di tempat lain, lalu muncul lagi, muncul lagi, muncul lagi, muncul lagi, hingga sekujur badan saya terasa gatal. Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Bentol-bentol yang awalnya cuma satu, beranak-pinak menjadi banyak, hanya dalam waktu beberapa menit saja. Hampir sekujur badan saya dipenuhi bentol. Dan bentol itu kemudian berubah menjadi bengkak-bengkak.

Setelah itu saya buru-buru pulang, sudah tidak mungkin lagi meneruskan penggarapan naskah kalau badan gatal-gatal seperti itu. Sesampainya di rumah, muka saya pun tidak luput dari bengkak-bengkak, sampai tampang saya nggak jelas. Kata istri saya yang dokter gigi, saya terkena alergi. Walau saya agak ragu dengan penjelasan istri saya tentang alergi, lha dia kan dokter gigi, tapi kok tahu soal alergi? Hehe… Mungkin dokter gigi juga mempelajari sekelumit hal tentang alergi, saya kurang tahu. Dan penjelasan istri saya tentang alergi ini tetap membuat penasaran, sebab saya merasa bahwa saya tidak pernah punya riwayat alergi. Sepanjang hidup saya baru kali ini saya merasakan gatal di sekujur badan saya seperti itu. Sampai-sampai saya menggaruk badan secara ekstrim, persis seperti induk lutung. Bahkan saya sampai tidak tidur semalaman karena sibuk menggaruk sambil ber-istighfar kepada Allah.

Ketika itu saya berpikir, baru saja Allah menurunkan rasa gatal, manusia sudah melintir kaya’ gitu. Ini sebuah tanda yang amat nyata bahwa manusia adalah lemah dan tidak berdaya apa-apa. Tidak sepantasnya manusia sombong, sebab kadang kita meremehkan rasa gatal, tapi ternyata ketika rasa gatal itu menyerbu kita, pastinya kita akan menderita juga.

Itu juga yang harusnya kita pikirkan ketika hendak memilih hukum apa yang kita terapkan. Kita ini lemah, akal kita juga lemah, maka tidak mungkin kita membuat hukum yang pas untuk mengatur kehidupan kita. Kita perlu tuntunan dari Allah untuk membuat hukum, yang tentu saja bersumber dari wahyu Allah dan sunnah Rasulullah. Bersumber dari Alquran dan sunnah. Itulah dia syariat Islam. Kesadaran inilah yang membuat gatal-gatal yang saya rasakan menjadi bukan gatal biasa. Asekkk…

Di Balik Serial Ghazi

Ghazi seri pertama.

Ghazi seri pertama.

Ada hal sangat besar di balik serial Ghazi. Istilah Ghazi sendiri artinya adalah kesatria Islam yang ada di tengah-tengah bangsa Turki. Ghazi amat identik dengan mujahid tangguh yang memerangi musuh-musuh Allah di siang hari, mereka faqih fiddin, mereka hafal Quran, dan mengisi malam-malamnya dengan beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Sosok seperti ini adalah sosok muslim ideal yang saat ini sudah jarang terlihat di tengah-tengah generasi kita.

Ada beberapa hal penting yang ingin diungkap di balik serial Ghazi. Pertama, bisyarah Rasulullah berupa takluknya Konstantinopel adalah sebuah kabar gembira yang mengguncangkan. Ketika beliau pertamakali mengatakannya, kaum muslim beroleh kegembiraan, dan kaum kafir, termasuk Yahudi, gempar. Kegemparan ini mencapai puncaknya ketika bisyarah ini benar-benar berhasil diwujudkan oleh Sultan Muhammad al Fatih. Momen penting amat luar biasa sekali jika diangkat menjadi sebuah novel yang di dalamnya terungkap bagaimana gigih dan hebatnya perjuangan sang Sultan yang dijanjikan oleh Rasulullah itu. Terlebih lagi, sepanjang pengetahuan kami, belum ada novelis yang mengangkat peristiwa besar penaklukan ini dalam bentuk sebuah novel. Dengan demikian serial Ghazi insya Allah akan menjadi sebuah karya yang orisinal dan pertama tentang tema ini. Semoga dengan adanya novel ini akan bisa tergambar tentang betapa kita wajib meyakini dan memperjuangkan sebuah bisyarah Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam.

Kedua, nilai yang tak kalah penting yang ingin diungkap dalam novel ini adalah, tentang bagaimana proses terbentuknya seorang penakluk dan pemimpin besar seperti Sultan Muhammad al Fatih. Kita tentunya mengetahui bahwa seorang pempimpin tidaklah lahir begitu saja, tetapi ia dibentuk dan dididik sehingga bisa memiliki mental dan sikap sebagai seorang pemimpin besar. Novel Ghazi ini ingin sekali mengungkapkan sisi ini, sehingga bisa menjadi gambaran bagi kita tentang bagaimana kelak kita membentuk generasi kita agar menjadi generasi sekaliber Sultan Muhammad al Fatih.

Ketiga, novel ini ingin sekali mengungkapkan tentang keagungan syariat Islam. Bahwa jika syariat Islam diterapkan, pasti ia akan membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi semua umat. Bahwa ketika syariat Islam diterapkan secara menyeluruh, ia akan membawa rahmat bagi seluruh alam. Novel ini juga ingin memperlihatkan betapa santunnya jihad dan penaklukan dalam Islam. Bukan seperti imperialisme yang selama ini ditebarkan Barat atas dunia Islam.

