Asal Njeplak!!!

jaga-mulutmuMemang harus kita sadari bahwa saat ini kita sedang berada di dalam alam demokrasi. Hidup di alam demokrasi memang harus tebel kuping, harus selalu mengurut dada, dan harus selalu menguatkan iman dan takwa, sebab pasti akan selalu ada orang yang ngomong sembarangan dan asal njeplak.

Salah satu unsur penting yang mesti ada di dalam alam demokrasi, adalah Kebebasan Berbicara. Kebebasan orang untuk berbicara dan menyampaikan pendapatnya amat dijunjung tinggi dan harus dilindungi oleh demokrasi. Orang-orang bebas untuk ngomong apa saja, yang penting sesuai dengan hati nurani dan pemikirannya.

Nah unsur penting inilah yang menyebabkan orang-orang pada berani berbicara yang bernada meremehkan dan merendahkan Islam. Padahal Rasulullah sendiri pernah bersabda, “Al Islamu ya’lu wa la yu’la ‘alayh”, Islam itu tinggi dan tidak ada segala sesuatu pun yang lebih tinggi daripada Islam. Di dalam alam demokrasi, orang bebas-bebas saja kalau mau bicara “hukum konstitusi negara itu lebih tinggi daripada hukum agama.” Orang juga bebas-bebas saja kalau mau bicara “Alquran itu produk budaya Arab kuno dan sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan di jaman modern ini.” Banyak beredar pula karikatur yang melecehkan Allah swt dan Rasulullah saw. Semuanya boleh! Semuanya bebas! Karena kita hidup di dalam alam demokrasi yang melindungi hak setiap orang untuk berbicara dan menyatakan pendapatnya.

Sementara kita, umat Islam, hanya bisa mengurut dada dan geleng-geleng kepala saat mendengar itu semua. Kalau umat Islam merasa tersinggung dan merasa marah, langsung dituduh tidak toleran. Malang benar nasibnya umat Muhammad saw ini.

Jelaslah bahwa demokrasi yang menjadi biang kerok dari setiap peristiwa direndahkan dan dihinanya Islam. Apalagi yang kita harapkan dari demokrasi? Sistem bobrok dan usang ini memang sudah seharusnya dibuang jauh-jauh. Jangan dilirik-lirik lagi. Sebagai gantinya, penerapan syariat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah adalah sebuah keniscayaan. Tak ada satu setan pun yang bisa melawan.

Ghazi vs Dracula Untold

Poster Dracula Untold

Poster Dracula Untold

Pada minggu-minggu ini film Dracula Untold yang dibesut oleh sutradara Gary Shore sedang hangat-hangatnya dinikmati. Film ini memang mengangkat sosok Dracula yang lain daripada yang lain, di luar sosok Dracula yang dipopulerkan Bram Stoker. Film ini menjadikan sejarah asli Dracula sebagai latar belakang kisahnya, walau tetap saja masih kental aroma vampire-nya, dan alurnya banyak sekali yang menyimpang dari sejarah Dracula itu sendiri.

Ketika Mas Ustadz Felix Siauw memberikan trailernya kepada saya, saya langsung paham bahwa film ini menggunakan sejarah asli Dracula sebagai setting-nya, walaupun saya belum pernah menonton filmnya sama sekali. Seorang kawan saya bercerita, bahwa ending dari film itu adalah terbunuhnya Sultan Mehmed al Fatih karena digigit Dracula. Saya kaget sekali dengan ending ini (lah kok bisa Sultan Mehmed digigit Dracula?). Dari sini saja sudah sangat terlihat bahwa film ini memang memiliki muatan-muatan penyesatan dan pencitraburukan terhadap Islam.

Dari mana datangnya seorang Sultan Mehmed al Fatih mati digigit Dracula? Beliau adalah seorang komandan yang diijanjikan oleh Rasulullah Muhammad, dan beliau adalah sebaik-baik komandan. Beliau amat dekat dengan Allah swt karena setiap malam bertahajjud dan tidak pernah meninggalkan solat rawatib. Beliau juga tangkas memanah dan bermain pedang. Beliau pun seorang ahli strategi dan ahli dalam konstruksi alat-alat perang. Imajinasi orang-orang Hollywood memang sangat liar, sehingga bisa membuat Sultan Mehmed mati digigit Dracula. Sebuah kematian yang tidak keren!

