Imam Abu Hanifah dan Tetangganya

Kita semua pasti mengenal Imam Abu Hanifah. Beliau adalah seorang imam mazhab yang luas ilmunya dan tinggi amal ibadahnya. Nama asli beliau adalah Nu’man bin Tsabit dan beliau berasal dari kawasan Iraq. Beliau adalah orang Persia asli yang lahir tahun 80 Hijriyah di Kufah. Saya ingin kisahkan sebuah cerita tentang Imam Abu Hanifah dan tetangganya.

Imam Abu Hanifah memiliki seorang tetangga yang menganut paham Syiah. Si tetangga ini memiliki dua ekor keledai, dan karena dia orang Syiah, dia menamai seekor keledainya dengan nama “Abu Bakar”, dan yang seekor lagi dengan nama “Umar”. Innalillahi wa inna ilayhi roji’un, saya geleng-geleng kepala waktu membaca kisah ini. Orang kok kreatif banget! Maksudnya kreatif kurang ajarnya!!!

Pada suatu hari, orang-orang berdatangan ke rumah Imam Abu Hanifah. Mereka memberi kabar bahwa si Tetangga yang kreatif tadi telah meninggal. Yang bikin meringis adalah, ternyata dia meninggal karena ditendang oleh salah satu keledainya. Mungkin tendangan si keledai ini tepat mengenai titik-titik vital dari si tetangga yang kreatif tadi, sehingga nyawanya tunai dengan cara yang cukup menggelikan. Untung jaman dulu nggak ada koran Lampu Hijau. Kalau ada koran Lampu Hijau, bakal ada headline “Anunya Ditendang Keledai, Mati!”. Hehehe!

Imam Abu Hanifah kemudian mengatakan kepada orang-orang yang membawa kabar kematian tetangga Syiah-nya tadi, bahwa beliau menduga keledai yang menendang tetangganya itu sampai mati adalah keledai yang bernama “Umar”. Imam Abu Hanifah menyuruh mereka mengeceknya. Dan setelah dicek, ternyata benar! Nah loh, rasain!!!

Semoga kita semua bisa mencintai dan meneladani para sahabat Rasulullah saw. dengan sebagaimana mestinya. Semoga kita bisa memberikan penghormatan yang seagung-agungnya kepada mereka karena semua amal, pengorbanan, dan perjuangan mereka menegakkan syariat Islam. Kalau Allah swt. saja meridhoi mereka, lantas kenapa orang macam kita menghina mereka?

Sesuatu Tentang Iman

Ada sebuah pembahasan yang menarik dari Ustadz Felix Siauw tentang keimanan. Ternyata orang-orang kafir jahiliyyah dahulu percaya bahwa Tuhan yang menciptakan langit dan bumi ini adalah Allah subhanahu wata’ala. Mereka percaya hal itu dan mereka mengakuinya. Beberapa bukti tentang hal ini adalah bahwa orang kafir jahiliyyah dulu (sebelum datang masa Islam) sering berjanji dengan menggunakan nama Allah. Selain itu kita juga mengetahui bahwa nama ayahanda Rasulullah Muhammad saw. adalah ‘Abdullah, yang berarti ‘hamba Allah’ (Abdullah hidup sebelum masa Islam diturunkan). Dari sini jelas sekali, bahwa memang benar Allah swt. diakui oleh orang Arab jahiliyyah sebagai Tuhan pencipta alam semesta.

Lah tapi kok kalau ternyata mereka semua mengakui bahwa Tuhan sang pencipta alam itu adalah Allah swt., lantas kenapa mereka masih disebut kafir? Jahiliyyah lagi! Ternyata pengakuan bahwa Allah adalah pencipta alam semesta tidaklah cukup, diperlukan lebih dari itu. Allah tidak menghendaki pengakuan yang hanya di mulut saja, tetapi dia juga menghendaki pengakuan atas kekuasaanNya dan ketaatan kepada semua hukumNya.

