Demokrasi dan Rasulullah

Sejarah-Paham-DemokrasiTerus terang, judul di atas memang agak aneh. Walau begitu bukan maksud saya untuk menghubungkan-hubungkan antara demokrasi dengan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam yang mulia. Sebab, secara ideologis, demokrasi dan Rasulullah memang tidak ada hubungannya sama sekali. Demokrasi bukan berasal dari Rasulullah, dan Rasulullah pun tidak pernah mengajarkan demokrasi. Namun saya ingin memberikan sedikit gambaran tentang demokrasi dan Rasulullah dalam hal kepemimpinan.

Pesta demokrasi masih akan terus berlanjut. Seusai pemilu legislatif, Indonesia masih akan disibukkan dengan pemilu presiden yang akan dilaksanakan Juli mendatang. Mekanisme pemilu ini dipercaya menjadi jalan untuk memindahkan kekuasaan secara sah, legal, damai, dan konstitusional. Pemilu demokratis ini jugalah yang sampai saat ini masih dipercaya oleh sebagian kalangan, menjadi jalan paling mudah untuk mewujudkan cita-cita Islam menuju penerapan Islam secara menyeluruh. Benarkah demikian??

Saya akan mengawalinya dengan sebuah kisah! Masuk Islamnya Hamzah radhiyallahu’anhu dan Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu telah menguatkan barisan dakwah dan telah menggoncangkan seantero Makkah. Kafir Qurays jadi tidak bisa berbuat seenaknya lagi kepada kaum muslim. Berbagai penganiayaan dan gangguan terhadap kaum muslim jadi sedikit terhenti. Namun kafir Qurays tetaplah tidak kehabisan akal. Jika habis satu cara, mereka akan mencari cara lain untuk menghentikan langkah dakwah Islam. Cara yang satu ini, mereka pikir akan cukup ampuh untuk menghambat gerak dakwah, negosiasi.

Ibnu Ishaq menuturkan, Yazib bin Ziyad berkata kepadaku, dari Muhammad bin Ka’ab al Qurazhiy. Seorang lelaki bernama Utbah bin Rabi’ah bicara kepada para pemuka Qurays tentang Rasulullah. Utbah ini bukan orang sembarangan. Dia adalah seorang kepala suku, pandai, sekaligus mengerti berbagai macam syair. Dia juga punya kemampuan komunikasi yang luarbiasa dalam bernegosiasi. Kepada para pemuka Qurays itu, Utbah menyampaikan idenya untuk bernegosiasi dengan Rasulullah. Harapannya, dengan negosiasi itu, Rasulullah bisa menghentikan gerakan dakwahnya.

“Wahai kaum Qurays, bagaimana pendakat kalian bila aku menemui Muhammad dan bicara dengannya, lalu menawarkan kepadanya beberapa hal yang aku berharap dia mau menerima sebagiannya. Setelah itu, kita berikan kepadanya apa yang dia mau sehingga dia tidak lagi mengganggu kita?”

“Tentu saja bagus, wahai Abu al Walid! Pergilah menemuinya dan bicaralah dengannya!” Kata mereka.

Ketika itu Rasulullah sedang berada di sekitar Ka’bah. Utbah langsung saja menghampirinya dan berkata bahwa dia ingin berbicara dengan beliau.

“Wahai anak saudaraku, sesungguhnya engkau telah datang kepada orang-orang dengan suatu hal yang amat besar sehingga membuat mereka bercerai-berai. Harapan mereka engkau kerdilkan, tuhan-tuhan serta agama mereka engkau cela dan nenek-nenek moyang mereka engkau kafirkan. Dengarlah! Aku ingin menawarkan beberapa hal kepadamu lantas bagaimana pendapatmu tentangnya? Semoga saja sebagiannya dapat engkau terima.”

“Wahai Abu al Walid, katakanlah! Aku akan mendengarkannya,” jawab Rasulullah.