Saya memahami bahwa film Dracula Untold adalah sebuah karya fiksi-sejarah, kisah fiksi yang menjadikan sejarah sebagai inspirasinya. Dan orang-orang yang membuat film ini menjadikan Sekularisme dan Kristen sebagai sudut pandangnya. Karena itulah Sultan Mehmed (diperankan Dominic Cooper), dan prajurit Muslim digambarkan sangat buruk. Dan terlebih lagi, film ini amat melenceng jauh dari sejarah Vlad Dracula (diperankan Luke Evans) itu sendiri. Dalam setiap karya fiksi-sejarah pastilah akan selalu ada twist untuk menambahkan sisi dramatis dan sisi emosionalnya, hanya saja jangan sampai menyimpang jauh dari sejarah aslinya.

Dalam sejarah, Sultan Mehmed al Fatih dan Vlad Dracula memang terlibat dalam sejumlah pertempuran besar dan persaingan yang sengit, dan di akhir cerita, Sultan Mehmed berhasil mengalahkan Vlad Dracula. Dalam sebuah pertempuran di Wallachia, Vlad Dracula dipenggal dan kepalanya dipersembahkan kepada Sultan Mehmed, sebagai simbol bahwa teror Vlad Dracula telah berakhir. Terlepas dari kontroversi yang terjadi setelah kematiannya (beberapa menyebutkan bahwa jasad Vlad Dracula menghilang dan lainnya menyebutkan jasadnya menjadi bangkai anjing atau serigala). Dalam hal ini saya salut dengan film Kingdom of Heaven, yang juga dibesut dari sudut pandang Kristen tetapi cukup cocok dengan sejarah. Di akhir film ini digambarkan bahwa Jerusalem pada akhirnya diserahkan kepada Salahuddin al Ayubi oleh Balian de Ibelin (diperankan Orlando Bloom), dan Pasukan Salib berhasil dikalahkan.

Novel Ghazi 2

Novel Ghazi 2

Serial Ghazi yang saya garap bersama guru sekaligus sahabat saya, Mas Ustadz Felix Siauw, menghadirkan kisah yang berbeda dengan Dracula Untold. Walaupun ada kemiripan dalam mengambil latar belakang sejarahnya, yakni perseteruan antara Sultan Mehmed al Fatih dengan Vlad Dracula, kami menjadikan Islam sebagai sudut pandangnya. Kami menjadikan sejarah asli penaklukan Konstantinopel dan perang antara Sultan Mehmed dan Vlad Dracula sebagai dasar untuk mengembangkan kisahnya.

Perjalanan hidup Sultan Mehmed adalah sebuah perjalanan hidup seorang Muslim yang agung, yang menghentak dunia timur dan barat. Kenyataan ini bahkan diakui oleh cendekiawan barat sendiri. John Freely mengatakan bahwa jika Sultan Mehmed hidup 20 tahun lebih lama, pastilah beliau sudah meratakan seluruh Eropa dengan Islam. Bisa jadi, Roma pun sudah beliau taklukkan bersama tentaranya. Sebab kala itu, Paus sendiri sudah melarikan diri ke Avignon tatkala mendengar kabar bahwa Sultan Mehmed sedang membangun pasukan yang jauh lebih besar daripada saat penaklukan Konstantinopel.

Bersama seluruh fakta sejarah yang agung inilah kami menggarap novel Ghazi. Akan kami persembahkan kisah ini untuk generasi Islam yang kokoh dan tangguh. Kami dedikasikan kisah ini untuk membangun karakter islami yang bersemayam di setiap dada generasi Islam. Sebuah karakter islami yang diwariskan oleh Rasulullah Muhammad shallahu ‘alayhi wasallam dan dipeluk erat oleh Sultan Mehmed al Fatih. Karakter para kesatria, karakter Ghazi!

Khalifah Umar dan Belati Bermata Dua

Omar (2012) Full 31 Episode Screenshot 2Salah satu argumentasi orang-orang yang menentang penerapan syariat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah adalah, banyaknya pembunuhan dan darah tertumpah. Terbukti, empat orang dari Khulafa Rasyidin, tiga diantarnya wafat karena dibunuh. Padahal argumentasi ini tidak layak sama sekali untuk dijadikan alat untuk menolak syariat Islam dan Khilafah.

Apakah di dalam pemerintahan demokrasi tidak ada pembunuhan dan pertumpahan darah? Justru hal-hal mengerikan itu jauh lebih banyak terjadi di dalam alam pemerintahan demokrasi. Coba saja lihat John F. Kennedy yang mati dibunuh, begitu juga Abraham Lincoln.