Orang-orang kafir jahiliyyah masa itu memang mengakui bahwa Allah adalah sang Pencipta, tetapi mereka tidak mau menyembah Allah dan menaati aturan-aturanNya. Mereka malah menyembah berhala-berhala bernama Latta, Uzza, Hubal, dan Manath. Mereka mengklaim bahwa berhala-berhala itu akan menjadi penghubung mereka kepada Allah. Mereka juga mengatur berbagai hal dalam hidup mereka dengan seenak perut mereka sendiri. Mereka mabuk-mabukan, berzina, makan riba, makan bangkai, sewenang-wenang, dan berbagai kemaksiatan lainnya. Mereka tidak mau berhukum dengan aturan Allah swt.

Kafir jahiliyyah mau menerima Allah swt. sebagai Robb (Tuhan), tetapi mereka tidak mau menerima Allah swt. sebagai Ilah (sesembahan). Karena itulah mereka sangat berat untuk mengucapkan syahadah Islam yang berbunyi “La ilaha illaLLah” (tiada sesembahan selain Allah), “wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah” (Muhammad adalah Rasulullah), sebab konsekuensi dari kalimat ini adalah mereka tidak boleh lagi mengakui Allah hanya sebagai Tuhan pencipta alam, tetapi juga harus menyembah Allah dan menaati aturan Allah semuanya. Membuang semua berhala, dan membuang semua sistem yang berkembang di tengah-tengah.

Jika kita teliti kondisi yang ada saat ini, terlihat sekali bahwa sikap kaum kafir jahiliyyah di Makkah itu muncul kembali. Apa yang dilakukan oleh kaum Muslimin zaman sekarang mirip dengan apa yang dilakukan oleh kaum kafir jahiliyyah zaman dulu. Kaum Muslimin mengakui bahwa Allah adalah sang pencipta. Mereka mengakui bahwa Allah penguasa segala-galanya. Sayangnya, mereka tidak mau menaati aturan Allah. Kalau pun mereka menaati aturan Allah, itu hanya yang enak-enak saja. Aturan Allah yang membutuhkan pengorbanan dan efforts yang lebih besar tidak mau ditaati. Umat Islam telah terjangkit penyakit sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan). Islam hanya disimpan di sudut-sudut masjid. Sudah saatnya umat kembali kepada Islam seutuhnya, dengan menerapkan seluruh aturanNya di berbagai bidang. Islam ada untuk mengatur diri kita sendiri, masyarakat, dan negara.

Secuil Kenikmatan

Pilar-pilar pengokoh nafsiyah islamiyahSaya jadi ingat dengan suatu hal yang pernah disampaikan Ustadz Felix Siauw pada acara kajian kitab Min Muqowwimat Nafsiyah Islamiyah yang diselenggarakan setiap Selasa ba’da subuh di Alfatih Center. Saat itu, Ustadz Felix mengatakan bahwa Allah swt. akan mencabut kelezatan dari sesuatu ketika kita telah mendapatkan sesuatu itu.

Ada sebuah ilustrasi sederhana! Saya ini kan orangnya ndeso banget ya. Jadi karena saya ndeso, saya kepengeeeen banget makan pizza. Hmmm, kalau saya melihat gambar-gambar pizza yang menggugah selera itu, akan terbayang kelezatannya di mulut saya dan air liur serta-merta akan membuncah keluar. Saya pun ngilerI Tapi karena harga seloyang pizza itu biasanya mahal, dan setidaknya butuh selember uang 100 ribu untuk bisa membelinya, maka orang ndeso dan kere kayak saya hanya akan bisa ngiler melihat pizza.

Tetapi Allah swt. memang Mahabaik. Allah swt. mengubah hidup saya. Saya yang awalnya ndeso, kini sudah sembuh dari ke-ndesoan saya, karena sekarang saya sudah tinggal di Jakarta (Jakarta geto lookh). Allah swt. juga memberikan rizki kepada saya, dan satu hal yang ingin sekali saya lakukan adalah, MAKAN PIZZA!