“Wahai anak saudaraku, jika apa yang engkau bawa itu semata hanya menginginkan harta, maka kami akan mengumpulkan harta-harta kami untukmu sehingga engkau menjadi orang yang paling banyak hartanya di antara kami. Jika apa yang engkau bawa itu semata hanya menginginkan kedudukan, maka kami akan mengangkatmu menjadi pemimpin, sehingga kami tidak akan melakukan sesuatu pun sebelum engkau perintahkan. Jika apa yang engkau bawa itu semata hanya menginginkan kerajaan, maka kami akan mengangkatmu menjadi raja. Jika apa yang datang kepadamu adalah jin yang engkau lihat dan tidak dapat engkau usir dari dirimu, maka kami akan memanggilkan tabib untukmu serta akan kami belanjakan harta kami demi kesembuhanmu, sebab orang terkadang dirasuki jin sehingga perlu diobati.” Utbah menyelesaikan semua kalimatnya. Rasulullah mendengarkan dengan saksama.

“Wahai Utbah sudah selesaikah engkau?”

“Ya!”

“Nah sekarang dengarkanlah aku.”

“Ya, akan aku dengar.”

Rasulullah membacakan surah Fushilat ayat 1 sampai 5. “Ha mim. Diturunkan dari Tuhan yang maha pemurah. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya), maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata, ‘Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya.”

Ketika Utbah mendengar apa yang keluar dari mulut Rasulullah yang mulia itu, dia bersandar kepada kedua belah tangannya di belakang punggungnya. Ketika melewati ayat sajdah, Rasulullah bersujud.

“Wahai Abu al Walid, engkau telah mendengarkan apa yang telah engkau dengar tadi. Sekarang terserah padamu.” Kata Rasulullah.

Utbah pun kembali kepada kawan-kawan Qurays-nya dengan raut wajah yang lebih tenang daripada ketika dia pergi tadi. Dia berkata kepada kawan-kawannya itu bahwa dia baru saja mendengar sebuah perkataan yang belum pernah didengarnya sebelumnya. Subhanallah walhamdulillah.

Sekarang mari kita coba meneliti tawaran-tawaran yang diajukan oleh Utbah kepada Rasulullah. Semua tawaran Utbah ditolak oleh Rasulullah, padahal banyak sekali dari tawaran itu yang amat dibutuhkan Rasulullah untuk menguatkan dakwahnya dan melindungi kaum muslim yang ketika itu sedang dianiaya. Utbah menawarkan uang, dakwah Rasulullah ketika itu pun membutuhkan uang, tapi Rasulullah menolak uang dari Utbah. Utbah menawarkan kekuasaan, dan bahkan hendak menjadikan beliau sebagai raja, tetapi semua itu ditolak. Padahal, logikanya, dengan kekuasaan itu, Rasulullah bisa melindungi para sahabatnya dan bisa menerapkan Islam, tetapi sekali lagi semua itu ditolaknya.

Penolakan ini sejatinya tidaklah aneh, sebab Rasulullah tahu persis bahwa semua tawaran itu tidak dilatarbelakangi oleh keinginan untuk beriman dan meninggikan Islam. Utbah menawarkan semua itu hanya untuk membungkam Rasulullah, bukan karena meyakini kebenaran Islam yang dibawa Rasulullah. Beliau tahu persis bahwa jika beliau menerima tawaran Utbah, pastilah beliau akan terkungkung dengan semua itu, yang akibatnya adalah meredupnya cahaya Islam. Beliau justru akan terpenjara dengan kekuasaan dan uang yang diberikan Utbah. Yang diinginkan Rasulullah adalah penyerahan kekuasaan dan bantuan uang yang didasarkan pada iman dan keinginan untuk meninggikan Islam. Lain tidak.

Sesuatu yang mirip dengan hal ini terjadi juga dalam demokrasi. Demokrasi seolah-olah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada Islam untuk berkuasa. Demokrasi juga seolah-olah memberi jalan kepada Islam untuk naik kepada tampuk kepemimpinan. Padahal sebenarnya tidaklah seperti itu. Sebab kekuasaan dan kepemimpinan yang ditawarkan oleh demokrasi tidaklah berdasarkan Islam dan syariat Islam. Tidak pula didasarkan pada keimanan dan ketakwaan. Melainkan berdasarkan pada sekularisme (paham pemisahan agama dari kehidupan) yang sejak awal menjadi dasar dari demokrasi itu sendiri. Karena itulah kekuasaan yang diberikan demokrasi tidak akan pernah bisa digunakan untuk menerapkan syariat Islam. Telah banyak orang Islam yang duduk di atas tampuk kepemimpinan demokrasi, tetapi mereka tidak pernah menerapkan syariat Islam sekali pun. Jangan lagi terjebak dalam demokrasi.