Dalam artikel ini saya ingin sekali berbagi tentang kisah syahidnya Khalifah kedua kaum Muslimin, Umar bin Khaththab. Beliau adalah seorang pemimpin luar biasa, yang wafat dalam kemuliaan. Prof. Dr. Ibrahim Al-Quraibi menyatakan di dalam kitabnya, “wafatnya Umar adalah peristiwa besar. Belum ada musibah sebesar ini yang menimpa umat Islam setelah kepergian Rasulullah.”

Setelah menunaikan ibadah Haji pada tahun 23 H, dan singgah di sebuah daerah bernama Abthah, Khalifah Umar berdoa kepada Allah swt. Beliau mengadu bahwa usianya telan lanjut, kekuatannya telah berkurang, sedangkan rakyatnya makin banyak dan tersebar ke berbagai penjuru. Beliau khawatir tidak bisa mengemban amanah dengan baik. Di dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Khalifah Umar berdoa, “Ya Allah, berilah aku rezeki syahadah (mati syahid) di jalanMu, dan jadikan kematianku di negeri RasulMu.”

Khalifah Umar merasakan telah dekat masanya untuk kembali kepada Allah lewat sebuah mimpi. Imam Muslim meriwayatkan kisah mimpi ini dari Ma’dan bin Abi Thalhah. Pada sebuah Jumat, Khalifah Umar berkhutbah. Dalam khutbahnya, beliau menyebut Nabi Muhammad dan Khalifah Abu Bakar. Beliau kemudian berkata, “Aku bermimpi seakan-akan ayam jantan mematukku tiga kali. Aku tidak menafsirkan mimpi itu kecuali tentang datangnya ajalku…” (HR. Muslim dan Ahmad). Di dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad disebutkan bahwa Khalifah Umar menceritakan mimpi itu kepada Asma binti Umais. Asma’ mengatakan bahwa Khalifah Umar akan dibunuh oleh seorang lelaki ‘ajam (non-Arab).

Hari yang memilukan itu pun datanglah, tepatnya pada hari Rabu tanggal 25 Dzulhijjah tahun 23 Hijriyah. Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah wa Nihayah mengisahkan peristiwa ini. Waktu subuh telah tiba dan kaum Muslim bersiap-siap untuk melaksanakan solat subuh berjamaah bersama sang Khalifah, Umar bin Khaththab. Setelah Khalifah Umar memastikan barisan lurus dan rapat, beliau maju untuk menjadi imam. Saat hendak melantunkan takbir, seorang pria melompat ke hadapan beliau entah dari mana datangnya. Pria itu membawa belati bermata dua, dan langsung menikamkan belati itu ke perut Khalifah Umar. Pria itu menikam Khalifah Umar di bagian bawah pusarnya, sebanyak tiga tikaman (berkaitan juga dengan mimpi Khalifah Umar). Darah pun tertumpah, Khalifah Umar langsung ambruk, dan pembunuh itu berlari ke belakang sambil mengayunkan belati berdarah di tangannya dengan membabibuta. Dia membunuh orang-orang yang dilewatinya, dan dalam peristiwa itu telah terluka 13 orang dan 6 orang dari mereka wafat. Seorang sahabat bernama Abdullah bin Auf meringkus pria pembunuh itu dengan melemparkan burnus (mantel lebar dengan tudung kepala). Pria itu berhasil ditangkap, namun dia bunuh diri.

Khalifah Umar segera dilarikan ke rumahnya sementara darah mengalir deras dari lukanya. Beliau memerintahkan Abdurrahman bin Auf untuk menggantikan menjadi imam. Dalam keadaan tertikam seperti itu, beliau masih sempat melaksanakan solat subuh di atas pembaringan. Beliau bertanya tentang siapakah pria yang menikamnya. Ternyata, pembunuh itu adalah Abu Lu’luah Fairuz, orang kafir beragama Majusi sekaligus seorang budak serba bisa milik Mughirah bin Syu’bah. Budak ini dendam kepada Khalifah Umar karena persoalan upah. Dia biasa mendapat bayaran 2 dirham sehari, Khalifah Umar menetapkan upah untuknya 100 dirham sebulan. Dan dia tidak menyukai hal itu.