Maka pergilah saya ke sebuah restoran pizza yang sudah cukup terkenal di negeri ini (saya nggak mau sebut nama restorannya, nanti dikirain promosi). Saya membuka menu-menunya dan kelihatannya semua enak-enak (dan mahal-mahal tentunya). Saya pun memilih pizza yang saya mau. Waiter-nya ramah banget, saya disuruh menunggu 15 menit (“lama amat, keburu kenyang makan angin”, batin saya). Setelah menunggu 15 menit, pizza pun datang. Hmmm, aromanya harum! Saya pun menyantapnya setelah menggumamkan basmalah (khawatir nanti ada makhluk astral yang ikutan makan sama saya, tu makhluk astral emang senengnya makan gratis). Hmmm, pizza enak ya (“kirain apaan, ternyata pizza itu cuman roti ditaburin sayur-sayuran doang, tambah jamur sama daging,” kata batin saya). Saya bersyukur dan mengakui bahwa pizza enak rasanya. Dan semuanya berhenti sampai di situ.

Setelah itu, pizza menjadi makanan yang biasa-biasa saja bagi saya. Saat memakannya pun biasa-biasa saja, rasanya pun biasa-biasa saja. Saya tidak lagi merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang sama ketika pertama kali saya makan pizza. Semua tentang pizza begitu biasa! Persis seperti yang dikatakan Ustadz Felix, sejak itu Allah swt. telah mencabut kenikmatan dan kelezatannya.

Sebenarnya hal ini pulalah yang terjadi dengan cinta. Ketika kita pertama kali naksir kepada akhwat yang kita suka, kemudian kita melamarnya, dan lantas menikahinya, maka semua proses itu kita jalani dengan rasa cinta yang mendalam. Kita begitu menggebu untuk menyayangi dan mencintai sang akhwat. Kita bertekad untuk selalu menjaganya, dan menjadikannya permaisuri di dalam hati kita. Kita berjanji untuk selalu memberikan romantisme kepadanya, dan bertekad pula untuk selalu memperlakukannya dengan baik dan penuh kemuliaan. Sang akhwat akan selalu menjadi yang tercantik di hati kita, dan kita berjanji akan selalu menjunjungnya. Kemudian menikahlah kita dengan sang akhwat.

“Paling-paling romantis dan senengnya cuman bertahan tiga hari doang,” kata Ustadz Felix, “setelah itu rumput tetangga lebih hijau!”

Haduh, saya ketawa dan geleng-geleng kepala. Tapi memang begitulah kenyataannya, Allah swt. akan mencabut kenikmatan dan kelezatan dari sesuatu ketika sesuatu itu telah kita dapatkan. Setelah kita menikah dengan sang akhwat, kita akan mendapatkan bahwa segala sesuatu tenang dia begitu biasa bagi kita, sehingga semuanya seolah-olah menjadi hambar. Itulah yang terjadi. Itulah kenyataannya!

Kita mungkin sering melihat kasus-kasus peceraian selebritis. Mereka punya pasangan yang cantik-cantik dan tampan-tampan, tetapi toh semua itu tidak menghentikan perceraian mereka, dan kita jadi tidak habis pikir karenanya. “Waduh, istri cantik kayak gitu kok diceraikan?” Paling-paling hanya itu yang bisa kita katakan. Tetapi jika kita kembali kepada penjelasan Ustadz Felix tentang dicabutnya kenikmatan seperti disebut di atas, semuanya menjadi jelas. Kecantikan wajah dan keindahan fisik yang awalnya kita kagumi dan amat diinginkan, setelah menikah ternyata menjadi sesuatu yang amat biasa. Allah swt. telah mencabut kenikmatan di dalamnya. Itulah gambaran betapa sedikit dan rapuhnya kenikmatan dunia.

Karena itulah, jangan sampai kita menyandarkan cinta hanya kepada kecantikan wajah dan keindahan fisik. Harus ada sesuatu yang lain, yang menjadi tempat cinta itu bersandar. Sesuatu yang lebih kuat dan kokoh, yang akan membuat cinta selalu baru, dan akan tetap bertahan selamanya dari terjangan rasa bosan. Itulah dia keimanan kepada Allah swt., dan ketaatan kepadaNya. Subhanallah walhamdulillah!

Ngontrak di Rumah Sendiri

Pajak memiskinkan anda!