Anjing Dari Neraka

Sekadar Ilustrasi

Sekadar Ilustrasi

Ada sebuah kisah yang cukup menarik sekaligus mengerikan tentang nasib orang yang menolak dakwah Rasulullah shallahu ‘alayhi wasallam dan syariat Islam. Tentunya kisah ini menjadi sebuah peringatan bagi mereka yang tidak mau menerima syariat Allah diterapkan di muka bumi ini.

Berbagai gangguan dan penyiksaan yang dirasakan Rasulullah dan semua pengikutnya semakin hari semakin menjadi saja. Setelah Allah subhanahu wata’ala memerintahkan Rasulullah agar berdakwah secara terang-terangan (lewat surah Al-Hijr ayat 94), berbagai gangguan dan penyiksaan itu mengalir deras seperti air terjun. Kaum kafir Qurays mulai merasakan dakwah yang dibawa oleh Rasulullah bisa mengancam eksistensi agama nenek-monyong, ups maksudnya nenek-moyang, mereka. Karena itulah mereka semakin bertindak represif.

Serangkaian gangguan dan penyiksaan kemudian ditimpakan kepada para sahabat. Bilal bin Rabah mendapatkan siksaan dari tuannya, Umayyah bin Khalaf. Suami-istri Yasir dibunuh, dan anak mereka, Ammar bin Yasir disiksa. Sahabat-sahabat yang lainnya pun mendapatkan giliran gangguan dan penyiksaan. Namun semuanya dihadapi dengan kesabaran yang tinggi. Mereka semua mengorbankan apapun yang mereka miliki, dan bahkan nyawa satu-satunya.

Rasulullah yang mulia pun tidak luput dari berbagai gangguan dan penyiksaan. Dimulai dari yang sederhana, seperti meludahi dan mengolok-olok, sampai penyiksaan fisik yang hampir saja merenggut nyawa Rasulullah (beliau pernah dicekik hingga hampir meninggal).

Orang yang sering sekali mengganggu Rasulullah adalah, paman nabi sendiri, Abu Lahab. Abu Jahal memiliki seorang anak yang bernama Utaibah bin Abu Lahab, dia pun memiliki “prestasi” yang “bagus” dalam hal mengganggu Rasulullah.

Suatu kali Utaibah mendatangi Rasulullah dan mendustakannya. Dia juga menghina dan mengolok-olok Rasulullah seperti yang digambarkan Allah swt. dalam surah ayat 1 dan 8. Dia sempat meludahi Rasulullah, walau pun aksi peludahan itu luput dan tidak mengenai tubuh Rasulullah yang mulia. Ketika itulah Rasulullah berdoa kepada Allah, “Ya Allah kuasakan padanya salah satu dari anjing-anjingMu.”

Setelah peristiwa itu, Utaibah ikut dalam sebuah ekspedisi dagang kafilah Qurays menuju Syam. Dia tidak tahu ada makhluk-makhluk mengerikan yang sedang mengikutinya. Sesampainya di sebuah daerah yang bernama Az-Zarqa’, kafilah Qurays itu pun beristirahat dan mendirikan tenda. Utaibah pun merebahkan tubuhnya yang kelelahan, sementara hari menjelang malam. Saat itulah makhluk-makhluk mengerikan tadi menampakkan wujudnya. Mereka adalah segerombolan serigala-serigala lapar.

Utaibah dan kafilah Qurays itu dikepung oleh gerombolan serigala. Taring-taring serigala sudah mencuat di tengah keheningan malam dan keremangan padang pasir. Air liur mereka menetes, yang menandakan bahwa mereka telah menemukan mangsa. Utaibah ingat doa yang keluar dari mulut Rasulullah.

“Calaka saudaraku, ia demi Allah, akan memakanku seperti doa Muhammad kepadaku. Ia akan membunuhku saat Muhammad di Makkah dan aku di Syam,” rengeknya.

Seluruh rombongan kemudian menghunuskan senjata mereka dan melindungi Utaibah. Mereka berperang dengan serigala-serigala ganas itu untuk melindungi Utaibah. Untuk sesaat sepertinya upaya mereka membuahkan hasil, sebab mereka melihat gerombolan serigala itu melarikan diri. Mereka pun bergembira karena hal itu. Tapi di sinilah kengerian yang sebenarnya.