Di atas pembaringan, Khalifah Umar diberikan semacam jus anggur, ketika beliau meminumnya, jus anggur itu keluar lagi dari luka beliau. Kemudian beliau diberikan segelas susu, susu itu pun keluar lagi dari luka beliau. Karena hal ini, orang-orang menjadi sadar bahwa Khalifah Umar sudah tidak mungkin bisa diselamatkan lagi. Tiga hari kemudian setelah peristiwa itu, Khalifah Umar wafat di awal bulan Muharram 24 H. Satu lagi pemimpin adil telah pergi.

Saenak’e Udelle Dewe

BULLSHIT!!!

BULLSHIT!!!

Pada suatu hari, seorang kawan saya yang tinggal di sebuah ruko, kedatangan seorang tamu tidak diundang. Si tamu ini memang tidak pernah diundang, sebab tahu-tahu dia datang begitu saja, padahal nggak kenal, bukan saudara, bukan teman, bukan siapa-siapa. Lantas siapakah seorang tamu ini? Ternyata dia adalah petugas pajak.

Ruko kawan saya tadi dipasangi semacam plang yang cukup besar yang betuliskan nama tokonya. Terjadilah sebuah percakapan yang menyebalkan antara kawan saya dengan petugas pajak itu. Salah satu hal yang paling menyebalkan dari si petugas pajak itu adalah tentang plang nama toko tadi.

“Ini plang dengan ukuran sebesar ini harus kena pajak juga Pak,” kata si petugas pajak

“Oh gitu ya Pak. Berapa pajaknya pak?” Tanya kawan saya.

“Kalau sebesar ini kena 10 juta pak!” Kata si petugas pajak dengan entengnya. Seolah-olah orang nyari duit tinggal metik doang di depan rumah, atau tinggal ngambil doang di bawah bantal.

“Oh gitu. Nanti saya bayarnya ke kantor pajak ya Pak?”

“Oh nggak harus ke kantor pajak Pak. Lewat saya juga bisa!”

Di sini mulai tercium aroma korupsi. Siapa yang bisa menjamin kalau kawan saya membayar pajak melalui petugas pajak itu, dia bakal benar-benar menyetorkan pajaknya kepada negara? Dan apakah benar pajak plang-nya 10 juta? Berhubung banyak warga negara yang tidak paham soal pajak dan berapa besarannya.

Dari sini terlihat sekali betapa menyebalkannya pajak. Dari sini terlihat pula betapa zhalim dan tidak adilnya pemerintah dalam mengatur hajat hidup rakyatnya. Rakyat diperas habis-habisan hingga segala sisi kehidupan rakyat pasti ada pajaknya. Sementara perusahaan multinasional yang merampok sumber kekayaan negeri ini yang menunggak uang milyaran hingga mungkin triliunan malah diikhlaskan begitu saja. Alasannya karena sudah tutup buku. Tapi kalau dari rakyat yang nggak seberapa diperes terus.

Jangan ikhlas membayar pajak, karena sebenarnya itu perampokan. Jangan bangga membayar pajak, karena sebenarnya itu penjajahan. Jangan senang membayar pajak, karena sebenarnya itu pemerasan.

Hadiah Kesengsaraan

OLYMPUS DIGITAL CAMERABelum juga dilantik, wacana dari presiden terpilih untuk menaikkan harga BBM telah terdengar. Hal itu pulalah yang disuarakan oleh Megawati Soekarnoputri sebagai ketua PDIP, partai yang mengusung presiden terpilih. Megawati menyatakan bahwa pengurangan subsidi BBM yang berakibat pada naiknya harga BBM ini sudah tidak bisa dihindari lagi, sebab APBN bisa jebol kalau terus dilakukan subsidi BBM. Sikap ini sangat bertentangan dengan sikap PDIP sepanjang pemerintahan SBY saat menaikkan harga BBM. PDIP mati-matian menolak ketika SBY hendak menaikkan harga BBM, tapi sekarang ketika kekuasaan berada di tangan mereka, BBM-lah yang lebih dulu akan dinaikkan. Ketika dituding tidak konsekuen, Megawati berkilah.

Seperti dikutip dari detik.com, Megawati menyatakan, “Di mana yang pada waktu itu, kenyataannya bisa ditahan dalam subsidi. Ya kami katakan, ini loh reason-nya. Bukan berarti ketika kami asal menolak. Kami berkalkulasi secara nyata, jangan kira kami tidak konsekuen.” Hal ini dia katakan pada acara pembubaran Tim Pemenangan Jokowi-JK di posko relawan di Jalan Sisingamangaraja, Jakarta Selatan, Jumat (29/8/2014).