Keempat, novel ini ingin menghadirkan sesuatu yang baru di tengah-tengah jagad sastra dan fiksi di Indonesia. Saat ini dunia fiksi kita masih dibanjiri oleh karya-karya sekular yang menebarkan gaya hidup hedonis dan permisif. Dan kesemuanya itu telah menjadi racun yang amat efektif dalam meruntuhkan identitas Islam generasi kita. Inilah saatnya novel Islam ideologis digemari dan mendapat tempat di tengah-tengah umat. Sebab ia bukan hanya menghadirkan sekadar cerita, tetapi juga nilai-nilai Islam.

Terakhir, selamat menikmati serial Ghazi selanjutnya. Semoga bisa diambil hikmah sebanyak-banyaknya dari sana. Dukung terus fiksi Islam ideologis.

Mendaki Kesabaran

Setiap kali Allah menyebutkan sebuah amalan yang utama di dalam Alquran, berikut dengan gajarannya, sebenarnya di sana terselip tantangan dan kesulitan untuk melaksanakannya. Di dalam Alquran, Allah memosisikan sikap sabar sebagai sebuah sikap yang amat utama. Bahkan Allah menempatkan para shabirin (orang yang sabar) sebagai kecintaanNya. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam juga pernah menyebutkan bahwa Allah amat mencintai orang-orang yang sabar. Betapa mulia dan luarbiasanya sikap sabar ini, maka melaksanakannya pun menjadi sulit dan berat. Untuk bisa bersabar, dibutuhkan semangat, kekuatan, dan tekad, dari dalam diri kita sendiri. Amat diperlukan pula ketahanan yang tinggi, agar kita bisa tetap menjaga kesabaran itu di dalam diri kita.

Bersabar itu seperti mendaki sebuah gunung yang tinggi, yang di puncaknya sudah dipersiapkan kemuliaan dan kejayaan bagi siapa saja yang sanggup tiba di sana. Namun rasa lelah, penat, capek, pegal, bosan, dan dorongan untuk kembali turun akan selalu mendera di sepanjang perjalanan. Tapi jika kita berhasil melawan itu semua, kemudian berhasil tiba di puncaknya, kita akan menempati posisi yang mulia.

Kalau kita suka nonton sinetron, kita pasti pernah ungkapan “kesabaran saya sudah habis”, atau “sampai kapan saya harus bersabar?” (sayangnya, saya jarang sekali nonton sinetron, hehe). Di dunia nyata pun ungkapan itu kerapkali terdengar. Karena kesabaran itu akan menempatkan kita pada posisi yang “seolah-olah kalah”, maka kita akan bertanya sampai kapan kita harus bersabar? Dan jika kita ingin menang, kita harus mengakhiri kesabaran itu, dengan berkata “kesabaran saya sudah habis”.

Tentang hal ini saya pernah ngobrol-ngobrol santai dengan Ustadz Felix Siauw, dan saya mendapatkan jawaban yang mencerahkan tentangnya. Sebuah jawaban yang sangat berat, sebenarnya, dan amat sulit. Bahwa sabar itu selama-lamanya. Bahwa sabar itu tidak boleh berakhir. Kesabaran itu sangatlah berat, dan kita harus tetap bertahan dalam keadaan seperti itu. Semoga Allah subhanahu wata’ala selalu memberikan kekuatan kepada kita untuk bisa menetapi kesabaran.

Tua Tua Kesemek, Makin Tua Makin Geblek!!

Pada suatu sore menjelang berbuka puasa, saya pergi untuk membeli beberapa makanan. Ini jadi persiapan untuk berbuka puasa. Datanglah saya ke sebuah warteg yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal saya. Karena nasi sudah masak sendiri di rumah, maka yang saya perlukan sekarang adalah lauk-pauk sebagai teman makan nasi. Masa’ makan nasi putih doang, kan kurang afdol, iya kan!!!

Ketika saya masuk ke dalam warteg yang sederhana itu, sudah terhidang makanan yang enak-enak di dalam lemari kaca panjang. Kawan-kawan pasti tahu bagaimana desain interior standar sebuah warteg, sekaligus desain display hidangannya. Saya pun langsung terhanyut dengan melihat-lihat hidangan yang tersedia di sana. Apa ya yang hendak saya beli? Pilihan pun akhrinya jatuh pada tempe dan telor dadar. Menu ini sama dengan menu kemarin, dan kemarinnya lagi, maklum penghematan. Hehe…

Tapi tiba-tiba ada yang membuat saya kaget. Ternyata di warteg itu saya tidak sendirian. Ada seorang lelaki tua yang sedang enaknya menyantap makanan, dan tentu saja membuat saya ngiler. Si Kakek ini makan dengan lahapnya, seolah-olah tidak mau tahu bahwa hari itu termasuk dalam bulan Ramadhan. Dalam waktu beberapa detik saja timbul berbagai pertanyaan di dalam diri saya. Mungkin kakek ini bukan muslim? Tapi masa’ sih kakek-kakek dekil model gini bukan muslim? Kemungkinan besar dia seorang muslim. Apakah dia sedang sakit? Lha kalau sakit kok bisa makan di warteg? Kemungkinan besar dia sehat-sehat saja. Apakah dia sedang dalam keadaan safar? Kalau lagi safar kok cuman pake sandal jepit doang, tanpa membawa jinjingan atau buntelan apa-apa? Kemungkinan dia sedang tidak safar. Berarti kemungkinan besar dia memang menyengajakan diri untuk tidak puasa. Padahal kondisi tubuhnya terlihat masih kuat dan masih sehat, bukannya sudah renta dan pikun.

Saya jadi berpikir, “ini orang tua-tua kesemek, makin tua makin geblek.” Apa dia nggak nyadar bahwa dia udah tua dan bentar lagi mau mati, bukannya nyari amal sebanyak-banyaknya, ini malah dengan sengaja melanggar perintah Allah. Ini aki-aki memang pemberani dan tangguh. Semoga kita selalu bisa berada di atas jalan kebenaran hingga akhir hayat. Amin.