Saat tengah malam tiba, dan sebagian besar anggota kafilah dagang itu sedang tertidur, termasuk Utaibah, gerombolan serigala itu datang lagi. Mereka mengendap-endap dalam kesunyian, seakan-akan anjing-anjing dari neraka yang hendak mengantarkan nyawa. Sampailah mereka di tenda Utaibah, dengan cepat serigala-serigala itu memangsa buruannya, mencabik-cabik kepala dan tubuh Utaibah. Lelaki sombong itu mati seketika. Itulah nasib orang-orang yang menolak syariat Islam.

Taken from Ar Rahiq al Makhtum karya Syekh Shafiyurrahman al Mubarakfuri.

Nyoblos Dapat Pahala??

Kampanye Demokrat

Kampanye Demokrat

Memang menarik sekali pernyataan yang dilontarkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam kampanyenya di Lapangan Benteng Kuto Besak Palembang pada Selasa 1 April ini. Seperti dilaporkan oleh kompas.com, SBY optimis bahwa Demokrat akan meraih kemenangan di Palembang. “Tanggal 9 April ada apa? Mau golput apa nyoblos? Nyoblos pahalanya tinggi, lebih tinggi lagi kalau mencoblos nomor 7,” ujar SBY.

Pernyataan bahwa nyoblos itu pahalanya tinggi dan terlebih lagi pahalanya akan lebih tinggi kalau mencoblos Demokrat, sangatlah menarik. Ajang pemilu ini seolah-olah telah banyak membuat orang bersikap seperti orang mabuk. Orang mabuk itu tidak bisa dikendalikan lagi tindakan dan perkataannya. Semuanya sudah ditunggangi oleh hawa nafsu saja, sementara akalnya sudah lenyap. Kita bisa melihat bahwa pada ajang pemilu ini, ada banyak caleg yang bicara sudah tidak terkontrol lagi. Mereka bicara ini-itu, dan berbagai hal yang tidak masuk akal. Mereka menjanjikan macam-macam yang sulit sekali bisa diwujudkan.

Ini jugalah yang dilakukan oleh SBY di atas. Perkara pahala atau dosa itu bukan perkara manusia. Artinya dosa atau pahala itu harus dikembalikan kepada Allah swt. saja. Kita akan bisa mengetahui perbuatan mana yang akan mendatangkan pahala dari Allah dan perbuatan mana yang akan mendatangkan dosa dengan memahami syariatNya. Kalau perbuatan kita sesuai dengan syariatNya dan dilakukan dengan ikhlas, maka kita akan mendapatkan pahala. Tetapi jika sebaliknya, perbuatan kita bertentangan dengan syariat Allah, maka dosa yang akan kita dapatkan. Terkait dengan mencoblos, tentunya harus diketahui dulu bagaimana syariat Islam menilai perbuatan ini. Apakah halal atau haram? Kalau halal dapat pahala, kalau haram ya dapat dosa. Jadi pernyataan “apalagi kalau mencoblos nomor 7 itu pahalanya lebih tinggi” tidak ada dasarnya sama sekali. Jelas sekali bahwa pernyataan itu adalah pernyataan serampangan dan bisa menyesatkan umat.

Islam juga mengenal mekanisme pemilu, hanya saja pemilu yang ditujukan untuk menegakkan menerapkan syariat Islam dan memperkokoh penerapannya. Sementara Islam melarang segala perbuatan dan sarana yang bisa memperkokoh tegaknya sistem kufur seperti demokrasi-sekular. Jadi semuanya sudah jelas.

Perang Rantai

Ilustrasi pasukan Persia.

Ilustrasi pasukan Persia.

Perang Dzatus Salasil, atau Perang Rantai adalah perang yang terjadi antara Khulafaur Rasyidin dan Kekaisaran Sassan Persia. Pertempuran ini terjadi di Kuwait tak lama setelah Perang Riddah selesai dan wilayah Arab sebelah timur disatukan di bawah kekuasaan Khalifah Abu Bakar. Perang ini pun merupakan perang pertama yang terjadi pada Khulafaur Rasyidin, ketika kaum muslim bergerak untuk melebarkan wilayah kekuasaannya.