Saya adalah orang awam sebagaimana rakyat kebanyakan. Karena itu saya tidak begitu mengerti dengan berbagai perhitungan ekonomi model apa yang dilakukan PDIP yang membuat mereka jadi tidak konsisten seperti itu. Dulu, alasan SBY menaikkan harga BBM juga karena khawatir APBN jebol. Karena alasan ini PDIP menolak mati-matian kenaikan harga BBM. Tapi sekarang, ketika kekuasaan ada di tangan mereka, dengan alasan yang sama pula, mereka hendak menaikkan harga BBM. Saya melihat ini adalah kemunafikan yang sangat parah. Parah sekali. Sudah capek-capek rakyat memilih pasangan capres yang mereka usung, sekarang mereka malah akan memberi rakyat hadiah kesengsaraan. Malang benar nasib rakyat. Sudah saatnya rakyat untuk tidak lagi memercayai politisi busuk seperti mereka. Mereka itulah yang telah menggadaikan harta benda negeri ini kepada kaum penjajah, dan kemudian membuat seluruh rakyat menderita. Jangan lagi serahkan kendali negeri ini kepada mereka.

Anak Jaman Sekarang

Pada suatu hari, di sebuah kampung, akan digelar sebuah posyandu. Sejak pagi, ibu-ibu panitia posyandu telah berbusana rapi dan resmi. Mereka siap menyambut para ibu yang hendak memonitor kesehatan dan pertumbuhan buah hatinya.

Salah seorang ibu yang menjadi panitia posyandu tersebut bernama Ibu Mimin. Ia bertugas memegang kertas absensi, kemudian memanggil nama-nama balita yang akan ditimbang itu satu persatu. Ketika kegiatan posyandu itu dimulai, Ibu Mimin segera menjalankan tugasnya, ia memanggil nama-nama balita itu satu persatu.

“Andre,” katanya, memanggil nama seorang balita. Ia melanjutkan.

“Kesya!”

“Keyla!”

“Rasya!”

“William!”

Tiba-tiba ada seorang panitia yang berbisik kepada Ibu Mimin.

“Nama-nama anak jaman sekarang bagus-bagus ya,” katanya.

“Iya, nggak ada yang namanya Mimin,” sahut Ibu Mimin dengan ekspresi penuh penyesalan, yang seolah-olah berkata, “ayah-bunda, mengapa memberikan nama Mimin kepada diriku?”.

Saya pernah bekerja jadi tukang fotokopi. Saat sedang melaksanakan tugas, kadang saya menemukan nama-nama yang aneh-aneh. Dan biasanya nama-nama aneh itu tercantum di surat veteran, atau kartu pensiun. Misalnya Ook, Oon, Oom, dan sejenisnya. Nama-nama orang dulu memang sangat aneh dan simpel-simpel.

Jaman telah berubah, generasi sekarang sepertinya tidak sudi memberikan nama-nama aneh seperti itu kepada anak-anak mereka. Dan biasanya nama-nama anak jaman sekarang itu panjang-panjang dan unik-unik. Misalnya, Ustadz menamai putranya Ghazi Muhammad Alfatih 1453. Jadi ada nomor di nama itu. Unik banget kan?! Sudah seharusnya kita memberikan nama-nama yang baik kepada anak-anak kita. Sebab nama-nama yang kita berikan itu akan dibawa terus sampai ke akhirat. Dengan nama itulah kelak Allah akan memanggil setiap kita satu persatu untuk mempertanggungjawabkan setiap amalan kita. Mudah-mudahan dengan nama yang baik, akan terlahir pula insan-insan yang baik.

Jodoh Pasti Bertemu

kalem-weh-lah-da-jodoh-mah-pasti-bertemuUntuk kawan-kawan yang sedang galau menantikan jodoh, mungkin apa yang pernah saya alami ini bisa sedikit menjadi gambaran, bahwa jodoh pasti bertemu (putar lagunya Afgan, hehe).