Pajak memiskinkan anda!

Fenomena ngontrak di rumah sendiri ini bukanlah isapan jempol belaka, tetapi memang sudah menjadi kenyataan. Sebenarnya ini adalah fenomena yang aneh dan sangat menggelikan. Lho kok gitu? Ya iya lah, kita beli rumah pakai duit jerih payah kita sendiri, tapi setelah kita berhasil membeli rumah itu, seolah-olah kita sedang ngontrak di rumah sendiri karena kita harus terus membayar kepada negara lewat apa yang disebut Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Saya merasa bahwa Pajak Bumi dan Bangunan ini adalah salah satu jenis pajak yang paling menggelikan dari seluruh jenis pajak.

Seperti diberitakan oleh situs Warta Kota, sorot mata Anton (47), Warga Kebayoran Baru Jakarta Selatan, tajam menatap Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) tahun 2014 miliknya. Sebab di surat itu tertera tagihan Pajak Bumi dan Bangunan sebesar 22 juta Rupiah. “Ini sama saja saya ngontrak di rumah sendiri. Berarti tiap bulan saya harus menyisihkan uang 2 juta Rupiah untuk bayar PBB. Sama saja ngontrak kan?” Ujar Anton kepada Warta Kota di rumahnya pekan lalu.

Anton beserta istri dan keempat anaknya tinggal di atas lahan berupa tanah dan bangunan seluas sekira 500 m2. Pria yang bekerja di bidang event organizer ini merasa bingung tarif PBB melonjak drastis. Tahun lalu, ia hanya membayar 11 juta Rupiah untuk lahan dan rumah yang sama. Namun tahun ini dipaksa membayar 22 juta Rupiah. “Kalau begini caranya, terus terang saya merasa sakit hati,” ujarnya.

Ini dia satu lagi bentuk kesewenang-wenangan yang digelar pemerintah di negeri ini. Naikin pajak seenak perutnya sendiri. Pendapatan negera ini hampir seluruhnya dari pajak rakyat. Pemerintah galak banget kalau sudah menagih pajak dari rakyatnya. Tetapi kalau Freeport yang ogah membayarkan kewajibannya karena persoalan sepele, pemerintah kok ikhlas banget menerimanya. Nggak habis pikir!! Rakyat diperas habis-habisan dengan pajak, tetapi sumber daya alam negeri ini yang melimpah ruah malah diserahkan dengan rela kepada konglomerat asing. Nggak masuk akal!!! Ada satu pertanyaan penting yang harus diajukan kepada mereka, “sebenarnya para elit penguasa itu berpihak kepada siapa? Rakyat atau konglomerat?”

Asal Njeplak!!!

jaga-mulutmuMemang harus kita sadari bahwa saat ini kita sedang berada di dalam alam demokrasi. Hidup di alam demokrasi memang harus tebel kuping, harus selalu mengurut dada, dan harus selalu menguatkan iman dan takwa, sebab pasti akan selalu ada orang yang ngomong sembarangan dan asal njeplak.

Salah satu unsur penting yang mesti ada di dalam alam demokrasi, adalah Kebebasan Berbicara. Kebebasan orang untuk berbicara dan menyampaikan pendapatnya amat dijunjung tinggi dan harus dilindungi oleh demokrasi. Orang-orang bebas untuk ngomong apa saja, yang penting sesuai dengan hati nurani dan pemikirannya.

Nah unsur penting inilah yang menyebabkan orang-orang pada berani berbicara yang bernada meremehkan dan merendahkan Islam. Padahal Rasulullah sendiri pernah bersabda, “Al Islamu ya’lu wa la yu’la ‘alayh”, Islam itu tinggi dan tidak ada segala sesuatu pun yang lebih tinggi daripada Islam. Di dalam alam demokrasi, orang bebas-bebas saja kalau mau bicara “hukum konstitusi negara itu lebih tinggi daripada hukum agama.” Orang juga bebas-bebas saja kalau mau bicara “Alquran itu produk budaya Arab kuno dan sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan di jaman modern ini.” Banyak beredar pula karikatur yang melecehkan Allah swt dan Rasulullah saw. Semuanya boleh! Semuanya bebas! Karena kita hidup di dalam alam demokrasi yang melindungi hak setiap orang untuk berbicara dan menyatakan pendapatnya.