Latarbelakang

Misnah bin Haris adalah seorang pemimpin kabilah di wilayah timur laut Arabia, yang terletak di dekat perbatasan Persia. Setelah perang terhadap orang-orang murtad, Misnah menyerang kota-kota Persia di Iraq. Penyerangan-penyerangan itu berhasil, dengan mendapatkan sejumlah besar harta rampasan perang. Misnah bin Haris pergi ke Madinah untuk mengabarkan tentang kesuksesannya kepada Khalifah Abu Bakar, dan Abu Bakar menunjuknya sebagai komandan bagi rakyatnya; yang setelah peristiwa ini, dia melakukan penyarangan lagi yang lebih dalam kepada Iraq. Dengan mengandalkan ketangkasan dan kecepatan gerak pasukan kavaleri ringannya, dia bisa dengan mudah menyerang kota-kota di dekat gurun pasir dalam kemudian menghilang lagi di gurun pasir, meninggalkan pasukan Persia yang tidak sanggup mengejarnya. Pergerakan Misnah membuat Abu Bakar memutuskan untuk menyerang Iraq. Untuk memastikan kemenangannya, Abu Bakar menetapkan dua langkah: pasukan penyerang itu keseluruhannya adalah pasukan sukarela, dan pasukan ini akan dipimpin oleh jenderal terbaiknya, Khalid bin Walid. Setelah mengalahkan nabi palsu Musailamah pada Perang Yamamah, Khalid masih berada di Yamamah saat abu Bakar mengirimkan perintah untuk menundukkan Kekaisaran Sassan Persia. Dengan menjadikan Al-Hirah sebagai sasaran, Abu Bakar mengirimkan bantuan dan memerintahkan kepala kabilah di kawasan timur laut Arab Misnah bin Haris, Mazhur bin Adi, Harmala dan Sulma untuk bergerak di bawah komando Khalid. Pada sekitar minggu ketiga bulan Maret 633 M (bertepatan dengan minggu pertama Muharram tahun ke-12 Hijriyah) Khalid keluar dari Yamamah dengan tentara berkekuatan 10.000 personel. Dia mengirimkan surat untuk Hormuz, gubernur Persia di provinsi Dast Meisan.

“Masuklah ke dalam Islam, maka kau akan selamat. Atau membayar jizyah, sehingga kau dan rakyatmu akan berada di bawah perlindungan kami, atau kau yang akan dipersalahkan akibat konsekuensi perbuatanmu itu, sebab aku akan mengirimkan pasukan yang mencintai kematian, sebagaimana pasukanmu sangat mencintai kehidupan.”

Para kepala kabilah dan pasukan mereka (masing-masing berjumlah 2000 prajurit) bergabung dengan Khalid dalam pertempuran ini. Dengan demikian Khalid memasuki Kekaisaran Persia dengan membawa 18.000 prajurit. Komandan Persia menginformasikan kepada Kaisar tentang ancaman dari Arab ini dan mengkonsentrasikan pasukan untuk menghadapinya, termasuk sepasukan besar prajurit Kristen Arab sebagai tambahan.

Strategi Khalid

Pasukan Persia adalah salah satu pasukan terkuat, terlatih, dan memiliki persenjataan terbaik pada masanya, dan merupakan pasukan ideal untuk pertempuran berhadap-hadapan dan barisan-barisan yang rapi. Satu-satunya kekurangan dari pasukan Persia adalah kesulitannya bergerak: Pasukan Persia yang membawa senjata berat membuatnya kesulitan untuk bergerak cepat, dan kecamuk perang yang lama akan melelahkan mereka. Di sisi yang lain, pasukan Khalid bisa bergerak bebas, mereka menaiki unta-unta dan kuda-kuda sehingga mereka siap untuk serangan kavaleri. Strategi Khalid adalah untuk menggunakan kecepatan ini dan menghantam kelemahan pasukan Persia. Dia berencana untuk memaksa pasukan Persia untuk mengeluarkan seluruh kekuatan pasukannya sampai habis, kemudian menyerang sampai pasukan Persia kelelahan. Kondisi geografis amat menolong Khalid dalam menjalankan rencana ini.