Semua berawal ketika saya menancapkan cita-cita untuk menjadi seorang penulis semasa SMA kelas 2. Saking cintanya saya kepada cita-cita itu, saya menyatakan diri bahwa saya sudah menikahi cita-cita itu, dan ia sudah menjadi istri saya (mungkin ini penyakit gila nomor 12, hehe). Lebih dari itu, saya mencukupkan diri saya hanya dengan cita-cita itu, dan hanya ingin hidup dari situ. Untuk mendeklarasikan cita-cita ini, saya sampai mendaki sebuah bukit di dekat rumah saya hingga ke puncaknya, kemudian saya teriakkan cita-cita itu kepada dunia. Bahwa saya hanya ingin menulis sampai saya tidak bisa menulis lagi, dan saya hanya ingin hidup dengan menulis.

Karena saya sudah menancapkan cita-cita itu, ada konsekuensi yang harus saya jalani. Hidup saya menjadi susah secara ekonomi. Saya jadi miskin dan kere, hingga kemana-mana saya harus jalan kaki, karena nggak punya ongkos buat naik angkot. Saya juga harus puasa daud, sebab saya sulit menemukan makanan. Untuk sekadar survive, saya jualan koran dan jadi tukang fotokopi.

Saat menjalani semua itu, saya terus menulis, setiap hari, menulis apa saja. Hingga kemudian saya membangun sebuah media indie bersama kawan-kawan saya. Media ini kami namai D’Rise (pada masa selanjutnya, D’Rise ini terus berkembang atas bantuan guru-guru kami). Saya menumpahkan hampir seluruh cita-cita dan hidup saya untuk menulis bersama D’Rise. Saya mencukupkan diri hanya untuk mengembangkan media ini. Dan secara materi, saya serta kawan-kawan hampir tidak mendapatkan apa-apa dari sini, namun D’Rise telah kami jadikan seperti anak kami sendiri.

Saya dan kawan-kawan saya sesama aktifis Islam ideologis sering kali membicarakan soal pernikahan saat itu (ngaku deh, pasti kawan-kawan juga sering ngobrolin dunia per-akhwat-an. Yang akhwat juga pasti sering membahas dunia per-ikhwan-an). Gara-gara obrolan-obrolan itu, saya yang saat itu masih lugu (lucu-lucu guoblog), juga tertular semangat untuk menikah. Maka kemudian saya mencoba untuk melamar seorang akhwat.

Saya pun mengontak seorang akhwat yang di mata saya adalah seorang akhwat yang baik. Ketika saya menyampaikan niat baik saya untuk melamarnya, dia malah menolak saya dengan amat menyakitkan. Saya rasa dia tahu latar belakang ekonomi saya, karena lontaran-lontaran dia yang menyakitkan itu mengarah ke sana.

Karena penolakan yang menyakitkan itu, saya jadi agak terguncang. Saya jadi apatis terhadap pernikahan, dan bahkan bersikap tidak peduli. Saya sempat berpikir, mungkin orang susah macam saya tidak akan pernah menikah. Tapi biarkan sajalah, saya toh sudah menikah dengan cita-cita saya.

Hidup terus berlanjut, saya terus menulis, dan setelah terjadinya peristiwa itu, Allah swt menitipkan sebuah inspirasi kisah novel di kepala saya. Bukan cuma itu, seluruh langkah membuat novel tergambar di benak dari awal sampai selesai. Padahal saya belum pernah membuat novel sebelumnya, dan tidak ada seorang pun yang mengajari saya. Maka kemudian saya telusuri terus petunjuk itu (mungkin ini yang disebut ilham), hingga saya berhasil menyelesaikan novel itu dalam waktu tujuh bulan. Dan novel itu saya juduli “Sabil”. Tak lama kemudian, Sabil diterima terbit di Mizan yang dikemas dalam bentuk dwilogi. D’Rise pun semakin berkembang, dan telah terbit secara nasional. Saya terus menulis untuk D’Rise sampai hari ini. Lah terus cerita jodohnya di bagian mana nih? Hehehe, sabar, ini dia bagian cerita tentang jodohnya.

D’Rise punya dua orang anggota redaksi dari kalangan akhwat. Salah satunya pakai nama pena Alga Biru. Nah si Alga Biru ini kabarnya tinggal di Medan, dan dia menangani rubrik khusus cewek di D’Rise. Dia bekerja dari jarak jauh. Caranya, pemred D’Rise, mas Guslaeni Hafiz, mengirimkan TOR tiap rubrik kepada semua kru redaksi, termasuk kepada si Alga Biru ini. Kemudian setelah naskahnya yang ditulis berdasarkan TOR tadi selesai, langsung dikirimkan saja ke email redaksi.