Sementara kita, umat Islam, hanya bisa mengurut dada dan geleng-geleng kepala saat mendengar itu semua. Kalau umat Islam merasa tersinggung dan merasa marah, langsung dituduh tidak toleran. Malang benar nasibnya umat Muhammad saw ini.

Jelaslah bahwa demokrasi yang menjadi biang kerok dari setiap peristiwa direndahkan dan dihinanya Islam. Apalagi yang kita harapkan dari demokrasi? Sistem bobrok dan usang ini memang sudah seharusnya dibuang jauh-jauh. Jangan dilirik-lirik lagi. Sebagai gantinya, penerapan syariat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah adalah sebuah keniscayaan. Tak ada satu setan pun yang bisa melawan.

Ghazi vs Dracula Untold

Poster Dracula Untold

Poster Dracula Untold

Pada minggu-minggu ini film Dracula Untold yang dibesut oleh sutradara Gary Shore sedang hangat-hangatnya dinikmati. Film ini memang mengangkat sosok Dracula yang lain daripada yang lain, di luar sosok Dracula yang dipopulerkan Bram Stoker. Film ini menjadikan sejarah asli Dracula sebagai latar belakang kisahnya, walau tetap saja masih kental aroma vampire-nya, dan alurnya banyak sekali yang menyimpang dari sejarah Dracula itu sendiri.

Ketika Mas Ustadz Felix Siauw memberikan trailernya kepada saya, saya langsung paham bahwa film ini menggunakan sejarah asli Dracula sebagai setting-nya, walaupun saya belum pernah menonton filmnya sama sekali. Seorang kawan saya bercerita, bahwa ending dari film itu adalah terbunuhnya Sultan Mehmed al Fatih karena digigit Dracula. Saya kaget sekali dengan ending ini (lah kok bisa Sultan Mehmed digigit Dracula?). Dari sini saja sudah sangat terlihat bahwa film ini memang memiliki muatan-muatan penyesatan dan pencitraburukan terhadap Islam.

Dari mana datangnya seorang Sultan Mehmed al Fatih mati digigit Dracula? Beliau adalah seorang komandan yang diijanjikan oleh Rasulullah Muhammad, dan beliau adalah sebaik-baik komandan. Beliau amat dekat dengan Allah swt karena setiap malam bertahajjud dan tidak pernah meninggalkan solat rawatib. Beliau juga tangkas memanah dan bermain pedang. Beliau pun seorang ahli strategi dan ahli dalam konstruksi alat-alat perang. Imajinasi orang-orang Hollywood memang sangat liar, sehingga bisa membuat Sultan Mehmed mati digigit Dracula. Sebuah kematian yang tidak keren!

Saya memahami bahwa film Dracula Untold adalah sebuah karya fiksi-sejarah, kisah fiksi yang menjadikan sejarah sebagai inspirasinya. Dan orang-orang yang membuat film ini menjadikan Sekularisme dan Kristen sebagai sudut pandangnya. Karena itulah Sultan Mehmed (diperankan Dominic Cooper), dan prajurit Muslim digambarkan sangat buruk. Dan terlebih lagi, film ini amat melenceng jauh dari sejarah Vlad Dracula (diperankan Luke Evans) itu sendiri. Dalam setiap karya fiksi-sejarah pastilah akan selalu ada twist untuk menambahkan sisi dramatis dan sisi emosionalnya, hanya saja jangan sampai menyimpang jauh dari sejarah aslinya.