Ada dua rute menuju Ubullah, melewati Kazima atau melewati Hufair, kemudian Khalid menulis surat kepada pemimpin Persia, Hurmuz, dari Yamamah, sehingga dia menyangka bahwa Khalid akan menempuh rute langsung menuju Ubullah, yaitu dari Yamamah, kemudian ke Kazima, kemudian tiba di Ubullah.

Hari Pertempuran

Karena menyangka Khalid bin Walid akan datang melewati Kazima, Hurmuz membawa pasukannya dari Ubullah menuju Kazima. Sesampainya di Kazima ternyata tidak ada tanda-tanda kedatangan pasukan Muslim. Kemudian datanglah informasi yang diberikan oleh prajurit pengintai bahwa Khalid bin Walid dan pasukannya bergerak menuju Hufeir. Karena Hufeir berjarak 21 mil saja dari Ubullah, kondisi ini membahayakan pusat komando Hurmuz. Ubullah yang merupakan pelabuhan penting bagi Kekaisaran Sassan Persia, terletak di dekat Busra pada masa sekarang ini. Hurmuz dengan segera memerintahkan seluruh pasukannya bergerak menuju Hufeir, yang jaraknya 50 mil. Khalid menunggu di Hufeir sampai prajurit pengintainya menginformasikan tentang semakin dekatnya pasukan Hurmuz dengan terburu-buru. Dengan melewati gurun pasir yang gersang, Khalid dan pasukannya bergerak menuju Kazima. Sesampainya di Hufeir, Hurmuz mendapat informasi bahwa Khalid dan pasukannya sedang bergerak menuju Kazima. Karena Hurmuz tidak bisa membiarkan rute Kazima dikuasai pasukan muslim, sekali lagi, pasukan Persia yang telah disulitkan karena membawa senjata berat itu diperintahkan bergerak menuju Kazima. Pasukan Persia tiba di Kazima dalam keadaan kelelahan.

Hurmuz segera menyebarkan pasukannya menuju peperangan dalam formasi normal, yang terdiri dari barisan tengah dan barisan sayap. Komandan yang memimpin di kedua pasukan sayap adalah Qubaz dan Anusyjan. Prajurit Persia mengikat diri mereka sendiri dengan rantai sebagai sebuah tanda kepada musuh bahwa mereka lebih baik mati daripada melarikan diri dari medan perang karena kekalahan. Hal ini mengurangi bahaya ditembusnya pasukan Persia oleh pasukan kavaleri musuh, sebab diikatnya setiap prajurit dengan rantai akan menyulitkan gerak pasukan musuh untuk menciptakan celah yang bisa ditembus untuk melakukan penetrasi. Karena pasukan Persia terorganisir dan dan terlatih baik untuk pertempuran berhadap-hadapan, taktik ini memungkinnya bertahan selayaknya batu di hadapan kepungan musuh. Namun rantai-rantai itu memiliki kekurangan besar; jika terjadi kekalahan maka para prajurit tidak akan bisa melarikan diri, karena kamudian rantai-rantai itu berubah menjadi belenggu bagi para prajurit. Itulah kegunaan dari rantai-rantai itu yang kemudian dari sanalah perang ini dinamai. Hurmuz menyebarkan pasukannya di bagian depan tepi barat Kazima, menjaga agar Kazima tetap dilapisi oleh pasukannya. Khalid menyebarkan pasukannya dengan memposisikan gurun di belakang mereka, sehingga mereka bisa mundur jika terjadi kekalahan. Sebelum pertempuran, Hurmuz menantang Khalid bin Walid untuk berduel. Khalid menerima tantangan itu dan Hurmuz berhasil dibunuh oleh Khalid. Hurmuz telah menampatkan komandan terbaiknya di dekat arena duel untuk segera membunuh Khalid jika Khalid berhasil mengalahkannya. Mereka berhasil meraih Khalid, tetapi mereka semua dibunuh oleh Qa’qa’ bin Amir, salah satu komandan di pasukan Khalid. Kematian Hurmuz adalah kemenangan Psikologis bagi pasukan muslim, dan Khalid memerintahkan serangan umum untuk memanfaatkan kemenangan psikologis dari pasukan Persia ini. Pasukan Persia yang kelelahan tidak mampu untuk menahan serangan yang lama dan pasukan Muslim berhasil menembus barisan pasukan Persia di banyak tempat. Komandan pasukan Persia pada bagian sayap, Qubaz dan Anusyjan, memerintahkan mundur dari medan perang, yang kemudian memicu mundurnya pasukan Persia secara keseluruhan. Sebagian besar pasukan Persia yang tidak terikat rantai berhasil melarikan diri, tetapi pasukan yang terikat rantai tidak bisa bergerak cepat, dan ribuan dari mereka terbunuh.