Sebelumnya saya tidak mengenal dan tidak punya hubungan apa-apa dengan si Alga Biru ini. Tapi saya membaca tulisan-tulisannya baik fiksi maupun nonfiksi yang masuk ke redaksi D’Rise, dan saya tahu bahwa dia punya jam terbang lebih tinggi dalam menulis daripada saya. Maka saya berpikir untuk mengirimkan novel Sabil saya kepadanya, untuk meminta pendapat ilmiah tentang novel saya tadi. Saya tidak hanya mengirimkan novel ini kepadanya saja, tetapi saya juga mengirimkan Sabil kepada beberapa kawan yang lain untuk minta pandangan kawan-kawan (termasuk salah satunya adalah Pak Salman Iskandar, guru menulis saya). Maka kemudian saya kontak si Alga Biru via Facebook. Dia merespon, lantas saya kirimkan novel saya kepadanya. Saya tidak punya feeling apa-apa.

Beberapa hari kemudian Alga Biru mengirimkan semacam komentar tentang novel saya. Namun ternyata bukan hanya itu, dia juga mengajukan sebuah ajakan untuk menikah dengan saya. Waduh, saya kaget!!! Gileee bener, saya kaget. Yang muncul kemudian di dalam diri saya adalah rasa apatis dan tidak habis pikir. “Ini akhwat apa udah gila?!” hehehe… sori ya Alga Biru.

Bagaimana mungkin saya tidak berpikir begitu, sebab ajakan ini adalah sebuah ajakan yang besar dan tidak boleh dipermainkan. Tapi ternyata ini kenyataan, ada seorang akhwat yang mengajak menikah kepada saya, padahal akhwat ini gaib, dia tinggal jauh di seberang lautan, kenal aja nggak, ketemu aja belum pernah, ngeliatnya aja belum pernah, lah tau-tau ngajakin nikah. Ini becanda kali!!!

Tapi saya hargai ajakan si Alga Biru dengan menyampaikan tentang keadaan saya, bahwa saya ini orang miskin dan kere yang pengen jadi penulis. Karena saya lebih sering nggak punya uang, jadi kemana-mana saya jalan kaki. Saya juga jarang makan, jadi agar “jarang makan” itu menjadi pahala, saya sering melaksanakan puasa daud. Keluarga saya juga termasuk kalangan elit (ekonomi sulit), adik saya banyaknya bererot. Saya ceritakan kenyataan tentang diri saya. Dengan kata lain, saya menyampaikan semua ini untuk menakut-nakuti si Alga Biru agar menarik kembali ajakannya itu. Hehehe, sori ya Alga Biru. Tapi apa yang terjadi, Alga Biru tidak peduli.

Alga Biru tetap pada pendiriannya untuk mengajak saya menikah. Saya jadi berpikir lagi tentang semua ini. Saya jadi banyak merenung, apa yang mesti saya lakukan? Saya minta petunjuk kepada Allah, tentu saja. Kemudian bertanya kepada kawan-kawan yang sudah berpengalaman. Satu hal yang masih mengganjal di hati saya adalah, apakah orang miskin seperti saya bisa menikah? Jaman sekarang gitu lho, nikah itu biayanya mahal. Belum lagi mahar, buat walimahan, biaya tetekbengek lainnya. Apalagi si Alga Biru tinggalnya jauh di seberang lautan, perlu berapa duit bakal ongkos ke sana? Apakah bisa orang macam saya ini menikah? Saya ragu!!!

Tapi saya kembali kepada keyakinan bahwa Allah-lah yang berkuasa atas segala sesuatu. Dia berjanji bahwa Dia pasti akan menolong orang yang ingin menjaga kemuliaan dan kehormatannya. Dan dia tidak akan pernah mengingkari janjinya. Salah satu hal yang juga menguatkan saya adalah kisah menikahnya Ali bin Abi Thalib ra dan Fatimah binti Rasulullah yang diceritakan oleh Abay Abu Hamzah. Ali bin Abi Thalib ra. pun miskin ketika menikah dengan Fatimah. Beliau hanya punya harta baju zirah, dan baju zirah itulah yang dijadikan mahar. Setelah baju zirah itu diserahkan, beliau tidak punya apa-apa lagi. Subhanallah…!!!