Dalam sejarah, Sultan Mehmed al Fatih dan Vlad Dracula memang terlibat dalam sejumlah pertempuran besar dan persaingan yang sengit, dan di akhir cerita, Sultan Mehmed berhasil mengalahkan Vlad Dracula. Dalam sebuah pertempuran di Wallachia, Vlad Dracula dipenggal dan kepalanya dipersembahkan kepada Sultan Mehmed, sebagai simbol bahwa teror Vlad Dracula telah berakhir. Terlepas dari kontroversi yang terjadi setelah kematiannya (beberapa menyebutkan bahwa jasad Vlad Dracula menghilang dan lainnya menyebutkan jasadnya menjadi bangkai anjing atau serigala). Dalam hal ini saya salut dengan film Kingdom of Heaven, yang juga dibesut dari sudut pandang Kristen tetapi cukup cocok dengan sejarah. Di akhir film ini digambarkan bahwa Jerusalem pada akhirnya diserahkan kepada Salahuddin al Ayubi oleh Balian de Ibelin (diperankan Orlando Bloom), dan Pasukan Salib berhasil dikalahkan.

Novel Ghazi 2

Novel Ghazi 2

Serial Ghazi yang saya garap bersama guru sekaligus sahabat saya, Mas Ustadz Felix Siauw, menghadirkan kisah yang berbeda dengan Dracula Untold. Walaupun ada kemiripan dalam mengambil latar belakang sejarahnya, yakni perseteruan antara Sultan Mehmed al Fatih dengan Vlad Dracula, kami menjadikan Islam sebagai sudut pandangnya. Kami menjadikan sejarah asli penaklukan Konstantinopel dan perang antara Sultan Mehmed dan Vlad Dracula sebagai dasar untuk mengembangkan kisahnya.

Perjalanan hidup Sultan Mehmed adalah sebuah perjalanan hidup seorang Muslim yang agung, yang menghentak dunia timur dan barat. Kenyataan ini bahkan diakui oleh cendekiawan barat sendiri. John Freely mengatakan bahwa jika Sultan Mehmed hidup 20 tahun lebih lama, pastilah beliau sudah meratakan seluruh Eropa dengan Islam. Bisa jadi, Roma pun sudah beliau taklukkan bersama tentaranya. Sebab kala itu, Paus sendiri sudah melarikan diri ke Avignon tatkala mendengar kabar bahwa Sultan Mehmed sedang membangun pasukan yang jauh lebih besar daripada saat penaklukan Konstantinopel.

Bersama seluruh fakta sejarah yang agung inilah kami menggarap novel Ghazi. Akan kami persembahkan kisah ini untuk generasi Islam yang kokoh dan tangguh. Kami dedikasikan kisah ini untuk membangun karakter islami yang bersemayam di setiap dada generasi Islam. Sebuah karakter islami yang diwariskan oleh Rasulullah Muhammad shallahu ‘alayhi wasallam dan dipeluk erat oleh Sultan Mehmed al Fatih. Karakter para kesatria, karakter Ghazi!

Khalifah Umar dan Belati Bermata Dua

Omar (2012) Full 31 Episode Screenshot 2Salah satu argumentasi orang-orang yang menentang penerapan syariat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah adalah, banyaknya pembunuhan dan darah tertumpah. Terbukti, empat orang dari Khulafa Rasyidin, tiga diantarnya wafat karena dibunuh. Padahal argumentasi ini tidak layak sama sekali untuk dijadikan alat untuk menolak syariat Islam dan Khilafah.

Apakah di dalam pemerintahan demokrasi tidak ada pembunuhan dan pertumpahan darah? Justru hal-hal mengerikan itu jauh lebih banyak terjadi di dalam alam pemerintahan demokrasi. Coba saja lihat John F. Kennedy yang mati dibunuh, begitu juga Abraham Lincoln.

Dalam artikel ini saya ingin sekali berbagi tentang kisah syahidnya Khalifah kedua kaum Muslimin, Umar bin Khaththab. Beliau adalah seorang pemimpin luar biasa, yang wafat dalam kemuliaan. Prof. Dr. Ibrahim Al-Quraibi menyatakan di dalam kitabnya, “wafatnya Umar adalah peristiwa besar. Belum ada musibah sebesar ini yang menimpa umat Islam setelah kepergian Rasulullah.”