Pasca Perang

Setelah berkecamuknya perang rantai, Khalid mengalahkan pasukan Persia dalam tiga pertempuran lagi, kemudian berhasil menyelesaikan misinya dengan merebut al Hirah. Serangan pasukan muslim yang pertama terhadap Iraq selesai dalam waktu 4 bulan. Abu Bakar tidak mengarahkan Khalid bergerak lebih dalam menuju wilayah Persia, sebab Persia telah mengirimkan pasukan bantuan yang bisa dengan mudah dikalahkan oleh pasukan muslim, dan perintah untuk Khalid selanjutnya adalah merebut Hira. Setelah sembilan bulan, Abu Bakar mengirm Khalid untuk mengomando pasukan muslim menyerang Kekaisarn Bizantium di front Siria.

Jangan Mau Ditipu Lagi!!!

ritual_caleg_1-300x185Hiruk-pikuk pemilu semakin terasa saja. Semakin banyak caleg dan partai yang bermanuver dengan gayanya masing-masing. Dan itu semua makin memperlihatkan kepada kita tentang berbagai kepura-puraan dari orang-orang yang bergabung di dalam arena pemilu itu. Semua yang dilakukan oleh orang-orang yang bergabung di dalam hiruk-pikuk pemilu itu menunjukkan betapa mereka sangat bernafsu untuk menjadi anggota legislatif mau pun menjadi pemimpin. Sampai-sampai mereka melakukan apa pun, sekali lagi melakukan apa pun, agar bisa berhasil menjadi anggota legislatif atau menjadi presiden.

Sudah sama-sama kita ketahui bahwa ada caleg yang sampai kungkum di sungai, saking inginnya menjadi anggota legislatif. Ada yang pergi ke dukun; ada yang nyogok; dan banyak lagi yang melakukan “apapun”, ya “apapun”. Bahkan sampai-sampai ada banyak analisis yang menyatakan bahwa nanti pasca pemilu akan ada banyak caleg yang menjadi gila karena tidak berhasil lolos dalam kontes pemilu.

Dari sini sebenarnya sudah jelas sekali penipuan yang ada di dalam demokrasi, dan penipuan itu terus-menerus berjalan. Jangan sampai kita ditipu lagi, jangan sampai kita ditipu lagi.

Dari Dulu Itu Melulu!

Rame kampanye!

Rame kampanye!

Aktifitas kampanye para caleg sudah dimulai dan tadi pagi lewat di jalan kampung saya. Ramai dan meriah sekali. Ribut dan berisik. Kendaraan kampanye dari berbagai partai tersedia, dan semuanya melintasi jalan dengan riuh-rendah. Orang-orang kampung dengan antusias berjajar di pinggir jalan dan menyaksikan kemeriahan yang terjadi. Para peserta kampanye itu membagikan berbagai hal kepada orang-orang kampung. Ada yang membagikan kaos kepada para pemuda, ada juga yang membagikan kerudung kepada ibu-ibu. Anak-anak kecil dihibur dengan saweran duit cepekan, sementara jurkam (juru kampanye) berteriak-teriak di corong mikrofon agar orang-orang kampung memilih caleg yang dijagokan. Dari dulu memang selalu begitu.

Kalau kita perhatikan, apa yang selalu dijanjikan oleh parpol, para caleg, dan para capres pun kebanyakannya janji-janji yang basi. Dari dulu janjinya itu melulu, tetapi tidak pernah terwujud menjadi kenyataan. Kalau kita lihat iklan Partai Golkar, katanya mereka ingin mewujudkan pendidikan gratis mulai dari SD sampai lulus SMA. Kayaknya sejak bertahun-tahun yang lalu janji itu selalu saja didengungkan oleh banyak pihak, tetapi sampai sekarang tidak pernah terrealisasi. Maka janji yang sama pada hari ini dijanjikan lagi, dan untuk kesekian kalinya rakyat tertipu lagi. Malang benar nasib rakyat.