Siapa Alga Biru memang belum pernah saya kenal. Tapi saya tahu bahwa dia seorang perempuan yang baik karena dia mengajak kepada kebaikan, yakni mengajak menikah. Saya berpikir bahwa ini adalah amalan mulia yang dahulu pernah dilakukan oleh Khadijah istri Rasulullah S.A.W. Dahulu, Khadijah pun mengajak menikah kepada Rasulullah Muhammad S.A.W. Saya juga mengetahui bahwa Alga Biru adalah seorang aktifis Islam ideologis. Rasulullah menyatakan dalam salah satu hadisnya, jika kita memilih seorang perempuan karena agamanya, maka kita akan bahagia selamanya. Maka saya mencukupkan diri dengan hal itu.

Saya sampaikan kepada Alga Biru, bahwa saya akan berjuang untuk menikah dengannya. Saya akan berjuang untuk datang ke Medan untuk melamarnya kepada orangtuanya. Padahal saat saya berkata seperti itu, saya tidak punya ongkos sama sekali. Dan setelah semuanya itu, saya tetap tidak tahu seperti apa sosok Alga Biru.

Sejak saat itu, kami telah memilih satu sama lain, saya memilih dia, dia pun memilih saya. Kami pasrahkan pilihan itu kepada Allah, dan kami saling berjuang untuk pilihan kami itu.

Suatu kali, sebelum saya berangkat ke Medan, Alga Biru bilang pada saya bahwa dia akan mengirimkan fotonya lewat email. Tapi saya menolak. Saya katakan padanya bahwa saya  memilihnya karena akhlak dan agamanya, kalau dia mengirimkan fotonya kepada saya, saya khawatir niatan saya jadi berubah. Saya khawatir yang tadinya saya memilihnya karena akhlak dan agamanya, jadi berubah karena saya telah mengetahui seperti apa wajahnya. Maka saya menolak fotonya itu. Biarlah saya melihat seperti apa sosok Alga Biru ketika saya sampai di rumahnya di Medan. Saya menyiapkan hati saya untuk menerima seperti apapun keadaan si Alga Biru. Bisa jadi kupingnya ada dua, atau lubang hidungnya ada dua, atau matanya ada dua (ya iyalah), dan saya mesti menerima seperti apapun sosoknya. Namun Alga Biru memberitahu saya bahwa dia tetap mengirimkan fotonya itu. Dan foto itu tersimpan di email saya tanpa saya buka-buka.

Maryam, putri pertama saya.

Maryam, putri pertama saya.

Allah swt memberi saya jalan keluar. Menjelang waktu keberangkatan saya, pintu-pintu rizki terbuka, dan saya dapat ongkos pulang pergi dari jalan yang nggak pernah saya duga. Menjelang saya berangkat, secara tidak sengaja, akhirnya saya melihat juga sosok Alga Biru lewat fotonya. Ketika itu seorang rekan saya ingin tahu akhwat yang akan saya lamar. Maka saya bukakan email saya agar fotonya bisa dia lihat. Sementara saya sendiri menyingkir, sebab saya tetap tidak ingin melihat foto si Alga Biru. Waktu solat pun datang, saya minta rekan saya itu untuk menutup file nya. Dia pun melakukannya. Setelah saya mengecek lagi komputernya, ternyata dia tidak benar-benar menutup file nya, tapi cuman di-minimize doang. Akhirnya ketika saya ambil alih komputernya, terhamparlah fotonya si Alga Biru. Alhamdulillah, Allah menganugerahkan pasangan yang baik dalam banyak hal. Baik sosoknya, baik perangainya, baik tuturkatanya, dan baik agamanya.

Hana, putri kedua saya.

Hana, putri kedua saya.

Di atas jalan cita-cita yang saya tempuh itulah saya menemukan pasangan hidup. Kami pun menikah tanggal 18 Juni 2011 di Medan. Melalui Alga Biru, Allah menganugerahkan saya dua orang anak perempuan yang cantik-cantik dan lucu-lucu.

Allah subhanahu wata’ala memang telah menyiapkan siapa jodoh kita. Tapi Allah tidak akan pernah memberitahukan siapa jodoh kita itu. Karena itulah kita mesti memilih. Dan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam telah memandu kita dalam menentukan pilihan itu. Kita boleh memilih pasangan karena kecantikannya, atau karena kekayaannya, atau karena keturunannya, dan jika kita memilih karena agamanya, kita akan bahagia selama-lamanya. Jika kita telah memilih seseorang, dan orang itu pun bersedia memilih kita, maka berdoalah kepada Allah dan perjuangkan orang yang kita pilih itu sekuat tenaga. Jodoh pasti bertemu, insya Allah.