Setelah menunaikan ibadah Haji pada tahun 23 H, dan singgah di sebuah daerah bernama Abthah, Khalifah Umar berdoa kepada Allah swt. Beliau mengadu bahwa usianya telan lanjut, kekuatannya telah berkurang, sedangkan rakyatnya makin banyak dan tersebar ke berbagai penjuru. Beliau khawatir tidak bisa mengemban amanah dengan baik. Di dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Khalifah Umar berdoa, “Ya Allah, berilah aku rezeki syahadah (mati syahid) di jalanMu, dan jadikan kematianku di negeri RasulMu.”

Khalifah Umar merasakan telah dekat masanya untuk kembali kepada Allah lewat sebuah mimpi. Imam Muslim meriwayatkan kisah mimpi ini dari Ma’dan bin Abi Thalhah. Pada sebuah Jumat, Khalifah Umar berkhutbah. Dalam khutbahnya, beliau menyebut Nabi Muhammad dan Khalifah Abu Bakar. Beliau kemudian berkata, “Aku bermimpi seakan-akan ayam jantan mematukku tiga kali. Aku tidak menafsirkan mimpi itu kecuali tentang datangnya ajalku…” (HR. Muslim dan Ahmad). Di dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad disebutkan bahwa Khalifah Umar menceritakan mimpi itu kepada Asma binti Umais. Asma’ mengatakan bahwa Khalifah Umar akan dibunuh oleh seorang lelaki ‘ajam (non-Arab).

Hari yang memilukan itu pun datanglah, tepatnya pada hari Rabu tanggal 25 Dzulhijjah tahun 23 Hijriyah. Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah wa Nihayah mengisahkan peristiwa ini. Waktu subuh telah tiba dan kaum Muslim bersiap-siap untuk melaksanakan solat subuh berjamaah bersama sang Khalifah, Umar bin Khaththab. Setelah Khalifah Umar memastikan barisan lurus dan rapat, beliau maju untuk menjadi imam. Saat hendak melantunkan takbir, seorang pria melompat ke hadapan beliau entah dari mana datangnya. Pria itu membawa belati bermata dua, dan langsung menikamkan belati itu ke perut Khalifah Umar. Pria itu menikam Khalifah Umar di bagian bawah pusarnya, sebanyak tiga tikaman (berkaitan juga dengan mimpi Khalifah Umar). Darah pun tertumpah, Khalifah Umar langsung ambruk, dan pembunuh itu berlari ke belakang sambil mengayunkan belati berdarah di tangannya dengan membabibuta. Dia membunuh orang-orang yang dilewatinya, dan dalam peristiwa itu telah terluka 13 orang dan 6 orang dari mereka wafat. Seorang sahabat bernama Abdullah bin Auf meringkus pria pembunuh itu dengan melemparkan burnus (mantel lebar dengan tudung kepala). Pria itu berhasil ditangkap, namun dia bunuh diri.

Khalifah Umar segera dilarikan ke rumahnya sementara darah mengalir deras dari lukanya. Beliau memerintahkan Abdurrahman bin Auf untuk menggantikan menjadi imam. Dalam keadaan tertikam seperti itu, beliau masih sempat melaksanakan solat subuh di atas pembaringan. Beliau bertanya tentang siapakah pria yang menikamnya. Ternyata, pembunuh itu adalah Abu Lu’luah Fairuz, orang kafir beragama Majusi sekaligus seorang budak serba bisa milik Mughirah bin Syu’bah. Budak ini dendam kepada Khalifah Umar karena persoalan upah. Dia biasa mendapat bayaran 2 dirham sehari, Khalifah Umar menetapkan upah untuknya 100 dirham sebulan. Dan dia tidak menyukai hal itu.

Di atas pembaringan, Khalifah Umar diberikan semacam jus anggur, ketika beliau meminumnya, jus anggur itu keluar lagi dari luka beliau. Kemudian beliau diberikan segelas susu, susu itu pun keluar lagi dari luka beliau. Karena hal ini, orang-orang menjadi sadar bahwa Khalifah Umar sudah tidak mungkin bisa diselamatkan lagi. Tiga hari kemudian setelah peristiwa itu, Khalifah Umar wafat di awal bulan Muharram 24 H. Satu lagi pemimpin adil telah pergi.