Salah satu kata yang paling sering digunakan oleh para juru kampanye adalah “saatnya.” Biasanya bunyinya begini, “saatnya kita menegakkan kedaulatan pangan”; “saatnya pendidikan gratis”; “saatnya meraih kesejahteraan rakyat”; “saatnya sumberdaya alam dikuasai kita sendiri”; “saatnya bla bla bla…” Dan kata “saatnya” itu sudah diucapkan dari dulu berkali-kali. Sekarang masih diucapkan juga, kalau begitu “saatnya” itu kapan?

Orang-orang yang memutuskan untuk tidak memilih (golput) seringkali disalahkan dan dituduh macam-macam. Katanya orang-orang seperti ini tidak mau peduli pada nasib bangsa; dibilang bodoh; dibilang malas; dibilang tidak mau berpikir dan apatis. Padalah boleh jadi orang-orang yang tidak mau memilih itu telah menyadari berbagai kerusakan yang ada di dalam tubuh demokrasi dan seluruh penyelenggaraannya. Karena dia memahami hal itu, maka dia tidak mau memilih. Kalau misalnya di hadapan kita disodorkan pilihan, yang kesemua pilihan itu adalah sampah, masa’ sih kita masih mau juga memilih? Lihat saja, pilihan apa saja yang disodorkan kepada kita? Partai sekular yang tidak akan pernah mau memerjuangkan penegakan Islam? Atau partai Islam yang telah menggadaikan Islam kemudian berubah menjadi partai sekular? Lalu apa lagi? Lantas kalau para peserta pemilu itu isinya hanya hal-hal macam begini, lantas kenapa kita mesti memilih?

Sering Salah, Gampang Lupa!

jalan-dakwahSetidaknya ada dua hal yang amat menakutkan di mata saya, DAKWAH dan MENULIS. Lah kok begitu? Bukankah kedua hal ini adalah kebaikan? Dakwah adalah kewajiban dari Allah kepada setiap muslim untuk menyebarkan kebaikan dan mengajak kepada Islam, sedangkan menulis bisa menjadi salah satu sarana dari dakwah itu sendiri, sekarang kenapa disebut menakutkan? Terlebih lagi, bukankah saya adalah seorang penulis, kenapa saya malah menyebut menulis itu mengerikan? Jangan-jangan saya ini “penulis yang aneh”??!! (meminjam nada Tora di Extravaganza).

Dakwah dan menulis, ketika mereka dirangkaikan menjadi satu, maka mereka akan bersenyawa menjadi kekuatan yang luarbiasa. Keduanya akan saling mendukung, menguatkan, dan melengkapi, bersimbiosismutualisme. Jangkauan dakwah akan menjadi jauh lebih luas jika ia telah dituangkan dalam bentuk tulisan. Kenyataan ini bisa kita lihat dari surat-surat dakwah Rasulullah yang beliau sampaikan kepada para raja dan kaisar, yang jarak mereka terpisah jauh dengan Rasulullah. Surat adalah salah satu bentuk dari tulisan.

Lantas kenapa di awal tadi saya sebut dakwah dan menulis itu dua hal yang menakutkan? Jawabannya, karena saya khawatir, jangan-jangan, baik sadar maupun tidak sadar, saya tidak melaksanakan apa yang telah saya dakwahkan dan tuliskan! Dan konsekuensi dari tindakan ini amatlah mengerikan, murka dan kebencian di sisi Allah subhanahu wata’ala. Terlebih lagi, saya hanyalah seorang manusia yang sering salah dan gampang lupa! Na’uzubillah.

Namun ketakutan dan kekhawatiran saya tadi tidaklah mengubah apa-apa. Ketakutan dan kekhawatiran saya tidaklah menggugurkan kewajiban dakwah di pundak saya. Saya pun tidak bisa melepaskan diri dari dunia tulis-menulis. Terlepas dari semua itu, ada banyak sekali kebaikan yang bisa saya raih dari dua aktifitas yang amat mulia ini, baik untuk dunia mau pun akhirat. Tinggalah saya yang mesti mampu mawas diri, walau pun mungkin itu sulit! Semoga Allah Yang Maha Pemurah mengampuni dosa kita semua. Aamiin.